Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Juli 2018

Novel Yuka - BAB I


Seorang gadis sedang mengacak rambutnya. Ia kesal karena tak menyadari waktu sudah dini hari.

“Argh! Kenapa aku selalu seperti ini!” ia mengomel terus menerus tak peduli siapa yang akan terganggu. Dirinya melempar bolpoint dan segera tidur.

Yuka hampir setiap hari seperti ini. Ia tak mengerti kenapa ia terlalu menguras waktunya untuk belajar. Sejak kecil bahkan ia hampir tak memiliki banyak waktu seperti teman sebayanya. Walaupun ia memiliki banyak teman tapi ia sangat jarang menghabiskan waktu bersama teman-temannya.

Dalam tidur Yura, ia merindukan kedua orang tuanya. Ia menginkan bertemu dan memeluk mereka. Namun, ia tahu, itu tidak akan terjadi kecuali Tuhan telah memanggilnya. Ia rindu ketika dulu ayah selalu memaksanya belajar hingga ia menangis. Dulu, ia mengatakan benci dengan ayahnya tapi ketika ayahnya pergi, ia sadar jika itu yang terbaik untuknya dan ia tak membenci ayahnya sama sekali.

BAB I
Azel memarahi Yura ketika gadis itu membaca buku dimeja makan. Ia meminta Yura untuk melihat waktu.

“Apa kamu ingin pergi kuliah di universitas terbaik yang ada di dunia ini? Jika itu jauh, aku gak mengizinkannya.”

“Aku juga gak menginginkannya. Aku hanya ingin kuliah di univesitas tempat ayahku menyelesaikan pendidikannya dan aku ingin menjadi dokter. Itu saja. Titik.”

“Lalu, dengan begadang sepanjang malam untuk belajar hal yang menyehatkan? Aku akan melarangmu masuk jurusan kedokteran jika kamu terus melakukan itu.” Omel Azel.

Bibir Yura manyun. Ia mengatakan kalau belajar membuatnya ingat dengan ayahnya. Membuatnya merasa ayah ada disisinya. Dan membuatnya ingat ketika ibu selalu menemaninya belajar.

“Sayang, kamu harus memikirkan kesehatanmu. Bukankah orangtuamu akan sedih jika kamu seperti ini setiap saat?” lirih Mamanya Azel.

“Kamu gadis yang cerdas. Kamu bisa membuat keputusan untuk kesehatanmu sendiri.”

Yura mengangguk. Ia meminta maaf dan berterimakasih pada mereka karena telah menjadi sosok orang tua untuknya. Ia mengatakan kalau ia ingin memiliki rumah sakit sendiri ketika dirinya sudah menjadi dokter.

“Akan kupikirkan tentang hal itu.” Azel tersenyum. Kedua orang tua Azel pun ikut tersenyum. Sedang Yura menggaruk-garuk kepalanya, “apapun keinginanmu atau keluhanmu, katakan, kamu tanggung jawabku.”

Bibir Yura manyun. Ia menggeleng, “hei! Kenapa harus kulakukan itu?”

 “Kita sudah menikah.”

“Itu karena…., semua orang memohon padaku untuk menyetujuinya setelah aku lulus SMA.”

“Bahkan sebelum lulus SMA kamu selalu meminta izin, pendapat, dan pertolonganku. Apa bedanya? Sudahlah. Makan saja  makananmu itu,” ia melirik makanan Yura yang belum habis,  “setelah ini, aku akan mengantarkanmu mendaftar ke universitas yang kamu inginkan.”

**

Yuka mengisi formulir pendaftaran mahasiswa baru. Sedang Azel duduk santai sembari memperhatikan Yuka. ‘dia tanggungjawabku sejak hari itu dan bebanku…,’ ia mendesah lelah sembari tersenyum lebar.

“Aku lapar,” ucap Yuka, “gimana kalau kita makan ke…,”

“Waktuku habis. Aku harus kembali ke kantor. Ayo.”

Bibir Yura manyun sepanjang jalan. Ia pulang ke rumah dengan wajah masam. Dan ketika dirumah, ia menemukan Mama sedang membuat kue sedang Azel langsung pergi begitu saja.

“Mama…,” Ia duduk didapur sembari melihat Mama membuat kue, “gimana kalau aku jatuh cinta dengan seseorang dikampus? Apakah aku harus jujur dengan statusku?”

“Apakah Azel mencintaimu? Apakah kamu mencintai Azel?” Mama tersenyum, “lakukanlah keinginan kalian,” lanjut Mama, “wah, kamu hanya duduk, ayo bantu Mama. Azel menyukai kue ini.”

**

Tangan Yura mengetuk-ngetuk kamar Azel tapi tak kunjung dibukakan. Kamarnya pun dikunci. Yura sangat kesal. Ia ke kamarnya dan mengambil kunci duplikat kemudian masuk begitu saja.

Dilihatnya Azel tertidur lelap menggunakan penutup telinga. Ia duduk disamping Azel yang terlelap dan mulai bercerita.

“Aku bermimpi buruk. Sangat buruk. Aku memimpikan kecelakaan itu lagi dan lagi. Aku sangat takut.” Lirihnya. Ia terlelap sembari duduk disamping ranjang Azel. Dan setelah ia begitu lelap, Azel membuka matanya. Ia tersenyum kecil.

Azel memindahkan Yuka ke ranjang dan ia duduk dikursi dekat jendela kamar. Ia memperhatikan Yuka yang tertidur lelap dan mendesah lelah. ‘apa yang akan terjadi padanya nanti? Sampai kapan aku bisa menjaganya?’

Mata Yura terbuka ketika sinar mentari menyilaukannya. Ia melihat Azel duduk dikursi melambaikan tangan padanya tapi gadis itu justru berguling kasana-kemari dan malas untuk bangun.

“Coba jaga sikapmu. Wah. Bagaimana seorang wanita bisa bertingkah seperti itu di depan seorang laki-laki?”

“Apanya yang ‘bersikap seperti itu’ tadi? Aku masih ngantuk. Kamu gak berangkat kerja?”

“Ah. Itu. Ini kamarku.”

“Lalu? Aku hanya menumpang tidur. Pergi sana ke kantor dan lakukan pekerjaan dengan baik. Jaga baik-baik perusahaan. Oke?” ucapnya. Azel beranjak dari duduknya dan mengacak rambut Yuka. Ia pun pergi mandi dan meminta gadis itu untuk tetap tidur sehingga ia leluasa mengganti baju.

Sedang Yuka benar-benar kembali tidur hingga siang hari. Ia mencari Mama dan pelayan menjelaskan kalau Mama sedang pergi bersama teman lamanya.

“Tanpaku? Mama pergi seorang diri?” tanyanya.

“Nona… tadi, nona sangat tertidur lelap jadi nyonya memakluminya.” Ucap pelayan, “nyonya berpikir semalam…, itu mengenai nona tidur dikamar lain…,”

Yuka mengerti dan ia menjelaskan kalau ia hanya tertidur disana, “aku lapar. Bisakah siapkan bubur untukku? Aku ingin makan bubur.”

**

Azel menemukan Yuka sedang belajar lagi hingga larut malam. Ia langsung menarik semua buku-buku Yura dan memaksa gadis itu tidur.

“Tapi…,”

“Kamu takut mimpi buruk lagi?” tanyanya, Yuka mengangguk, “tidurlah. Aku akan duduk dan menjagamu tuan putri. Gak akan ada mimpi buruk.”

“Baiklah. Aku gak akan menolaknya. Ah, minggu depan aku akan memulai semester awalku. Kamu gak berpikir untuk membelikanku sesuai seperti sesuatu yang bisa kukendarai?”

“Masalahnya ti-dak. Sudahlah, cepat tidur.”

Yuka manyun dan tertidur dengan wajah sebal.

**

Mama dan Papa bicara pada Yuka. Mereka bertanya sampai kapan Yuka dan Azel akan terus pisah kamar? Yuka diam. Sedang Azel tak ada dirumah karena ada pertemuan penting. Gadis itu terus terdiam.

Tiba-tiba, Papa mengeluarkan sesuatu. Cincin Yuka. Papa bertanya kenapa Yuka justru menyimpan cincin pernikahannya bukan memakainya.

“Papa masuk ke kamarku?” Papa diam, “Mama?”

“Mungkin ini berat bagimu tapi setidaknya, kami ingin melihatmu selalu memakainya.” Ucap Mama. Yuka menunduk dan memakai kembali cincin itu. Yuka berkata kalau ia tidak mencintai Azel begitupun dengan Azel. Ia juga tak pernah mengerti dengan pernikahan ini sekalipun saat itu ia antusias sekali dengan gaun pengantin yang dikenakannya bahkan ia sangat antusias akan foto pernikahan ala-ala princes.

Senyum Mama dan Papa mengembang. Mereka tak ingin memaksa Yuka mengerti, “Papa yang memilihkan cincin ini untuk kalian. Papa hanya ingin baik kamu atau Azel selalu mengenakannya. Itu permintaan Papa.”

“Siap komandan!” ucap Yuka bersemangat, “aku bosan, boleh aku ke kantor menjemput Azel pulang?” tanyanya, Mama dan Papa tersenyum.

Yuka langsung berlari ke kamar siap-siap untuk pergi ke kantor menjemput Azel. Ia kesal kalau harus menunggu Azel pulang. Ia harus segera bercerita banyak hal padanya.

Tak lama, Yuka sudah tiba dikantor. Para pegawai menyapanya dengan hangat. Namun tidak dengan sekretaris Azel. Ia melarang Yuka untuk masuk begitu saja ke ruangan Azel.

“Apa hakmu? Wah. Kamu sekretarisnya dan hanya teman semasa kuliahnya. Kenapa melarangku? Apakah Azel memintamu?” tanyanya sinis dan menerobos masuk begitu saja.

Ternyata, Azel sedang membaca beberapa laporan. Ia terkejut melihat Yuka datang ke ruangannya. Tak menunggu waktu lama, gadis itu bercerita semuanya tentang apa yang Mama dan Papa katakan. Ia mengeluh kenapa harus memakai cincin dan mereka membicarakan mengenai kamar.

“Kamu setakut itu? Bagaimana denganku? Aku dikelilingi banyak gadis cantik tapi semua orang tahu statusku. Wah, kamu juga harus merasakan itu.”

“Gak adil!”

“Bagian mana yang menurut kamu gak adil?” Azel merapikan semua laporannya dan beranjak dari tempat duduknya, “kepalaku sakit melihat kamu datang dengan pakaian seperti ini! Argh! Orangtua kamu bisa menghantuiku.”

“Kenapa? Apa yang salah?”

Azel melepaskan jasnya dan memakaikannya ke tubuh Yuka yang mengenakan gaun dengan mengekspos bagian punggungnya, “kamu yang membelikanku pakaian ini,” keluh Yuka, “Azel, aku bosan, sebelum aku memasuki semester awal, gimana kalau kita liburan?”

“Lupakan itu. Ayo pulang.”

Bibir Yuka manyun. Ia terus mengeluh sepanjang perjalanan pulang bahkan mengatakan Azel kejam. Ia berkata akan berlibur sendirian suatu hari nanti tanpa Azel.

“Lakukanlah.”

“Sekretaris kamu, dia teman kuliah kamu dulu kan? Dia bisa mendapatkan pekerjaan ditempat lain bukannya jadi sekretaris kamu. Kalian berniat memperbaiki hubungan kalian dulu? Kalian dulu berpacaran, kan?”

“Kamu gak terima?”

Yuka mengangguk, “aku aja gak punya pacar dan belum pernah memilikinya. Jangan balikan sama mantan kamu sebelum aku punya pacar. Aku bakalan iri nanti.”

Mata Azel melotot tajam, “atur saja sesuka kamu. Kepalaku sakit.”

Selasa, 29 November 2016

Ezra - Novel Singkat bagian 10-11 (Novel by Aula Nurul)

Sudah ada belasan motor berjejer untuk bertanding. Tapi ini bukan pertandingan seperti yang muncul di televisi atau seperti di film-film. Ini hanya pertandingan yang selalu membuat petugas keamanan kesal karena lagi-lagi mereka dan mereka.

“Apa yang dipertaruhkan?” tanya Ezra pada seorang temannya, “kalau gak sebanding, gue mundur.” Senyum sinisnya terpancar jelas, “jelaskan apa itu?”

Mereka saling pandang. Ezra curiga. Kemudian muncul seorang gadis bergaun putih disana. Gadis yang benar-benar sangat dikenal Ezra. Ia berdiri ditengah-tengah mereka sambil tersenyum manis. Rambut panjangnya berkibar-kibar akibat hantaman angin malam.

“Ayo,” ucap lawannya, “taruhan yang menyenangkan.”

Merasa tertantang, Ezra setuju. Kemudian beberapa menit berlalu, pertandingan dimulai. Sepanjang lintasan, kepala Ezra berputar-putar wajah gadis bergaun putih tersebut. ‘Alellika’ sebutnya dalam hati.

Sedang di tempat lain, disebuah apartemen, Eun Si sedang fokus pada lukisannya. Namun, berkali-kali ia fokus, sebanyak itu juga ia gagal. Seberapa pun ia berusaha melukis, tangannya selalu tak bisa mengikuti kemauannya. ‘Ezra?’ ia mendesah lelah dan menyebut nama Ezra beberapa kali tapi pikirannya kacau.

Oppa,” Eun Si melihat kakak kandungnya yang sedang membaca dukumen ditangan. Ia meminta izin untuk pergi keluar mencari Ezra. Kakaknya hanya melemparnya dengan senyum sinis, “thanks,” ia berlari keluar kemudian memencet tombol lift. Segera pergi untuk melacak keberadaan Ezra.

Eun Si berhasil mendapatkan tempat dimana pacaranya berada. Tak menunggu waktu lama. Ia tiba disana. Tapi, yang ia temukan justru teman-teman baik Ezra. Orang yang ia cari tidak ada disana.

“Eun Si?” seorang cowok menghampirinya. Ia membuka topi. Eun Si mengenali cowok itu sebagai teman sebangku Ezra sebelum ia yang duduk disana, “Ezra...,” mata Eun Si mendapati handphone Ezra ditangannya, “sebentar lagi selesai. Kamu datang untuk mendukungnya?” tanyanya, Eun Si menggeleng, “lalu?” cowok itu sedikit khawatir apalagi ada Allelika disana.

“Bosan. Aku bosan. Kakakku datang hanya untuk urusan bisnis. Sangat membosankan.” Jelas Eun Si, “apa yang dilakukan Ezra sekarang? Dia tidak pernah menceritakan hal ini padaku.”

Teman-teman Ezra yang lain saling pandang mendengar Eun Si bicara. Mereka tak tahu harus merespon apa. Sedang diseberang sana, musuh-musuh Ezra melambaikan tangan pada Eun Si. Karena tak tahu apapun, Eun Si ikut melambaikan tangan sebagai sopan santun.

“Itu! Itu Ezra!” orang-orang langsung berkumpul. Melihat motor Ezra memimpin. Sedang Eun Si jauh dibelakang mereka. Ia masih berpikir untuk apa Ezra melakukan semua ini, “akhirnyaaa!”

Mereka berteriak. Kemenangan. Bahkan langsung mengangkat tubuh Ezra. Musuh mereka mengepalkan tangan. Marah. Ezra diturunkan. Ia menghampiri seorang gadis, Allelika. Ia belum menyadari ada Eun Si disana.

“Dengan begini, artinya, kamu gak ada hubungan apapun dengannya,” ucapnya pada Allelika sambil melirik musuh sekaligus pacar Allelika. Taruhan ini adalah mengenai Allelika. Jika Ezra menang, maka Allellika bisa putus dengan pacarnya, “aku melakukan ini untuk kamu,” senyum Ezra mengembang. Para musuhnya pergi begitu saja. Ia pun memeluk Allelika.

Ezra memandangi teman-temannya. Mengatakan kalau malam ini mereka harus merayakan kemenangan tapi teman-teman Ezra diam. Hening. Curiga dengan sikap teman-temannya, Ezra melihat sekitar. Kemudian, ia menemukan Eun Si berdiri mematung, “E...Eun Si?”

Oppa!” mata Eun Si berkaca-kaca. Ia memang tidak tahu siapa Allelika dan apa yang membuat Ezra melakukan semua ini. Tapi ia melihat ketulusan dimata Ezra, “Oppa, ayo pergi dari sini.” Ajak Eun Si. Teman-teman Ezra mengangguk tapi Ezra justru menolak, “benarkah?” Eun Si kesal tapi ia tidak bisa marah. Yang dapat ia lakukan hanya pergi dari sana secepat mungkin. Ia tak ingin tangisnya pecah didepan banyak orang.

**

Kakak kandung Eun Si naik darah melihat adiknya tak juga berhenti menangis. Ia sudah memperkirakan kalau Eun Si akan terluka jika mengenal Ezra lebih jauh.

“Tapi, aku mencintainya!” Eun Si mengamuk. Kakaknya tidak tahu apa yang Eun Si katakan karena ia benar-benar tidak mengerti bahasa Indonesia, “menyebalkan!”


Ia menulis sesuatu diatas secarik kertas dan dibawahnya ada paspor. Tertulis jika 2 minggu lagi Eun Si bisa pulang. Tapi, jelas Eun Si menolak. Ia ingin disini, “Indonesia indah. Jika bukan karena Ezra, aku ingin karena teman-temanku disini.” Ucapnya yang jelas tidak dimengerti kakaknya. Eun Si ingin memiliki teman disini dan ia sudah mendapatkan beberapa.

Ezra - Novel Singkat Bagian 8-9 (Novel By Aula Nurul M)

Eun Si makan siang ditemani dua sahabat baik Ezra. Mereka diminta tolong Ezra agar menjaga Eun Si. Sedang Eun Si heran karena menurutnya, ia baik-baik saja seorang diri.

“Ah, kalian mengenal Vito?” Eun Si mengeluarkan handphonenya. Menunjukkan kalau Vito mengirim pesan padanya, “beberapa waktu lalu, ia juga mengajakku bicara. Apakah Vito dan Ezra memiliki jarak?”

Kedua cowok itu saling pandang. Ezra meminta mereka agar tidak menjelaskan apapun yang buruk pada Eun Si tapi melihat wajah memohon Eun Si, mereka pun tak tega. Mau tak mau mereka memberi tahu kalau benar jika Vito dan Ezra memiliki jarak yang sangat jauh.

“Menurut kalian, apa Vito itu baik?” Eun Si penasaran. Mereka mengiyakan, “apa alasan kalian berpikir seperti itu?”

“Dibanding Ezra, orang-orang berpikir Vito tidak pernah membuat masalah. Bahkan ia bersikap ramah pada semua orang. Tapi bagi kami, hati manusia siapa yang tahu?” kemudian mereka menegaskan sebaik apapun Vito tapi Ezra tetaplah sahabat mereka dan tetap yang terbaik, “kenapa kamu menanyakan itu? Vito mengganggumu?”

Mata Eun Si memandang kanan-kiri, “dia tidak mengganggu. Hanya saja...,” ia tak tahu harus mengatakan apa, “beberapa waktu lalu, ia mengatakan hal-hal buruk tentang Ezra. Kenapa bisa seperti itu? Ckck.”

**

Ezra memasakkan sesuatu untuk Eun Si. Gadis itu sangat senang setiap kali Ezra yang membuat makanan. Bahkan, ia berharap, bisa setiap hari seperti itu.

“Seharusnya kamu yang melakukan ini,” Ezra melempar lobak pada Eun Si. Gadis itu menangkapnya dengan tepat, “mana tamu undangan yang lain? Bukankah kamu mengatakan kalau ada perayaan pindah rumah?”

Kepala Eun Si mengangguk-angguk. Ia menunjukkan jam tangannya kalau tamu undangannya akan datang setengah jam lagi jadi mereka datang saat makanan selesai dimasak, “aku akan membantu dengan senyum manisku.” Ia meletakkan kedua telapak tangannya pada pipi, “ini akan sangat membantu.”

Ezra hanya mendesah lelah kemudian lanjut memasak. Sejujurnya, ia tak pernah memasak untuk siapapun kecuali untuk Eun Si. Ia juga tidak mengerti kenapa setiap memasak untuk Eun Si selalu enak padahal sejujurnya, ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ia buat.

“Kami datang,” beberapa teman sekelas mereka datang dengan membawa beberapa cemilan. Eun Si langsung senang tapi tidak dengan Ezra. Ia kesal karena beberapa tamu undangan ada yang tidak dikenalnya.

“Dia teman sekelas kita. Apa kamu benar-benar tidak mengenal semua teman sekelas kamu?” Eun Si bertanya-tanya, “itu keren! Kalau bisa, hanya ada satu gadis yang kamu kenal didunia ini yaitu aku. Aku. Aku.” Ia mengulang-ulang ucapannya. Bukan karena alasan lain tapi bagi Eun Si, hanya ia gadis yang ada dihidup Ezra karena Ezra tak memiliki saudara perempuan dan karena ibunya Ezra juga sudah berada disurga, “pokoknya hanya aku.”

“Siap bos!”

Teman-teman mereka hanya memandang aneh dengan sikap Ezra yang seperti itu. Lebih terkejut lagi saat mereka tahu kalau Ezra yang memasak semua makanan yang terhidang.

“Kami boleh memakannya?” tanya seorang cewek. Eun Si langsung tertawa mendengarnya. Bukan karena alasan lain tapi karena cewek itu mengenal Ezra yang dingin dan mengertikan, “terimakasih.”

“Kenapa suasana jadi sangat tegang. Apa yang terjadi?” Eun Si kesal, “oppa! Mereka takut padamu. Tersenyumlah agar mereka tidak takut lagi.”

Tapi bukannya tersenyum, ia justru menarik Eun Si dalam pelukannya dan mencium gadis itu, “aku hanya ingin banyak tersenyum untuk kamu,” bisiknya, Eun Si tersenyum lebar, “kamu masih ingin aku tersenyum untuk mereka?”

“No! Tidak-tidak! Ezra akan tersenyum untukku saja. Kalian jangan iri,”

Teman-temannya langsung tertawa kecil dan suasana mulai mencair. Kini, mereka mulai beranggapan kalau Ezra tidak sedingin yang mereka tahu dan tidak sekejam yang semua orang tahu, ‘kalau ia dingin dan kejam, orang seperti Eun Si gak akan bersamanya.’ Batin teman-teman.


**

Ezra - Novel Singkat Bagian 7 (novel by Aula Nurul)

“Hei! Buka pintunya! Buka!” Eun Si marah karena Ezra menguncinya di toilet sekolah. Sedang Ezra diluar cepat-cepat mengecek handphone Eun Si. Ia menemukan foto dirinya yang tertidur dikelas dengan wajah cukup memalukan, “jangan dihapus! Itu bisa menjadi sejarah!”

Sayang, Ezra langsung menghapusnya. Setelah selesai, ia membuka pintu toilet. Memberikan senyum kemenangan pada Eun Si, “pulanglah.” Eun Si menggeleng, “kalau kamu terus disini, jarak kita akan semakin jauh.”

Tentu saja Eun Si tak mau. Ia tidak peduli apa alasan Ezra. Tangannya buru-buru menggandeng tangan Ezra kemudian berjalan dengan leluasa menuju kelas. Hal tersebut membuat seisi sekolah memandang mereka. Ezra yang terkenal dingin terlihat bahagia bahkan tersenyum dan tertawa kecil semenjak kedatangan Eun Si.

“Teman-temanku mengatakan kalau aku melakukan hal gila karena pergi menemuimu sampai seperti ini. Tapi, kupikir, kegilaan yang seperti itu baik,”
Ezra ingin tersenyum melihat Eun Si mengatakan semua itu tapi ia berusaha untuk tidak terlalu memperlihatkannya. Ia tak ingin Eun Si menjadi incaran musuh-musuhnya dalam balas dendam, “kamu tinggal sendirian di apartemen?”

“Kenapa? Kamu khawatir? Benar? Benarkah?!” ia tertawa girang. Bahkan sempat meloncat-loncat sembari mencubit pipi Ezra. Sedang cowok itu justru menggaruk kepalanya yang bahkan tidak gatal, “ayolah. Jangan bersikap terlalu dingin padaku. Aku sangat susah agar bisa berada disini.”

Dari kejauah, seorang cowok mengirim pesan setelah melihat kedekatan Ezra dan Eun Si. Ditempat lain, terlihat sekelompok cowok yang tersenyum menerima pesan tersebut. 

Rabu, 02 November 2016

Ezra - Novel Singkat Bagian 6 (Novel by Aula Nurul M)

“Aku cantik. Aku pintar. Dan aku sudah lumayan menguasai bahasa Indonesia. Kamu tidak akan memberi hadiah atas prestasi itu?” matanya berkedip-kedip dengan manis. Berharap Ezra akan memberikan hadiah padanya, “ini sangat tidak menyenangkan.” Ia bertopang dagu.

Beberapa siswa dan siswi dikantin memandangnya. Ia tidak mengerti, kenapa sejak ia datang, Ezra benar-benar seperti menjaga jarak ketika disekolah? ‘apa ada gadis lain yang disukainya di sekolah ini dan ia marah aku datang? Atau, atau apa?’ hatinya bertanya-tanya. Teman-teman baik Ezra jadi tak enak melihat wajah manyun Eun Si.

“Sampai kapan kamu akan tinggal disini? Sampai lulus sekolah?” tanya Ezra kemudian. Eun Si kesal. Ia langsung memukul kepala Ezra dengan sumpit ditangannya, “aku hanya bertanya. Kenapa reaksimu seperti itu?!”

“Ya! Kamu mau mengusirku? Lakukan saja. Lakukan.” Eun Si kesal. Ia pergi dari kantin.
Langkah kakinya terus menyusuri koridor sekolah. Ruangan demi ruangan ia lihat. Kini, ia berada tepat di depan ruang musik. Penasaran, Eun Si masuk. Ia yang menyukai musik langsung menyatu dengan tempat itu. Semua alat musik disentuhnya satu per satu.

“Anak pindahan,” Vito tiba-tiba muncul dari balik kotak tinggi tempat penyimpanan barang, “gue...,” ia berpikir beberapa detik. Ia mendengar Eun Si sudah pandai berbahasa Indonesia namun bukan bahasa gaulnya, “kamu menyukai musik?” tanyanya kemudian.

Mata Eun Si menyipit. Ia tak kenal Vito dan ia tak ingin mengenal cowok itu.
Kini, Vito mengulurkan tangannya. Memperkenalkan diri. Sayang, Eun Si hanya melempar senyum. Ia ingat janjinya dengan Ezra kalau tidak akan berkenalan dengan siswa lain kecuali atas izinnya, “maaf,” ia membungkuk kemudian pergi dari ruangan tersebut.


Vito langsung mengepalkan tangannya. Marah.

Ezra - Novel Singkat Bagian 5 (Novel by Aula Nurul M)

Vito melihat dari kejauhan kalau Ezra terus menggenggam tangan Eun Si terus menerus sepanjang jalanan ditaman kota. Ia mendengar kalau Eun Si merupakan pacar Ezra yang baru saja pindah sekolah. ‘menarik,’

Sedang Eun Si yang tidak tahu banyak tempat pun terus berceloteh. Ia terus meminta Ezra mengajaknya berkeliling kota setiap hari agar semakin cepat menghafal peta, “kamu harus membayarku untuk semua itu.”

Mata Ezra memandangnya dengan senyum namun senyum itu langsung hilang ketika mendapati sekelompok cowok yang juga ada disana. Ia langsung meminta Eun Si menjaga jarak bahkan pergi dari tempat ini. Tapi bukan Eun Si kalau pergi begitu saja. Ia justru penasaran.

“Yoon Eun Si!” suara Ezra meninggi. Tak mau membuat Ezra semakin marah, ia buru-buru mencari taxi. Pergi tancap gas ke apartemennya.

Tangan Eun Si sibuk mengetik sesuatu pada google. Ia ingin tahu apakah taman kota tersebut berbahaya atau tidak karena sepertinya sekelompok orang tadi akan mengganggu Ezra. ‘kenapa aku pergi? Aku tidak harus mengikuti ucapannya!’

Ia meminta untuk putar balik. Eun Si tiba di taman. Ia melihat sekelompok cowok itu menyudutkan Ezra. Terang saja, Ezra langsung menantang mereka. Satu lawan lima. Dan, seperti biasa, Ezra memenangkannya. Dari balik pohon, Eun Si tersenyum. Sekalipun ia tak suka cowok yang suka berkelahi tapi jika keadaan seperti itu, ia tak ingin ada apa-apa pada Ezra.


Yakin semua baik-baik saja, ia kini langsung pulang ke apartemennya. Pura-pura tidak melihat itu semua.

Ezra - Novel Singkat Bagian 4 (Novel by Aula Nurul M)


Dua teman baik Ezra disekolah sedikit bisa beristirahat. Semenjak Eun Si datang, mereka tak perlu membully siswa lain. Itu karena Ezra tak ingin Eun Si tahu apa yang ia lakukan selama ini disekolah.

“Gini bro, bukannya panggilan Oppa itu untuk kakak?” tanya temannya yang tak banyak mengerti bahasa Korea, “kenapa Eun Si manggil Oppa?”

“Pada dasarnya gue satu tahun lebih tua daripada Eun Si,” jelas Ezra tapi jelas bukan itu alasannya, “buka google aja, nanti juga ketemu apa alasannya!” Ezra kesal. Kedua temannya hanya bengong. 
Terlihat jelas kalau Ezra sedang menata sikapnya jika didepan Eun Si.

Sedang yang mereka bicarakan tiba-tiba muncul dengan membawa dua minuman kaleng. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk dirinya dan Ezra. Eun Si bahkan membukakan kaleng minuman tersebut sambil mengatakan sesuatu dalam bahasa Korea yang sama sekali tak dimengerti Ezra maupun dua teman Ezra lainnya.

“Ada yang bilang kalau kamu itu kejam. Mereka bicara bohong, kan?” tanya Eun Si, Ezra langsung mengacak rambutnya, “aku butuh jawaban!”

“Benar. Aku kejam. Sangat kejam. Karena aku kejam, aku membuat kamu sulit bernafas dan akhirnya ada disini.”

Senyum Eun Si mengembang. Senyumnya membulat dan langsung mengeluarkan handphone kemudian berfoto. Tak lupa ia mengupload pada salah satu jejaring sosial yang dimiliki. Teman-teman baik Ezra heran, bukankah selama ini Ezra menyukai gadis yang kalem? Tapi Eun Si kebalikannya. Gadis itu selalu mengikuti Ezra kemanapun dan selalu berceloteh.

“Kalian,” Eun Si menunjukkan dua jari tangannya ke mata agar dua cowok itu tak melihatnya seperti alien, “apa teman-teman kamu sengaja melakukannya?” tanyanya, Ezra tertawa, “mereka melihatku seperti aku ini lalat. Kenapa seperti itu? Bukankah kamu mengatakan kalau teman-teman kamu baik?”

“Itu karena mereka iri dengan kita,” Ezra mencium keningnya kemudian berbisik agar Eun Si tidak bersikap berlebihan ketika disekolah, “kamu mau berjanji?”

Eun Si menggeleng. Ia ingin Ezra terus menggenggam tangannya. Ia ingin terus berada disisi Ezra. Ia pergi jauh-jauh hanya untuk dekat dengan Ezra tapi kenapa justru sekarang diminta menjaga jarak agar terlihat normal disekolah. Eun Si kesal, baginya semua ini normal karena mereka pacaran.

“Kamu bilang seperti ini normal?” Ezra mendekatkan wajahnya, “benarkah? Kalau hanya ini yang kamu mau, apa boleh buat,” godanya, Eun Si jadi penasaran, “aku hanya ingin kamu menjaga jarak selama disini denganku.”


Mata Eun Si mencoba mencerna beberapa kata yang sulit ia terjemahkan menjadi kalimat. Setelah mengerti, ia tersenyum. Artinya, Ezra mengizinkannya melakukan apapun tapi Ezra akan bersikap biasa saja disekolah. Eun Si juga heran padahal sebelumnya, Ezra selalu melakukan hal-hal manis yang membuat hatinya berkembang. Kenapa sekarang seolah Ezra membuat batas?

Ezra - Novel Singkat Bagian 3 (novel by Aula Nurul M)

Tubuh Ezra hampir jatuh ketika melihat siapa yang ada didepan kelas sekarang. Seorang siswi baru dengan rambut kecoklatan berdiri di depan kelas. Ya. Siapa lagi kalau bukan Eun Si. Pacarnya. Ia merasakan jantungnya berhenti beberapa saat sebelum benar-benar yakin kalau Eun Si lah siswi pindahan itu.

“Nama saya Yoon Eun Si. Kalian bisa memanggil dengan Eun Si. Salam kenal,” Eun Si membungkukkan badannya. Seisi kelas bengong. Walaupun sedikit terbata-bata tapi gadis itu terlihat jelas mengerti bahasa Indonesia, “Oppa!” ia melambai-lambai sambil tersenyum manja pada Ezra. Seisi kelas lebih terkejut lagi, “kejutan.

Eun Si dipersilahkan duduk. Ia langsung meminta agar bisa duduk disamping Ezra. Teman sebangku Ezra sekaligus teman baiknya langsung menyingkir. Sedang Ezra masih tak percaya Eun Si benar-benar datang.

“Aku kesulitan bernafas karena terlalu lama tidak bertemu empat mata.” Ia memandang Ezra, “Oppa!” suaranya sedikit meninggi karena Ezra diam saja. Sedang Ezra masih dalam kebengongannya, “jangan membuatku takut!”

Seisi kelas memandang mereka. Selagi tak ada guru mengajar, mereka bisik-bisik apakah benar itu pacar Ezra? Bagaimana bisa ada gadis secantik Eun Si mau berpacaran dengan cowok pembuat masalah disekolah ini? Dengan cowok yang selalu berbuat buruk pada semua siswa kecuali teman baiknya saja. Dan juga, dengan cowok yang memiliki musuh dimana-mana. Mereka tak percaya kalau Ezra berhasil meluluhkan gadis yang tampak manis dimata mereka.

“Ya!” Ezra menjitak kepala Eun Si, “siapa bilang kamu boleh tinggal di dekatku?” tangan Ezra kini memegang pergelangan tangannya. Eun Si senyum-senyum manis sambil mencubit pipi Ezra, “kamu mau berbuat onar di tempat ini?”


Eun Si bengong mendengar kata ‘onar’ dari bibir Ezra. Ia belum membacanya di kamus. Tapi ia yakin kalau kata itu bukan sesuatu yang buruk. ‘karena aku benar-benar mengkhawatirkanmu.’

Ezra - Novel Singkat Bagian 2 (novel by Aula Nurul M)

Tengah malam, Ezra mendapatkan kabar kalau ada sekelompok siswa dari sekolah lain yang menantangnya balapan. Seperti biasa, ia tak menolak dan langsung tancap gas pergi.

Dua kelompok membuat taruhan. Ezra dan teman-teman setuju begitupun dengan penantang mereka. Apalagi Ezra terlihat seperti meremehkan. Dan, seperti dugaan Ezra, ia menang atas pertandingan tersebut.


“Kalian tahu, waktu tidur gue terganggu hanya karena orang-orang seperti kalian. Sangat gak menguntungkan,” ia pergi dengan wajah setengah mengantuk. Kembali pulang dengan memanjat pagar. Tidur.

Ezra - Novel Singkat Bagian 1


Ezra memukul perut salah seorang siswa di belakang sekolah. Pukulannya tak ada yang meleset. Sekalipun siswa tersebut melawan, Ezra tak pernah tersentuh walau hanya seujung kuku. Sedang dua teman Ezra berjaga-jaga agar tak ada yang memergoki mereka.

“Sial!” seorang cowok berseragam SMA dengan rokok ditangannya tiba-tiba muncul, “kenapa melakukan itu pada orang yang gak bersalah?” ia menendang kursi rapuh yang ada disana kemudian mengatakan pada siswa yang di bully agar pergi.

Amarah Ezra memuncak. Ia langsung mencengkram kerah seragam cowok itu dan menatap perang pada kedua bola matanya. Cowok itu sama sekali tak takut.

“Sepertinya kita perlu membuat ini lebih sederhana,” Vito melepaskan tangan Ezra dari kerah pakaiannya. Naas. Ezra memukul wajahnya. Satu pukulan tepat sasaran di pipi kanan tapi sisanya, Vito berhasil menghindar bahkan balik memukul.

Dua teman Ezra langsung melerai. Mereka tidak ingin kedua orang tersebut berkelahi karena urusannya bisa panjang. Sedang Ezra tak peduli. Ia yakin bisa membuat Vito tak lagi berkutik.


Ezra mulai memukuli Vito lagi tanpa jeda. Semakin lama, Vito semakin terpojok tapi ia tak melawan lagi. Justru tampak seperti ia membiarkan Ezra agar terus melampiaskan hingga lelah. Namun, belum sampai Ezra lelah, cowok itu berhenti ketika linenya berbunyi. Yoon Eun Si mengirim pesan agar mereka bisa video call. Terkejut, Ezra langsung pergi dari sana. Merapikan rambutnya dan menghubungi Eun Si, pacarnya yang berada di Korea.

Kamis, 25 Februari 2016

Cravinta - (Sebuah catatan calon cerpen entah novel entah apa tapi belum kelar)


Raja Aldes mendengarkan dengan seksama laporan mengenai kegiatan putri bungsunya yang benar-benar sedikit memalukan sebagai keturunan raja. Namun, menegur atau memberikan putrinya, Cravinta juga merupakan hal sulit.

“Jika apa yang dilakukan Cravinta tidak berlebihan, menghukumnya bukan hal benar.” Pangeran Zelroi berusaha melindungi adiknya, “ayah tidak akan menghukum Putri Cravinta, bukan?”

**

“Aku menyukainya. Titik! Salah sendiri memintaku untuk pergi ke sekolah yang sama dengan penduduk yang bukan dari golongan bangsawan,” Cravinta berceloteh pada kakak tertuanya sekaligus pewaris tahta, Zelroi, “pokoknya. Aku menyukainya. Titik. Aku akan mengatakannya pada ayah!”

Zelroi meminta adiknya untuk tidak bertindak gegabah. Mungkin ayah bisa memaklumi karena putrinya mulai menyukai lawan jenis tapi sebagai raja, tentu ia harus mendengarkan pendapat banyak orang di istana ini, “kamu memiliki banyak teman dari kerajaan lain,” ia mencoba membuat adiknya untuk berubah pikiran, “pangeran Edward, sepertinya ia menyukaimu.”

Cravinta tertawa kecil. Ia mengatakan pada kakaknya kalau Pangeran Edward adalah sahabatnya sekaligus temannya berbisnis, “aku tidak akan terlibat dalam pernikahan kerajaan yang diatur.”

“Siapa yang mengatakan pernikahan selalu diatur? Ayah dan ibu kita tidak seperti itu.”

“Ya! Karena sebelumnya mereka saling mencintai dan Ibu berasal dari keluarga bangsawan!”

Mata Cravinta mendelik tajam. Zelroi mendesah lelah kemudian meminta adiknya untuk beristirahat saja dan mencoba mempelajari sesuatu. ‘karena menurut orang-orang di istana ini, darah siapa yang mengalir adalah hal utama’

**

Venus membuang rokok yang baru sedikit dihisapnya. Seorang guru hampir saja memergokinya merokok. Sedang disudut lain, seorang gadis menatapnya tajam. Gadis itu mengetahui apa yang dilakukannya. Ya! gadis itu Cravinta.

Melihat wajah Cravinta memandangnya, Venus langsung pergi dari sana. Ia tidak suka dengan sikap Cravinta yang selalu berusaha mendekatinya. Terlebih, Cravinta merupakan gadis yang sangat berisik. Ia tidak suka gadis yang seperti itu.

“Kenapa kamu pergi?” tiba-tiba Cravinta muncul di depan matanya. Ia tak terkejut karena hal ini sudah biasa, “aku akan selalu merahasiakan tindakanmu tapi dengan satu syarat, bisakah kita berteman akrab?”

Ucapan itu membuat Venus bergidik ngeri. Ia langsung tancap gas pergi. ‘siswi pindahan itu mengertikan. Baru beberapa bulan tapi ia selalu mengikutiku.’ Ingatannya kembali saat pertamakali Cravinta memperkenalkan diri dengan tingkah cerianya. Dan, ingatannya akan Cravinta yang tiba-tiba tersenyum padanya saat ia tak sengaja menabrak gadis itu ketika berlari. ‘dia gadis yang sangat cantik. Bahkan hampir seluruh siswa menyukainya tapi, tingkahnya mengerikan. Bagaimana bisa seorang gadis menyatakan perasaannya terang-terangan?’

Sedang Cravinta tetap berjalan dibelakangnya tapi ia terhenti ketika telinganya mendengar Pangeran Edward bicara.

“Tuan Putri, apa anda disekolah? Bisakah kita beremu beberapa menit?”

Cravinta langsung pergi ke toilet. Memastikan toilet kosong dan tidak ada satu pun yang melihatnya masuk ke toilet. Ia memejamkan mata kemudian, wuss ia sudah tiba disebuah padang rumput nan hijau.

Banyak pengawal disana. Dan tentu saja Pangeran Edward sudah menunggunya. Ia membungkuk 45 derajat untuk memberi hormat pada Cravinta dan Cravinta memberi hormat dengan membungkuk kembali. Mereka saling melempar senyum kemudian memberi kode agar para pengawal menjauh dari sini.

“Hei! Kenapa kamu memintaku datang? Ganggu aja!” ucapnya santai. Ia selalu seperti ini dengan Edward ketika tidak ada orang lain, “apa kamu ada masalah? Wow!”

“Kamu letakkan dimana otakmu? Coba sini!” ia menarik rambut Cravinta yang sebenarnya sangat pantang seorang putri Raja rambutnya disentuh sembarang orang apalagi ditarik seperti itu, “aku hanya bosan dengan suasana sekolah. Seharusnya kamu menghiburku. Putri raja Aldes ternyata gak bisa menghiburku.”

Cravinta mengeluh. Ia tak ingn menghibur orang lain karena dirinya pun butuh hiburan. Edward tak mau tahu akan hal itu. Ia hanya ingin Cravinta melakukan sesuatu agar ia bisa sedikit terhibur, “hei! Kamu ini pangeran! Kenapa harus memintaku kalau bisa meminta pada semua pengawalmu agar mereka memberi pertunjukkan lucu.”

Bibir Edward manyun. Ia menjitak kepala Cravinta karena menurutnya ada yang salah disana


Senin, 08 Februari 2016

Sinopsis Stammi Piu Vicino


Cinta sama sekali tidak memandang perbedaan namun, adakalanya perbedaan membuatnya tidak bisa menyatu. –Spalsh Love- Dan, hati tidak akan pernah berubah. Bahkan jika seseorang melupakan seluruh isi dunia, hati tidak akan berubah apapun itu. Namun, siapa yang tahu hati manusia? Hati yang selalu sulit untuk ditebak. –il futuro-

Kamu yakin ketika kamu menyukai seseorang hatimu benar-benar menuliskan namanya? Bagaimana jika disaat bersamaan, hati kecilmu masih menyimpan satu nama? Nama yang sudah disimpan Tuhan. Dan, benarkah kamu menyukainya atau ia hanya pelarianmu? Atau benar jika dia cinta ke dua kamu atau justru orang lain yang menempati posisi itu? –Cinta ke Dua-

Bukan hanya ingin tahu banyak tentang cinta tapi ingin hidup dengan tenang. Di bumi. Ditempat dimana manusia saling mencintai satu sama lain.  –Aku, Kamu, Kita-

Kamu bisa menutup mata, menutup pikiran, dan menutup hati untuk orang disekitarmu. Hanya untuk satu hal, hatimu sendiri yang terkadang, bisa jadi salah. Hei, waktu itu berjalan, bukan berhenti. Tutup mata-tutup hati, lalu? Apa yang kamu dapatkan? Berlebihankan menutup semua itu? –Kessie-

Jika seseorang dihadapkan pada dua pilihan, sebuah kebenaran atau cinta? Apa yang akan dipilih? Apa yang kamu pilih? Bagaimana saat hati nuranimu dihadapkan atas pilihan itu? Kamu harus mengorbankan salah satu. Tapi sejujurnya, cinta itu tulus dan kebenaran itu mutlak. –Stami piu vicino-

Ketika ucapan tidak memberi bukti, sesuatu bisa berubah dengan mudah. Hati itu bukan mainan. Kesetiaan itu bukan iseng-iseng. Kepercayaan bukan candaan. Ada hukum sebab akibat yang hasilnya, kamu akan temukan sendiri jawabannya  nanti - Kobaek-

Kamu yakin pilihanmu benar ketika semua orang mengatakan salah? Apakah benar meninggalkan sesuatu yang baik? Bagaimana jika kebalikannya? Atau bagaimana jika dan justru itu lebih baik? Ada kalanya, hati salah memilih. Salah melakukan tindakan. Tapi ada kalanya, hati membawa kebenaran - Amor Caecus est-


*) Sinopsis diatas itu dari sebuah naskah kumpulan cerpen berjumlah 99 halaman A4 dimana pernah gue tawarin ke penerbit tapi gak dapet kabar baik atau bahasa halusnya sih di tolak ^^ mungkin karena isinya ada secuil curhatan penulis ^^ Dan dari semua cerpen diasat, gue paling suka cerpen yang berjudul 'il futuro' ^^ ehhh suka juga sama yang judulnya 'Kobaek'

Selamat membaca sinopsisnya ^^ Cerpennya menyusul yaa. Atau cari di post sebelum-sebelum ini rasanya ada yang pernah gue post

'

Sabtu, 24 Oktober 2015

BAB 1 - Novel "Penguntit Special"

BAB 1

Kau tahu ketika orang-orang iri padamu karena kau mendapatkan apa yang tidak mereka miliki? Jika kau mengetahuinya, apa yang akan kau lakukan?

Kebanyakan orang akan senang, akan bangga tapi, sebagian orang justru sedih. Apa yang kau miliki, belum tentu mereka miliki tapi, apakah kau sadar kalau kau tidak memiliki apa yang mereka miliki?

“Dania,” Mom tiba-tiba sudah ada di kamarku, “sudah larut malam, kamu belum istirahat sejak pulang sekolah tadi,”

Aku hanya mengangkat bahuku lalu membiarkan Mom duduk di ranjangku sambil mengusap kepalaku lembut. Kata Mom, Aku harus beristirahat atau Aku bisa sakit tapi, kurasa Aku tidak akan sakit.

Mom tersenyum padaku seolah ada makna lain di balik senyumnya, “baiklah,” Mom berdiri lalu mematikan lampu kamarku, “Mama tidak ingin melihatmu sakit,” lanjut Mom berusaha membuatku memanggilnya Mama.

“Baiklah,” kataku lirih, “Mom, bisakah lampunya dihidupkan?” lalu Mom menghidupkan lampuku. Aku tidak terbiasa memanggilnya Mama, Aku lebih suka Mom saja.

Di atas langit-langit kamarku ada bintang-bintang bergaya anak yang baru masuk taman kanak-kanak, Aku belum sempat membersihkannya ketika bermain-main dengan adik sepupuku kemarin.

**

“Pagi sayang,” Firas mencium keningku, “maafkan Aku mengenai semalam, Aku benar-benar sibuk, Aku tidak ada sedikitpun waktu untuk beristirahat,”

“Aku baik-baik saja. Aku tahu kalau kamu tidak menefon, kamu pasti sibuk,” jelasku, dia tersenyum, “tapi, bukankah pagi ini kamu juga sibuk?”

“Tidak, Aku tidak sibuk untuk pagi ini. Kita bisa ke sekolah bersama dan Aku akan belajar seperti biasanya, hari ini tidak ada jadwal latihan,”

Firas membukakan pintu mobilnya dengan senyum mengembang tapi, Aku tahu dia kelelahan. Menjelang turnamen basket, dia benar-benar terlalu memaksakan diri berlatih padahal turnamen itu masih 3 minggu lagi.

Tangan Firas memegang lembut tanganku sambil matanya fokus ke depan, menyetir. Aku tidak mengerti dengan pemikiran Firas untuk turnamen nanti yang jelas, dia terlalu memaksakan diri.

Firas memang kaptennya tapi, bukan berarti dia yang harus mati-matian berlatih sedangkan yang lain berlatih dengan waktu yang biasa saja. Itu dapat membuat kesehatannya memburuk bahkan pelajarannya terganggu.

“Aku tahu kamu sedang berpikir panjang melebihi rel, Aku tahu itu,”

“Tidakkah kamu mengerti,” Aku menghela nafas sejenak, “Aku mengkhawatirkanmu. Turnamen ini bukan segalanya, bukan sesuatu yang harus kamu kejar begitu rumit,”

Tiba-tiba Firas menghentikan mobil mendadak dan memandangku, “Aku senang kamu mengkhawatirkanku. Kuharap, akan seperti ini, selamanya,” lalu dia menyetir kembali.

Firas seorang siswa yang teladan, nilai-nilainya stabil, dia aktif dalam keorganisasian tapi, belakangan ini dia terlalu fokus pada turnamen. Aku tidak mengerti apa yang di kejarnya dalam turnamen tersebut yang jelas, bukan hanya sebuah kemenangan karena sekolah kami memang terbiasa menang.

“Bagaimana kabarmu dan Ibumu?” tanyanya, Aku  mengerti maksud pertanyaannya, “Aku tahu, kamu sulit beradaptasi dengan Ibu barumu,”

“Mom cukup baik dan Aku mengikuti saranmu,” jelasku. Aku dan Mom sebelumnya tidak pernah saling bicara atau lebih tepatnya Aku tidak ingin bicara dengan Mom. Namun, sudah 2 bulan ini hubunganku dan Mom mengalami peningkatan karena Aku sudah berusaha menerimanya sebagai istri Papa.

‘Kamu masih memanggilnya Mom? Kukira kamu memanggilnya Mama atau Ibu, mungkin,”

“Mama hanya panggilan untuk Ibu kandungku,”

Satpam sekolah menyapa kami ketika Firas membuka kaca mobilnya. Firas memang disukai semua penghuni sekolah ini, selain dia teladan, dia juga ramah, dan dia mendapat predikat siswa ter-tampan di sekolah ini.

“Dingin sekali udara di sekolah ini,” kata Firas ketika kami berjalan di koridor menuju kelas, “kurasa sebentar lagi para penggosip akan memenuhi madding sekolah kita,”

“Mereka memang terbiasa melakukan itu. Harusnya kamu senang karena mereka banyak menulis tentangmu, bukankah begitu?”

Firas mengajakku melihat madding sekolah dan disana, ada beberapa puisi ungkapan cinta untuknya. Aku tersenyum, membaca satu demi satu puisi-puisi indah yang terpajang dengan jelas.

Sebegitu tampannyakah pacarku sampai setiap hari harus ada tulisan-tulisan seperti ini? Ini cukup keren, sangat keren karena mereka pintar bisa membuat puisi seindah ini.

“Ayo,” Firas mengusap kepalaku lembut lalu mencium keningku, “mereka bodoh sekali menulis ini untukku, jelas-jelas disampingku ada kamu,”

“Mereka pintar, mereka juga keren,” Aku tertawa, “Aku saja tidak pernah menulis puisi untukmu,” lalu kami berjalan kembali menuju kelas.

Di kelas, para siswi langsung memandangi kedatangan Firas, bukan Aku. Sedangkan Aku, seperti biasa harus melihat para siswa yang dengan nakal melirik-lirikku padahal Firas sedang menggandeng tanganku.

“Kamu tahu satu hal kesamaan kita, kita sama-sama memiliki banyak penggemar di sekolah ini,” bisik Firas, “hanya saja, para cowok itu tidak ada yang berani menyatakan cinta padamu di madding sekolah,”

“Aku tidak suka di lihat seperti itu. Aku lebih suka mereka memperlakukanku sama seperti siswi lain tapi, hal itu tidak pernah kudapatkan,”

“Sudahlah, ayo duduk sebentar lagi bel,”

**

Langit-langit kamarku tinggi sekali sampai-sampai Aku harus menyingkirkan bintang-bintang kertas yang menempel dengan meminta bantuan Caroline, tetanggaku. Untung saja dia bersedia membantuku atau lebih tepatnya pasti, pasti bersedia membantu.

“Kelasmu sudah melakukan tugas praktikum dari Bu Lusiana?” tanya Caroline sambil mencoba menarik bintang-bintang yang menempel erat, “kurasa nilaimu bagus untuk praktikum itu,”

“Tentu saja, tapi akan berbalik kalau Aku melakukannya sendiri. Yah, seperti biasa, Firas melakukannya dengan baik,”

“Itulah gunanya tim atau lebih tepatnya pacar,”

Kami sudah bertetangga sejak tahun lalu dan Aku baru tau ketika Aku pindah kalau ternyata dia satu sekolah denganku. Dia siswi yang tidak terlalu popular di sekolah jadi, Aku tidak tahu tentangnya. Atau mungkin, Aku kurang berinteraksi dengan siswi kelas lain?

“Ibumu pergi?”

“Ya, Mom sedang membeli bahan makanan untuk minggu ini,” beritahuku, “jadi, kali ini tidak ada yang akan membawakan minuman untuk kita,”

“Sayang sakali padahal, Aku menyukai jus buatan Ibumu,”

“Benarkah? Aku lebih menyukai jus buatanku sendiri, rasanya lebih enak,”

“Kudengar dari Ibuku, hubunganmu dan Ibumu mulai berubah membaik,”

“Apa urusanmu menanyakan mengenai ini? Aku tidak suka membahas Mom karena yaa, Aku belum begitu mengenalnya. Kau tahu bukan, Ibu tiri tentu berbeda, bagaimana pun berbeda,”

Aku dan Caroline memang bertetangga tapi, kami tidak terlalu dekat. Mom yang dekat dengannya, bukan Aku. Mungkin karena Mom dan Caroline sama-sama orang asli sini sedangkan Aku berdarah campuran yang tentunya pemikiran kami berbeda.

Mom minggu lalu bertanya padaku mengapa Aku tidak pernah belajar bersama Caroline, tidak pernah ke sekolah bersama Caroline, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang pastinya kujawab, ‘sudah ada Firas, untuk apa?’

Mom benar, kami bertetangga, rumah kami bersebelahan, kami satu sekolah tapi, bukan artinya Aku akan akrab dengan Caroline. Hubungan kami hanya sebatas teman satu sekolah dan tetangga, tidak lebih kecuali mengenai ketidaksukaanku padanya.

Kring…kring…kring
Telefon di kamarku berdering.

“Aku akan mengangkatnya untukmu,” ucap Caroline, Aku mengangguk karena masih sibuk membereskan bintang-bintang keras yang sudah selesai di ambil dari langit-langit kamarku, “ini Ibumu, maksudku Ibu kandungmu,” beritahunya dan langsung kuambil telefon itu dari tangannya.

“Mama,” Aku bergitu senang Mama menelefonku, belakangan ini Mama sangat sibuk jadi dia jarang menghubungiku, “apakah Mama sehat-sehat saja?”

“Oh tentu sayang, bagaimana denganmu?” tanya Mama, kujawab iya, “apakah istri Papamu juga baik?” tanya Mama lagi, Mama begitu lancer berbicara bahasa Indonesia walaupun nadanya agak aneh.

“Ya, Mom baik tapi tidak sebaik Mama,” lalu kami bicara panjang lebar sekitar 1 jam lamanya, “Mama baik-baik saja bukan? Mama sudah bicara denganku hampir 1 jam.”

“Ya, tentu Mama baik-baik saja. Mama rasa anak Mama yang sibuk,” lalu Mama menutup telefonnya tanpa mengucapkan sampai bicara esok hari. Mama lucu sekali, walaupun dia sangat sibuk tapi masih menyempatkan waktunya untuk bicara denganku.

Semuanya sudah beres ketika Aku sadar Caroline sudah membereskannya padahal, Aku belum sempat berterimakasih padanya.

Kamarku ini cukup luas tapi sempit jika di bandingkan kamar yang kutempati saat mengunjungi Mama di Paris. Hanya ada 1 tempat tidur, satu meja rias, satu meja belajar, satu almari kecil, dan satu kamar mandi yang sempit. Tapi, Aku sudah memilih dan Aku tidak akan berkata seperti ini di hadapan Papa, ini akan melukainya.

Di atas meja tertinggal sebuah memo dari Caroline. Dia mengatakan kalau ada baiknya warna kamarku di ganti. Baiklah, Aku akan menggantinya nanti karena memang Aku tidak menyukai warna kamarku.

Caroline gadis yang baik dan ramah hanya saja, Aku kurang menyukainya. Aku tahu dia tidak ada salah padaku tapi, tetap saja Aku kurang menyukainya karena dia sainganku.

“Dania, Caroline sudah pulang?”

“Seperti yang Mom lihat,”

“Baiklah, apa kamu ingin makan?”

“Tidak, Aku sudah kenyang. Mama menelefonku tadi, akan ada sebuah paket untukku,”

Mom hanya tersenyum. Aku tahu Mom masih agak canggung untuk bicara denganku karena, Aku bicara dengannya seolah-olah dia hanya orang tambahan di keluargaku, bukan seorang Ibu.

Kalau dulu Aku boleh bicara, Aku akan melarang perpisahan Mama dan Papa. Tapi, saat itu Aku masih kecil dan Aku hanya bisa menangis karena Mama kembali ke Paris.

Setelah Mama dan Papa berpisah, Papa tetap pada pekerjaannya sebagai pegawai kantor biasa sedangkan Mama menjadi perancang pakaian terkenal di Paris. Papa menikah lagi lagi dengan wanita yang lebih muda dari Mama dan tentunya WNA sedangkan Mama, Mama tidak menikah lagi sampai sekarang.

Aku kasihan pada Mama karena Mama hidup sendirian, tanpaku. Aku bisa saja ke Paris, tinggal bersama Mama tapi, entahlah Aku masih betah di sini. Hanya saat ada libur saja Aku akan menemui Mama, terbang ke Paris dan menghabiskan waktu bersama Mama.

Liburan kemarin, Aku ke Paris menemui Mama bersama Firas. Mama senang Aku membawa Firas walaupun saat itu Aku dan Firas hanya sebatas teman, belum pacaran.

Kalau tidak ada Firas, mungkin Aku tidak bisa ke Paris. Saat itu keuangan Papa tidak mendukung sama sekali untukku ke Paris. Aku tidak ingin menggunakan uang tabunganku dari Mama karena Papa akan merasa bersalah tidak bisa membiayainya jadi, Aku hampir menangis tidak bisa pergi.

Aku diam, menyembunyikan dari Papa kalau Aku sedih. Kukatakan pada Papa kalau ya, tidak harus ke Paris setiap liburan. Papa bisa membiayai ongkos pesawat tapi, Papa akan sedih kalau dia tidak membawakanku uang saku walaupun kalau sudah di Paris, Mama pasti akan menyelesaikan segalanya. Tapi, Aku tahu perbedaan Papa dan Mama, Aku harus mengerti.

‘Kamu akan ke Paris tanpa uang dari Ibu kandungmu,’

‘Itu tidak mungkin. Tabunganku, semuanya uang Mama. Kalau meminta pada Papa, Papa akan terbebani’

‘Itu mudah. Anggap saja kamu menemaniku berlibur. Kamu tahu banyak tentang Paris sedangkan Aku, Aku tidak banyak mengetahuinya. Kamu bisa kan mengajakku berkeliling Paris?’

‘Maksudmu?’

‘Ya seperti itu maksudku. Sebagai imbalannya, Aku akan membawamu ke Paris tanpa membebani Papa kamu,’

Disanalah bantuan datang, Aku ke Paris bersama Firas. Papa hanya diam tidak banyak bicara apalagi Firas anak bos Papa di kantor jadi, Papa hanya menitipkanku pada Firas.

‘Mama yakin, dia menyukaimu’ kata Mama ketika Aku sudah di Paris dan membantu Mama bekerja, ‘kalau tidak, untuk apa dia ke Paris? Hanya untuk mengantarkanmu pada Mama?’

‘Dia ingin berlibur walaupun, selama disini dia belum bersenang-senang sama sekali’

‘Dia tampan, cocok denganmu. Mama juga menyukainya, dia anak yang baik’

Aku sering menceritakan tentang Firas pada Mama. Dari awal Aku mengenal Firas, bagaimana kami dekat, bagaimana kami bersahabat, dan hal-hal kecil yang kami lalui bersama.

‘semua orang mengatakan kalau Aku dan Firas sempurna tapi, kami tidak sempurna’

‘maksudmu karena Firas takut pada ketinggian dan takut pada ular?’

‘Bukan, bukan seperti itu. Sudahlah, Aku disini menghabiskan liburanku untuk bersenang-senang dengan Mama…… dan, yaa, tentunya Firas juga,’

‘Kamu bisa menemani Firas mengenal Paris asalkan kalian tidak pulang dalam keadaan mabuk. Mama lebih senang melihat kalian hanya berdua saja,’

Di Parislah kami akhirnya menjadi sepasang kekasih, di hadapan Mama dia menyatakan cinta dan Aku tidak dapat menolak sama sekali walaupun anak laki-laki yang kucintai bukanlah dia.

‘ketika Aku yakin kalau kamu yang kucintai, Aku akan di sisi kamu, di samping kamu, selama Aku bisa,’  Lalu kami berciuman atas perayaan hari jadi kami.


Earning Per Share

a.      Definisi Earning Per Share Earning Per Share (EPS) atau pendapatan perlembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberik...