Senin, 04 Januari 2016

Eirenne - Cerpen (Belum Kelar nulisnya ^^)

Eirenne menatap bangku kosong disebelahnya, ‘gue harus seneng atau sedih? Dia bahkan gak bisa dihubungi!’ matanya menatap tajam ke bangku kosong itu. Bangku milik pacarnya, Kevin. Cowok yang hari ini sedang mengikuti olimpiade sains internasional dan tentu saja, cowok itu sedang tidak berada di Indonesia.

“Lo kangen?” tanya teman-teman sekelasnya, Eirenne hanya melempar senyum. Benar. Ia kangen tapi lebih dari itu, ia kesal dengan Kevin yang sejak dulu hingga kini seperti memiliki dunia sendiri. ‘dia berprestasi di sekolah ini. Bawa nama baik sekolah bahkan bawa nama baik bangsa ini. Tapi, ngabarin gue sedikit kan bisa!’

Suasana sekolah sepi bagi Eirenna karena Kevin belum kembali juga. Tapi, sekalipun kembali, sedikit tak ada bedanya. Cowok itu lebih banyak diam. Lebih banyak belajar dan mendengarkan musik tapi jarang sekali mendengarkan musik Eirenne.

**

Seorang guru membawa siswa pindahan. Cowok dengan potongan rambut yang kekinian itu memperkenalkan diri. Ia melihat Eirenne sekilas. Jelas, ia pernah melihat Eirenne di televisi. Siswi itu salah satu penyanyi yang cukup sering muncul di televisi walaupun tidak terlalu berada di puncak.

Namanya Teo. Ia duduk tak jauh dari tempat Eirenne. Beberapa detik, Eirenne sempat melihatnya tapi pikirannya kembali karena Kevin masih belum memberi kabar. Ia bahkan tidak tahu pacarnya itu masuk atau tidak ke babak final.

“Anak pindahan itu manis ya,” bisik-bisik dikelas mulai terdengar, “bisa semangat belajar kita!”
Eirenne penasaran. Ia memandang Teo. Cukup lama ia memandang cowok itu. Dan, Eirenne tersenyum. Senyum manis. Tak seperti biasanya yang ia tak pernah tersenyum semanis itu kecuali kalau ada Kevin.

“Ciee. Eirenne. Cie. Bilangin ke Kevin loh,” goda teman-temannya. Tapi sejujurnya, mereka tak akan mengatakan itu pada Kevin. Bukan karena mereka ingin melindungi Eirenne tapi karena Kevin seperti patung es yang begitu dingin.

**

Kevin masuk ke kelas. Mengusap rambut Eirenne kemudian duduk dibangkunya dengan tenang sambil mendengarkan musik. Sedang Eirenne tersenyum begitu manis. Ia sesekali mencubit pipi Kevin. ‘entahlah, sekalipun ia seperti patung tapi gue merasa hatinya beda. Titik!’

Tangan Eirenne menarik headset Kevin setengahnya. Mereka mendengarkan lagu bersama. Ia mengeluh kenapa Kevin jarang mendengarkan suara merdunya justru mendengarkan suara orang lain, “padahal, suara aku lebih bagus dari dia,” yang dimaksudnya adalah penyanyi yang sekarang lagunya sedang mereka dengarkan. Sayang, Kevin cuek. Eirenne pun hanya mendesah lelah. ‘tapi hal seperti ini, gak pernah bisa buat gue bener-bener marah sama dia’

Disisi lain kelas, Teo melempar senyum pada Eirenne. Sontak, Eirenne terkejut tapi ia tetap membalas senyum itu. Mata Kevin melihat itu semua tapi ia langsung menutup mata seolah menikmati lagu yang didengarnya dan tak melihat apapun.

**

Eirenne pusing tujuh keliling. Ia tak tahu harus masuk universitas mana. Kini, ia sudah lulus SMA. Sekalipun karirnya naik sedikit demi sedikit tapi tetap saja pendidikan baginya penting.

Di sisi lain, Kevin sudah mendapatkan salah satu universitas ternama di luar negeri. Sayang, dalam detik-detik terakhir, tiba-tiba ia mengundurkan diri.  Seorang pun tidak ada yang tahu alasannya tapi Kevin mengatakan kalau pendidikan di Indonesia juga baik, kenapa harus jauh-jauh? Ya. Dia benar hanya saja, orang-orang yakin ada alasan lain.

“Ini,” Kevin menunjukkan salah satu universitas ternama di Indonesia pada Eirenne, “minggu depan tes untuk penerimaan mahasiswa baru.” Beritahunya, Eirenne juga tahu. Tapi, Eirenne merasa horor karena tes disana sangat sulit, “sulit? Masuk di sekolah kita juga melalui tes yang sulit tapi kamu bisa melewatinya. Kenapa sekarang gak bisa?”

Senyum langsung terlukis dibibir Eirenne. Alasan ia bisa melewati semua tes masuk SMA dulu karena cinta pertamanya mendaftarkan diri disana. Siapa lagi kalau bukan Kevin. Dan alasan ia berusaha untuk tetap berada diperingkat lima besar disekolah karena tak ingin Kevin menganggapnya bodoh.

“Oke! Ini artinya kamu juga akan kuliah disana kan? Gak masalah. Asal kamu disana, aku akan usaha.” Eirenne semangat. Bibirnya melengkung setengah bulan.

Tangan Kevin mencubit hidung Eirenne. Ia kadang tidak mengerti kenapa Eirenne selalu mengatakan tidak bisa mengerjakan soal tapi ketika ia turun tangan, Eirenne langsung behasil mengatasi kesulitannya bahkan mendapatkan nilai hampir sempurna. ‘aneh’

**

Teo tersenyum. Ia menyapa Eirenne dan tak menyangka mereka akan satu ruangan saat tes. Cowok itu terus mendekatinya sejak SMA. Sesaat sempat Eirenne sedikit goyah. Bukan karena Teo lebih tampan tapi karena Teo tidak seperti patung es.

“Tadi gue liat, lo kesini bareng Kevin. Dia daftar disini juga. Gue pikir dia bakal kuliah diluar negeri.” Ucap Teo.

“Dia kan gak mau ninggalin gue,” Eirenne tertawa kecil. Sedang Teo heran kenapa Eirenne dan Kevin masih saja bersama padahal mereka terlihat jarang berbicara.

**

Eirenne pulang kerumah setelah mengisi salah satu acara televisi. Buru-buru ia mengabari Kevin kalau hari ini rasanya tidak tenang apalagi besok pengumuman apakah ia diterima atau tidak di universitas itu. Para penggemar Eirenna mendukungnya tapi ia meminta Kevin untuk ikutan memberi dukungan. Sayang, cowok itu cuek dan berkata kalau ia sudah memberikan lebih dari dukungan.

“Gitu ya? Yaudah deh,” Eirenne sedikit kesal. Ia menutup teleponnya. Berharap Kevin akan menghubunginya dan meminta maaf sekalipun ia tahu kalau sepertinya Kevin tak akan melakukan itu. Dan, benar! Kevin tidak melakukan itu.

‘Ampun gue. 4 tahun pacaran tapi argh! Es batu banget! Tapi, dia nunjukin kepeduliannya dengan hal yang lebih dari sekedar kata-kata’ kepala Eirenne pusing. Kadang ia iri melihat teman-temannya yang begitu diperhatikan pacar mereka. Tapi dilain sisi, ia tak dapat mengelak walaupun Kevin jarang perhatian seperti pacar orang lain tapi apa yang dilakukan Kevin selalu untuk kebaikan dirinya.

**

“Wow! Apa ini! Apa-apaan!” Eirenne terkejut ketika melihat namanya ada diurutan atas mahasiswa baru yang artinya nilainya besar, “luar biasa!” dibelakangnya, Kevin tersenyum kecil. Melihat kebahagiaan Eirenne yang bersorak-sorak kegirangan, “Kevin! Kevin!” ia mencari-cari Kevin ditengah kerumunan. Kevin bersembunyi dan pergi ke sisi lain kampus.

Cowok itu berada diurutan paling atas dalam fakultas kedokteran. Nomor 1. Tapi, ia tidak segirang Eirenne.

“Kamu kenapa?” Eirenne langsung hening ketika menemukan Kevin yang sedang mendengarkan musik. ‘seharusnya dia bahagia berada di nomor 1. Gue aja yang di nomor sekian bahagianya gak ketolongan,’ kepalanya bersandar pada bahu Kevin. Ia ingin tahu kenapa Kevin tidak terlihat bahagia.

“Karena kamu lupa berterimakasih.” Jawabnya singkat. Eirenne jadi malu. Sebelum tes, Kevin mengajarinya mengerjakan soal, “ckck,” cepat-cepat, Eirenne mencium pipi Kevin. Cowok itu justru menjitak kepalanya, “keluarga aku harus tau berita ini!” katanya bersemangat. Sedang Kevin tersenyum kecil melihat tingkah Eirenne seperti itu.

**

Gedung fakultas kedokteran dan ekonomi berdekatan. Jadi, keduanya masih bisa sering-sering bertemu. Naas, ada satu hal yang membuat Eirenne kesal. Teo, cowok itu, mengambil semua mata kuliah pada jam yang sama dengan dirinya. Ia tak habis pikir, ada apa dipikiran Teo padahal ia kira, Teo sudah berhenti mendekatinya semenjak memiliki pacar adik tingkat.

“Gue udah putus,” jelas Teo singkat, padat, dan mengertikan ditelinga Eirenne, “mau liat-liat organisasi kampus gak? Siapa tau lo tertarik, dan gue juga tertarik. Mungkin.”

Mata Eirenne mendelik tajam. Ia berusaha menjauhi cowok itu. Memang mereka berteman baik tapi ia tak ingin membuat Kevin kesal. Sekalipun Kevin tidak pernah memperlihatkan kekesalannya akan sikap Teo yang sejak SMA tampak terang-terangan mendekati, tapi ia merasa dalam hati Kevin, cowok itu kesal setengah mati.

“Udah. Ayo. Kevin gak ada jadi gak usah takut-takut gitu,” ia menarik tangan Eirenne paksa. Gadis itu marah dan melepaskannya. Ia langsung pergi mencari Kevin. Bibirnya ingin menceritakan tindakan Teo yang tidak sopan tapi ia mengurungkannya. ‘entah Kevin akan ngamuk atau gak sama Teo tapi gue yakin, Kevin bakal kesel setengah mati. Aih!’

Melihat Eirenne yang gelisah, Kevin mencubit hidungnya. Membuat Eirenne langsung tenang. Dalam pikiran Kevin, ia tahu ada yang tidak beres tapi ia tetap tenang.

“Kamu gak nanya gitu aku kenapa atau ada apa atau apa kek?”

“Nanya?” Kevin tertawa kecil, “nanti juga kamu cerita,” kemudian ia mendengarkan musik.
Eirenne hanya mendesah lelah. Bisa-bisanya Kevin terus mendengarkan musik dalam keadaan seperti ini. ‘seharusnya dia ngomong apa kek ke gue. Udah berapa tahun gue pacaran sama dia? Ckck’
Tiba-tiba, managernya menghubungi Eirenne. Ia mencak-mencak karena Eirenne belum juga datang untuk menghadiri salah satu acara.

“Itu masih lama kenapa ribut sekarang sih!” Eirenne kesal tapi ia tetap berangkat setelah Kevin langsung menawarkan diri mengantarkannya, “ngeselin!”

“Kalau kamu menyukainya, jangan mengeluh. Lakukan.” Bisik Kevin setelah mengantarkan Eirenne. Gadis itu tersenyum. Benar. Ia suka menyanyi. Suka menulis lagu. Ia tak boleh mengeluh, “memiliki pacar yang berprestasi membuatku senang,” bisiknya lagi kemudian pergi.

Mata Eirenne berbinar. ‘berprestasi? Pokoknya tahun ini gue harus dapet penghargaan lagi! Harus!’ ia memantapkan hatinya, ‘mungkin Kevin bukan pacar yang romantis tapi ia pacar yang entahlah, gak ada hal buruk yang dilakukannya padaku.’

**

“Kapan pacar lo dikenalin ke publik?”

“Kalau Kevin ngizinin kapan aja boleh tapi gue takut nanti cewek-cewek banyak yang ngejer dia karena dia itu.... dia itu.... seperti malaikat,” pipinya memerah sedang sahabatnya hanya geleng-geleng kepala.

Sahabat Eirenne tak mengerti kenapa Eirenne terlihat seperti gadis yang baru saja jatuh cinta padahal sudah berpacaran hampir 4 tahun. Eirenne selalu tampak seperti gadis yang jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Karena cinta itu bukan sekedar kata-kata. Atau sikap yang romantis. Cinta lebih luas dari itu. Dan, gue bener-bener jatuh cinta sama Kevin. Bukan cinta monyet atau cinta yang biasa, lebih dari itu.”
Sahabatnya hanya tepuk jidad merasa kalau Eirenne salah jatuh cinta dengan cowok sedingin es. Tapi bagi Eirenne, Kevin tak sedingin itu, “udah gue bilang. Dia memang patung tapi, saat sama gue, walaupun sedikit tapi kata-katanya bermakna luas. Dan dia gitu cuma ke gue. Titik!”


**


Lanjutannya? Bentarrrrrr gue mau mikir dulu hihi ^^

Saya tidak percaya

Entah kenapa, beberapa waktu lalu-lalu-laluuuu seorang teman mengatakan sesuatu ke gue. Yaa kata banyak orang sih itu sesuatu yang membahagiakan. Sayang, gue gak percaya. Masalahnya, yang mengatakan itu pihak ke-3 bukan pihak ke-2 yang seharusnya mengatakan langsung.

Entah.

Gue gak paham.


Anggap angin lewat sajaaa

Minggu, 27 Desember 2015

3 Desember

Dimulai dari pagi yang gue ikut mata kuliah manajemen investasi. Berhubung semalem gue tidurnya terlalu larut, alhasil gue agak ngantuk akut di ruangan. Untung gue selalu suka duduk paling depan jadi walaupun ngantuk tetep gak bisa tidur beneran. Dan tentu saja, seenggaknya ada yang masuk ke otak.

Okee kamudian, karena jam selanjutnya masih lama. Tadi selesai manajemen investasi kan masih jam 11 tuh, ehhh mata kuliah berikutnya jam 1 siang. Alhasil lama kan kalo gue duduk melulu dikampus. Yasudah, gue otw ke sekret LPM Raden Intan Lampung. Disana, gue ngobrol kemudian gue duduk cantik didepan layar komputer yang memang ada disekret. Nah, gue ngetik cerpen. Judulnya belum ada sih tapi isinya ada tokoh cewek namanya Alera. Tokoh lain namanya Nev, dll.

Ehh gak kerasa waktu udah menunjukkan pukul 12. Harus makan, sholat, dll. Yaudah makan dulu. Kemudian tiba-tiba udah jam 1 kurang 5 menit. Yaudah langsung otw ruangan kuliah. Ternyata. Karena dosennya ada keperluan mendesak, jam kuliah diundur jadi jam 3 sore. Iya. Jam 3 sore dan digabung sama anak kelas F. Hei, 2 kelas jadi 1? Ramainyaaa.

Tapi ada yang bilang gue seneng karena ‘kata mereka’ iyaaa ‘kata mereka’ lohh ada yang gue suka disitu. Gue mah terserah apa kata mereka deh. Tapi sejujurnya, gue lebih suka jam 1 aja soalnya lelah loh jam 3 itu. Harusnya kan waktu segitu lamanya bisa gue pake untuk bobo cantik dirumah.

Kemudian, balik lagi lah gue ke gedung PKM alias ke lantai 2nya tempat sekret LPM. Disana gue ngobrol-ngobrol sih. Ngajak kawan sekelas gue juga sii Annisa. Sambil nunggu jam 3 hihi.

NEXT – jam 3

Gue masuk ruangan. Duduk paling depan biar gak ngantuk. Ehh kata Yunda alias Ike, duduk samping dia aja karena ada si cowok XXX itu loh yang gosipnya gue suka sama dia. Aduh. Langsung deh gue nolak. Alesannya, gue lebih suka duduk depan. Lalu, gue gak mau dikira cewek apalah atuh kok pengen deket-deket cowok yang itu tuhh seolah gue lebay banget kan ^^

Duduklah gue. Si cowok itu belum masuk sih. Mungkin dia telat. Atau dia gak masuk. Tapi tadi siang sih gue liat dia masuk (loh loh?) cuman liat hei jangan lebay. Oke?

Duduk manis. Kebetulan ada kelompok yang presentasi. Gue nanya. Dan gue juga ngasih tanggapan. Eh, iseng kan yaa serius entah iseng atau refleks, gue nengok ke samping. Ehh entah gue baper atau gue yang salah menilai, itu anak lagi ngeliatin gue yang ngomong. Haha. Otomatislah gue salah tingkah. Jleb. Langsung bibir gue seolah membeku gitu.

Kemudian dosennya jelasin ini dan itu. Gue khusuk dengerin dengan tenang. Biar masuk otak gitu. Sekalipun gak masuk siapa tau inget dikit ehh nanti juga masuk otak. Gitu sih.

Kemudian tetiba, dosennya ngumumin ada beberapa nilai UTS yang udah dikoreksi. Gue dag dig dug merasa UTS kemaren jawaban gue mengerikan. Yaudah dan yaudahlah gue pasrah. Yang penting udah ngerjain sepenuh hati.

Tetiba dosennya nyebutin nama gue, nilainya bagus. Oke. Gue senengnya wow banget rasanya. Terbang loohhh terbang. Jeda beberapa detik. Dosennya nyebutin lagi satu nama. Hei. Itu nama cowok XXX. Aduhh, sengaja bener rasanya Pak Dosen ini. Malunya gue udah paham seperti disengaja dan rasanya emang sengaja atau kebetulan kah?

Oke dan itu diulang 2 kali.

Kemudian jeda beberapa menit. Bahas materi lagi. Kemudian mau penutup kan karena udah selesai. Ehh tetiba dosennya bilang ke gue kalau nyari entahlah jodoh atau apa tadi itu yang pinter. Gue langsung nyengir udah paham maksud dosennya kemana. Terus ngomong apalagi gitu. Kemudian dibilang lagi kalau pinter itu blablabla. Jelaslah tujuannya ke siapa. Ehh langsung bilang ‘contohnya si XXX’

JLEB.

Rasanya gue itu entah malu atau apa. Mungkin muka gue udah macem udang rebus kali yaa. Gue cuman senyum aja sama pak dosennya. Iya. Senyum malu gitu hihi.

Oke. Kemudian pulang.

Di tangga. Kawan-kawan gue heboh cia-cie-cia-cie. Gue yaampun entahlah, entah malu atau apa. Gue juga kurang paham dengan tingkah gue sendiri.

Kemudian gue cerita lah sama nyokap. Ehh nyokap gue malah ikut gangguin pula. O_o bisa gitu. Adek gue yang denger juga cuman diem aja. Gak belain gue atau apa kali. Unik emang.

Entahlah kenapa bisa gue digosipin begitu. Ehh, yakin gosip? Entahlah haha yang jelas gue klarifikasiin lagi kalau aaaaa entahlah. Gue heran. Ini bukan salah siapa-siapa kenapa ada berita gini. Simpel kata, udah salah gue aja deh ^^

Seriusan. Salah gue aja. Bukan salah kawan-kawan gue atau siapapun apalagi salah artis idola gue. Jelas, si artis gak tau apa-apalah. Hoho.

Sekian.


Puisi, 27 Desember 2015 "Saat Kelas Menulis Puisi FLP Lampung"

Judul : Kamu


kamu tahu
aku tahu
hanya saja,
tidak ada alasan
kenapa kamu harus percaya,
ucapanku
kenapa aku harus percaya,
ucapanmu
bukan tentang kita,
tapi kamu
titik

melepas bukan berarti terlepas
hanya saja,
aku lelah
titik

kamu tahu
dan,
aku tahu itu

bukan tentang kita,
tapi kamu
titik

Aneh - (Cerpen Lama-Jadul Banget haha)

Aneh

Aku sudah menyiapkan sebuah hadiah manis untuk tunanganku, Crisi dan kuharap ketika aku tiba di Bali, dia akan menyambutku dengan senyuman.

Menurut jam tanganku, beberapa menit lagi aku akan tiba di Bandara namun, ada yang membuatku merasa aneh dengan beberapa pramugari yang berkeliaran dengan wajah masam. Ada apa dengan mereka?

“Maaf nona, kau merasakan keanehan tidak?” Tanyaku pada seorang wanita muda yang tepat duduk di sampingku. “Bukankah raut wajah mereka sangat aneh, mereka terlihat panic.”

“Mereka juga tadi berbisik, mencari seorang dokter.” Jelasnya, dia memberikan kartu nama, tertulis, namanya Anida. “Saya merasa ada yang mengganggu pikiran saya tiba-tiba, ini aneh.”

Aku memandang Anida lalu memejamkan mataku. Entahlah, aku tidak bias beristirahat atau berpura-pura tidak melihat kepanikan beberapa orang.

“Maaf mengganggu semua penumpang, apakah ada yang mengerti cara mengendalikan pesawat?” Tanya seorang pramugari melalui pengeras suara. “Ini darurat, pilot dan beberapa orang yang bekerja pada pesawat ini tewas.” Jelasnya dan seluruh penumpang panik. “Radio atau alat komunikasi lainnya tidak ada yang bisa berfungsi sama sekali.”

Aku beranjak dari tempatku duduk dan meminta penjelasan tapi, tidak ada yang bisa menjelaskannya padaku satu pun.

Seorang pria menghampiriku yang terus berteriak meminta penjelasan. Dia menunjukkan tanda pengenalnya, seorang polisi. Baiklah, ada seorang polisi di sini, mungkin ini akan lebih baik.

“Bagaimana keadaan pilot dan co pilot?” Tanya polisi itu kepada seorang pramugari, dia menunjukkan jalan agar kami mengikutinya.

Astaga! Tinggal pilotnya saja yang masih bernafas itu pun terlihat sangat kacau. Ada yang terjadi? Apa dia sakit? Atau dia tiba-tiba terkana serangan jantung? Mengapa harus saat aku yang menumpangi pesawat ini.

“Apa sudah menghubungi…..” seorang polisi yang bernama Hadi itu mulai panic, pembicaraannya di potong.

“Tidak, kami tidak bisa menghubungi siapapun,” Katanya memperjelas. “Ini sebuah kesengajaan.”

“Baiklah, berapa menit lagi kita sampai?” Tanya Hadi, pramugari itu menggeleng bahwa itu sia-sia saja. “Baiklah, berapa lama lagi tuan ini bisa mengendalikan pesawat?” Tanyanya lagi, pramugari itu diam.

Para penumpang panic. Mereka sangat takut dengan apa yang terjadi. Bukan mereka tapi, aku juga takut. Bagaimana tidak, Crisi akan menungguku di hari ulang tahunnya dan dia pasti kecewa, dia akan khawatir, dia akan sedih jika aku tidak bisa tiba di Bali dengan keadaan selamat.

Aku kembali pada tempat dudukku semula. Nona cantik yang semula terlihat ramah itu mendadak menangis dan aku berusaha menenangkannya.

“Baik, kita aka mati, mati!” Dia bicara sambil menundukkan kepalanya. “Aku harus berdoa pada Tuhan agar aku masuk surga.”

“Pesawat akan mendarat darurat.” Kata sebuah suara, aku tidak ingin memperhatikan siapa yang bicara, entah dia manusia atau malaikat dari neraka. “Mungkin akan sedikit terjadi kecelakaan, kita akan mendarat di sebuah hutan.”

“Ini sebuah pembunuhan!” Anida berteriak sendiri. “Aku hanya gadis biasa! Aku bukan seorang anak  pengusaha atau pejabat harusnya aku tidak mati seperti ini!”

Kami mengenakan sabuk pengaman dengan benar dan tentu saja, jantungku berdetak tidak karuan. Ini seperti perasaan menuju neraka. Benar saja, ini seperti mimpi yang tidak pernah kubayangkan dalam kenyataan.

Pesawat berhasil mendarat di sebuah hutan, di padang rumput yang sedikit gersang. Aku cukup senang melihat dari jendela bahwa kami berhasil mendarat tapi, pilot tewas.

“Aaaa!” Teriak seisi pesawat ketika ledakan terjadi di bagian belakang. OMG! Aku melepas sabuk pengamanku dan segera keluar pesawat dengan beberapa penumpang lain.

Lari-kami harus berlari tapi, tubuh kami terluka akibat sedikit ledakan itu. Lari, kami harus lari bagaimana pun itu. DOOR! Ledakan terjadi lagi.

Aku tidak terlalu  bodoh untuk mengenali ledakan itu. Itu sebuah bom kecil. Ini benar-benar membuatku tidak percaya.

Lari! Kami berlari sejauh mungkin dan BUM, pesawat meledak!

“Aku selamat.” Kataku dalam hati. “Baiklah, aku selamat dari pesawat itu tapi, aku dimana, kami dimana?”

Seorang wanita berteriak histeris! Dia kehilangan adiknya dan kekasihnya. Dia terus berteriak dan menangis! Mereka tentu saja tidak selamar, pesawat itu meledak dengan begitu rapi.

“Saya polisi!” Kata Hadi, dia mengeluarkan senjatanya. “Kecelakaan ini sudah terencana namun, salah sasaran.” Lanjutnya. “Harusnya yang di ledakkannya adalah seorang anak yang ingin berlibur tapi, dia tidak menumpangi pesawat ini.”

“Jadi kami tidak lebih penting dari anak itu! Hah!” Semuanya berteriak pada Hadi. “Baiklah, kau gila!” Seorang wanita menampar keras wajah Hadi

Hadi menghitung jumlah penumpang yang selamat. 21 manusia, 21 orang, masih tersisa 21 orang. Baiklah, ini cukup bagus.

Gersang, kering, dan tidak ada minuman atau makanan. Ada pepohonan yang kira-kira berjarak beberapa ratus meter dari sini. Kami berjalan perlahan.

Ini musim kemarau dan tentu saja hutan pun sedang miskin. Oke, baiklah, aku harus berusaha bertahan hidup sampai bantuan datang.

“Bukankah itu jambu?” Tanya seorang penumpang lalu aku melirik, ya, itu hambu biji. Dia berlari lalu memanjat pohon itu dan memakannya. Kami lapar dan kami benar-benar lapar.

“Kita disini untuk hidup, kita memiliki tujuan dan kita harus bekerja sama!” Kataku menjelaskan. “Apapaun kecuali yang beracun, kita harus mengisi perut kita dan jangan mengeluh!”

“Aku ingin hidup! Aku ingin pulang! Aku harus merawat Ayahku yang sakit! Aku harus ….” Anida duduk, menangis dan menangis.

Kami bertahan hidup untuk hari ini. Kami tidak bisa tidur malam dan kami berkumpul membuat sebuah lingkaran. Untung saat aku SMU, aku mengikuti kegiatan pramuka dan aku bisa menghidupkan api dnegan batu. Baiklah, ini sudah membantu.

Ada seorang Ibu yang menangis, seorang anak yang meminta makan, seorang remaja yang terus marah-marah pada Hadi, dan kami semua terus saling menyalahkan atau pasrah.

“Kau tidak menyalahkanku?” Tanya Hadi padaku.

“Kekasihku akan khawatir dan akan marah jika besok aku tidak ada di Bali.” Aku tersenyum padanya. “Lebih baik aku memikirkan bagaimana kita bisa kembali dari pada terus menyalahkanmu.”

Senyumku begitu terpaksa dan amat terpaksa. Baiklah, ini masih bisa menghiburku sedikit. Apa? Ini apa dan apa, semua ini apa? Itulah pertanyaan pada otakku yang tercatat tapi, aku tidak berani bicara. Sudah banyak penumpang yang mewkiliku berbicara.

Baiklah, ada hal baik yang kudapat. Ternyata ada salah seorang dari kami yang pecinta alam, dia berarti sudah mengerti bagaimana keadaan hutan-hutan di Negara ini. Kuharap tempat ini tidak jauh berbeda.

Matahari di atas tersenyum seakan menyemangati kami tapi, itu matahari, dia memang selalu tersenyum tiap pagi.

Kami berjalan kembali, mencari jalan keluar. Tentu saja, kami harus berjalan. Alat komunikasi pesawat sudah terbakar dan akan bodoh jika kami menggunakan handphone. Bodoh sekali.

“Paman, aku haus.” Kata seorang anak kecil, dia sendiri, dia naik pesawat sendiri tanpa kedua orang tuanya.  Hebat sekali dia hanya saja, nasibnya kurang beruntung kali ini. “Paman,” Dia memandang Hadi. Gadis itu masih kecil, rasanya dari tinggi dan gaya bicaranya, umurnya masih 9 tahun.

Ada sebuah pohon kelapa disana, akan paman ambilkan.” Kata Hadi.

“Ini pisau kecil, siapa tahu membantumu.” Kata seorang remaja laki-laki. “Kau bertanya mengapa aku bisa membawa senjata ini dalam pesawat?” Tanya remaja itu pada Hadi, Hadi diam. “Baiklah, aku lebih pintar untuk melakukan kenakalan tapi, ini berguna untuk saat ini.” Dia meberikan pisau kecil itu pada Hadi.

Aku di bawah pohon kelapa. Melihat Hadi mengambil buah kelapa itu dan PLAK! Buah kelapa itu menjatuhi kepalaku. Seketika aku pingsan.

“Tuan.” Seorang wanita memanggilku, aku tersadar. Dimana aku? Aku merasa seperti mimpi, aku di pesawat. “Tuan, anda baik-baik saja? Mengapa Anda berteriak?” Tanya wanita yang di sampingku.

“Kau malaikat?” Tanyaku,

“Anda tertidur dalam pesawat ini dan mungkin Anda bermimpi.” Jelasnya, aku melihat sekeliling dan memukul wajahku. Sakit! Hah! Aku bermimpi dan pesawat ini baik-baik saja. Baiklah, kami selamat dan itu hanya mimpi.


Crisi menjempurku di Bandara, dia langsung memelukku seolah sudah satu abad tak bertemu. Aku mencium keningnya dan berjanji tidak akan pergi jauh-jauh darinya.

Senin, 30 November 2015

Catatan RF

Karena bukan seperti ini.
Atau seperti itu.


Hal ini lebih seperti terombang-ambing.
Dimana aku menyakini satu ucapan tapi disatu sisi, ada pikiran lain yang menyatakan dengan lantang jika itu 'mustahil'

Entahlah.
Entah seperti apa.
Seperti mengambang.
Bukan mengambang antara hidup dan mati.
Aku masih hidup.
Masih bernafas.
Ini bukan tentang mati atau hidupnya seseorang atau tentang mati-hidupku.

Ini lebih pada suatu ucapan yang aku yakin 'benar'
tapi kenyataannya
aku bahkan tidak tahu apakah itu benar atau justru lebih buruk dari sekedar salah.

Terkadang logikaku tidak bisa mencerna.
Sekalipun aku mencerna semua teori dengan baik tapi tetap saja, tentang hal ini, aku tidak bisa mencernanya.
Sekalipun aku mencerna seluruh argumen orang, tapi tetap saja, tentang hal ini, aku tidak bisa mencernanya.
Sama sekali tidak bisa.
Seperti terombang-ambing.
Antara .... entahlah.

Memilih?
Aku tidak memiliki pilihan, tidak diberi pilihan, dan ini memang bukan mengenai pilihan.

Entahlah.
Hal satu ini sulit dicerna.
Apalagi dicerna otak.
Di cerna hati? itu lebih menyulitkan.

Jadi ini bukan tentang A atau B atau C bahkan seterusnya.
Ini tenang, entahlah.
Aku sendiri bingung bagaimana menuliskannya.






By: catatan RF.

Mike - Cerpen oleh Aula Nurul M

Mike
(Cerpen oleh Aula Nurul M)

Aku hanya ingin semuanya nggak ada yang berubah. Aku hanya ingin segala sesuatu sama dengan sebelumnya. Aku hanya ingin ketenanganku nggak terusik sedikit pun. Namun, tenang bukan berarti nggak ada masalah karena jutaan masalah mulai datang padaku.
“Jika kamu melakukan kesalahan, aku nggak menjamin nyawamu akan berharga di tempat ini,” Mike memandangku dengan sejuta perang, “apa yang ada pada otakmu itu sebaiknya kamu buang jauh-jauh,”
Tanganku mulai sedikit gemetar. Aku menahan segala takut yang ada. “apa pun yang terjadi, aku nggak akan pernah berlari padamu. Aku nggak akan pernah berdiri di jalan yang telah kamu buat,”
“Aku anggap ini sebagai pilihanmu,” kemudian Mike menghilang dari pandanganku dalam beberapa detik.
**
Sel-sel di dalam tubuhku mulai terasa berantakan. Ada sesuatu yang berubah demikian drastis pada tubuhku. Bukan hanya sakit yang terasa namun lebih dari itu.
“Seharusnya kamu menerima tawaran Mike, itu akan menguntungkanmu,” seorang berpakaian serba putih bicara empat mata denganku di sebuah ruangan yang mengerikan, “kini, kamu nggak bisa berbuat apapun lagi,”
“Mengapa kalian nggak membunuhku saja? Hah! Mengapa?”
“Apakah kamu begitu bodoh?”
**
Tiga titik di pergelangan tanganku sudah benar-benar ada. Jika tiga titik ini hilang maka nyawaku pun akan hilang. Entahlah pilihanku ini salah atau benar-benar salah yang jelas, aku tetap nggak ingin berlari pada Mike demi menyelamatkan nyawaku.
Jika aku tetap diam di tempat ini dan nggak memberikan data pada mereka maka, tiga titik ini akan hilang perlahan. Aku benar-benar nggak habis pikir mengapa selalu ada orang-orang yang di posisikan seperti diriku ini. Menurutku, itu sudah melanggar hak kehidupan.
“Rea, ngapain kamu bengong disini?” Kevin bertanya padaku, aku diam, “Rea?”
“Aku hanya sedang memikirkan seseorang,” jawabku sekenanya.
Aku nggak bisa mengatakan pada Kevin kalau kedatanganku untuk menghancurkan keluarganya. Aku juga nggak bisa megatakan kalau aku bukan manusia. Jika aku mengatakannya, aku yakin kepalanya akan sakit sekali.
“Oh ya, ibuku membuat makanan untukmu. Ayo,”
Entahlah, agak membingungkan tapi aku menyukai kehidupan para manusia. Mereka memiliki sesuatu yang benar-benar nggak pernah kutemui.
“Bagaimana, apakah makanan itu cukup baik?” tanya Ibunya Kevin, “apakah kamu menyukainya?”
“Ya, tentu,”
**
Hilang, sisa dua titik lagi karena aku nggak pernah memberikan sedikit pun informasi mengenai keluarga ini atau pun tentang manusia-manusia lainnya.
Aku nggak ingin mereka memanfaatkanku untuk menghancurkan kehidupan manusia.
“Rea,” tiba-tiba Mike muncul di depan mataku, “sudah beberapa bulan kita nggak bertemu. Terakhir kali aku bertemu denganmu ketika kamu menolak untuk disisiku,”
“Apakah kamu ingin aku menyesal?”
“Pikiranku bicara lain,”
Aku memandangnya penuh tanya kemudian kakiku melangkah menjauh darinya. Aku nggak ingin melihat wajahnya lagi.
Bagiku, Mike nggak jahat. Ia baik. Ia dapat berbincang denganku secara baik. Namun, peraturan tetap peraturan. Aku ditakdirkan sebagai mata-mata. Jika aku ingin menghentikan takdirku, jalan satu-satunya aku harus di sisi Mike.
**
Kevin mengajakku jalan-jalan berkeliling kota. Ia mengatakan ada baiknya sesekali mengamati keadaan kota.
“Selama beberapa bulan ini kupikir kita berteman dengan baik, bukankah begitu?” wajah Kevin terlihat senang ketika ia berbicara padaku sekarang, “kupikir, akan lebih baik jika kita bukan sekedar berteman,”
“Aku mengerti ucapanmu tapi, apakah kamu tahu siapa aku?” tanyaku, ia tersenyum kecil, “aku hanya nggak ingin kamu terluka,”
“Bukankah cinta itu butuh sebuah pengorbanan?”
“Tentu tapi bukan dengan kehidupanmu. Apa yang kamu ketahui tentangku, nggak seperti apa yang kamu ketahui,”
**
Titik itu tersisa satu dan mulai memudar. Aku ketakutan tapi aku nggak bisa berbuat apa pun.
“Rea,” Mike memegang tanganku, “sebentar lagi hilang,” ucapnya kemudian ia menunjukkan pergelangan tangannya yang memiliki titik dengan jumlah yang sama denganku, “aku berkorban untukmu. Aku melompat ke jurang yang cukup dalam,”
“Apa yang kamu lakukan? Apakah kamu bodoh?”
“Kamu tahu, kupikir dulu kamu berteman denganku agar suatu hari nanti aku bisa merubah takdirmu,” jelasnya perlahan, “namun setelah penolakan itu, aku menyadari kamu berbeda,” lanjutnya, “dan kini, aku hanya ingin mencoba berkorban untukmu,”
Aku benar-benar yakin kalau Mike sudah melakukan hal terbodoh dalam hidupnya. Jika sudah seperti ini, ia nggak bisa kembali lagi. Ia harus meneruskan atau ia berhenti, itu saja.
“Kamu mencintai Kevin?” tanyanya, aku nggak menjawab, “kupikir kamu mencintainya karena sikapmu menunjukkan kalau kamu melindunginya,”
“Disini, manusia melindungi bukan sekedar karena cinta. Mereka melakukannya ada peduli sesama manusia. Hal itu berbeda dengan kehidupan kita,” jelasku, “sebentar lagi aku mati dan kamu pun begitu. Apakah kamu bodoh?”
Mike menggenggam tanganku erat kemudian memelukku, “hanya ada satu hal yang bisa membuat kita selamat,” jelasnya, aku menggeleng. Benar, ada satu hal tapi itu terlalu menakutkan, “menjadi pemberontak itu nggak terlalu menyeramkan,”
“Kita akan mati jika gagal,”
“Dan kita akan mati jika nggak mencobanya,” jelasnya, “kita hanya perlu mencoba,” kemudian aku tersenyum ringan. Aku benar-benar yakin kalau hatiku nggak salah telah menuliskan namanya sejak ribuan tahun lalu. Aku hanya mencintainya dan nggak pernah berubah. Penolakanku hanya sebuah pengakuan kalau aku nggak pernah memanfaatkannya, “apakah kamu ingin mencobanya?”
“Kita harus mencobanya bersama-sama,”

TAMAT



Earning Per Share

a.      Definisi Earning Per Share Earning Per Share (EPS) atau pendapatan perlembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberik...