Rabu, 08 Mei 2013

WB - Cerpen - Kehabisan Ide


“Kucing baru bro?” tanya Joy, “beli dimana?”

“Nemu,” kata Adian santai. 

“Kucing sebagus ini nemu? Nggak mungkin. Setau gue di tipi-tipi juga harganya seharga motor,”

“Gue nemu di mobil gue, tau-tau ini kucing udah ada aja,”

Kucing putih, berbulu panjang, dengan mata biru, dengan gelang kaki yang lucu, benar-benar cantik. Adian menemukannya begitu saja dan dia langsung berniat merawat kucingnya.

“Kata gue, kucing ini pasti ada pemiliknya. Liat aja bulunya, buh, kucing salon ini mah,”

“Kalo ada yang nyariin, ya mana buktinya ini kucing itu orang? Ini kucing dateng sendiri ke gue berarti berharap gue yang ngerawat,”

Adian nggak perduli kucing itu milik siapa karena selama 2 minggu ini nggak ada siapapun yang datang mengaku sebagai pemiliknya. Baginya, sekarang, kucing ini miliknya dan akan dirawatnya dengan baik.
Tapi, ada yang aneh dari kucingnya. Kucing ini nggak pernah di mandikan oleh Adian atau di bawa ke salon tapi, kucing ini tetap bersih dan cantik bahkan wangi.

‘kucing yang aneh,’ Adian menggendong kucing itu, ‘bego banget yang ninggalin ini kucing’
Kemana-mana, Adian membawa kucingnya kecuali ke sekolah karena peraturan sekolah telah melarang membawa binatang kecuali binatang untuk praktek biologi saja. 

“Di,” Mama memanggil Adian, “Katty udah kamu kasih makan?”

“Oh, udah kok Ma,” kata Adian. Adian menamakan kucing temuannya Katty. 

“Nyokap lo jatuh hati juga sama ini kucing?” Joy memandang heran, “coba lo nemu kucingnya 2 kan gue kebagian,” tambahnya. Joy juga ikut menyukai kucing ini padahal, cowok satu ini sebelumnya kurang menyukai binatang berbulu, “kucing lo sumpah cantik, matanya juga kayak manusia,”

**

Hari ini, Adian buru-buru pulang kerumah tanpa mempedulikan Gita yang mengajaknya untuk nonton. Yap, di sekolah, ada seorang cewek yang mengejar-ngejarnya. Adian nggak menyukai cewek itu sama sekali.
La....la....lalalala.... handphone Adian berbunyi.
“Kenapa?” tanyanya, itu panggilan dari Joy.
“Nggak kasian sama Gita lo ini,” katanya, Adian mengerti maksud Joy, “gara-gara lo, ini anak ngomel ke gue,” tambahnya.
“Yaudah cuekin aja lagian itu cewek masih aja nggak capek,” TUP! Telefon di tutup.
Adian risih karena Gita terus mendekatinya. Dia nggak suka dengan semua tindakan Gita yang kadang berlebihan padahal, dia sudah mengatakan kalau semua yang di harapkan Gita nggak akan tercapai tapi, cewek itu tetap terus mengejarnya.
Adian tiba dirumah dan buru-buru mencari kucingnya, “Katty-Katty,” panggilnya dengan manis, “Katty,”
“Bukannya duduk di meja makan, kamu justru mencari Katty. Makan dulu,” Kata Mama, Adian menurut, “Katty sudah makan siang, tenang saja Mama merawatnya,”
Adian langsung tancap gas ke meja makan tapi, dia langsung terjatuh ketika melihat seorang perempuan duduk disana. Kedua bola mata Adian tampak takut dan langsung melangkahkan kakinya ke belakang tapi, Mama menghentikan.
“Ada apa? Bukankah gadis itu cantik?”
“Eh, em Iya Ma tapi, matanya, kulitnya, berasa kayak setan,” jelas Adian pada Mama, “cantik, banget malahan tapi, agak serem. Habisnya kok ada sih cewek secantik itu, hihi aneh”
“Sudahlah, ayo makan,” Mama menyuruh Adian makan dan Adian langsung menurut.
Ketika makan, Adian sempat melirik perempuan itu. Dia yakin usia perempuan itu sama dengannya atau lebih muda tapi, tetap saja Adian menganggapnya hantu. Entah mengapa, tubuh Adian terasa begitu gemetar takut melihat wanita itu.
“Kalian nggak akan berbincang sampai kapan?” tanya Mama, Adian diam, perempuan itu hanya tersenyum.
“Udah, Adian mau nyariin Katty,” kata Adian lalu bergegas ke kamarnya karena biasanya Katty jam segini sedang tidur. Adian memang membiarkan kucingnya tidur di kamarnya dan sulit untuk membiarkan Katty jauh dengannya.
Setibanya di kamar, Adian nggak menemukan Katty. Dia kembali ke meja makan untuk bertanya pada Mama tapi, Mama sedang menggendong Katty.
“Katty,” Adian mengangkat Katty dan di jewernya telinga Katty, kucing itu hanya bisa mengeong saja, “cewek tadi kemana Ma?”
“Mengapa kamu menanyakannya? Bukannya kamu takut?”
“Oh iya, yaudah,” lalu Adian membawa Katty keluar rumah untuk jalan-jalan.
Adian pergi ke sebuah pusat perbelanjaan yang berada di tengah kota. Dia membelikan pakaian untuk Katty padahal, beberapa hari lalu dia baru membelikannya. Selain pakaian, dia juga memberikan aksesoris kucing lainnya dan Katty benar-benar tampak cantik.
Dia nggak mengerti mengapa bisa benar-benar menyukai kucing ini padahal, sebelumnya dia lebih menyukai binatang yang ganas seperti ular. Tapi, kesukaannya pada ular nggak seperti kesukaanya pada kucing ini karena dia selalu ingin kucing ini disisinya.
“Wah kamu sering sekali membelikan kucing ini sesuatu yang cantik,” kata seorang pegawai yang bekerja menjaga tempat aksesoris binatang, “apa kucing ini milikmu?”
“Eh iya mbak,” jawab Adian, “walaupun saya cowok tapi, namanya juga jatuh cinta ya nggak bisa di larang kan?”
“Loh siapa yang melarang? Kucingmu benar-benar cantik, sepertinya kucing langka karena saya rasanya nggak pernah melihat kucing secantik ini terutama matanya dan tatapannya yang indah.”
Adian senang mendengarkan hal tersebut. ‘ternyata bukan gue yang merasa gitu, nyokap, temen-temen gue sampe ini mbak-mbak juga berpikiran sama, ckck’ wajah Adian terlihat senang. Dia keluar setelah membayar semuanya dan dia berniat mengajak Katty ketaman karena menurutnya binatang sangat suka ke taman.
“Adian,” sapa Gita saat ditaman, Adian langsung merasa pusing karena bertemu Gita, “kamu lagi ngajak kucing kamu jalan-jalan ya? Aku juga bawa anjing Aku jalan-jalan loh,”
“O,”
“Kamu sering kesini ya? Kok kamu nggak bilang sih kan kita bisa kesini bareng,” katanya memegang tangan Adian centil.
‘astaga ini cewek maunya apa coba?’ Adian menghela nafas sejenak, “Ta,” dia melepaskan tangan Gita lembut, “gue lagi nggak mau pacaran sementara waktu. Gue mau fokusin ke pertandingan gue minggu depan.”
“Habis pertandingan berarti ada niatan ya? Ye...”
“Ta, maaf kalo ini nyakitin lo tapi, gue nggak ada niatan buat deket sama lo lebih dari temen. Kita temen Ta, nggak lebih. Kalau lo mau lebih, kita bisa untuk nggak saling kenal kan?” lalu Adian pulang bersama kucingnya dan Gita menangis sambil mengomeli anjingnya.
Adian sebenarnya nggak tega untuk bicara seperti itu pada Gita tapi, dia sudah pusing dan nggak mau lagi di ganggu Gita. Baginya, cewek satu ini baik tapi, dia benar-benar nggak ada niat untuk membiarkan Gita lebih dekat atau Gita akan lebih sakit hati kedepannya.
“Menurut lo, Gita itu gimana?” tanya Adian pada kucingnya dalam perjalanan pulang, “dia baik Cuma, hati nggak bisa di paksa kan? Lo enak kucing nggak serumit itu mikirnya, lah gue, ckck,”
“Meong....meong...meong....” Katty bersikap manja ke Adian seperti kucing kebanyakan pada majikannya, “meong,”
‘Ini kucing ngerti aja kalo gue lagi pusing. Untung aja gue rawat nih kucing, nggak rugi gue’
**
Pelajaran demi pelajaran membuat kepala Adian mengepul apalagi rumus-rumusnya memusingkan tapi, mau tak mau Adian harus berusaha. Kalau nilai ujiannya hari ini jelek, nanti siang dia nggak akan konsentrasi bertanding apalagi lawannya SMA tetangga.
“Kapten basket tetangga kan si Sultan, yakin lo menang?” Joy menakut-nakuti, “sebagai sohib lo, gue mendukung tapi, mengingat Sultan terkenal ahli banget, entahlah, haha,”
“Kampret,”
Pertandingan kali ini, Adian membawa kucingnya dan di taruhnya di dekat tasnya. Teman-teman satu tim nya hanya tertawa melihat Adian yang nggak bisa lepas dari kucingnya tapi, mereka juga menyukai Katty karena kucing itu begitu cantik.
Satu demi satu poin terkumpulkan oleh SMA tetangga, Sultan benar-benar hebat dalam mencetak poin. Adian merasa nggak ada kesempatan lagi tapi, kemudian Katty mengeong seolah memberikan semangat, Adian langsung bersemangat tapi, Sultan memperhatikan Katty.
“Mati,” kata salah seorang teman satu tim Adian mengatakan seperti itu seolah mereka kalah, “nggak ada harapan,”
Wajah Adian terlihat lelah, dia terlihat sudah menyerah tapi, kemudian dia ingin melanjutkan sampai akhir karena kalah nggak masalah jika ada usaha. ‘gue nggak akan kalah memalukan!’
Di sisi lain, Sultan justru mematung memandangi Katty. Terlihat mereka melakukan kontak mata seolah Sultan ingin memakan Katty seperti daging kelinci.
Poin demi poin sekarang di peroleh timnya Adian. Mereka menang. Mereka menang. Mereka menang untuk pertamakalinya melawan SMA tetangga karena biasanya SMA tetangga lebih unggul.
“Sultan dari tadi kayak orang linglung, aneh,” kata Roy, “di awal dia sip tapi, di tengah-tengah pertandingan sampe sekarang kayak orang kesambet.”
“Udah yang penting kita menang,” Adian tersenyum lalu mengambil kucingnya dan mengusap bulu lembut kucingnya. Sesaat, Adian melihat Sultan yang aneh, nggak seperti biasanya.
Adian duduk, beristirahat setelah memenangkan pertandingan. Dia nggak merayakan kemenangan bersama yang lain karena tempat perayaannya di larang membawa binatang, Adian nggak bisa meninggalkan Katty.
“Ehem,....” Sultan mendekat. Semuanya sudah pergi, hanya tinggal Adian, Sultan, dan kucing milik Adian saja serta para semut yang lewat, “selamat atas kemenangan kalian,”
“Oh iya,” jawab Adian sambil bingung dengan tingkah Sultan. Biasanya Sultan menang dan dia akan tersenyum bangga tapi, kali ini wajah Sultan benar-benar menunjukkan kekalahannya, “kucing lo?”
“Namanya Katty, kenapa? Mau bilang kucing gue cantik, semua orang bilang kayak gitu,”
Sultan tersenyum, “boleh kapan-kapan gue minjem kucing lo?”
“Sorry bro, kayaknya nggak bisa,” kata Adian terdengar tegas, “memang untuk apa?”
Sultan tersenyum lagi, “nggak...” kemudian dia pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun.
**
Ketika bangun, Adian mengobrak-abrik kamarnya mencari Katty. Biasanya, pagi-pagi yang dilihatnya Katty tapi, Katty nggak ada dimana-mana.
“Ma, Mama!” Adia terlihat kesal, “mana Katty?”
“Oh, di bawa Papa ke salon. Mama meminta Papa untuk membawanya ke salon. Lagian kucing cantik-cantik Cuma di mandiin dirumah, kasian kan?”
“Kapan pulang?”
“Nanti sore,”
“Ai, ke salon kok sampe sore? Apa-apaan!” Adian kesal lalu dia pergi keluar untuk jogging.
Adian memang selalu kesal kalau ada yang membuat Katty nggak terlihat. Entah kenapa, Adian benar-benar kesulitan untuk jauh dari kucingnya.
Udara pagi di sekitar kompleks cukup sejuk walaupun suasana hati Adian sedang nggak baik. Dia melihat anak-anak bermain sepeda, remaja-remaja seumurannya jogging, kakek-kakek ada yang berjalan pelan sekali seolah belajar berjalan, dan beberapa orang membawa hewan peliharaan mereka.
“Hei...” seorang cewek menyapa Adian, “hei,” katanya lagi, Adian memandangi cewek itu dan lansung menjauh ketakutan, dia berlari, “hei!” cewek itu menarik tangan Adian, “kenapa kamu lari?”
“Eh. Elo, lo cewek yang waktu itu kan?” tanya Adian agak takut. Cewek di hadapannya benar-benar cantik, cantik sekali tapi, wajahnya sedikit pucat dan Adian agak takut dengan wajah pucat manusia karena itu tampak seperti arwah penasaran, “sorry,”
“Kenapa? Apakah Aku tampak menakutkan? Kukira, Aku cantik karena banyak orang yang mengatakan Aku cantik,”
Adian nggak enak hati dan meminta maaf, “sorry, gue nggak takut kok Cuma agak kaget aja soalnya kita kan nggak saling kenal,” jelasnya berbohong. ‘ini cewek cantik, cantik banget tapi, pucetnya ini berasa arwah. Apa gue pernah buat salah sama cewek sampe arwahnya dateng ke gue? Nggak, sumpah nggak mungkin!’
Perlahan Adian menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan dan menyingkirkan rasa takutnya, “Adian,” Adian memperkenalkan diri, “lo rumahnya di sekitar sini juga?”
“Iya, deket sama rumah kamu, deket banget malahan,” cewek itu tersenyum manis dan Adian merasa aneh karena dia merasa mengenal cewek ini. ‘apa dia salah satu mantan gue? Tapi, mantan gue nggak ada yang cantiknya kayak bidadari gini dan nggak ada mantan gue yang pucet. Apa ini cewek penyakitan?’ Adian terus berpikir, “kamu bengong ya? Ada apa?”
“Eh... ng..nggak kok, kamu olahraga juga?” cewek itu mengangguk, Adian ingin menanyakan namanya tapi, dia mengurungkan niat, “yaudah gih bareng sekalian.”
Mereka jongging bersama dan Adian benar-benar sudah menghilangkan rasa takutnya apalagi cewek ini tenang dan nggak banyak bicara seperti Gita. Bagi Adian, cewek yang banyak bicara itu memusingkan tapi, cewek yang pendiam juga mengerikan. Dia lebih suka cewek yang nggak banyak bicara tapi nggak pendiam juga, sedang-sedang saja namun harus membuatnya nyaman.
“Oh iya, kamu punya hewan peliharaan kan kalo nggak salah?”
“Iya,”
“Kenapa nggak kamu ajakin jalan-jalan. Banyak loh orang yang ngajakin hewan peliharaan mereka jalan-jalan pagi hari,”
“Biasanya juga begitu tapi, dia lagi ke salon,” jelas Adian, “lo... eh kamu juga punya?” tanya Adian, dia mengikuti cara berbicara cewek yang bersamanya, cewek itu menggeleng, “padahal rata-rata orang di kompleks ini punya hewan peliharaan.”
“Gimana kalau Aku nggak punya hewan peliharaan tapi, Aku yang jadi hewan peliharaan?”
“Ada-ada aja, ckck,”
Adian pulang bersama cewek ini. Cewek yang tadinya dikatkuti Adian ini mengatakan kalau dia ingin sarapan dirumah Adian karena masakan Ibunya Adian enak.
Dalam kepala Adian, dia bingung dimana rumah cewek ini. Rumah dikanannya nggak memiliki anak cewek barang satu saja, sebelah kiri dan depannya juga begitu. Kalau rumah-rumah yang berjarak 2 rumah dari rumahnya, anak-anaknya masih kecil-kecil, kalaupun ada, jelas itu orang keturunan Cina, berbeda sekali.
‘rumah ini cewek yang sebelah mana coba? Mana akur sama Mama pula, kapan mereka kenal?’ Adian bingung setengah mati, kepalanya di penuhi pertanyaan, ‘apa ini cewek anak yang rumahnya di ujung sana terus operasi plastik biar cantik? Aisi! ‘
Adian masih belum menanyakan nama cewek yang sekarang ada dirumahnya walaupun jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Mereka justru menonton televisi bersama di ruang tengah. Saat Adian memandangi cewek ini, dia benar-benar merasa kenal tapi, dia lupa dimana pernah bertemu.
“Kenapa?” cewek itu memandangi wajah Adian, “kamu mikir ya kenapa kok ada cewek secantik Aku?”
“Pe-De sumpah,” Adian menjitak kepala gadis itu pelan. Entah mengapa, Adian benar-benar nyaman walaupun mereka hanya berbincang biasa sambil menonton televisi dan memakan cemilan, “sejak kapan kesal sama Mama?”
“Mau kamu sejak kapan?” cewek itu berbalik tanya sambil tersenyum manis, benar-benar begitu manis dan cantik senyumannya, “udah lama sih, sama kamu juga udah lama kenal, kamu aja yang nggak sadar,” jelasnya dengan manis.
‘ini cewek kenapa manis banget senyumnya? Terus suaranya itu, buat gue ngerasa damai. Sumpah ini cewek siapa coba? Berada di samping gue ini malaikat yang kelewatan cantik walaupun agak pucet sih’
Saat makan, tiba-tiba cewek ini tersedar dan Adian buru-buru ke dapur mengambil minuman. Adian agak heran mengapa dirinya mengambilkan minum begitu saja padahal, biasanya dia nggak mau mengambilkan minum untuk teman lamanya sekalipun. Adian terbiasa menyuruh temannya mengambil minum sendiri di dpaur tapi, kali ini kakinya melangkah begitu saja.
Ketika kembali ke ruang tengah, Adian melihat cewek itu tersenyum dan tertawa menonton tayangan televisi. Tiba-tiba hati Adian bergetar aneh dan dia nggak bisa mengontrolnya.
“Hei, kamu kenapa? Terpesona ya?” kata cewek itu blak-blakan, “eh anterin Aku ya, Aku mau beli jam tangan buat seseorang,”
“Oke,”
Mereka pergi membeli jam tangan di tempat yang biasanya di datangi Adian. Adian tahu tempat ini menjual jam tangan dengan kualitas terbaik walaupun untuk harga agak sedikit tinggi.
“Ini bagus nggak?” Adian menggeleng, “kalo ini?” Adian menggeleng lagi, “ini?” Adian tersenyum menandakan setuju dengan pilihan cewek ini. Cewek ini ke kasir untuk membayar lalu bertemu Sultan.
“Apa kabar?” tanya Sultan, “apakah buruk?” tangan Sultan memegang tangan cewek ini dengan agak kasar, matanya menatap tajam.
“Apakah Aku harus membicarakan ini denganmu?” cewek ini terlihat menantang dengan pandangan sinisnya, “apa harus?”
“Ada apa?” tiba-tiba Adian datang, “elo,” dia melihat Sultan dan langsung menarik tangan cewek ini, “kalian saling mengenal?” tanya Adian. Dari keduanya nggak ada jawaban, Adian akhirnya membayar jam tangan itu ke kasir dan membawa cewek itu keluar tapi, kemudian Sultan mengejar.
Cewek ini terus beradu pandangan sinis dengan Sultan, Adian jadi heran, “maaf,” kata Sultan pada Adian, “lo pacaran sama ini cewek?”
“Baru kenal, kenapa?”
“Nggak, walaupun kita lawan di lapangan tapi, kita teman di luar lapangan,” Sultan tersenyum penuh makna, “gue harap kita nggak jadi lawan di luar lapangan juga,” lalu Sultan pergi begitu saja.
Mereka kembali kerumah Adian. Cewek satu ini terlihat santai saja padahal menurut Adian, pandangan Sulta begitu menakutkan bagi seorang cewek seakan menandai permusuhan besar.
“Gue sama Sultan teman, apa kalian musuan?” tanya Adian.
“Nggak tau deh, kenapa? Lagian, nggak penting ah,”
Cewek ini dirumah Adian sampai jam makan malam berakhir sedangkan Adian mulai khawatir karena Papa nggak pulang-pulang bahkan memberi kabar sedikitpun, handphonenya pun mati.
Adian terus melihat jam dan terus menunggu Papa sedangkan cewek yang dari tadi dirumahnya duduk di samping Adian sambil tertidur. Dia heran mengapa cewek ini nggak pulang-pulang padahal hari sudah larut apalagi dia sejak pagi dirumahnya.
“Hei, bangun,” kata Adian, “Aku nggak tega bangunin kamu tapi, kamu cewek, kasian orang tua kamu nyariin,”
“Rumah Aku deket kok,”
“Dimana? Aku anterin ya, nggak baik cewek pulang kemaleman,”
“Dirumah kamu kan Aku tinggalnya jadi, ngapain kamu anterin?” kata cewek itu dan Adian merasa kalau cewek yang disampingnya sedang mengantuk serta ucapannya terbawa mimpi.
Beberapa menit kemudian Papa pulang, Adian langsung mencari Katty tapi, dia benar-benar terkejut ketika Katty nggak ada pada Papa.
“Papa tidak membawa Katty, Papa ada acara dengan teman-teman kuliah Papa dulu,”
“Terus Katty dimana?” tanya Adian, “dia ilang?”
“Jelas-jelas Katty sama kamu seharian ini, mata kamu masih sehat kan?” Papa memandangi cewek yang duduk manis di samping Adian. Cewek itu menyapa Papa dengan sopan dan Papa tersenyum lalu masuk ke kamar, “ai, kucing gue kemana pula! Aisi!”
Adian marah-marah nggak karuan. Dia mengubek-ubek ke dalam mobil Papa, mengubek-ubek isi rumah sambil guci-guci di periksanya, sampai toples-toples di periksanya saking dia kesalnya.
Kaki Adian melangkah ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil mencari Katty. ‘Ini orang rumah kenapa pada nggak peduli sama Katty. Nggak kayak biasanya. Gila!’  setelah menemukan kunci mobilnya, Adian keluar kamar tapi kemudian cewek yang sejak pagi bersamanya masuk dan tidur dikamarnya.
“Woy gila lo!” Adian menarik cewek itu, “keluar-keluar, bisa diamuk bokap-nyokap gue!”
“Kenapa? Biasanya juga mereka nggak marah, kamu geh nggak marah, Aku kan biasa tidur disini,” cewek itu berdiri lalu memeluk Adian, “ada apa? Kamu mau nyari Katty? Aku Katty,” lalu cewek ini berubah menjadi Katty, menjadi kucing dan lombat ke atas ranjang, “Aku Katty,” kucing itu bisa berbicara layaknya manusia.
Adian bengong dan ketika sadar, dia berlari ke kamar orang tuanya. Mereka melihat tingkah Adian yang kebingungan justru tertawa.
“Kenapa? Apa yang aneh! Adian bisa gila liat itu cewek, eh itu cewek berubah jadi Katty!”
“Memang dia Katty, Papa kira ada apa. Sudahlah, Papa dan Mama ingin istirahat. Kamu jaga saja Katty, jangan berbuat macam-macam atau menyakitinya atau hidupmu akan menjadi taruhannya,” Papa menyuruh Adian keluar.
“Tapi...”
“Sudahlah, dia benar-benar Katty.” Mama pun ikut menyuruh Adian keluar.
Adian kebingungan, dia akhirnya memilih tidur di ruang tamu sendirian.
**
Langkah kaki Adian gontai seperti orang mabuk tapi dia sadar. Anak-anak memandanginya karena sepanjang koridor di langkahi Adian dengan sangat aneh.
“A... Adian,” Gita menyapanya, “kamu kenapa?” kali ini Gita mulai berubah. Dia mulai menjaga jarak dengan Adian bahkan, Gita sudah nggak menelfon Adian lagi sejak ucapan Adian beberapa waktu lalu.
“Apa? Lo mau buat gue gila juga!” bentak Adian, Gita kaget dan langsung meninggalkan Adian.
Sepanjang jam pelajaran berlangsung, Adian seperti orang kesambet setan. Dia terus mematung dan begong sampai sabahatnya, Joy pun bingung.
Beberapa kali, Adian sempat di tegur guru karena bengong di saat KBM berlangsung tapi, ada juga guru yang menyarankannya untuk ke UKS saja.
“Pantesan tadi pagi lo dianter bokap lo, lo sakit bro?” tanya Joy, Adian diam, “kalo lo nyetir dalam keadaan begini, bisa langsung ke UGD pula.” Tambahnya tapi Adian tetap diam nggak mengeluarkan sepatah kata pun.
Bel berbunyi, Joy berniat memberi tebengan pada sahabatnya tapi, Joy melihat mobil Adian sudah ada di depa gerbang sekolah.
“Bokap lo apa nggak nyokap lo noh jemput, mobil lo di depan,” beritahu Joy, Adian tetap diam, “lo nggak lagi gila kan? Lo cowok bro, jangan begini woy!”
“Gue ngeliat setan, bukan tapi siluman, bukan tapi jin, shit!” kata Adian, Joy bingung karena sekalinya bicara, Adian berkata aneh.
Joy mengantarkan Adian ke depan gerbang karena dia khawatir kalau sahabatnya itu benar-benar sakit. Bagaimana pun mereka sudah bersahabat sejak TK jadi, dia tahu kalau tingkah Adian kali ini adalah untuk pertamakalinya.
“Hei,” seorang cewek keluar dari dalam mobil, “kamu kok lama sih? Aku kan nungguin kamu, huhu, capek tau,” dia menarik tangan Adian lembut, Joy masih bingung dan kaget.
“Lo pacarnya Adian?” tanya Joy, ‘ini cewek cantik, sumpah cantik banget ngelebihin artis, matanya juga cantik’ kata Joy dalam hati, “eh sorry, lo pacarnya Adian?”
“Nggak tau juga, terserah Adian mau nganggep Aku apa yang jelas dia udah ngerawat Aku selama ini,”
“Hah?” Joy kebingungan tapi, kemudian cewek itu membawa Adian bersamanya.
**

Sebenernya cerpen ini belum selesai tapi gue kehabisan ide, jadi yaa gak jelas mau di bawa kemana ini cerpen DAN kenapa tulisannya berantakan? Karena gue males ngeditnya wo_o


:) :) :)


-          Adian
-          Joy
-          Gita
-          Katty
-          Sultan
-          Linda

Arwah Amatiran (CERPEN) oleh Aula Nurul M



Arwah Amatiran
Li An nggak pernah tau apa yang akan terjadi pada hidupnya di masa depan, yang dia tahu hanya apa yang terjadi pada masa lalunya. Baginya, masa depan adalah sebuah rahasia yang nggak boleh dia pertanyakan sama sekali atau hasilnya akan membuat kepalanya sakit.

“Li An...” seseorang memanggil-manggil namanya dari belakang tapi, Li An nggak mau menengok, dia terus saja berjalan di koridor sekolah, “Li An, Li An,” suara itu terus memanggilnya tapi, dia tahu tentang suara itu, suara yang orang lain nggak bisa mendengarnya.

Angin mendekati Li An, mendekati lehernya lalu terlinganya dan berbisik aneh. Li An sadar itu terjadi pada dirinya tapi, dia terus berjalan seolah dia nggak merasakan apa pun. Dia ingin dirinya nggak mengetahui apa pun sehingga dia nggak harus melakukan apa pun dan nggak berpikir apa pun.

Tapi, suara itu makin lama makin membuat Li An gerah, dia ingin membuat suara itu diam. Li An membalikkan badannya dan di lihatnya sesosok wanita cantik berpakaian SMA. Li An memberi kode pada wanita itu untuk ke gudang sekolah agar semua orang di sekolah nggak memandang Li An gila.

“Apa yang kamu inginkan?” tanya Li An, “Aku lelah terus-terusan berurusan dengan mahluk sejenismu, Aku lelah!”

“Aku nggak akan menyusahkanmu. Aku hanya ingin berteman denganmu. Bagaimana?” wanita yang usianya sudah ratusan tahun ini memandang Li An. Li An tahu wanita ini adalah arwah yang nggak mau pergi ke alam baka, “bagaimana karena, kupikir berteman denganmu menyenangkan.”

“Hanya itu saja?” tanya Li An, wanita itu mengangguk, “Oke, namaku Li An, kamu Ana kan?” wanita itu mengangguk lagi, “mari kita berteman tapi, jangan bicara denganku di saat ramai. Aku nggak berniat untuk membuat diriku di anggap sinting oleh seisi sekolah.”

**

Li An nggak menghabiskan sarapannya pagi ini, dia terburu-buru karena jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi yang jelas dia tahu kalau dirinya akan terlambat apalagi Jakarta macetnya minta ampun.

“Hei,” Ana menyapanya ketika Li An menunggu bis, “Kau akan terlambat,” ucapnya, Li An hanya diam dan nggak merespon ucapan Ana, “bukankah kamu menyukai Tobi?” tanya Ana, Li An tetap diam nggak tergoda untuk bicara, “harusnya kamu berangkat ke sekolah bersama Tobi, sepertinya dia juga menyukaiku.”

Satu bulan ini, Li An terus diikuti Ana karena dia menerima Ana hadir di hari-harinya. Li An senang karena Ana termasuk Arwah yang baik dan nggak menyusahkannya tapi, ucapan Ana terlalu membuat Li An sedikit sakit kepala.

“Yah, Pak, please, janji deh nggak terlambat lagi,” kata Li An memohon pada seorang guru yang sedang memarahi siswa-siswi yang terlambat, “seriusan, janji deh ketemu hantu kalo saya terlambat lagi.”

“Kamu bicara seperti itu karena kamu nggak takut sama hantu, ckck,” Ana menggelengkan kepalanya.
Li An berhasil masuk ke kelasnya setelah mendapat ceramah panjang serta hukuman. Seisi kelas memandangnya tertawa tapi, seorang cowok bernama Tobi hanya tersenyum kecil tanpa menertawakan.

“Kenapa terlambat?” tanya Tobi ketika Li An duduk, mereka duduk bersebelahan, “lo begadang?” Li An menggeleng. Hari ini Li An terlambat karena harus memarahi seorang hantu gila yang tersesat di rumahnya tapi, itu bukan Ana tapi arwah-arwah lainnya. Bagi Li An kemampuannya dapat berbicara, melihat, dan berinteraksi dengan mahluk di alam lain cukup menyebalkan karena dia merasa terbebani, “lo ngelamun?”

“Eh em....” Li An tertawa pada Tobi, “haduh, muka gue jadi kusut ya?”

“Biasa aja,” Tobi membantu Li An mengeluarkan buku pelajaran, “coba tadi lo sms gue jadi kan nggak perlu nunggu bis,”

“Kelupaan,”

Pelajaran demi pelajaran Li An ikuti sampai jam terakhir dan kali ini, Li An mendapat tawaran dari Tobi untuk di antarkan pulang. Awalnya Li An menolak tapi, akhirnya menerima tawaran Tobi. Penolakannya tadi hanya basa-basi.

**
“Mama!” Li An berteriak-teriak, “Ma!” lagi dan lagi sehingga Mama langsung ke kamar Li An, “liat geh Ma liat!” Li An menunjuk sesosok arwah yang berdiri di sudut kamarnya, “ini arwah nggak sopan banget masuk ke kamar Aku terus diem melulu kayak patung. Mama urus geh!”

Keluarga Li An memang memiliki kelebihan seperti halnya Li An karena sudah turun temurun tapi, hanya Li An lah yang memiliki kemampuan paling tinggi sehingga para arwah mendatanginya seperti tertarik magnet.

“Kalau dia tidak mau bicara, biarkan saja berdiri di kamarmu. Anggaplah dia patung yang kamu beli,” kata Mama lalu keluar kamar Li An, “Mama akan kepasar,”

Li An memanggil-manggil Ana tapi, Li An ingat kalau Ana sedang jalan-jalan bersama para arwah lainnya. Agak aneh juga kalau arwah bisa berekreasi dengan santai.

“Hei Kau!” Li An berdiri lalu mencubit pipi arwah aneh tersebut, “kau bukan arwah yang bisu kan? Setahuku arwah nggak ada yang bisu!” Li An mencubit lebih keras, “hei!”

“Aku adalah arwah baru,” kata arwah tersebut, “ini agak aneh,” ucapnya, “Rio,” dia memperkenalkan diri pada Li An, “kamu manusia?”

“Arwah satu ini benar-benar amatiran!” kata Li An lalu dia menggelengkan kepalanya dan meninggalkan arwah tersebut di kamarnya.

Li An nggak mau capek-capek menjelaskan tentang dunia arwah pada arwah baru seperti Rio karena itu bukan tugas Li An. Li An hanya merasa kalau tugasnya menjawab pertanyaan para arwah tanpa menyusahkan dirinya.

“Hei,” Rio mengikuti Li An ke dapur, “Aku masih ingin tinggal di dunia tapi, mengapa ada beberapa arwah yang nggak menyapaku ketika Aku menyapa mereka?” tanyanya, Aku nggak menjawab. Rio ini bodoh sekali, arwah itu sama dengan manusia, ada yang baik, ada juga yang jahat, dan ada yang cuek, “oh iya, mengapa kamu bisa bicara dengan arwah?”

“Karena Aku memiliki kelebihan.” Jawab Li An karena dia merasa pertanyaannya pantas untuk dijawab, “oh iya, Aku memiliki teman yang arwah juga. Namanya Ana, dia arwah yang ada di sekolahku. Kamu bisa beteman dengannya.”

“Hm. . .”
**

Tobi mengirimkan sms pada Li An kalau dia akan menjemputnya pagi ini. Tanpa menolak, Li An langsung mengiyakannya, dia benar-benar senang kalau Tobi menjemputnya yang berarti dia bisa lebih dekat dengan Tobi.

“Cie kapan yaa jadian,” goda Ana, “Aku akan setia menunggu kalian jadian, haha,” Ana tertawa cekikikan, “Tobi lama sih nembaknya.”

“Kamu nggak kesekolah? Kamu kan arwah sekolah, ckck,” kataku pada Ana tapi dia memberi kode kalau hari ini dia akan bersantai di rumahku. Rumahku ini sudah seperti rumahnya dan Mama nggak keberatan toh dia arwah jadi nggak menghabiskan makanan. Haha, selain itu, Arwah bernama Rio juga masih dirumahku sampai dia benar-benar mengerti kehidupan para arwah, “Rio, kamu bisa bertanya pada Ana tentang arwah.”

“Padaku? Mengapa aku?” Ana terlihat nggak setuju, “menyusahkan sekali!”

Rio benar-benar membuat Li AN dan Ana susah. Seharian ini dia terus saja bertanya tentang dunia para arwah tapi, baik Li An atau pun Ana nggak ada yang memberitahunya. Sebenarnya, Li An ingin bicara tapi, pikirannya sedang nggak ingin berbincang-bincang para arwah baru.

“Hei Tob,” kata Li An ketika dia keluar rumah dan langsung menemukan sosok Tobi di depan pintu rumahnya, “maaf yaa kalo lama, maaf banget ini mah.”

“Harusnya gue bisa sarapan di kantin tapi, rasanya sampe istirahat pertama harus nahan laper.” Ucap Tobi, Li An merasa bersalah. Li An kembali membuka pintu karena Ana memanggil-manggil namanya.

“Ini...” Ana memberikan kotak makan milik Li An, “buat Tobi sarapan, oke?” arwah satu ini benar-benar mendukung hubungan Li An dengan Tobi. Baginya, kedua manusia tersebut saling menyukai hanya saja belum ada waktu yang tepat.

**
Tobi menunggu Li An di ruang tamu, malam ini mereka akan makan malam bersama dalam rangka perayaan hari jadi mereka yang keempat bulan.

“Sayang, nggak nyangka ya kita udah jalan 4 bulan?” ucap Li An, Tobi hanya tersenyum kecil, “kamu kenapa?”

“Kok agak merinding ya disini. Apa ada setannya?” tanya Tobi, Li An melihat Ana sedang memperhatikan Tobi, “sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja.”

4 bulan lalu, Tobi akhirnya menyatakan cinta pada Li An. Hubungan mereka terbilang mengejutkan karena seisi sekolah memprediksi mereka jadian nggak secepat itu. Namun, cinta memang nggak pernah terduga dan nggak ada yang pernah menyangkanya.

“Kamu serius?” tanya Li An ketika Tobi melingkarkan cincin perak di jari manis Li An, “Aku nggak pernah menyangka sebelumnya.”

Hubungan mereka selalu baik-baik saja, nggak pernah ada masalah atau keributan apapun. Keduanya saling mengerti dan memahami sifat masing-masing.

“Belakangan ini, Aku merasa takut kehilangan kamu,”

“Benarkah?”

“Ya, seperti itulah yang terjadi.”

**
Rio sudah mulai mengerti dunia arwah, dia sudah nggak tinggal lagi di rumah Li An. Arwah satu itu telah menikmati hidupnya sebagai arwah dan melupakan semua kebingungannya saat pertamakali menjadi arwah.

“Ana,” kata Li An pada Ana, “apakah kamu merasa kalau hubunganku dengan Tobi akan baik-baik saja?”

“Mungkin,” jawab Ana, “tapi, Aku yakin kalau kalian saling menyayangi.” Ana tertawa cekikikan, “oh ya, mengenai Rio, bukankah dia menyukaimu?”

“Ya, Aku tahu itu,” kata Ana. Li An tahu kalau Rio mulai menyukainya sejak mereka pertamakali kenalan tapi, dunia mereka sudah berbeda, alam mereka sudah berbeda, cara hidup mereka pun sudah berbeda, Li An nggak pernah berniat menjalin cinta dengan banyak perbedaan yang gila terlebih, disisinya sudah ada Tobi.

Ana bernyanyi di kamar kosong rumah Li An. Dia memang suka bernyanyi, suaranya pun kadang terdengar oleh siswa yang melewati gudang sekolah Li An tapi, sekarang dia dirumah Li An. Kalau pun ada yang mendengar, itu nggak akan pernah jadi masalah.

“Ana. . .” Rio tiba-tiba datang seperti arwah yang sudah professional, “kamu melihat Li An?”

“Kenapa? Ada apa mencarinya? Kalian berbeda,” ucap Ana, “berteman saja sudah lebih dari cukup. Jangan menyakiti dirimu dan dirinya, dia butuh ketenangan,” tambahnya dengan nada agak menyindir.

“Aku hanya ingin pamitan,” kata Rio, “Aku akan pergi ke alam yang sebenarnya,”

“Hah! Baiklah! Menyusahkan sekali!” Ana sedikit kesal lalu membawa Rio pada Li An yang sedang menenangkan diri di ruang bawah tanah.

Li An terlihat sangat tenang. Dia menarik-menghembuskan nafasnya secara teratur, “kalian menggangguku saja,” kata Li An yang menyadari kedatangan kedua arwah menyebalkan, “ada apa?” Li An membuka matanya.

Udara terasa begitu dingin dan Ana berdiri dengan manis sedangkan Rio, dia mendekat pada Li An, “Aku menyukaimu, sangat menyukaimu, bahkan rasa ini lebih besar ketika Aku menjadi seorang manusia,” jelas Rio, “tapi Aku sadar kita berbeda dunia, “sangat berbeda,” Rio lebih mendekat lagi, “Aku ingin kembali pada alamku yang sebenarnya.”

“Kamu ingin di sisi Tuhan?” tanya Li An, “baiklah, itu pilihanmu dan kuharap, kamu nggak akan merindukanku.” Li An tersenyum lalu memeluk Rio, “pergilah, Aku yakin kamu akan tenang di alam sana,”

Angin kencang datang mendadak, Li An mengerti. Beberapa saat kemudian Rio menghilang tanpa bekas, Li An paham sekali, “anak satu itu benar-benar amatiran, ckck.” Ana tertawa, “hei, kamu tahu nggak kalau ada manusia lain selain dirimu disini?” Li An memandang bingung, “Tobi...”

“Sayang. . .” Tobi mendekati Li An, “ternyata benar tentang rumor itu kalau kamu bisa berbicara dengan hantu tapi, Aku nggak suka,” tambahnya, “bagaimana kalau hantu-hantu itu menggodamu seperti hantu yang tadi?”

“Maaf, Aku nggak tau kalau dia masuk ke ruang bawah tanah,” kata Ana lirih lalu menghilang layaknya arwah. Di ruang bawah tanah ini, manusia yang nggak memiliki kemampuan pun bisa melihat hantu-arwah dan sejenisnya.

“Untung kamu nggak tergoda,” Tobi memeluk Li An, “lain kali kamu harus menjaga jarak dengan hantu berjenis laki-laki.

“Oke,”

TAMAT

follow twitter @Aulanurul atau klik disini



Good Bye (CERPEN) oleh Aula Nurul M



Good Bye
oleh Aula Nurul M

Kata orang, persegi itu bukan lingkaran. Kata buku yang kubaca juga, persegi itu bukan lingkaran. Ini aneh, di dalam kepalaku, aku melihat persegi berubah menjadi lingkaran. Bukan satu dua kali aku melihat gambaran itu tapi, lebih dari jutaan kali.

“Ayolah! Kakimu mengeluarkan banyak cairan!” Wiliam membantuku berdiri, “kau bisa kehabisan darah Jane, ayolah, ikuti kataku!” suaranya meninggi, “kau harus ikut denganku!”

Aku diam. Aku memandangnya. “tadi kudengar, kau bicara darah? Darah apa yang kau maksud?” tanyaku, Wiliam tidak bisa menjawabnya, “biarkan saja cairan yang kau sebut darah ini terus keluar dan orang-orang akan memperhatikan kita. Mereka akan membawaku kerumah sakit!”

“Jane, kau harus segera menemui Prof Roulf atau semuanya akan berakhir,”

Aku tidak tahu apa yang di maksud akhir oleh Wiliam. Jika yang dimaksudnya adalah akhir hidupku, aku ingin bertanya apakah aku hidup? Atau jika yang dimaksudnya akhir adalah kebebesan, apakah itu akan benar-benar terjadi.

“Aku harus membawamu!” Wiliam memaksa dan membawa tubuhku yang lemah entah kemana.

Saat Wiliam membawaku, di perjalanan yang entah kemana, aku melihat sebuah segitiga di dalam lingkaran dengan cahaya menusuk. Aku tidak tahu itu apa tapi, aku yakin itu bermakna bagi hidupku. Hidupku, di luar ini, di luar tempat ini.

**

“Apa yang kau lakukan!” Prof Roulf memarahiku. Ia tampak marah dan kecewa padaku, “kau ingin bunuh diri dengan cara seperti itu?!”

Ya, aku mencoba bunuh diri. Di tengah jalanan yang ramai, aku berdiri menunggu sebuah mobil menabrakku dan akhirnya aku tertabrak tapi,  Wiliam mengetahuinya. Ia membawaku kesini, ke tempat yang menjadi titik hidupku.

“Aku melihat persegi itu, lingkaran itu, cahaya itu bahkan hal-hal aneh itu. Mereka semua bertebaran di kepalaku, aku tidak sanggup!”

“Kau ingin mati?! Hah! Kalau kau ingin mati, matilah sekarang!” Prof Roulf melemparkan sebuah pistol padaku, “tembaklah tepat di kepalamu maka semua selesai,” lalu kemudian prof Roulf tertunduk, terlihat lelah.

Wiliam membantu Prof Roulf berdiri. Kemudian, beberapa orang sejenis Prof Roulf masuk dan terlihat kekhawatiran mereka.

Aku di bawa. Di bawa oleh Wiliam dan seorang yang menyeramkan ke sebuah ruangan. Kakiku sudah sembuh oleh obat yang tidak kutahu jenisnya.

“Tinggalkan kami berdua,” pinta Wiliam pada orang seram itu, “Jane akan baik-baik saja bersamaku,”

Aku duduk di sebuah kursi yang sangat dingin, di dalam ruangan yang sunyi.

Wiliam duduk di hadapanku, “jika kau mau mati, silahkan tapi, semua orang disini terlah mempertaruhkan hidup mereka untukmu, termasuk aku, kau harus sadar itu,”

“Ya, aku tahu, aku adalah penelitian mereka, begitu bukan? Dan kau, kau di tugaskan agar aku tidak mencoba mencari mati bukan?”

Kakiku setengah gemetar. Bukan aku takut tapi, rasanya ada yang menggerakkan kakiku dengan sendirinya.

“Di dalam kepalaku, ada yang kusembunyikan, tentang persegi itu, tentang lingkaran itu, dan tentang cahaya yang tergambar jelas,” aku berdiri, menundukkan kepalaku, “ini sia-sia, semua akan sia-sia, aku akan kembali, kembali setelah dua abad aku disini,” lajutku, “lingkaran itu memanggilku lagi, dan lagi,”

Wiliam menarik tanganku, memintaku duduk kembali, “maksudmu, kau bisa kembali?” tanyanya, aku mengangguk, “bukankah kau bilang jika kau tidak akan bisa kembali lagi?”

“Aku berbohong, aku bisa kembali dengan mudah tapi, aku menghindar. Sekarang, aku tidak bisa menghindar lagi, mereka akan datang, menjemputku, menyelesaikan semuanya,”

“Dan apa yang akan terjadi disini?” Wiliam terlihat mulai kacau, “mereka meminta perang? Hah?!”

Aku tersenyum, “ikutlah bersamaku, kau akan aman” mataku memasuki matanya, “kau tahu satu hal yang membuatku ingin disini? Ya, itu dirimua,” jelasku, jujur, “tapi, aku harus pergi, aku tidak bisa mati. Kalian membuatku tidak bisa mati, jadi aku harus kembali, dan untuk planet ini, aku sangat berterimakasih.” Tiba-tiba kepaalaku terasa sakit lagi, dan lagi, “aku akan berusaha meyakinka planetku, semua masih baik-baik saja, keadaan ini baik-baik saja, tentu, ya, tentu,” aku melangkah, meninggalkan ruangan itu.

Wiliam mengejarku. Para penjaga hanya memelototiku meninggalkan ruangan itu. Prof Roulf memandangi kepergianku tanpa melarangku atau menghentikan.

“Jane!” Wiliam menarikku, “jangan pergi, kumohon, aku membutuhkanmu, tanpamu, semua akan aneh,”

“Kau pernah mendengar sebuah planet yang bernama Bumi?” Wiliam menggeleng, “aku pernah mendengarnya. Planet itu sangat jauh, kehidupan planet itu sama dengan kehidupan disini atau di planetku tapi, mereka tenang, damai, tanpa tahu ada kehidupan lain selain di panet mereka, bumi,”

“Lalu?”

“Anggaplah kau mahluk bumi, tidak tahu tentangku, dan tidak tahu tentang planetku. Jika perang terjadi, anggap saja itu hanya mimpi burukmu, usai,”

Aku keluar, meninggalkan tempat ini. Di atas kepalaku, nyata ada sebuah persegi berubah menjadi lingkaran. Di tengahnya, cahaya putih terbentuk indah, memberikan jalan untukku masuk.

“Selamat datang kembali, ke duniamu,”

Aku melihat dari kejauhaan, Wiliam melambaikan tangannya.

Kemudian, aku sudah kembali ke tempat yang telah kutinggalkan selama 2 abad ini. Disini berbeda dengan disana. Wiliam dan yang lainnya, mereka manusia, seperti mahluk bumi, mereka benci perang walaupun keseharian mereka penuh perang.

Aku, aku tentu berbeda dengan Wiliam. Walaupun secara kasat mata kami sama, tapi kami tetap berbeda. Cairan tubuhkua yang di anggapnya darah, itu bukan darah. Wiliam bodoh sekali.

“Mereka cukup baik menjagamu, Jane,” Antarez berdiri di sampingku, memandangi debu-debu yang menari, “kau masih hidup, kami kira, mereka membuatmu sebagai tawanan perang,”

“Entahlah, aku tidak mengerti, ini sulit bagiku,”

Antarez memberikan segelas minuman padaku, “kau tahu apa alasan planet ini mengurungkan niat?” aku mengangguk, “ya, karena kami pikir, setelah kau tersesat disana, mereka menjadikanmu tawanan tapi, tubuhmu baik-baik saja,”

“Ya tentu, tapi tidak dengan hatiku,” aku membalikkan badanku, melangkah meninggalkan Antarez, “aku ingin istirahat, sejenak saja,”

**

Aku merindukanmu. Merindukan saat kau bertanya apa isi cairan tubuhku. Saat kau ingin tahu mengapa cairan di tubuhku namanya bukan darah. Saat kau bertanya-tanya mengapa mataku berubah warna di saat aku marah, di saat aku sedih, dan di saat aku bahagia. Aku rindu saat kau terus penasaran tentangku.

“Jane,” seseorang masuk ke kamarku, Ayah “perjalananmu cukup jauh tapi, seharusnya kau sudah baikan. Ini sudah sebulan lebih kau terlihat lemas,”

“Entahlah, aku hanya merindukan hal yang tidak boleh kurindukan. Oh ya, bagaimana dengan perang itu? Apa ayah akan ikut dalam perang? Apakah ayah harus melakukannya?”

“Demi planet ini, demi menjaga raja kita, kita tidak boleh menghindar atau itu sama hal nya dengan penghianatan, kau akan mati jika salah melangkah,”

Apa yang kau lakukan disana? Apakah kau sedang di marahi Prof Roulf karena membiarkanku pergi? Atau kau sedang beradu pendapat dengan Prof Roulf karena perang akan terjadi? Atau kau akan bertanya-tanya apakah aku akan menjadi gadis aneh dan lebih aneh lagi setelah kembali ke planetku.

Ayah, boleh aku bicara satu hal?” ayah mengangguk, “mengapa cairan di tubuhku, di tubuh ayah, dan di tubuh semua yang ada di planet ini berbeda dengan planet lain?”

“Jangan menanyakan itu lagi, kunci mulutmu!” Ayah keluar dari kamarku, ia marah.

Aku tahu, menanyakan tentang cairan di tubuhku sama hal nya dengan penghianatan. Ayah pasti tidak ingin aku di hukum. Ayah memintaku diam. Membisu. Seolah tak pernah bertanya.

Semakin hari, semakin kacau. Aku melihat di luar sana prajurit sedang menyusun strategi. Membuat kepalaku semakin sakit.

Persegi lingkaran itu tidak pernah muncul lagi karena aku sudah kembali tapi, mengapa sekarang aku melihat lingkaran berlukiskan wajah Wiliam? Mengapa?

“Jane, ayo keluar,” Antarez memintaku keluar, “apa yang ada di pikiranmu, kuharap tidak akan di ketahui banyak orang, itu membahayakan hidupmu,”

“Ya, aku tahu, aku lebih tahu dari siapapun kalau pada akhirnya, pikiranku akan mati,”

**

Aku menolak. Menolak dengan keras kalau aku harus kembali ke planet itu untuk mencari informasi kelemahan mereka. Aku menolak. Aku tidak ingin Wiliam mati.

“Jane!” Ayah hampir menghunuskan pedangnya padaku sebelum Panglima Perang menghentikannya, “kau!”

“Ayah! Sebelumnya, aku tersesat disana karena Ayah meninggalkanku! Ayah menyelamatkan diri ayah dari perang yang tidak ada akhirnya! Aku disana bukan sabagai prajurit yang di kirim dari planet kita! Aku hanya gadis yang tersesat dan di tinggalkan!” suaraku meninggi, “dan ayah tahu, aku tidak pernah menjadi tawanan disana. Mereka merawatku. Mereka menjagaku. Mereka tidak pernah menyakitiku sedikitpun. Mereka ingin aku hidup. Itu saja. Bahkan, mereka tidak pernah menginginkan perang. Apakah kita harus menyerang?”

“Kau!” ayah marah lagi.

“Hentikan! Putrimu itu hanya remaja biasa, gadis kecil yang baru tumbuh menjadi remaja. Dia seorang wanita dan dia bukan prajurit perang, tidak seharusnya kau mengirimnya sebagai mata-mata. Bahkan Raja pun tidak akan setuju,” Antarez mencoba membuat amarah ayah reda, “Jane, pulanglah ke rumahmu, kau hanya gadis kecil, kau tidak tahu apa-apa, pulanglah dan beristirahatlah,”

Aku pulang. Di rumah, semuanya sepi. Tidak ada yang menarik. Aku merindukan Wiliam. Aku merindukan senyumnya, candanya, sapaannya, dan cerita-cerita darinya tentang masa kecilnya.

Wiliam, planetmu tidak seperti disini. Disini, semua menginginkan planetmu jatuh. Dendam yang sekian juta tahun masih menjadi dasar perang ini tapi, aku tidak pernah setuju. Planetmu, kalian tidak pernah menyerang. Kalian hanya mempertahankan dan kalian tidak pernah kalah. Tapi, kali ini, aku takut, perang sebenarnya akan terjadi. Perang sampai titik penghabisan. Dan aku, aku takut jika kamu hilang selamanya. Aku juga takut jika Prof Roulf yang menjagaku menutup waktu.

Aku hanya gadis kecil yang baru tumbuh menjadi remaja. Aku tidak terlalu banyak tahu tentang perang apalagi aku wanita tapi, sepertinya bagi orang dewasa, perang artinya kebahagiaan yang abadi.

**

“Jane,” Antarez masuk ke kamarku diam-diam, “pergilah,” lanjutnya, “gunakan pesawat ini,”

“Kau mencurinya? Ini milik kerajaan bukan? Jika ada prajurit yang tahu kau mencurinya, kau akan mati, ayolah,”

Antarez memelukku, “aku pamanmu dan aku ingin gadis kecil ini tersenyum tanpa melihat perang lagi, pergilah, aku yang bertanggung jawab,”

“Paman! Paman hanya prajurit biasa dan hukuman bagi paman,....” aku menunduk, “aku... aku takut jika paman....”

“Jika ayahmu tidak mempedulikan nyawamu, tidak mempedulikan kebahagiaanmu, maka Pamanlah yang akan mempedulikan itu semua,” jelas Antarez, ia memelukku, “pergilah, aku sudah bicara dengan Wiliam, dia sudah menunggumu di pesawat itu,”

“Pergi kemana? Lalu perang ini?”

“Pergilah ke Bumi, planet yang damai tanpa peperangan seperti ini. Kau akan belajar banyak disana,” Antarez mendorongku menjauh darinya, “pergilah dan berjanji jangan kembali apapun yang terjadi atau arwahku akan menghantuimu sampai ke neraka,”

Aku berlari ke pesawat yang di curi Antarez. Wiliam di dalam. Ia tersenyum. Ia memelukku erat dan langsung membawaku pergi.

“Apa yang akan terjadi?”

“Kau percaya ramalan?” tanya Wiliam, aku menggeleng, “aku juga tidak tapi, anggap saja kita percaya,” lanjutnya, “menurut ramalan, planetku dan planetmu, keduanya lenyap dari peradaban sekitar 5 hari lagi, perang itu benar-benar penghabisan,”

Aku menitikkan  air mata. Wiliam menghapusnya lalu tersenyum, “aku sangat bersalah pada pamanku, Antarez tapi, aku sudah berjanji,”

Prof Roulf pun memintaku berjanji untuk tidak kembali. Aku disini, menjagamu, jauh dari peperangan, dan kita selamanya, bersama,”

Aku tersenyum. Mencoba melupakan perang itu. Menc oba membulatkan tekadku untuk memenuhi permintaan Antarez. Berjanji untuk tidak akan kembali.

“Sepertinya bumi adalah planet yang sangat indah walaupun aku sedikit aneh mendengarnya,”

“Aku sering mendengarnya dari Antarez dan itu benar-benar planet yang damai,” kami saling memandang, melupakan hal-hal buruk yang harus kami tinggalkan.

TAMAT



follow twitter @Aulanurul   


Earning Per Share

a.      Definisi Earning Per Share Earning Per Share (EPS) atau pendapatan perlembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberik...