Minggu, 31 Januari 2016

Hantu di Bawah Hujan Versi 1 - (CERPEN)


Tubuh Azka tersungkur di atas pasir. Pakaiannya sudah kotor bercampur basah hujan, “a...apa yang barusan terjadi?” ia memandangku, tak ada jawaban yang bisa kuberikan padanya, “oke, oke,” kakinya pun langsung tancap gas, pergi dari pandanganku.
Aku tak mungkin memberikan jawaban pada Azka kalau ada hantu yang baru saja menghajarnya. Ia bisa-bisa menganggapku gila atau dia sendiri yang merasa gila. Aku tak dapat mengatakan itu.
“Pergi!” hantu itu menatapku tajam, matanya mulai memerah tapi aku sama sekali tak takut. Sekalipun ia hantu terseram dibumi ini, aku tak akan takut karena ia telah mengganggu kencanku! “cepat pergi atau kucekik!” ancamku.
Hantu itu terkekeh. Tentu saja, kalau aku mencekiknya tak akan ada pengaruh toh ia sudah mati. Untuk apa aku mencoba membunuh seseorang yang telah mati?
‘baiklah, fokuskan pikirkan!’ aku memandang fokus ke depan, melihat hantu itu tajam kemudian mencoba tersenyum. Kakiku melangkah lurus mendekatinya namun, aku tak menghampirinya, aku lewat dan menembus tubuhnya begitu saja, ‘kenapa harus hujan!’
Rambutku, maksudku seluruh tubuhku sudah hujan. Namun itu tak penting. Yang membuatku tak suka adalah hujan ini, hujan membuatku dapat melihat semua hantu. Ini menyebalkan.
“Tunggu aku!” hantu itu mengejarku, wajahnya tak terlalu jelek walaupun sedikit menyeramkan. Ia mirip dengan tokoh vampire difilm-film dengan bibirnya berlumuran darah, “boleh aku ikut denganmu, aku tak dapat berbicara dengan seorang manusia pun,” tak kuhiraukan celotehnya. Kakiku terus melangkah pulang.
“Lihat! Lihat! Itu ada hantu korban pembunuhan!” hantu itu mendekatiku, ia terlihat takut, “bolehkah aku ikut denganmu? Banyak hantu menyeramkan disetiap tempat,”
Bodoh! Mana ada hantu takut pada hantu. Seharusnya ia bercermin jika wajahnya pun menyeramkan. Apakah ia mati bunuh diri di tengah jalan raya sehingga banyak darah keluar dari mulutnya?
“Hei! Bicara padaku! Bicara!” ia terus menempel, “aku memukul temanmu karena ia berniat jahat padamu. Aku bersumpah!”
Aku percaya ia tak berbohong namun setidaknya aku bisa menyelesaikan itu sendiri tanpa bantuan hantu. Rasanya memalukan saat hantu menolongku walaupun kadang itu cukup baik. Harga diriku seolah jatuh.
“Aku selalu bersembunyi terutama diatas pohon itu,” ia menunjuk sebuah pohon besar dengan dedaunan yang cukup lebat, “aku keluar dari pohon itu karenamu. Satu-satunya manusia yang bisa melihatku.”
“Ikuti aku,” aku mengajaknya ke suatu tempat namun sebelum itu, aku menutup mata dan telinganya. Kelebihanku, aku dapat menyentuh hantu jika aku ingin tapi kalau tidak, aku bisa menembus mereka seperti angin, “jangan banyak bertanya.”
Bulu kudukku sedikit merinding ketika memasuki sebuah bangunan tua. Kalau aku tidak salah, bangunan ini merupakan rumah sakit yang tutup karena kebakaran. Hujan semakin lebat sehingga kurasa, aku akan lebih lama melihat hantu-hantu itu berkeliaran. Yah, seandainya saja, aku tak melihat mereka, kurasa hidupku lebih damai.
Sebelumnya, aku pernah membawa hantu wanita tua yang ke tempat ini karena ia terus menempel padaku. Awalnya ia menolak namun, ia senang mendapatkan beberapa teman ditempat ini. Sedikit aneh namun hantu juga memiliki teman sesama hantu bahkan banyak yang memiliki kelompok tertentu.
“Aleya,” seorang hantu tampan berbisik padaku. Ia meninggal dirumah sakit ini setelah operasinya gagal, “siapa dia? Apa dia akan kamu tempatkan disini? Sepertinya ia cukup tampan, aku bisa kalah saing.” Keluhnya, aku tersenyum, “sesekali, bawalah hantu gadis cantik kalau bisa secantik dirimu.”
“Aku akan membawanya ke belakang rumah sakit. Hantu satu ini harus diospek oleh hantu-hantu kejam disana,” jelasku dengan tawa kecil yang sepertinya tak mendapat persetujuan darinya, “terserah, jangan ganggu aku.”
Aku membawa hantu yang namanya, entahlah, aku lupa menanyakan namanya. Ia harus bertemu pada hantu terkejam di tempat ini. Maksudku bukan kejam pada manusia tapi hantu-hantu itu terkenal kejam sesama hantu.
Kubuka penutup mata dan telinganya, para hantu kejam masih tak terlihat, “siapa nama kamu?” tanyaku, ia mengatakan jika namanya Venus. Ah, seharusnya kukirim dia ke planet Venus karena ia hantu pertama yang mengganggu kencanku, “baiklah, namaku Aleya, beberapa hantu disini mengenalku.”
Kutinggalkan Venus seorang diri disini. Aku ingin ia tinggal disini karena kupikir hantu disini ramah-ramah kecuali hantu dibelakang rumah sakit. Anggap saja ia mengikuti masa orientasi.
Namun, baru beberapa langkah kakiku hampir meninggalkan tempat ini, ia sudah berteriak. Teriakannya terdengar bukan seperti teriakan dikerjai namun seperti ketakutan bahkan, Vanus berteriak jika ada hantu.
“Hei! Mengapa kamu membawanya ke tempat ini!” seorang wanita muda mengomeliku, “bawa ia pergi dari sini!” aku bengong, “ia tak boleh tinggal disini!” hah? Aku tambah tak percaya. Sejak kapan ada yang melarang hantu lain untuk tinggal disini? Apakah hantu wanita muda satu ini sedikit terganggu otaknya, “bawa ia pergi. Ia sangat ketakutan.”
Aku mencoba menghiraukan wanita ini namun suara Venus mengusik telingatku. ‘hujan, berhentilah. Kumohon. Hantu-hantu itu menganggu waktuku!’ aku memohon agar hujan terhenti beberapa saat saja.
“Bawa dia! Bawa!”
Aku kembali ke belakang rumah sakit. Kulihat Venus meringkuk dengan mencium lututnya sendiri.
“Kami tidak pernah pergi dari tempat ini tapi apakah kondisi diuar seburuk ini? Bagaimana hantu bisa ketakutan dengan hantu?” aku mengintip perbincangan para hantu kejam, “apa kalian berpikir seperti itu?”
Teman-temannya yang lain saling memandang. Mereka tampak bingung dengan ketakutannya Venus padahal niat mereka hanya akan mengerjai Venus sebagai penghuni baru bukan membuatnya ketakutan seperti manusia.
“Sebentar, apakah anak ini hantu? Benar-benar hantu?” salah seorang hantu kejam lainnya menjadi kesal sendiri, “Aleya! Jangan bersembunyi!” aku keluar dari tempat persembunyianku, “bawa anak ini pergi! Kami tidak bisa menyuruh-nyuruhnya,” aku menunduk merasa bersalah, “sepertinya ada yang aneh dengan teman hantumu yang baru ini.”
Venus benar-benar terlihat takut padahal kupikir ia hanya main-main jika takut dengan hantu lain. Apakah ia baru saja meninggal jadi sedikit sulit beradaptasi? Namun, wajahnya terlihat seseorang yang sudah beberapa bulan meninggal.
Kuajak Venus pergi dari tempat ini. Para hantu kejam itu tertawa melihat kepergian Venus yang mereka anggap hantu gila. Namun berbeda dengan hantu dilorong rumah sakit yang mengatakan Venus memang tak seharusnya berada ditempat ini bahkan ada yang memarahiku jika aku gadis kejam.
“Terimakasih,” Venus berusaha memelukku namun aku sedang tak ingin disentuh hantu jadi ia langsung menembus tubuhku, “beberapa hantu dilorong dan di ruangan dokter terlihat baik tapi aku tetap takut.”
Untuk hari ini, aku akan membawa Venus kerumahku sebelum mencarikan tempat baru untuknya. Atau, aku akan mengajarinya tentang dunia hantu agar ia bisa mencari tempat tinggal sendiri.
“Pertamakalinya rumahku dihuni hantu. Sebelumnya, hantu-hantu itu hanya akan datang sesaat sebelum aku mengusir mereka.”
“Aku mendengar seorang hantu mengatakan jika kamu dapat melihat hantu saat hujan turun,”
Aku tak menanggapi ucapannya. Sejujurnya, saat tak hujan pun aku bisa melihat hantu tapi aku bisa tidak melihat hantu jika aku menginginkannya. Berbeda saat hujan turun, aku akan melihat para hantu selama hujan terus turun bahkan saat aku menolaknya.
**
Teman-temanku penasaran dengan perkembangan hubunganku dengan Azka. Sedang aku, entahlah, terakhir kalinya pergi dengan Azka, ia kebingungan karena merasa dipukul angin.
“Jangan bilang karena belum move on dari masa lalu?”
Senyumkumengembang. Aku tak dapat mengelak itu semua. Sekalipun semua itu sudah 2 tahun berlalu tapi ada yang terasa janggal. Sekalipun Azka adalah kakak tiri dari mantan pacarkua yang sudah tiada dan ia begitu baik, tapi hatiku benar-benar sulit terbuka untuk Azka. Ini jelas, hati manusia, siapa yang tahu? Kadang berubah tapi terkadang sedikit pun tak bisa berubah.
‘karena mungkin cinta membuatku hanya memikirkan satu nama’
Teman-temanku tak habis pikir. Kenapa bisa seperti ini padahal, sikap keseharianku menunjukkan ia sudah move on.
“Gue denger rumor, lo bisa liat hantu ya? Jangan bilang hantu mantan pacar lo sekarang ada disini. Sesuatu banget,”
Aku mengambil nafas lelah. Jika saja aku bisa melihatnya sekalipun ia menjadi hantu, itu baik. Sangat baik. Sayangnya, sampai pemakaman pun, aku tidak bisa melihat ruh atau hantunya. Mungkin, Tuhan telah memanggilnya sebelum aku datang saat detik-detik terakhir ia pergi.
“Eh, ada hantu yang cakep atau ganteng gak? Cantik gitu? Penasaran soalnya di film, hantu itu mengerikan.”
Tidak kurespon ucapan temanku satu ini. Cantik? Tampan? Wajah mereka begitu pucat. Tak hanya pucat tapi ada beberapa mengenaskan akibat kecelakaan.
**
Sudah berhari-hari Venus tinggal dirumahku. Dan selama itu juga hujan selalu turun di sore hari yang artinya, ia mengusikku di sore hari.
Aku tak tahu hantu macam apa Venus ini. Wajahnya pucatnya bahkan kuku tangannya menunjukkan jika ia sudah meninggal bukan seseorang yang koma dimana ruhnya jalan-jalan. Ia jelas hantu, hantu! Namun kenapa ia masih saja takut dengan hantu setelah berbulan-bulan ia meninggal?
“Aleya! Aleya!” Venus memanggilku. Aku mendengar itu namun aku tak boleh menyahut atau ia tahu kalau aku bisa melihat hantu saat tak hujan, “Aleya, leherku, leherku tercekik! Aku mau mati!”
Mati? Apa ia hantu gila? Atau ada seseorang yang melempatkan jimat padanya?
“Aleya!”
Suaranya membuatku mau tak mau keluar kamar. Aku menemukannya didapur dengan leher yang tercekik? Ada seutas tali aneh dilehernya.
“Aku. Aku bisa mati,” suaranya mulai lirih. Ia hantu jadi tak akan mati dua kali namun jika kubiarkan seperti itu, ia bisa tersiksa terus-menerus. Dan entahlah, aku merasa sedikit..., benar-benar ingin menolongnya dengan tulus.
Aku menengok kanan-kiri takut Mama atau Papa melihat tingkahku yang aneh karena bicara sendirian. Perlahan, aku menarik tangan Venus untuk kekamarku. Akan kubantu ia melepas tali itu.
Dan, tali itu benar-benar mudah dilepas namun..., sebentar, tali ini merupakan tali yang dilakukan orang lain. Jelas perbuatan manusia. Tapi siapa? Apakah manusia sepertiku yang bisa melihat hantu?
“Aku..., terimakasih,” Venus berusaha memelukku, aku tersenyum tak menolak pelukannya. Tanpa hujan bahkan tak dibawah hujan, aku membiarkan rahasiaku diketahui seorang hantu, “terimakasih,” pelukannya semakin erat, kurasakan jantungku terasa aneh walaupun sebelumnya sudah banyak hantu yang memelukku untuk berterimakasih, “kupikir, tali itu akan membunuhku,” aku tertawa, perlahan kulepaskan pelukannya namun kurasakan sesuatu yang bergerak aneh dalam dadanya, “jantungmu, jantungmu?”
Kakiku terasa lemas menyadari apa yang baru saja kutemukan. Venus membantuku untuk duduk dikursi, ia meminta maaf karena menyusahkanku. Ia benar-benar meminta maaf dan berterimakasih. Sedangkan aku, aku mengerti semuanya.
“Kamu tahu kapan kamu meninggal?” Venus mengatakan kalau ia tak punya ingatan apapun, “hei! Wajahmu itu menyeramkan! Penuh luka! Darah! Kamu kecelakaan? Atau kamu bunuh diri? Seharusnya kamu tahu alasanmu menjadi hantu! Sekalipun hilang ingatan, kamu harus memiliki alasan!”
Mata Venus berkedip-kedip. Ia mengangkat bahu. Menegaskan kalau dirinya memang benar-benar tak ingat apapun dan tak mengerti apapun.
Sedang aku, dengan jelas merasakan detak jantungnya. Tapi, ini bukan seperti detak jantung orang yang sedang koma atau orang yang sedang dalam perjalanan menuju alam baka. Ini aneh. Untuk pertamakalinya aku menemukan hantu hilang ingatan yang sama sekali tak meiliki alasan gentayangan. Atau, ia bukan hantu?
“Apa ada hantu sepertiku juga? Jelaskan!” Venus memohon. Aku mengatakan kalau beberapa ada hantu yang hilang ingatan. Mereka menjadi hantu karena ingin tahu siapa diri mereka, “tapi, aku nyaman mengetahui diriku seperti ini.”
“Tapi aku gak nyaman berbicara dengan hantu yang aneh sepertimu!”
**
Azka mengajakku makan malam bersama ibunya. Aku setuju toh ibunya baik dan aku sudah mengenal ibunya sejak aku berpacaran dengan Nathan. Sekalipun Mereka keluarga tiri Nathan tapi mereka begitu baik dan begitu perhatian padaku. Kini, sepertinya, ibunya senang jika aku lebih dekat dengan Azka.
“Jika saja kamu sebentar lagi selesai kuliah, mungkin pertunangan cocok untuk kalian,”
“Mama,” Azka menghentikan ibunya. Aku tersenyum. Tak ingin membuat wanita yang begitu baik padaku kecewa, “jangan bicarakan hal seperti ini sekarang.”
Mereka berdebat. Aku dapat melihat jika mereka saling menyayangi. Seandainya saja, seandainya saja Nathan menjadi hantu dan dapat melihat semua ini. Hanya saja, Nathan tidak menjadi hantu. Ia terlalu kejam karena tak meninggalkan pesan apapun untukku.
“Jadi kamu masih dengannya? Ckck,” Venus tiba-tiba muncul ditengah-tengah meja. Aku sedikit terkejut namun tetap berusaha terlihat normal agar Azka dan Ibunya tak curiga, “orang itu sepertinya kurang baik untuk kamu. Apa hanya dia pilihannya?” wajahnya terlihat mengejekku.
**
 “Sebentar...,” aku mengingat sesuatu, “ikut aku!”
Aku pergi ke gedung bekas rumah sakit tua namun Venus tak ingin masuk, ia takut, ia menunggu diluar. Kali ini, kuhargai ketakukannya.
Kukumpulkan semua hantu disana, aku ingin mendapatkan penjelasan apakah ada hantu yang sama sekali kehilangan seluruh ingatannya termasuk alasannya menjadi hantu atau ‘mungkin’ setengah hantu.
“Dia dipaksa hilang ingatan, terpaksa hilang ingatan, atau menginginkan hilang ingatan. Hanya 3 itu kemungkinannya,” hantu tua yang sudah meninggal puluhan tahun itu tertawa padaku, “apa ini mengenai anak muda penakut itu? Kami rasa, ia bukan hantu.”
“Lalu apa? Dia ruh?! Kalau dia ruh, wajahnya tak akan sepucat itu. Kukunya tak akan menyeramkan. Dan wajahnya tak akan berlumuran darah penuh luka.” Aku menguatkan pendapatku, “apa kalian masih berpikir ia bukan hantu?”
“Kamu juga hantu!” seorang wanita muda tiba-tiba muncul, “kalau hantu itu menyeramkan, maka kamu lebih dari hantu!” ia masih marah padaku karena beberapa bulan lalu aku mengusirnya dari rumahku dengan kejam, “monster,” senyum sinisnya dilemparkan padaku. Aku tak takut.
Setelah banyak hal yang diperdebatkan, aku keluar, menemui Venus yang mondar-mandir didepan gedung ini. Ia menanyakan apakah sudah ada jawabannya. Sayang, tidak ada jawaban.
“Itu karena kamu hilang ingatan,” aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, “jika kamu hilang ingatan keseluruhan, bisa jadi kamu belum meninggal tapi, ciri-ciri tubuh kamu itu hantu. Hantuuuu.”
Mata Venus berkaca-kaca. Memandangku tak percaya. Ia ingin tahu dimana tubuhnya jika ia belum meninggal. Sayangnya, aku juga tak tahu.
“Ayo. Kita renang. Aku pusing mendengar semua pendapat hantu-hantu didalam,”
Kuajak Venus ke sebuah pantai yang sepi. Disini, jika aku marah atau mengomelinya, tak akan ada yang memandang aneh padaku seolah aku bicara seorang diri. Ia menolak menyentuh pantai karena ia hanya akan mengambang diatas air.
Dengan tenang, aku membawanya ke bibir pantai. Kuraih tangannya. Jika ia menyentuhku, ia bisa merasakan air dengan nyata.
“Aleya! Rasanya dingin! Dingin!” wajahnya terlihat senang sekalipun penuh dengan darah dan luka, “apa kita bisa pergi lebih jauh lagi ke tengah?”
Langsung kuanggukkan kepalaku. Ia lebih senang lagi. Jarang-jarang ada hantu sepertinya atau ruh sepertinya. Tapi, jika ada banyak yang sepertinya, kepalaku bisa pusing. Mana ada hantu atau ruh yang takut pada hantu. Menggelikan!
**
Sudah setengah tahun Venus tinggal denganku sebagai hantu atau entahlah apa. Dan, aku tidak tahu kenapa aku merasa nyaman. Sekalipun ia hantu yang kepo, bodoh sebagai hantu,  menjengkelkan, dan suka mengganggu tapi entahlah, ada sesuatu yang berbeda.
“Aleya, ganti saluran televisinya,” omel Venus. Aku tepuk jidad dan melemparnya dengan remote control, “kamu pikir, aku bisa menggunakan benda ini?” ia menunjuk remote. Bibirku manyun tapi tetap kupilihkan channel yang menayangkan kartun anak-anak.
Entah bagaimana Venus sebelumnya hidup, ia benar-benar kekanakan. Yang paling membuatku lelah, ketika ia menanyakan kenapa setiap hantu memiliki kulit pucat. Argh!
“Kamu sedikitpun gak menyukai Azka. Kenapa masih dipaksakan?” tanya Venus, aku duduk disampingnya, “ini foto Nathan, kan? Seperti apa Nathan? Apakah mirip dengan Azka. Kupikir, kamu belum melupakan Nathan. Fotonya masih berkeliaran dikamarmu.”
“Yang jelas, Nathan gak kekanakan, banyak tanya, menyebalkan seperti kamu,” jelasku. Venus membela diri kalau ia banyak tanya karena memang tak tahu apapun tentang dunia para hantu yang membingngkan, “harusnya kamu bertanya pada hantu lain.”
“Wajah mereka menyeramkan.”
Aku tak mau berdebat lagi.
Venus benar, aku memang belum bisa melupakan Nathan. Mungkin jika sebelum pergi Nathan menjadi hantu dan bicara sedikit denganku, aku bisa saja melepasnya. Tapi, ia pergi tanpa bicara. Dan mengenai Azka, aku menjalankan hubungan ini bukan karena mereka mirip tapi karena, kupikir hanya Azka yang terbaik dibanding semuanya.
“Gimana kalau kita pacaran aja? Lucu juga hantu dan manusia pacaran.” Tawanya. Langsung kupukul kepalanya dengan raket yang tadi lupa kurapikan, “kenapa kamu marah? Jangan bilang kamu menyukaiku. Ckck.”
“Ya! Hantu itu gak punya hati! Gak bisa pacaran!” suaraku meninggi. Dari sekian hantu yang kukenal, tidak ada diantara para hantu yang menjalin cinta. Mereka hanya memikirkan orang-orang tercinta mereka ketika mereka hidup. Jadi, entahlah, aku belum menemukan sesama hantu pacaran lalu menikah ala-ala hantu. Lagipula, mereka akan pergi dari dunia ini kalau tujuan mereka sudah tercapai.
***
Azka memintaku untuk tidak lagi mengunjungi makam Nathan. Ini sulit. Nathan sendirian disana. Bahkan, pemakaman seluas ini hanya untuk Nathan seorang. Ia tak memiliki teman dipemakaman. Argh! Tapi kan, Nathan tidak menjadi hantu jadi ia tentu tak perlu merasa kesepian.
“Kalau semua pemakaman sesunyi ini, aku senang,” Venus berbisik disampingku. Sedang Azka sibuk membersihkan makam adik tirinya. Benar-benar kakak yang perhatian, “boleh aku menyentuh batu nisannya? Siapa tahu saja ia bangkit dari kubur.” Canda Venus.
Tapi ia benar-benar menyentuh nisan itu. Ia terdiam beberapa lama. Ia menceritakan kalau ia pernah menyentuh makam orang lain dan merasakan getaran tapi tidak dengan makan Nathan. Aku setuju itu, hantu-hantu yang kukenal juga mengatakan hal yang sama.
“Itu karena kamu gak pintar,” ucapku lirih. Tapi Venus kini lebih diam lagi. Ia memandangi makam tersebut dengan aneh.
“Ayo, pulang,” Azka mengejutkanku.
Ia mengantarkanku pulang ke rumah. Sedang Venus mengikuti kami dari belakang dengan berlari ala hantu.
Setiba dirumah, Venus mengomel karena makam Nathan aneh. Sepi. Sunyi. Seolah bukan pemakaman. Ia kasihan pada Nathan, “kalau aku meninggal, aku gak mau sendirian dipemakaman. Setidaknya, bersama orang yang kusayangi. Kalau ia masih diberi hidup lama, gak masalah, aku akan menunggu dipemakaman. Sendiri seperti itu menyedihkan,” ucapnya. Aku diam.
Otakku mengingat sesuatu. Kupegang kedua wajah Venus. Mengambil lap basah dan mencoba membersihkan seluruh darah yang mengering diwajahnya. Ada yang membuatku penasaran dan ini pertamakalinya aku membersihkan wajah seorang hantu.
“Kenapa?” tanyanya.
Aku diam. Membeku. Ia terus menatapku heran.
**
Venus menjaga jarak denganku. Ia kini seperti takut mendengarku bicara, “kamu ini seorang wanita. Wanita!” ia menegaskan.
“Kenapa? Aku suka sama kamu. Bahkan mungkin, cinta,” senyumku makin mengembang. Ia ketakutan tapi aku tertawa terus menggodanya, “kita harus membuat rekor. Jarang-jarang ada hantu memiliki hubungan seperti ini dengan manusia.”
Tapi, Venus langsung berlari. Pergi. Entah ia bersembunyi dimana. Sepertinya Venus, dadaku sesak. Air mataku jatuh. Benar-benar jatuh.
Kini aku tahu, alasan Nathan tidak mengatakan apapun ketika ia dinyatakan meninggal oleh keluarganya. Kini aku tahu kenapa aku merasa sulit marah pada Venus. Karena, mereka orang yang sama. Sama.
“Aleya?” tiba-tiba Venus muncul, “aneh. Apa aku salah bicara? Maaf. Kamu gak akan mengusirku ke rumah hantu itu, kan?”
Kepalaku menggeleng. Melempar senyum padanya. Menghapus air mataku, “cewek aneh,” ia duduk di sofa. Memintaku agar menghidupan televisi. Ia ingin menonton kartun. Cepat-cepat aku duduk disampingnya. Tersenyum dan menonton dengannya. Sedang ia, merasa aneh dengan perubahanku.
***
Aku menuntut penjelasan dari Azka. Semuanya terasa ganjil. Ia diam. Ia justru menegaskan kalau sebaiknya kami cepat bertunangan.
“Nathan masih bernafas? Apa, apa kalian membunuhnya perlahan?” tanyaku, “kupikir, kalian baik padanya.”
Ibunya muncul. Ia mengatakan kalau aku mimpi buruk. Tidak! Aku tidak mimpi buruk! Jika seorang hantu hilang ingatan pasti ada alasan! Kalau seorang hantu memiliki sedikit detak jantung, bisa jadi ia ruh atau mungki benar saja setengah hantu.
“Apakah, kalian melakukan kejahatan?” tanyaku, mimik wajah ibunya Azka berubah.
Aku pergi darisana.
Menyelidiki satu persatu.
Sehari demi sehari. Berminggu-minggu. Hingga akhirnya aku menemukan kalau seluruh warisan yang dimiliki Nathan berpindah tangan pada ibunya Azka. Ibu tirinya. Tentu aku terkejut.
Kutemui mereka. Meminta penjelasan. Atau aku bisa melakukan sesuatu yang menyeramkan, “bisakah, bisakah kita membongkar makam Nathan?”
***
Kukumpulkan beberapa hantu yang cukup dekat denganku. Meminta mereka datang ke makam Nathan. Naas, hasilnya? Mereka menyatakan dengan tegas kalau tidak ada kerangka manusia didalamnya.
Hatiku sakit. Benar-benar sakit! Bagaimana bisa?
“Venus itu Nathan, benar bukan?” hantu wanita tua tersenyum, “beberapa dari kami sudah mengatakan kalau ia bukan bagian dari kami. Kenapa ia ketakutan? Karena ia bukan ruh juga bukan hantu.”
***
Venus tertawa ketika ia membaca komik. Aku heran. Ia bisa membuka lembar komik tapi tak bisa memencet tombol remote control. Tapi, entahlah, Venus berbeda dari Nathan. Ia terlalu kekanakan. Sekalipun terkadang Nathan kekanakan tapi tidak seperti Venus yang mirip anak berusia 5 tahun.
“Kamu belakangan jarang di rumah. Kemana aja?”
Apakah aku harus menjawabnya?
***
Kutemukan tubuh Nathan terbaring lemah di sebuah ruangan dalam rumah Azka. Ia memang tidak koma, tidak juga meninggal. Ia dipaksa tertidur dan seperti diminta mati perlahan. Melihatnya, aku tidak sedih tapi marah. Benar-benar marah.
“Polisi akan tiba. Mereka dalam perjalanan,” ujar seorang hantu anak kecil padaku, “apa Venus sudah tahu ini?”
Sayangnya, Venus tidak tahu seperti ini.
***
Venus meraih tanganku. Ia berteriak kesakitan. Ia memintaku membantunya, “aku tercekik. Seperti mau mati! Bantu aku. Aleya. Kumohon.” Aku membiarkannya. Hanya melempar senyum. Ini memang menyakitkan baginya tapi, ini lebih baik daripada ia yang berkeliaran tanpa arah.
“Aku sayang sama kamu. Bahkan, saat kupikir kamu pergi dari dunia ini, hanya ada kamu dimataku. Seperti itu.” Ucapku padanya sebelum tubuhnya perlahan memudar, ia menggelengkan kepala.
Tiba-tiba seseorang menghubungiku. Nathan sudah sadar. Aku tersenyum lega. Buru-buru aku pergi ke rumah sakit. Membuka pintu tempat Nathan dirawat, “bisakah kamu mengambilkan remote tv dan membiarkanku menonton kartun?” tanyanya, aku terkejut.
Ia ingat semuanya. Tidak ada yang terlewat. Ia ingat saat menjadi Venus dan berubah kekanakan serta berubah menjadi bodoh. Dan, ia pun ingat semua hal sebelum ia menjadi setengah ruh dan setengah hantu.

“Karena saudara dan ibu tiri aku di penjara, aku sendirian. Boleh aku tinggal lagi dirumah kamu?” candanya, aku tertawa. Entahlah. Sikapnya sedikit aneh. Mungkin ia masih bingung harus bersikap seperti Venus atau seperti sebelum ia menjadi setengah hantu.

Senin, 04 Januari 2016

Eirenne - Cerpen (Belum Kelar nulisnya ^^)

Eirenne menatap bangku kosong disebelahnya, ‘gue harus seneng atau sedih? Dia bahkan gak bisa dihubungi!’ matanya menatap tajam ke bangku kosong itu. Bangku milik pacarnya, Kevin. Cowok yang hari ini sedang mengikuti olimpiade sains internasional dan tentu saja, cowok itu sedang tidak berada di Indonesia.

“Lo kangen?” tanya teman-teman sekelasnya, Eirenne hanya melempar senyum. Benar. Ia kangen tapi lebih dari itu, ia kesal dengan Kevin yang sejak dulu hingga kini seperti memiliki dunia sendiri. ‘dia berprestasi di sekolah ini. Bawa nama baik sekolah bahkan bawa nama baik bangsa ini. Tapi, ngabarin gue sedikit kan bisa!’

Suasana sekolah sepi bagi Eirenna karena Kevin belum kembali juga. Tapi, sekalipun kembali, sedikit tak ada bedanya. Cowok itu lebih banyak diam. Lebih banyak belajar dan mendengarkan musik tapi jarang sekali mendengarkan musik Eirenne.

**

Seorang guru membawa siswa pindahan. Cowok dengan potongan rambut yang kekinian itu memperkenalkan diri. Ia melihat Eirenne sekilas. Jelas, ia pernah melihat Eirenne di televisi. Siswi itu salah satu penyanyi yang cukup sering muncul di televisi walaupun tidak terlalu berada di puncak.

Namanya Teo. Ia duduk tak jauh dari tempat Eirenne. Beberapa detik, Eirenne sempat melihatnya tapi pikirannya kembali karena Kevin masih belum memberi kabar. Ia bahkan tidak tahu pacarnya itu masuk atau tidak ke babak final.

“Anak pindahan itu manis ya,” bisik-bisik dikelas mulai terdengar, “bisa semangat belajar kita!”
Eirenne penasaran. Ia memandang Teo. Cukup lama ia memandang cowok itu. Dan, Eirenne tersenyum. Senyum manis. Tak seperti biasanya yang ia tak pernah tersenyum semanis itu kecuali kalau ada Kevin.

“Ciee. Eirenne. Cie. Bilangin ke Kevin loh,” goda teman-temannya. Tapi sejujurnya, mereka tak akan mengatakan itu pada Kevin. Bukan karena mereka ingin melindungi Eirenne tapi karena Kevin seperti patung es yang begitu dingin.

**

Kevin masuk ke kelas. Mengusap rambut Eirenne kemudian duduk dibangkunya dengan tenang sambil mendengarkan musik. Sedang Eirenne tersenyum begitu manis. Ia sesekali mencubit pipi Kevin. ‘entahlah, sekalipun ia seperti patung tapi gue merasa hatinya beda. Titik!’

Tangan Eirenne menarik headset Kevin setengahnya. Mereka mendengarkan lagu bersama. Ia mengeluh kenapa Kevin jarang mendengarkan suara merdunya justru mendengarkan suara orang lain, “padahal, suara aku lebih bagus dari dia,” yang dimaksudnya adalah penyanyi yang sekarang lagunya sedang mereka dengarkan. Sayang, Kevin cuek. Eirenne pun hanya mendesah lelah. ‘tapi hal seperti ini, gak pernah bisa buat gue bener-bener marah sama dia’

Disisi lain kelas, Teo melempar senyum pada Eirenne. Sontak, Eirenne terkejut tapi ia tetap membalas senyum itu. Mata Kevin melihat itu semua tapi ia langsung menutup mata seolah menikmati lagu yang didengarnya dan tak melihat apapun.

**

Eirenne pusing tujuh keliling. Ia tak tahu harus masuk universitas mana. Kini, ia sudah lulus SMA. Sekalipun karirnya naik sedikit demi sedikit tapi tetap saja pendidikan baginya penting.

Di sisi lain, Kevin sudah mendapatkan salah satu universitas ternama di luar negeri. Sayang, dalam detik-detik terakhir, tiba-tiba ia mengundurkan diri.  Seorang pun tidak ada yang tahu alasannya tapi Kevin mengatakan kalau pendidikan di Indonesia juga baik, kenapa harus jauh-jauh? Ya. Dia benar hanya saja, orang-orang yakin ada alasan lain.

“Ini,” Kevin menunjukkan salah satu universitas ternama di Indonesia pada Eirenne, “minggu depan tes untuk penerimaan mahasiswa baru.” Beritahunya, Eirenne juga tahu. Tapi, Eirenne merasa horor karena tes disana sangat sulit, “sulit? Masuk di sekolah kita juga melalui tes yang sulit tapi kamu bisa melewatinya. Kenapa sekarang gak bisa?”

Senyum langsung terlukis dibibir Eirenne. Alasan ia bisa melewati semua tes masuk SMA dulu karena cinta pertamanya mendaftarkan diri disana. Siapa lagi kalau bukan Kevin. Dan alasan ia berusaha untuk tetap berada diperingkat lima besar disekolah karena tak ingin Kevin menganggapnya bodoh.

“Oke! Ini artinya kamu juga akan kuliah disana kan? Gak masalah. Asal kamu disana, aku akan usaha.” Eirenne semangat. Bibirnya melengkung setengah bulan.

Tangan Kevin mencubit hidung Eirenne. Ia kadang tidak mengerti kenapa Eirenne selalu mengatakan tidak bisa mengerjakan soal tapi ketika ia turun tangan, Eirenne langsung behasil mengatasi kesulitannya bahkan mendapatkan nilai hampir sempurna. ‘aneh’

**

Teo tersenyum. Ia menyapa Eirenne dan tak menyangka mereka akan satu ruangan saat tes. Cowok itu terus mendekatinya sejak SMA. Sesaat sempat Eirenne sedikit goyah. Bukan karena Teo lebih tampan tapi karena Teo tidak seperti patung es.

“Tadi gue liat, lo kesini bareng Kevin. Dia daftar disini juga. Gue pikir dia bakal kuliah diluar negeri.” Ucap Teo.

“Dia kan gak mau ninggalin gue,” Eirenne tertawa kecil. Sedang Teo heran kenapa Eirenne dan Kevin masih saja bersama padahal mereka terlihat jarang berbicara.

**

Eirenne pulang kerumah setelah mengisi salah satu acara televisi. Buru-buru ia mengabari Kevin kalau hari ini rasanya tidak tenang apalagi besok pengumuman apakah ia diterima atau tidak di universitas itu. Para penggemar Eirenna mendukungnya tapi ia meminta Kevin untuk ikutan memberi dukungan. Sayang, cowok itu cuek dan berkata kalau ia sudah memberikan lebih dari dukungan.

“Gitu ya? Yaudah deh,” Eirenne sedikit kesal. Ia menutup teleponnya. Berharap Kevin akan menghubunginya dan meminta maaf sekalipun ia tahu kalau sepertinya Kevin tak akan melakukan itu. Dan, benar! Kevin tidak melakukan itu.

‘Ampun gue. 4 tahun pacaran tapi argh! Es batu banget! Tapi, dia nunjukin kepeduliannya dengan hal yang lebih dari sekedar kata-kata’ kepala Eirenne pusing. Kadang ia iri melihat teman-temannya yang begitu diperhatikan pacar mereka. Tapi dilain sisi, ia tak dapat mengelak walaupun Kevin jarang perhatian seperti pacar orang lain tapi apa yang dilakukan Kevin selalu untuk kebaikan dirinya.

**

“Wow! Apa ini! Apa-apaan!” Eirenne terkejut ketika melihat namanya ada diurutan atas mahasiswa baru yang artinya nilainya besar, “luar biasa!” dibelakangnya, Kevin tersenyum kecil. Melihat kebahagiaan Eirenne yang bersorak-sorak kegirangan, “Kevin! Kevin!” ia mencari-cari Kevin ditengah kerumunan. Kevin bersembunyi dan pergi ke sisi lain kampus.

Cowok itu berada diurutan paling atas dalam fakultas kedokteran. Nomor 1. Tapi, ia tidak segirang Eirenne.

“Kamu kenapa?” Eirenne langsung hening ketika menemukan Kevin yang sedang mendengarkan musik. ‘seharusnya dia bahagia berada di nomor 1. Gue aja yang di nomor sekian bahagianya gak ketolongan,’ kepalanya bersandar pada bahu Kevin. Ia ingin tahu kenapa Kevin tidak terlihat bahagia.

“Karena kamu lupa berterimakasih.” Jawabnya singkat. Eirenne jadi malu. Sebelum tes, Kevin mengajarinya mengerjakan soal, “ckck,” cepat-cepat, Eirenne mencium pipi Kevin. Cowok itu justru menjitak kepalanya, “keluarga aku harus tau berita ini!” katanya bersemangat. Sedang Kevin tersenyum kecil melihat tingkah Eirenne seperti itu.

**

Gedung fakultas kedokteran dan ekonomi berdekatan. Jadi, keduanya masih bisa sering-sering bertemu. Naas, ada satu hal yang membuat Eirenne kesal. Teo, cowok itu, mengambil semua mata kuliah pada jam yang sama dengan dirinya. Ia tak habis pikir, ada apa dipikiran Teo padahal ia kira, Teo sudah berhenti mendekatinya semenjak memiliki pacar adik tingkat.

“Gue udah putus,” jelas Teo singkat, padat, dan mengertikan ditelinga Eirenne, “mau liat-liat organisasi kampus gak? Siapa tau lo tertarik, dan gue juga tertarik. Mungkin.”

Mata Eirenne mendelik tajam. Ia berusaha menjauhi cowok itu. Memang mereka berteman baik tapi ia tak ingin membuat Kevin kesal. Sekalipun Kevin tidak pernah memperlihatkan kekesalannya akan sikap Teo yang sejak SMA tampak terang-terangan mendekati, tapi ia merasa dalam hati Kevin, cowok itu kesal setengah mati.

“Udah. Ayo. Kevin gak ada jadi gak usah takut-takut gitu,” ia menarik tangan Eirenne paksa. Gadis itu marah dan melepaskannya. Ia langsung pergi mencari Kevin. Bibirnya ingin menceritakan tindakan Teo yang tidak sopan tapi ia mengurungkannya. ‘entah Kevin akan ngamuk atau gak sama Teo tapi gue yakin, Kevin bakal kesel setengah mati. Aih!’

Melihat Eirenne yang gelisah, Kevin mencubit hidungnya. Membuat Eirenne langsung tenang. Dalam pikiran Kevin, ia tahu ada yang tidak beres tapi ia tetap tenang.

“Kamu gak nanya gitu aku kenapa atau ada apa atau apa kek?”

“Nanya?” Kevin tertawa kecil, “nanti juga kamu cerita,” kemudian ia mendengarkan musik.
Eirenne hanya mendesah lelah. Bisa-bisanya Kevin terus mendengarkan musik dalam keadaan seperti ini. ‘seharusnya dia ngomong apa kek ke gue. Udah berapa tahun gue pacaran sama dia? Ckck’
Tiba-tiba, managernya menghubungi Eirenne. Ia mencak-mencak karena Eirenne belum juga datang untuk menghadiri salah satu acara.

“Itu masih lama kenapa ribut sekarang sih!” Eirenne kesal tapi ia tetap berangkat setelah Kevin langsung menawarkan diri mengantarkannya, “ngeselin!”

“Kalau kamu menyukainya, jangan mengeluh. Lakukan.” Bisik Kevin setelah mengantarkan Eirenne. Gadis itu tersenyum. Benar. Ia suka menyanyi. Suka menulis lagu. Ia tak boleh mengeluh, “memiliki pacar yang berprestasi membuatku senang,” bisiknya lagi kemudian pergi.

Mata Eirenne berbinar. ‘berprestasi? Pokoknya tahun ini gue harus dapet penghargaan lagi! Harus!’ ia memantapkan hatinya, ‘mungkin Kevin bukan pacar yang romantis tapi ia pacar yang entahlah, gak ada hal buruk yang dilakukannya padaku.’

**

“Kapan pacar lo dikenalin ke publik?”

“Kalau Kevin ngizinin kapan aja boleh tapi gue takut nanti cewek-cewek banyak yang ngejer dia karena dia itu.... dia itu.... seperti malaikat,” pipinya memerah sedang sahabatnya hanya geleng-geleng kepala.

Sahabat Eirenne tak mengerti kenapa Eirenne terlihat seperti gadis yang baru saja jatuh cinta padahal sudah berpacaran hampir 4 tahun. Eirenne selalu tampak seperti gadis yang jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Karena cinta itu bukan sekedar kata-kata. Atau sikap yang romantis. Cinta lebih luas dari itu. Dan, gue bener-bener jatuh cinta sama Kevin. Bukan cinta monyet atau cinta yang biasa, lebih dari itu.”
Sahabatnya hanya tepuk jidad merasa kalau Eirenne salah jatuh cinta dengan cowok sedingin es. Tapi bagi Eirenne, Kevin tak sedingin itu, “udah gue bilang. Dia memang patung tapi, saat sama gue, walaupun sedikit tapi kata-katanya bermakna luas. Dan dia gitu cuma ke gue. Titik!”


**


Lanjutannya? Bentarrrrrr gue mau mikir dulu hihi ^^

Saya tidak percaya

Entah kenapa, beberapa waktu lalu-lalu-laluuuu seorang teman mengatakan sesuatu ke gue. Yaa kata banyak orang sih itu sesuatu yang membahagiakan. Sayang, gue gak percaya. Masalahnya, yang mengatakan itu pihak ke-3 bukan pihak ke-2 yang seharusnya mengatakan langsung.

Entah.

Gue gak paham.


Anggap angin lewat sajaaa

Minggu, 27 Desember 2015

3 Desember

Dimulai dari pagi yang gue ikut mata kuliah manajemen investasi. Berhubung semalem gue tidurnya terlalu larut, alhasil gue agak ngantuk akut di ruangan. Untung gue selalu suka duduk paling depan jadi walaupun ngantuk tetep gak bisa tidur beneran. Dan tentu saja, seenggaknya ada yang masuk ke otak.

Okee kamudian, karena jam selanjutnya masih lama. Tadi selesai manajemen investasi kan masih jam 11 tuh, ehhh mata kuliah berikutnya jam 1 siang. Alhasil lama kan kalo gue duduk melulu dikampus. Yasudah, gue otw ke sekret LPM Raden Intan Lampung. Disana, gue ngobrol kemudian gue duduk cantik didepan layar komputer yang memang ada disekret. Nah, gue ngetik cerpen. Judulnya belum ada sih tapi isinya ada tokoh cewek namanya Alera. Tokoh lain namanya Nev, dll.

Ehh gak kerasa waktu udah menunjukkan pukul 12. Harus makan, sholat, dll. Yaudah makan dulu. Kemudian tiba-tiba udah jam 1 kurang 5 menit. Yaudah langsung otw ruangan kuliah. Ternyata. Karena dosennya ada keperluan mendesak, jam kuliah diundur jadi jam 3 sore. Iya. Jam 3 sore dan digabung sama anak kelas F. Hei, 2 kelas jadi 1? Ramainyaaa.

Tapi ada yang bilang gue seneng karena ‘kata mereka’ iyaaa ‘kata mereka’ lohh ada yang gue suka disitu. Gue mah terserah apa kata mereka deh. Tapi sejujurnya, gue lebih suka jam 1 aja soalnya lelah loh jam 3 itu. Harusnya kan waktu segitu lamanya bisa gue pake untuk bobo cantik dirumah.

Kemudian, balik lagi lah gue ke gedung PKM alias ke lantai 2nya tempat sekret LPM. Disana gue ngobrol-ngobrol sih. Ngajak kawan sekelas gue juga sii Annisa. Sambil nunggu jam 3 hihi.

NEXT – jam 3

Gue masuk ruangan. Duduk paling depan biar gak ngantuk. Ehh kata Yunda alias Ike, duduk samping dia aja karena ada si cowok XXX itu loh yang gosipnya gue suka sama dia. Aduh. Langsung deh gue nolak. Alesannya, gue lebih suka duduk depan. Lalu, gue gak mau dikira cewek apalah atuh kok pengen deket-deket cowok yang itu tuhh seolah gue lebay banget kan ^^

Duduklah gue. Si cowok itu belum masuk sih. Mungkin dia telat. Atau dia gak masuk. Tapi tadi siang sih gue liat dia masuk (loh loh?) cuman liat hei jangan lebay. Oke?

Duduk manis. Kebetulan ada kelompok yang presentasi. Gue nanya. Dan gue juga ngasih tanggapan. Eh, iseng kan yaa serius entah iseng atau refleks, gue nengok ke samping. Ehh entah gue baper atau gue yang salah menilai, itu anak lagi ngeliatin gue yang ngomong. Haha. Otomatislah gue salah tingkah. Jleb. Langsung bibir gue seolah membeku gitu.

Kemudian dosennya jelasin ini dan itu. Gue khusuk dengerin dengan tenang. Biar masuk otak gitu. Sekalipun gak masuk siapa tau inget dikit ehh nanti juga masuk otak. Gitu sih.

Kemudian tetiba, dosennya ngumumin ada beberapa nilai UTS yang udah dikoreksi. Gue dag dig dug merasa UTS kemaren jawaban gue mengerikan. Yaudah dan yaudahlah gue pasrah. Yang penting udah ngerjain sepenuh hati.

Tetiba dosennya nyebutin nama gue, nilainya bagus. Oke. Gue senengnya wow banget rasanya. Terbang loohhh terbang. Jeda beberapa detik. Dosennya nyebutin lagi satu nama. Hei. Itu nama cowok XXX. Aduhh, sengaja bener rasanya Pak Dosen ini. Malunya gue udah paham seperti disengaja dan rasanya emang sengaja atau kebetulan kah?

Oke dan itu diulang 2 kali.

Kemudian jeda beberapa menit. Bahas materi lagi. Kemudian mau penutup kan karena udah selesai. Ehh tetiba dosennya bilang ke gue kalau nyari entahlah jodoh atau apa tadi itu yang pinter. Gue langsung nyengir udah paham maksud dosennya kemana. Terus ngomong apalagi gitu. Kemudian dibilang lagi kalau pinter itu blablabla. Jelaslah tujuannya ke siapa. Ehh langsung bilang ‘contohnya si XXX’

JLEB.

Rasanya gue itu entah malu atau apa. Mungkin muka gue udah macem udang rebus kali yaa. Gue cuman senyum aja sama pak dosennya. Iya. Senyum malu gitu hihi.

Oke. Kemudian pulang.

Di tangga. Kawan-kawan gue heboh cia-cie-cia-cie. Gue yaampun entahlah, entah malu atau apa. Gue juga kurang paham dengan tingkah gue sendiri.

Kemudian gue cerita lah sama nyokap. Ehh nyokap gue malah ikut gangguin pula. O_o bisa gitu. Adek gue yang denger juga cuman diem aja. Gak belain gue atau apa kali. Unik emang.

Entahlah kenapa bisa gue digosipin begitu. Ehh, yakin gosip? Entahlah haha yang jelas gue klarifikasiin lagi kalau aaaaa entahlah. Gue heran. Ini bukan salah siapa-siapa kenapa ada berita gini. Simpel kata, udah salah gue aja deh ^^

Seriusan. Salah gue aja. Bukan salah kawan-kawan gue atau siapapun apalagi salah artis idola gue. Jelas, si artis gak tau apa-apalah. Hoho.

Sekian.


Puisi, 27 Desember 2015 "Saat Kelas Menulis Puisi FLP Lampung"

Judul : Kamu


kamu tahu
aku tahu
hanya saja,
tidak ada alasan
kenapa kamu harus percaya,
ucapanku
kenapa aku harus percaya,
ucapanmu
bukan tentang kita,
tapi kamu
titik

melepas bukan berarti terlepas
hanya saja,
aku lelah
titik

kamu tahu
dan,
aku tahu itu

bukan tentang kita,
tapi kamu
titik

Aneh - (Cerpen Lama-Jadul Banget haha)

Aneh

Aku sudah menyiapkan sebuah hadiah manis untuk tunanganku, Crisi dan kuharap ketika aku tiba di Bali, dia akan menyambutku dengan senyuman.

Menurut jam tanganku, beberapa menit lagi aku akan tiba di Bandara namun, ada yang membuatku merasa aneh dengan beberapa pramugari yang berkeliaran dengan wajah masam. Ada apa dengan mereka?

“Maaf nona, kau merasakan keanehan tidak?” Tanyaku pada seorang wanita muda yang tepat duduk di sampingku. “Bukankah raut wajah mereka sangat aneh, mereka terlihat panic.”

“Mereka juga tadi berbisik, mencari seorang dokter.” Jelasnya, dia memberikan kartu nama, tertulis, namanya Anida. “Saya merasa ada yang mengganggu pikiran saya tiba-tiba, ini aneh.”

Aku memandang Anida lalu memejamkan mataku. Entahlah, aku tidak bias beristirahat atau berpura-pura tidak melihat kepanikan beberapa orang.

“Maaf mengganggu semua penumpang, apakah ada yang mengerti cara mengendalikan pesawat?” Tanya seorang pramugari melalui pengeras suara. “Ini darurat, pilot dan beberapa orang yang bekerja pada pesawat ini tewas.” Jelasnya dan seluruh penumpang panik. “Radio atau alat komunikasi lainnya tidak ada yang bisa berfungsi sama sekali.”

Aku beranjak dari tempatku duduk dan meminta penjelasan tapi, tidak ada yang bisa menjelaskannya padaku satu pun.

Seorang pria menghampiriku yang terus berteriak meminta penjelasan. Dia menunjukkan tanda pengenalnya, seorang polisi. Baiklah, ada seorang polisi di sini, mungkin ini akan lebih baik.

“Bagaimana keadaan pilot dan co pilot?” Tanya polisi itu kepada seorang pramugari, dia menunjukkan jalan agar kami mengikutinya.

Astaga! Tinggal pilotnya saja yang masih bernafas itu pun terlihat sangat kacau. Ada yang terjadi? Apa dia sakit? Atau dia tiba-tiba terkana serangan jantung? Mengapa harus saat aku yang menumpangi pesawat ini.

“Apa sudah menghubungi…..” seorang polisi yang bernama Hadi itu mulai panic, pembicaraannya di potong.

“Tidak, kami tidak bisa menghubungi siapapun,” Katanya memperjelas. “Ini sebuah kesengajaan.”

“Baiklah, berapa menit lagi kita sampai?” Tanya Hadi, pramugari itu menggeleng bahwa itu sia-sia saja. “Baiklah, berapa lama lagi tuan ini bisa mengendalikan pesawat?” Tanyanya lagi, pramugari itu diam.

Para penumpang panic. Mereka sangat takut dengan apa yang terjadi. Bukan mereka tapi, aku juga takut. Bagaimana tidak, Crisi akan menungguku di hari ulang tahunnya dan dia pasti kecewa, dia akan khawatir, dia akan sedih jika aku tidak bisa tiba di Bali dengan keadaan selamat.

Aku kembali pada tempat dudukku semula. Nona cantik yang semula terlihat ramah itu mendadak menangis dan aku berusaha menenangkannya.

“Baik, kita aka mati, mati!” Dia bicara sambil menundukkan kepalanya. “Aku harus berdoa pada Tuhan agar aku masuk surga.”

“Pesawat akan mendarat darurat.” Kata sebuah suara, aku tidak ingin memperhatikan siapa yang bicara, entah dia manusia atau malaikat dari neraka. “Mungkin akan sedikit terjadi kecelakaan, kita akan mendarat di sebuah hutan.”

“Ini sebuah pembunuhan!” Anida berteriak sendiri. “Aku hanya gadis biasa! Aku bukan seorang anak  pengusaha atau pejabat harusnya aku tidak mati seperti ini!”

Kami mengenakan sabuk pengaman dengan benar dan tentu saja, jantungku berdetak tidak karuan. Ini seperti perasaan menuju neraka. Benar saja, ini seperti mimpi yang tidak pernah kubayangkan dalam kenyataan.

Pesawat berhasil mendarat di sebuah hutan, di padang rumput yang sedikit gersang. Aku cukup senang melihat dari jendela bahwa kami berhasil mendarat tapi, pilot tewas.

“Aaaa!” Teriak seisi pesawat ketika ledakan terjadi di bagian belakang. OMG! Aku melepas sabuk pengamanku dan segera keluar pesawat dengan beberapa penumpang lain.

Lari-kami harus berlari tapi, tubuh kami terluka akibat sedikit ledakan itu. Lari, kami harus lari bagaimana pun itu. DOOR! Ledakan terjadi lagi.

Aku tidak terlalu  bodoh untuk mengenali ledakan itu. Itu sebuah bom kecil. Ini benar-benar membuatku tidak percaya.

Lari! Kami berlari sejauh mungkin dan BUM, pesawat meledak!

“Aku selamat.” Kataku dalam hati. “Baiklah, aku selamat dari pesawat itu tapi, aku dimana, kami dimana?”

Seorang wanita berteriak histeris! Dia kehilangan adiknya dan kekasihnya. Dia terus berteriak dan menangis! Mereka tentu saja tidak selamar, pesawat itu meledak dengan begitu rapi.

“Saya polisi!” Kata Hadi, dia mengeluarkan senjatanya. “Kecelakaan ini sudah terencana namun, salah sasaran.” Lanjutnya. “Harusnya yang di ledakkannya adalah seorang anak yang ingin berlibur tapi, dia tidak menumpangi pesawat ini.”

“Jadi kami tidak lebih penting dari anak itu! Hah!” Semuanya berteriak pada Hadi. “Baiklah, kau gila!” Seorang wanita menampar keras wajah Hadi

Hadi menghitung jumlah penumpang yang selamat. 21 manusia, 21 orang, masih tersisa 21 orang. Baiklah, ini cukup bagus.

Gersang, kering, dan tidak ada minuman atau makanan. Ada pepohonan yang kira-kira berjarak beberapa ratus meter dari sini. Kami berjalan perlahan.

Ini musim kemarau dan tentu saja hutan pun sedang miskin. Oke, baiklah, aku harus berusaha bertahan hidup sampai bantuan datang.

“Bukankah itu jambu?” Tanya seorang penumpang lalu aku melirik, ya, itu hambu biji. Dia berlari lalu memanjat pohon itu dan memakannya. Kami lapar dan kami benar-benar lapar.

“Kita disini untuk hidup, kita memiliki tujuan dan kita harus bekerja sama!” Kataku menjelaskan. “Apapaun kecuali yang beracun, kita harus mengisi perut kita dan jangan mengeluh!”

“Aku ingin hidup! Aku ingin pulang! Aku harus merawat Ayahku yang sakit! Aku harus ….” Anida duduk, menangis dan menangis.

Kami bertahan hidup untuk hari ini. Kami tidak bisa tidur malam dan kami berkumpul membuat sebuah lingkaran. Untung saat aku SMU, aku mengikuti kegiatan pramuka dan aku bisa menghidupkan api dnegan batu. Baiklah, ini sudah membantu.

Ada seorang Ibu yang menangis, seorang anak yang meminta makan, seorang remaja yang terus marah-marah pada Hadi, dan kami semua terus saling menyalahkan atau pasrah.

“Kau tidak menyalahkanku?” Tanya Hadi padaku.

“Kekasihku akan khawatir dan akan marah jika besok aku tidak ada di Bali.” Aku tersenyum padanya. “Lebih baik aku memikirkan bagaimana kita bisa kembali dari pada terus menyalahkanmu.”

Senyumku begitu terpaksa dan amat terpaksa. Baiklah, ini masih bisa menghiburku sedikit. Apa? Ini apa dan apa, semua ini apa? Itulah pertanyaan pada otakku yang tercatat tapi, aku tidak berani bicara. Sudah banyak penumpang yang mewkiliku berbicara.

Baiklah, ada hal baik yang kudapat. Ternyata ada salah seorang dari kami yang pecinta alam, dia berarti sudah mengerti bagaimana keadaan hutan-hutan di Negara ini. Kuharap tempat ini tidak jauh berbeda.

Matahari di atas tersenyum seakan menyemangati kami tapi, itu matahari, dia memang selalu tersenyum tiap pagi.

Kami berjalan kembali, mencari jalan keluar. Tentu saja, kami harus berjalan. Alat komunikasi pesawat sudah terbakar dan akan bodoh jika kami menggunakan handphone. Bodoh sekali.

“Paman, aku haus.” Kata seorang anak kecil, dia sendiri, dia naik pesawat sendiri tanpa kedua orang tuanya.  Hebat sekali dia hanya saja, nasibnya kurang beruntung kali ini. “Paman,” Dia memandang Hadi. Gadis itu masih kecil, rasanya dari tinggi dan gaya bicaranya, umurnya masih 9 tahun.

Ada sebuah pohon kelapa disana, akan paman ambilkan.” Kata Hadi.

“Ini pisau kecil, siapa tahu membantumu.” Kata seorang remaja laki-laki. “Kau bertanya mengapa aku bisa membawa senjata ini dalam pesawat?” Tanya remaja itu pada Hadi, Hadi diam. “Baiklah, aku lebih pintar untuk melakukan kenakalan tapi, ini berguna untuk saat ini.” Dia meberikan pisau kecil itu pada Hadi.

Aku di bawah pohon kelapa. Melihat Hadi mengambil buah kelapa itu dan PLAK! Buah kelapa itu menjatuhi kepalaku. Seketika aku pingsan.

“Tuan.” Seorang wanita memanggilku, aku tersadar. Dimana aku? Aku merasa seperti mimpi, aku di pesawat. “Tuan, anda baik-baik saja? Mengapa Anda berteriak?” Tanya wanita yang di sampingku.

“Kau malaikat?” Tanyaku,

“Anda tertidur dalam pesawat ini dan mungkin Anda bermimpi.” Jelasnya, aku melihat sekeliling dan memukul wajahku. Sakit! Hah! Aku bermimpi dan pesawat ini baik-baik saja. Baiklah, kami selamat dan itu hanya mimpi.


Crisi menjempurku di Bandara, dia langsung memelukku seolah sudah satu abad tak bertemu. Aku mencium keningnya dan berjanji tidak akan pergi jauh-jauh darinya.

Earning Per Share

a.      Definisi Earning Per Share Earning Per Share (EPS) atau pendapatan perlembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberik...