Sabtu, 24 Desember 2016

Ulala

Bahkan ketika logika saya memilih untuk mengatakan masabodo, bodomat, emang-gue-pikirin, hati berkata lain.
Ulalalalalalalala 

Rabu, 30 November 2016

KKL






Tabek






















Arthur - Cerpen by Aula Nurul

Arthur
Oleh Aula Nurul M (Cerpen yang ditulis sekitar dibawah tahun 2014-an)

“Hei, kapan giliranmu?” tanya Arthur si pohon yang berusia 18 tahun, “kurasa sebentar lagi giliranmu lalu giliranku.”

“Mereka sudah menebang pohon yang di sebelah barat, kurasa sebentar lagi memang giliran kita,” jawab si pohon satunya yang masih sangat kecil, “kau enak sudah bisa hidup 18 tahun, Aku baru 5 tahun dan nyawaku harus begitu saja melayang!” dia tampak kesal.

Sudah 3 bulan belakangan ini, hutan di datangi tamu tak di undang yang membuat penghuninya kalang kabut tapi tidak bisa lari. Mereka datang tanpa sebuah undangan seperti jalangkung.

“Hei, Arthur!” sebuah pohon tua berusia sekitar 87 tahun memanggil dengan suara serak, “apakah mereka akan kemari esok?”

“Aku tidak tahu, kau tanya saja pada mereka yang tidak berperasaan itu,” Arthur menghela nafas, “Hei kau,” Arthur memanggil pohon kecil yang berada di bawahnya, “mengapa kau tidur di siang hari seperti ini?”

“Aku ingin menunggu ajalku saja, bukankah kita akan sama-sama di bantai dan di jual?” pohon kecil itu terlihat sedih, “Aku harus berpisah dengan kalian, Aku tidak terlalu sedih tapi, Aku sedih karena para manusia yang tidak bersalah juga akan terkena imbasnya.”

“Tidak bersalah bagaimana?” si pohon tua bicara dengan suara paraunya, “mereka juga tidak bisa menghentikan, biarkan saja mereka merasakan amarah alam. Apa peduli kita jika mereka tidak peduli sama sekali?”

Satu per satu pohon di hutan sebelah barat mulai hilang tanpa jejak. Para penghuni hutan kehilanga habitat mereka dan persediaan makananpun menjadi kacau bahkan para semut pun menjadi korbannya.

Tidak ada berita baik atau buruk, yang ada hanya berita duka setiap jam nya. Arthur, si pohon yang biasanya ceria pun menjadi ketakutan dan serba salah. Dia tidak tahu harus berbuat apa yang dia tahu, hidupnya akan terancam juga.

**

Hari mulai menjadi gelap, matahari sudah melambai-lambai dan di bawah rembulan, Arthur berdoa pada Tuhan agar besok tidak akan menjadi lebih buruk dari hari ini.

“Tuhan, jika memang mereka senang dengan kepergian kami maka, kami pun akan senang setelah kepergian mereka,” doa Arthur.

“Bicara apa Kau ini nak,” kata si pohon tua yang mendengar doa Arthur, “apa maksudmu mereka pergi?”

“Jika kita di bantai, mereka sama saja membantai diri mereka sendiri. Bukankah bencana alam dapat dihindari karena kita? Kalau tidak ada kita, siapa yang bisa membantu mencegahnya?”

“Benar Kau nak, para manusia tidak berperasaan itu bodoh sekali.”

Perlahan mata Arthur mulai mengantuk dan dia tertidur lelap. Dalam mimpinya, Arthur bertemu malaikat cantik yang mengajaknya berjalan-jalan di langit. Langit sangat indah, lebih tenang, lebih damai, dan terasa begitu menyenangkan, berbeda dengan keadaan hutan belakangan ini.

“Nantinya kau akan tinggal disini, harusnya kau senang,” malaikat itu tersenyum pada Arthur, “benarkan ucapanku?”

“Tapi, kurasa para manusia masih membutuhkanku walaupun.....” dia terhenti sejenak, “yah, tempat ini menyenangkan tapi, Aku merasa mereka masih membutuhkanku...”

“Kau bersungguh-sungguh?”

“Entahlah tapi, mereka juga tidak menginginkanku kokoh di atas tanah itu.”

**

Mentari pagi menyinari, Arthur terbangun dan dia sudah melihat pemandangan tak menyenangkan. Dari jarak 100m terlihat penebangan liar terjadi lagi, para burung beterbangan takut, para gajah pun berlarian, dan para binatang-binatang lainnya shock mendalam.

“Mereka bisa lari tapi kita tidak,” kata pepohonan kecil, “Arthur, kami takut,” pohon-pohon itu melihat Arthur dengan wajah memelas, “lakukanlah sesuatu!”

“Untuk apa kalian sedih? Kita dapat ke surga dan disana, tidak ada yang mengganggu kita!” si pohon tua sudah bosan dengan keadaan hutan yang makin memburuk.

“Aku punya ide!” Arthur bersemangat.

**

Di televisi puluhan stasiun televisi menayangkan berita heboh, ratusan binatang buas menyerang kota, burung-burung hutan beterbangan ke kota, dan hewan-hawan lainnya merusak kota. Semua itu menjadi berita paling heboh dan meresahkan warga.

Kejadian yang aneh tersebut menyebabkan tanda tanya besar dan akhirnya, terkuaklah penebangan hutan secara liar. Polisi menangkap semua penebang liar dan sebagian hutan terselamatkan.

“Arthur, idemu sangat bagus.”

“Tentu tapi, kasihan teman-teman kita yang sudah ke surga,” Arthur terlihat sedih, “Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain ini untuk mereka,”

“Sudahlah Arthur, sekarang, tugas kita menjaga hutan ini untuk para manusia yang masih peduli pada kita, oke?” mereka tersenyum pada Arthur, Arthur menghela nafas sejenak dan dia berteriak senang, “nah gitu dong!”

“Tanpa kita, banyak bencana yang akan timbul. Setidaknya, kita pahlawan di alam.” Wajah ceria Arthur kembali lagi.


TAMAT

Kamu adalah alasan untuk...,

Kamu.
Iya.
Kamu.

Kamu adalah beberapa, maaf, kamu adalah salah satu alasan untuk saya berpikir untuk gak mudah mempercayai orang lain.

Kamu adalah alasan kenapa saya harus berhati-hati ketika mendengar orang lain bicara.

Kamu juga adalah alasan kenapa saya gak bisa mempercayai orang begitu mudah.

Itu saja,

hanya itu,

cuma itu,


dan gueee lelah mau ngetik apa

Selasa, 29 November 2016

Ezra - Novel Singkat bagian 10-11 (Novel by Aula Nurul)

Sudah ada belasan motor berjejer untuk bertanding. Tapi ini bukan pertandingan seperti yang muncul di televisi atau seperti di film-film. Ini hanya pertandingan yang selalu membuat petugas keamanan kesal karena lagi-lagi mereka dan mereka.

“Apa yang dipertaruhkan?” tanya Ezra pada seorang temannya, “kalau gak sebanding, gue mundur.” Senyum sinisnya terpancar jelas, “jelaskan apa itu?”

Mereka saling pandang. Ezra curiga. Kemudian muncul seorang gadis bergaun putih disana. Gadis yang benar-benar sangat dikenal Ezra. Ia berdiri ditengah-tengah mereka sambil tersenyum manis. Rambut panjangnya berkibar-kibar akibat hantaman angin malam.

“Ayo,” ucap lawannya, “taruhan yang menyenangkan.”

Merasa tertantang, Ezra setuju. Kemudian beberapa menit berlalu, pertandingan dimulai. Sepanjang lintasan, kepala Ezra berputar-putar wajah gadis bergaun putih tersebut. ‘Alellika’ sebutnya dalam hati.

Sedang di tempat lain, disebuah apartemen, Eun Si sedang fokus pada lukisannya. Namun, berkali-kali ia fokus, sebanyak itu juga ia gagal. Seberapa pun ia berusaha melukis, tangannya selalu tak bisa mengikuti kemauannya. ‘Ezra?’ ia mendesah lelah dan menyebut nama Ezra beberapa kali tapi pikirannya kacau.

Oppa,” Eun Si melihat kakak kandungnya yang sedang membaca dukumen ditangan. Ia meminta izin untuk pergi keluar mencari Ezra. Kakaknya hanya melemparnya dengan senyum sinis, “thanks,” ia berlari keluar kemudian memencet tombol lift. Segera pergi untuk melacak keberadaan Ezra.

Eun Si berhasil mendapatkan tempat dimana pacaranya berada. Tak menunggu waktu lama. Ia tiba disana. Tapi, yang ia temukan justru teman-teman baik Ezra. Orang yang ia cari tidak ada disana.

“Eun Si?” seorang cowok menghampirinya. Ia membuka topi. Eun Si mengenali cowok itu sebagai teman sebangku Ezra sebelum ia yang duduk disana, “Ezra...,” mata Eun Si mendapati handphone Ezra ditangannya, “sebentar lagi selesai. Kamu datang untuk mendukungnya?” tanyanya, Eun Si menggeleng, “lalu?” cowok itu sedikit khawatir apalagi ada Allelika disana.

“Bosan. Aku bosan. Kakakku datang hanya untuk urusan bisnis. Sangat membosankan.” Jelas Eun Si, “apa yang dilakukan Ezra sekarang? Dia tidak pernah menceritakan hal ini padaku.”

Teman-teman Ezra yang lain saling pandang mendengar Eun Si bicara. Mereka tak tahu harus merespon apa. Sedang diseberang sana, musuh-musuh Ezra melambaikan tangan pada Eun Si. Karena tak tahu apapun, Eun Si ikut melambaikan tangan sebagai sopan santun.

“Itu! Itu Ezra!” orang-orang langsung berkumpul. Melihat motor Ezra memimpin. Sedang Eun Si jauh dibelakang mereka. Ia masih berpikir untuk apa Ezra melakukan semua ini, “akhirnyaaa!”

Mereka berteriak. Kemenangan. Bahkan langsung mengangkat tubuh Ezra. Musuh mereka mengepalkan tangan. Marah. Ezra diturunkan. Ia menghampiri seorang gadis, Allelika. Ia belum menyadari ada Eun Si disana.

“Dengan begini, artinya, kamu gak ada hubungan apapun dengannya,” ucapnya pada Allelika sambil melirik musuh sekaligus pacar Allelika. Taruhan ini adalah mengenai Allelika. Jika Ezra menang, maka Allellika bisa putus dengan pacarnya, “aku melakukan ini untuk kamu,” senyum Ezra mengembang. Para musuhnya pergi begitu saja. Ia pun memeluk Allelika.

Ezra memandangi teman-temannya. Mengatakan kalau malam ini mereka harus merayakan kemenangan tapi teman-teman Ezra diam. Hening. Curiga dengan sikap teman-temannya, Ezra melihat sekitar. Kemudian, ia menemukan Eun Si berdiri mematung, “E...Eun Si?”

Oppa!” mata Eun Si berkaca-kaca. Ia memang tidak tahu siapa Allelika dan apa yang membuat Ezra melakukan semua ini. Tapi ia melihat ketulusan dimata Ezra, “Oppa, ayo pergi dari sini.” Ajak Eun Si. Teman-teman Ezra mengangguk tapi Ezra justru menolak, “benarkah?” Eun Si kesal tapi ia tidak bisa marah. Yang dapat ia lakukan hanya pergi dari sana secepat mungkin. Ia tak ingin tangisnya pecah didepan banyak orang.

**

Kakak kandung Eun Si naik darah melihat adiknya tak juga berhenti menangis. Ia sudah memperkirakan kalau Eun Si akan terluka jika mengenal Ezra lebih jauh.

“Tapi, aku mencintainya!” Eun Si mengamuk. Kakaknya tidak tahu apa yang Eun Si katakan karena ia benar-benar tidak mengerti bahasa Indonesia, “menyebalkan!”


Ia menulis sesuatu diatas secarik kertas dan dibawahnya ada paspor. Tertulis jika 2 minggu lagi Eun Si bisa pulang. Tapi, jelas Eun Si menolak. Ia ingin disini, “Indonesia indah. Jika bukan karena Ezra, aku ingin karena teman-temanku disini.” Ucapnya yang jelas tidak dimengerti kakaknya. Eun Si ingin memiliki teman disini dan ia sudah mendapatkan beberapa.

Ezra - Novel Singkat Bagian 8-9 (Novel By Aula Nurul M)

Eun Si makan siang ditemani dua sahabat baik Ezra. Mereka diminta tolong Ezra agar menjaga Eun Si. Sedang Eun Si heran karena menurutnya, ia baik-baik saja seorang diri.

“Ah, kalian mengenal Vito?” Eun Si mengeluarkan handphonenya. Menunjukkan kalau Vito mengirim pesan padanya, “beberapa waktu lalu, ia juga mengajakku bicara. Apakah Vito dan Ezra memiliki jarak?”

Kedua cowok itu saling pandang. Ezra meminta mereka agar tidak menjelaskan apapun yang buruk pada Eun Si tapi melihat wajah memohon Eun Si, mereka pun tak tega. Mau tak mau mereka memberi tahu kalau benar jika Vito dan Ezra memiliki jarak yang sangat jauh.

“Menurut kalian, apa Vito itu baik?” Eun Si penasaran. Mereka mengiyakan, “apa alasan kalian berpikir seperti itu?”

“Dibanding Ezra, orang-orang berpikir Vito tidak pernah membuat masalah. Bahkan ia bersikap ramah pada semua orang. Tapi bagi kami, hati manusia siapa yang tahu?” kemudian mereka menegaskan sebaik apapun Vito tapi Ezra tetaplah sahabat mereka dan tetap yang terbaik, “kenapa kamu menanyakan itu? Vito mengganggumu?”

Mata Eun Si memandang kanan-kiri, “dia tidak mengganggu. Hanya saja...,” ia tak tahu harus mengatakan apa, “beberapa waktu lalu, ia mengatakan hal-hal buruk tentang Ezra. Kenapa bisa seperti itu? Ckck.”

**

Ezra memasakkan sesuatu untuk Eun Si. Gadis itu sangat senang setiap kali Ezra yang membuat makanan. Bahkan, ia berharap, bisa setiap hari seperti itu.

“Seharusnya kamu yang melakukan ini,” Ezra melempar lobak pada Eun Si. Gadis itu menangkapnya dengan tepat, “mana tamu undangan yang lain? Bukankah kamu mengatakan kalau ada perayaan pindah rumah?”

Kepala Eun Si mengangguk-angguk. Ia menunjukkan jam tangannya kalau tamu undangannya akan datang setengah jam lagi jadi mereka datang saat makanan selesai dimasak, “aku akan membantu dengan senyum manisku.” Ia meletakkan kedua telapak tangannya pada pipi, “ini akan sangat membantu.”

Ezra hanya mendesah lelah kemudian lanjut memasak. Sejujurnya, ia tak pernah memasak untuk siapapun kecuali untuk Eun Si. Ia juga tidak mengerti kenapa setiap memasak untuk Eun Si selalu enak padahal sejujurnya, ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ia buat.

“Kami datang,” beberapa teman sekelas mereka datang dengan membawa beberapa cemilan. Eun Si langsung senang tapi tidak dengan Ezra. Ia kesal karena beberapa tamu undangan ada yang tidak dikenalnya.

“Dia teman sekelas kita. Apa kamu benar-benar tidak mengenal semua teman sekelas kamu?” Eun Si bertanya-tanya, “itu keren! Kalau bisa, hanya ada satu gadis yang kamu kenal didunia ini yaitu aku. Aku. Aku.” Ia mengulang-ulang ucapannya. Bukan karena alasan lain tapi bagi Eun Si, hanya ia gadis yang ada dihidup Ezra karena Ezra tak memiliki saudara perempuan dan karena ibunya Ezra juga sudah berada disurga, “pokoknya hanya aku.”

“Siap bos!”

Teman-teman mereka hanya memandang aneh dengan sikap Ezra yang seperti itu. Lebih terkejut lagi saat mereka tahu kalau Ezra yang memasak semua makanan yang terhidang.

“Kami boleh memakannya?” tanya seorang cewek. Eun Si langsung tertawa mendengarnya. Bukan karena alasan lain tapi karena cewek itu mengenal Ezra yang dingin dan mengertikan, “terimakasih.”

“Kenapa suasana jadi sangat tegang. Apa yang terjadi?” Eun Si kesal, “oppa! Mereka takut padamu. Tersenyumlah agar mereka tidak takut lagi.”

Tapi bukannya tersenyum, ia justru menarik Eun Si dalam pelukannya dan mencium gadis itu, “aku hanya ingin banyak tersenyum untuk kamu,” bisiknya, Eun Si tersenyum lebar, “kamu masih ingin aku tersenyum untuk mereka?”

“No! Tidak-tidak! Ezra akan tersenyum untukku saja. Kalian jangan iri,”

Teman-temannya langsung tertawa kecil dan suasana mulai mencair. Kini, mereka mulai beranggapan kalau Ezra tidak sedingin yang mereka tahu dan tidak sekejam yang semua orang tahu, ‘kalau ia dingin dan kejam, orang seperti Eun Si gak akan bersamanya.’ Batin teman-teman.


**

Earning Per Share

a.      Definisi Earning Per Share Earning Per Share (EPS) atau pendapatan perlembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberik...