Rabu, 01 Agustus 2012

Good Bye Baby Good Bye (CERPEN)

Cerpen ini gue buat kmrn malem (30 Juli), waktu gue lagi bete, waktu gue lagi kesel, waktu gue lagi jengkel. Dan, kmrn gue inget masukan dari seorang temen. Alhasil, jadilah ini cerpen.
Kata gue sih ini BUKAN cerpen walaupun, ya ini cerpen. Bagi gue, ini lebih ke sebuah tulisan yang .... apa ya... gue bingung tapi Nisa Maulan Sofa pasti tau tulisan gue ini. wkwkw

CERPEN

Lana mengambil sebuah bolpoint di tas sekolahnya lalu, dia menulis sesuatu di atas kertas berwarna putih. Yang di tulisanya hanya  dua haruf, ‘A-Z’ yang menunjukkan awal dan akhir.

Kembali Lana memeriksa tas sekolahnya, di sana, hanya ada handphonenya lalu buku-buku tugasnya. Sepulang sekolah, Lana langsung ke kamar, membongkar tas lalu membereskannya.

Ada sesuatu yang mengusik Lana, sesuatu yang benar-benar membuatnya terusik belakangan ini bahkan amat termat sangat-sangat terusik.

’dear diary.... hari ini....’ Lana mencoba menulis sesuatu di buku hariannya, dia ingin meluapkan segalanya.

’bukan hari ini tapi, tahun ini. Ya, gue nggak pernah nulis diary sekali pun dalam hidup gue bahkan buku harian gue malah gue gambar-gambar kartun. Entah, hari ini gue tergerak untuk nulis ini, nulis-hal-gila yang ada di hidup gue’

Nafas Lana masih normal, dia tidak marah, dia tidak sedih, atau-lain-sebagainya. Yang dia lakukan hanya menulis dengan santai.

’Cinta itu penting, sangat penting. Maksudku bukan cinta dari keluarga atau teman, tapi cinta dari sebuah cinta anak SMU yang sulit ku-mengerti. bukan...bukan... maksudnya di-me-ngerti. rasanya seperti aneh mengejanya, berat sekali.'

'Cinta itu, indah, kata beberapa orang. Tapi, kataku, cinta itu adalah suatu kata yang tiada makna baku. Cinta itu memiliki banyak makna, banyak rasa, banyak pendapat, dan banyak anggapan-anggapan berbeda tentang cinta.’

’semua ini bukan tentang cinta yang kumiliki melainkan cinta yang sebentar lagi kumiliki. Cinta yang sama sekali membuatku benar-benar bisa menyayangi seseorang, cinta yang membuatku benar-benar tahu rasanya menyukai seseorang, mengkhawatirkan, dan memperhatikan namun, cinta itu sendiri membuatku dalam sebuah tanda tanya besar mengenai apa ini cinta atau ini hanya... entahlah, aku sendiri tidak mengerti’

Lana mengingat kejadian beberapa tahun lalu, lalu tahun lalu, lalu 3 bulan lalu, dan bulan ini. Semuanya benar-benar berjingkrak-jingkrak di kepalanya sehingga Lana merasakan kalau ada radiasi yang aneh pada otaknya padahal, itu mustahil, sulit di jelaskan atau di perjelas. Intinya sama saja, ’aneh’

’Aku menyukainya, hal itu tidak kudari tapi, perhatiannya benar-benar membuatku menyukainya bahkan ucapannya, caranya bicara, caranya berbincang, caranya tertawa padaku menunjukkan hal itu. Bahkan, beberapa kali, dia sempat mengucapkan kata-kata, bukan.... maksudku sebuah kalimat yang menuju ke hal lain, lebih tentang cinta. Aku hanya diam, menganggap, apakah ini benar sedangkan Aku, ya, ini untuk pertamakalinya Aku gugup dengan seorang cowok. Biasanya, Aku cenderung lebih santai ketika berbincang dengan teman-temanku yang cowok, bagaimana pun, aku tidak memilih teman, tidak sama sekali, cowok maupun cewek, bagiku sama saja, tidak ada batasan untuk berteman. Tapi, dengan manusia satu ini, rasanya aneh bahkan pembicaraanku agak sedikit tertata, tidak asal-asalan atau blak-blakan’

’mungkinkah ini cinta? Seperti film atau novel saja tapi, ini bukan itu, bukan. Ketika Aku mulai menunjukkan kalau Aku mulai menyukainya, dia hanya memberikan beberapa perhatian seperti biasanya, bertanya tentangku, dan lain-sebagainya. Tapi, dia tidak pernah sms karena, baginya sms ribet, lebih baik menelfon padahal, kalau menelfon, yang di bicarakannya hanya tentang pe-laaaa-ja-rannn! Menyebalkan bukan? Dia memang cowok yang cerdas, rajin, dan guru-guru menyukainya tapi, nggak segitunya kali’

Lana memperhatikan tulisannya lagi, dia tertawa.

’Eh tadi, gue pake ’GUE’ sekarang kok pake ’AKU’? aaa, sudahlah, sama saja, maklum yaa diary, gue lagi mengggggalau.’

Di perhatikan sekeliling kamarnya, tenang-hening-tentram. Kedua orang tuanya sedang pergi dan adiknya belum pulang sekolah sedangkan kakaknya sibuk di kampus. Lana kembali menulis.

’ketika sebuah lingkaran menjadi bentuk hati, itu sangat aneh. Gue juga ngerasa, eh merasa sangat aneh bin aneh double bin aneh tapi, nggak aneh buat orang yang jatuh cinta. Gimana nggak, siapa yang nggak luluh kalo di perhatiin seorang cowok yang rajin, ramah, baek, pinter pula, gayanya wow banget, sempurna dah, makannya banyak cewek yang suka tapi, sebelum ini, gue hanya berpikiran, dia itu temen lama gue, temen baeeekkk gue, temen yaa, hanya temen. Sampai akhirnya, gue putus sama pacar gue dan mantan gue itu bilang kalo gue mulai suka sama dia. Emang sih, gue sama si mantan gue itu pacaran cuma buat nama aja, biar nama kita makin di kenal gitu di sekolah. Haha gila kan? Pacaran yang sinting beginilah, hanya untuk kerjasama tapi, emang bener, nama gue sama si mantan jadi artis di sekolah’

’oke, nggak usah bahas mantan gue yang di sekolah satu ini yaa. Yang jelas, dia sama gue tetep bertemeeen dah. Semakin hari, di sekolah banyak yang bilang kalo gue sama cowok yang bernama Ken alias si cowok sempurna itu, yaa, cocoklah. Cocok banget kalo jadian. Berita mulai nyebar kesana-kemari sampe ke mading kelas, mading sekolah, bahkan mading online. Gila kan? Sinting bener yang buat itu berita tapi, gue seneng juga sih. Wo-wo-wo, dan Aku, eh gue maksudnya, gue tinggal nunggu dah kapan Ken nembak.’


Diingatnya kejadian beberapa bulan lalu tepatnya 3 bulan lalu, Ken menyatakan cinta sebanyak 2 kali pada Lana tapi, tiada jawaban yang keluar dari pita suara Lana. Lana hanya membisu lalu mengeluarkan suara lain, yaitu bahasan tentang pelajaran.

’Gue bingung, mulai nggak yakin, apa iya sih gue jatuh cinta. Terus blab la bla setelah gue deket sama Ken selama 4 bulan, eh ternyata mantannya Ken itu masih sayang sama dia, gue nggak sengaja baca sms-nya di hp Ken. Iseng-bin-iseng, gue penasaran, siapa sih mantannya Ken dan WOW! Mantannya itu temen lama gue, tetangga gue waktu rumah gue masih di Bandung. Gila kan? Shock dah, dan shocknya lagi, itu cewek masih cintee mati sama Ken. Aduh, kan gue jadi nggak enak. Waktu Ken nembak, gue tolak dengan pengalihan. Gila bro, entar dikira gue ngerbut pacar orang pula padahal, Ken sama si itu cewek udah putus 7 bulan lalu. Kan gila namanya kalo gue merasa ngerebut padahal mah kagak, kagak banget eys. Haram hukumnya bagi gue ngerebut pacar orang. Lama-lama-lama sekitar 1 bulan, gue agak jauh dari Ken, gue sibuk dengan kegiatan ekskul gue di sekolah. Tapi seling 1 bulan, Ken nembak lagi, eh waktu dia nembak, ada yang nelfon dan itu mantannya. Gue jadi nggak enak, yaa, gue pergi dari hadapan Ken. Sumpah, nyesek eys tapi dan tapi, sudahlah, toh cewek itu juga baek, cewek baek-baek.’

Lana tahu, kejadian itu tahun lalu dan sekarang dia mengingat kejadian tahun ini. Saat kenaikan kelas, Lana masih satu kelas dengan Ken, tetap satu kelas.

’udah naek kelas, gue sama Ken renggang banget sampe seisi kelas heran terus mading juga sepi sama berita gue sama Ken. Gue pikir, sudahlah, bukan jodoh gue kali dan gue berharap dia balikan lagi sama mantannya. Mantannya kan baek, ramah, cantik, dan yang jelas, setia. Tapi, waktu gue liat di TL-nya mantannya si Ken, eh itu cewek menggalau. Dia ngetarain bener-bener sakit hati dan ketika itu cewek nyari pelampiasan, dia tambah sakit hati, sakit-hati-sakit-hati. Gue jadi kasian sama itu cewek padahal kalo itu cewek mau, dia bisa dapetin yang lebih baik dari Ken. Nah ada update-an itu cewek yang bilang kalo Ken lagi deket sama cewek gaje’

Kali ini Lana tertawa mengingat hal itu. Dia ingat ketika di jalan, dia melihat mantannya Ken dan dia menyapa tapi agak canggung.

’karena gue masih suka sama Ken, gue penasaran, siapa sih yang deket sama Ken. OMG, gila dan sinting! Ken lagi deket sama seorang cewek sinting. Maksud gue, cewek itu satu sekolah dengan gue tapi beda kelas. Emang cewek itu cantik tapi, ampun dah kelakuannya. Udah cerewet, bawel, seenaknya sendiri sama orang, hampir nggak punya hati, dan banyak yang nggak suka lagi. Apa Ken cuma liat itu cewek dari tampangnya aja? Tapi, Ken tau gimana itu cewek, seisi sekolah juga tau.’

’Dan dengan keherananku, aku bertanya-tanya tapi akhirnya sedih, sesedih-sedihnya melihat Ken dekat denga seorang siswi di sekolahku. Terlebih, kedekatan mereka sangat terlihat. Apa dia sudah lelah menyatakan cinta yang selalu kugantung? Tapi, harusnya dia tahu kalau Aku juga menyukainya.’

Handphone Lana berdering, dari Vino. Vino adalah pacar pertama Lana di masa SMP, SMP kelas 2 tepatnya. Vino memang pacar pertama tapi bukan cinta pertama.

”Kak Vino...” sapa Lana karena sewaktu SMP, Vino adalah kakak kelasnya yang duduk di bangku kelas 3. Mereka berpacaran namun, lebih terlihat ke sebuah status karena Vino sibuk menghadapi UN serta mempersiapkan tes masuk SMA. Dan ketika SMA, Vino sekolah di Semarang sehingga Lana putus dengannya, ”Ada apa kak?”

”Dapetin nomor lo itu susah banget, gua tanya sana-sini sama temen-temen SMP itu rasanya kayak ngemis-ngemis buat makan.” ucap Vino terlihat kesal, ”udah 2 tahun lebih kita nggak ketemu dek, apa kabar?”

”Baik,”

”Kamu tau ini nomor Aku dari siapa? Apa jangan-jangan kamu ganti nomor tapi masih nyimpen nomor Aku?”

”Masih lah Kak, kan Kak Vino tau sendiri, dari jaman SMP, Aku itu males ngapusin kontak. Kalaupun ganti HP, yaa Aku salin.”

”O, yaudah, kamu belajar gih, Aku cuma mau mastiin kalo ini benaran nomor kamu.”

Lana mematikan handphonenya agar tidak ada yang mengganggunya menulis lagi. Dia kembali memandangi buku hariannya.

’nyesek banget ngeliat Ken deket sama cewek lain di sekolah. Walaupun dia deket dengan banyak cewek tapi, sama cewek ini deket dalam arti suka bukan dekat dalam arti temeeennn! Sumpah, gue sempet netesin air mata tapi, gue nggak mau malu dan gue ngambil minyak kayu putih, gue tetesin di idung gue. Gue bilang deh ke temen-temen sekolah gue kalo air mata itu bukan nangis tapi pedes karena kena minyak kayu putih. Alhasil, mereka percaya’

’eh, hari apa yang itu, lupa gue, gue ketemu mantannya Ken. Memang, kita sering ketemu tapi, kali ini mantannya Ken ngajak gue makan siang bareng. Katanya sih mau ngilangin rasa kangen sebagai tetangga lama. Eh sampe di tempat dimana kita makan, bla bla bla panjang lebar si mantannya Ken cerita banyak tentang Ken. Terus nanya sekarang Ken lagi deket sama siapa, gue jawab aja sama cewek aneh di sekolah.
Mantannya Ken : ”pantes, Ken berubah banget. Gue tau sebelum Ken deket sama cewek aneh ini, dia deket sama temen sekelasnya tapi, gue nggak tau siapa” kata mantannya Ken waktu itu, ”gue lebih seneng Ken jadian sama temen sekelasnya karena, gue liat Ken nggak berubah. Cewek itu pasti baek.”
Gue : ”ya, gue nggak terlalu banyak tau”
Bla-blabla-bla.
Gue nggak enak banget sama ini cewek. Cewek ini baek banget dah. Kalo boleh usul sama Ken sih, gue lebih suka dia balikan sama mantannya, jangan pdkt sama cewek reseh itu. Rela dah gue kehilangan cinta pertama gue tapi, asal sama mantannya aja, jangan cewek lain.’


Lana mengingat beberapa bulan lalu, cewek yang lagi pdkt sama Ken ngedatengin dia terus marah-marah. Otomatis Lana bingung padahal, Lana sendiri udah menjauh dari Ken, hampir kayak temen biasa hubungannya dengan Ken. Ketika itu, cewek itu terus melontarkan ucapan-ucapan yang tidak mengenakkan dan hati Lana benar-benar tersinggung tapi, Lana tidak mau ambil ribut. Kalau dia ribut, apa haknya dan untuk apa, itu adalah hal yang lucu sedangkan Ken, pacar saja bukan.

’sehabis gue makan siang sama mantannya Ken, gue jadi tau banyak hal. Ternyata Ken putus sama mantannya bukan karena suatu masalah besar. Ternyata dan ternyata, Ken yang mutusin hanya karena sudah bosan. Gila! Ken sinting! Cewek sebaik dia kok di gituin!’

’hari berganti hari, Ken makin deket sama itu cewek. Hati gue sih nyesek banget tapi, kok gue jadi mikir ya, kalau Ken cepet bosen sama pacarnya, berarti dia bukan cowok yang sempurna walaupun penampilan, otaknya juga sempurta, yaa yang  jelas hatinya nggak sempurna. TAPI+TAPI, gue tetep ada rasa suka, cinta malahan, sayang malahan. Waktu dia sakit aja, gue khawatirnya setengan idup, gila kan? Sampe gue pusing sendiri padahal, itu ngetarain kalo gue bego banget bisa stres gara-gara seorang cowok yang belum jadi pacar gue bahkan ’mungkin’ nggak akan jadi pacar gue’


Lana bingung, dia harus sedih atau justru bersyukur tidak menerima cinta Ken saat itu. Akan tetapi, hatinya benar-benar masih menulis nama Ken. Mantannya Ken yang jelas-jelas sudah di sakiti Ken saja masih sayang pada Ken jadi, apa yang ada dalam diri Ken sehingga ada beberapa wanita yang benar-benar menyayanginya? Apa dia punya jimat atau memang takdirnya seperti itu?

’inget Ken, gue jadi inget Kak Vino, kakak kelas gue waktu di SMP. Kakak kelas gue yang galaknya tingkat nirwana, nakalnya tingkat dewa, dan nggak peduliannya tingkat, tingkat apa lagi ya? Yang jelas, waktu itu kak Vino kesel banget sama gue karena gue orangnya terlalu baek sama temen-temen gue sampe gue nggak peduliin diri gue sendiri. Kata Kak Vino sih gitu walaupun, gue nggak ngerasa begitu tuh. Tapi, dia terus aja marah-marahin gue kalo gue bantuin temen-temen gue buat tugas atau apalah padahal, dia juga kadang di begoin sama temen-temennya. Setiap ada apa-apa, pasti Kak Vino yang nanggung beban, entah beban mental, beban fisik, atau beban harus kehilangan duit jajannya. Katanya sih solidaritas teman tapi, kak Vino oon banget. Waktu SMP banyak yang takut sama dia termasuk gue karena, buuh galaknya bro tapi, dia baek sama 4 orang temennya yang satu band sama dia. Huh, oon banget’

’kak Vino nyeramahin gue tapi, gue nggak mau di ceramahin. Gue juga heran, itu kakak kelas entah kenapa jadi jin di hidup gue, sering sms-in gue ini dan itu pake tanda seru seolah ngebentak gue. Bilang gue oon lah, bilang gue mudah di tipu lah, dan blab la bla buat gue naek darah. Tapi, gue tetep takut sama kak Vino jadi, gue mending milih diem dan bilang iya-iya aja. Huh, padahal gue berharap dia sms baik-baik, nanya gue lagi apa atau apa kek biar gue bisa pamer gitu. Gue pengen pamer kalo akhirnya kak Vino yang galak itu nggak galak sama gue tapi, eh gagal pamer dah.’

Lana beristirahat sebentar untuk menulis. Dia mengambil segelas air putih di dapur dan sedikit cemilan lalu ke kamar kembali. Sebelum menulis, Lana melihat isi lacinya, ada foto-foto Vino sewaktu SMP dahulu, saat mereka masih bersama.

‘kak Vino itu di sekolah kayak nindas gue, sering jitakin kepala gue, hampir dah tiap hari di jitak seolah gue sasaran kayak di film Boys Before Flower yang jadi Geun Jan Di nya, huh tapi, dia bukan Lee Min Hoo nya alis Jun Pyo nya. Semakin hari, itu orang makin bilangin gue oon dalam memilih temen dan lagi-lagi jitakin kepala gue setiap ketemu. Bahkan, gue jadi males ke kantin karena pasti ketemu dia. Ehh, entah kenapa, suatu hari yang sinting, dia ngajak gue ke ruang musik sekolah. Disana ada temen-temen satu bandnya, kata kak Vino, bandnya akan nyanyiin sebuah lagu. Haduh, kak Vino bukan vokalisnya di band itu, dia itu gitarisnya tapi, dia yang nyiptain lagu. Akhirnya, gue dengerin dah itu lagu, itung-itung hiburan gratis dan wow! Setelah selesai itu lagu, temen-temen kak Vino ketawa-ketawa. Kata mereka, lagu itu ada maknanya. Ya gue tau lagu, semua lagu ada maknanya dan gue nanggepin itu lagu sebagai pernyataan cinta yang mendalam. Daaannn WOW, kak Vino nembak gue. Entah karena gue tersentuh atau apa tapi, gue nerima kak Vino.’

Lana tertawa mengingat pacar pertamanya, pacar pertamanya yang tidak lain kakak kelasnya sendiri, kakak kelas yang beda satu tingkatan.

’herannya gue pacaran sama nggak pacaran itu sama aja. Dia tetep galak sama gue tapi, gue jadi lebih berani ngomelin dia. Dan satu lagi, walaupun dia galak, ada waktunya dia baik ke gue, layaknya manusia waras yang ngomong, bukan orang sinting. Dia ngasih motivasi gue buat belajar padahal, dia sendiri jarang belajar.’

’yang buat gue heran, kak Vino itu kelewat jujur, kelewatan jujurnya. Malah lebih ke jujur yang menurut gue itu oon banget. Masa dia selingkuh izin ke gue dan oon nya gue, gua ngizinin terus oon nya kak Vino dia ngenalin selingkuhannya ke gue. Tapi, saat perkenalan, kak Vino bilang kalau gue ini sahabat baiknya. Hal itu terjadi sampe 4 kali dan sama aja, izin, terus di kenalin. Sinting ya? Gue nggak marah padahal kak Vino pacaran sama cewek lain. Kata kak Vino sih, walaupun ada sejuta cewek yang dia pacarin tapi, yang dia sayang cuma gue. Gombal gambul banget kan? Eh, tapi, gue santai karena waktu itu pacaran anak SMP, pacaran yang cuma iseng-iseng aja. Ya nggak sih diary?’

’soal putus, simpel banget, cuma bilang putus yok terus yaa putus dah. Wow banget kan? Eh terus gue ganti nomor, bukan karena gue mau lupain kak Vino tapi, gue bete sama operator yang lama. Dan, gue nggak ngasih tau nomor baru gue ke siapa-siapa kecuali ada yang nanya, males eys ngasih tau kalo gue ganti nomor, ribet.’

’sekarang, kak Vino dateng tapi, OMG, kalo boleh gue minta sama Tuhan, gue pengen jatuh cinta sama kak Vino yang jujur tapi, kenapa hati gue masih nulis nama Ken dan Ken dan Ken? Oon banget kan gue! Apa ini yang namanya cinta?! Tapi, Ken itu jahat! Dia nyakitin mantannya dan mungkin dia bisa nyakitin pacarnya yang berikutnya!’

Lana menutup buku hariannya lalu tertidur. Dia ingin beristirahat, rasa kantuknya benar-benar tidak tertahan.

**

Matahari cerah menyinari kamar Lana, Lana terbangun lalu mandi, ganti baju dan ke halaman tanpa sarapan. Ini hari minggu jadi Lana ingin berjalan-jalan mencari udara pagi yang segar.

”Hei!” seseorang datang dengan berlari lalu menjitak kepala Lana, ”cewek itu nggak boleh jalan sendirian! Oon! Bahaya!”

”Kak Vino?!” Lana terkejut, ”lagi-lagi kak Vino, ish!”

Lana kesal karena jitakan lagi, jitakan lagi, baginya, itu menyebalkan walaupun, agak lucu juga.

”Kita pacaran waktu kamu kelas 2 SMP, udah 3 tahun kita pacaran.”

”Hah! Sejak kapan?!”

”Memang, emangnya kita pernah putus, kamu tetep pacar aku geh.”

”Sinting!”

”Oon-oon, waktu Aku selingkuh itu bukan selingkuh tapi karena mau tau, kamu cemburu nggak sih. Eh sampe 4 kali aku selingkuh, kamu nggak cemburu. Heran,”

Lana terdiam, ucapan Vino benar dan tidak mungkin Vino berbohong karena Vino buka orang yang suka berbohong walaupun terdesak.

”Aku sayang sama kamu.” Vino memeluk Lana dan Lana bingung, ”aku bertobat, aku belajar dengan baik, nggak galak lagi, nggak buat masalah di sekolah, nilaiku baik-baik semua, aku juga nggak pacaran dengan siapa-siapa kecuali kamu.”

”O,” jawab Lana singkat.

Lana kembali berjalan dengan diikuti Vino dan Vino, dia terus mengikuti Lana sampai Lana terhenti ketika melihat Ken bersama seorang wanita. Wanita itu tidak lain cewek sinting di sekolah, ternyata Ken sudah pacaran dengan cewek itu diam-diam tapi, kali ini mereke bertengkar. Terdengar suara kalau Ken selingkuh lalu Ken memutuskan hubungan dengan cewek itu. Tega sekali Ken.

”Aku nggak akan kayak gitu, Aku sayang sama kamu. Tanpa pembuktian cinta, dari dulu, hati aku milik kamu.” ucap Vino sambil memeluk Lana erat, ”dua orang yang ribut itu berisik, ckck.”  lalu dia melepaskan pelukannya.

Kebetulan sekali, Lana bertemu dengan mantannya Ken di jalan. Mantannya yang baik hati, ternyata sudah menggandeng cewok baru.

”Hei, lo liat Ken ribut di sana itu nggak?” tanya Lana.

”Iya, ada-ada aja ya. Untung gue disadarin sama dia,” ucap mantannya Ken sambil melirik ke cowok yang di gandengnya, ”gue nggak sadar ada cowok yang bener-bener sayang sama gue dan gue malah dulu nangis-nangis demi balikan sama Ken. Untung-untung gue sadar.”

”Iya, untung-untung gue nggak kayak lo.” jelas Lana.

”Iya Lan, gue tau sebenernya cewek yang dulu deket di kelas sama Ken itu elo kan?” Lana menggangguk, ”udah, kita kan sudah sadar sesadar-sadarnya. Oh iya, kenalin, Oza, sahabat gue sekaligus pacar gue.”

”Lana,” Lana memperkenalkan diri, ”kenalin, Vino, pacar gue sejak.... sejak 2 tahun lalu, eh hampir 3 tahun ini malahan kita pacaran.” ucap Lana dan wajah Vino langsung senang lalu menjitak kepala Lana, ”sakit tau!”

”2 tahun, 8 bulan, harus di rayain.” ucap Vino, gimana kalo siang nanti kita makan siang bareng?” tawari Vino ke Oza dan ke mantannya Ken, ”udah, setuju aja.” Vino memaksa lalu kami tertawa bersama.

’dear diary, cinta itu nggak selalu bener tapi, cinta itu menunjukkan ke jalan yang benar. Walaupun orang yang disisi kita bukan karena cinta, setidakny..., ada rasa saling percaya dan itu lebih dari cinta karena, cinta akan tumbuh dengan sendirinya lalu, aku dapat memastikan, itu akan menjadi cinta sejati yang abadi. Selamat tinggal diary ku, gue capek nulis diary padahal cuma 2 hari dan 2 kali gue nulis gini. Ckck,’
                                                                TAMAT

Oh iya, judulnya nggak nge-pas banget alias nggak sinkron sama isinya yak? wah, entahlah, waktu buat judul, gue lagi dengerin lagunya T-ARA jadi ikutin judul lagunya T-ARA sajalah ^_^
Komentari lebih ke maknanya yaa, wkwkwk (maksud banget sih gue)
note : cerpen ini gue buat sebagai selingan waktu gue ngedit novel tentang yang ada tokoh Awannya ituloh, yang blm gue kasih judul tp ada tokoh Awannya. Udh pernah gue post, haha (gaje banget sih gue padahal, nggak-nggak-n-gg-a-aakkk ada yang nanya)

*buat Nisa : coba endingnya gini aja ya jangan kayak kata gue kmrn, wkwkwk #maksud

K-Cau

Dan, ketika orang-orang bilang bahwa apa pun pilihan kita itu ada saja konsekuensinya. Ya, bagi gue bener tapi, ada saatnya pilihan apapun yang kita pilih dalam hidup itu malah menjadi tanda tanya besar, sangat besar. Maksud gue bukan tanda tanya karena bingung tapi karena nggak ada jawabannya.

Wow, aneh banget kan?

coba geh, pernah nggak sih kalian di hadapkan di dua pilihan dan HARUS memilih. Ketika kalian telah memilih, banyak pertanyaan yang muncul tapi, nggak-ada-jawaban atas itu semua. Nah, kacau kan jadinya?

01 Agustus 2012 #Diary-Diary-Diary

Uwow banget hari ini. Maksud gue bukan harinya yang 'wow' tapi, kejadiannya 'wow'. Eh nggak terlalu 'wow' juga sih tapi lumayan 'wow' dikit.

tadi pagi, gue jengkel soalnya, tugas penjas yang buat power point itu, gue sendirian yang ngerjain. Tugasnya sih sebenernya kelompokan tapi, gue ngerjain sendiri. Ya gue nggak tau dia-org pada mau ngerjain apa nggak tapi deetline kurang sehari, pada nggak ada yang peduli. Alhasil, dari pada gue nggak dapet nilai, gue kerjain sendiri dan semaleman gue nggak tidur sampe pagi. Gila nggak? orang pada saur, gue masih ngerjain tugas. Ampun dah,

Eh waktu di sekolah, itu blm selesai tugasnya. Masih ada yang kurang. Entah ada jin apa, si Akbar yang biasanya cuek banget tiba-tiba bilang kalo dia udah buat separo. Yaa langsung dia masukin datanya ke notebook gue, terus, wow banget ternyata itu yang kurang. Jadi, yaa lengkap tugasnya. Dan entah kesambet jin apa lagi, Akbar mau ngedit tugasnya. Rajin gitu tuh anak tapi, haha baguslah, masa iya gue yang ngedit?

endingnya, tugas kelompok gue selesai, di kumpul dan lengkap

---

selesai








Rabu, 25 Juli 2012

Sisa Foto Liburan 2011 #desember

 Semua Foto disini, nggak ada foto gue, ini foto2 kakak kelas yang kebanyakan ngeselin, foto gue entar di postingan berikutnya, seenggaknya buat kenang-kenangan yang gue simpen di blog

 Yang kemeja coklat namanya,Oresta. Nah Kak Orez ini sekarang rambutnya di amputasi alias botak. Terus kalo yang kemeja kotak-kotak namanya Ijal, entah sekarang apa kabarnya ini orang, jarang liat. Eh bukan jarang liat, gue yang gak liat kali



Dua orang ini mirip ya padahal nggak kembar. Mereka lagi foto di depan bis yang ngebawa kita-orang semua.


Nah ini kumpulan cewek-cewek alumni XII IPA 2. Wah pasti pinter-pinter, ^_^ Ada Imel - Dewi DKK dan cowok yang kayak jin mampang di belakang itu, entah siapa.


Tau nih orang sok ngebatik padahal mah gaya doang, ckck. Ini waktu kita-orang lagi di pabrik batik daerah Yogyakarta


tampang ngantuk gini 3 kakak kelas gua. ckck, ini waktu di, dimana yak? Aduh lupa yang jelas daerah Jawa dan tempatnya bagus banget. Mungkin Jati Jajar, seinget gue sih gitu :)



no coment


lucu



Ini Waktu di candi..... hayo candi apa? Yaa pasti pada tau dong dari bentuknya ini, hmm... nggak lain dan nggak bukan, ini adalah candi borobudur ^_^ 



Candi borobudur



Sabtu, 14 Juli 2012

Novel# BAB 1 (Ruh? Aku gila!)


Setiap kali matahari terganti malam, aku ingin tidur nyenyak tanpa berpikir apa-apa lagi, tidak satu pun pikiran atau mimpi. Bukan aku tidak ingin tapi, aku benar-benar tidak menginginkannya. Tidak-sama-sekali.

“Apa kamu pernah berpikir tentang kupu-kupu yang sampai pada nirwana?”

“Apa kamu ingin ke nirwana dan meninggalkan semua keanehan di kehidupan ini?” Aku berbalik tanya padanya, dia hanya memandangku dengan pandangan sedingin es, “atau kamu nggak mau keduanya? Atau ada yang lain?”

“Kamu berpikiran seperti itu? Baiklah.....” dia duduk di atas meja makan, “jika itu yang kamu pikirkan, aku mengerti, tapi, apakah kamu benar-benar serius mengatakannya?”

Ucapannya begitu santai, dia terlihat tanpa beban, tanpa masalah yang mengelilinginya, tanpa bingung atau lebih bingung lagi. Dengan sikapnya yang seperti itu, dia dapat tenang tapi, dia membuatku benar-benar kacau dan dalam kebingungan yang entah ini mimpi atau nyata.

“Hanya kamu yang bisa mendengarkanku, nggak ada yang lain. Aku nggak pernah meminta bantuanmu, aku hanya ingin, setidaknya kamu memandangku sebagai orang yang terlihat di kehidupanmu. Oh.... bukan....bukan....” dia menggoyangkan tangannya seperti orang yang menarikan tarian Bali, sungguh lucu dan tidak terlalu mirip, “bukan terlihat di kehidupanmu, setidaknya di depan matamu, itu udah cukup.”

Kepalaku mulai di buatnya pusing lagi, bicaranya berputar-putar seperti gambaran badai yang entahlah, aku sulit menjelaskannya, yang jelas, ini benar-benar membingungkan.

Dia di sampingku, setiap hari bersamaku dan menggangguku. Ketika aku bertanya apa keinginanya, dia hanya ingin disisiku dan terlihat olehku. Katanya, hanya aku yang bisa memandangnya benar-benar nyata tapi, apa dia akan terus seperti ini?

“Jane!” seseorang berteriak seenaknya dan langsung menghampiriku di meja makan, “dari tadi jerit-jerit nggak ada yang dengerin!” dia tampak kesal.

“Maaf,” kataku dengan wajah sedih, “tapi... sebentar, ada apa sore-sore begini kerumahku?”

“Iseng aja, mampir, atau apa dah apa kek,” jelas Vio yang benar-benar ngelantur, “eh tadi aku mendengarmu bicara dengan seseorang, siapa?” tanyanya, aku diam dan memandang Awan.

“Tadi ada telfon,” jelasku pada Vio. Aku tidak mungkin menjelaskan kalau tadi aku berbincang dengan Awan dan Awan masih disini, duduk di atas meja makan sambil memandangiku dengan wajah kesal. Bagaimana pun, Vio tidak akan bisa memandang, melihat, atau mendengar Awan, hanya aku yang bisa.

















BAB 1

Tidak ada angin yang berhembus sama sekali, ini tampak aneh padahal, sepagi ini biasanya angin akan berhembus perlahan namun membuat tulang beku, sebeku es.

Kayuhan sepedaku kuperlambat padahal, pagi ini aku ingin bersepeda untuk menenangkan semua beban di kepalaku, beban yang benar-benar ringan namun selalu mengganggu. Beban yang benar-benar ringan namun selalu mengusik. Tentu saja, beban itu tidak jauh dari beban hati. Tidak, tidak. Bukan beban hati tapi beban pikiran.

Belakangan ini jantungku terasa aneh, dadaku sesak dan terkadang seperti takut kehilangan seseorang padahal, tidak ada yang pergi dariku. Keluargaku lengkap, teman-temanku lengkap, pacarku pun masih ada, jadi siapa yang membuat jantungku seperti ini? Apakah aku memiliki penyakit jantung? Tidak....tidak, jangan sampai itu terjadi.

La.....la....laa....laa....
Suara dering handphoneku mengganggu saja dan dengan terpaksa aku berhenti mengayuh.

“Sudah pukul 6 pagi, bukankah olahraga pagimu sudah cukup?” tanya Ayah, aku hanya diam dan hening, “atau ada masalah yang terjadi?” tanya Ayah, aku masih hening. Ayah benar-benar tahu kalau aku berolahraga pukul 4 pagi berarti aku ada banyak beban pikiran karena biasanya aku berolahraga pukul 5 pagi.

“Iya, ini Jane mau ke arah rumah.”

“Baiklah, Ayah tidak ingin kamu terlambat ke sekolah.”

Kukayuh lagi sepedaku namun, pandanganku terganggu, benar-benar terganggu. Aku melihat seorang pemuda yang duduk di pinggir jalan sambil memandangiku tajam tapi, pandangannya juga tampak kosong, juga tampak kebingungan. Sulit ku gambarkan, yang jelas, pemuda itu tampak benar-benar aneh dan pandangan matanya mengerikan padahal wajahnya lumayan tampan untuk seseorang yang seperti hantu.

Aku mengerem, menghentikan kayuhanku dan memandangnya, dia balik memandangku. Aneh, aku melihat matanya merah, benar-benar merah seperti seseorang yang habis kecelakaan.

Baiklah, kuabaikan pemuda yang cukup tampan untuk seorang hantu atau jin atau sejenisnya, tapi tetap saja sangat menyeramkan, kukayuh lagi sepedaku tapi, pemuda itu terus memandangiku dan berjalan ke arahku. Jalannya pelan, terlihat seperti orang pincang, tidak...tidak, dia sepertinya tidak pincang tapi seperti orang kehilangan tenaga atau sejenisnya.

Dia perlahan berjalan kearahku dan aku ketakutan, benar-benar takut. Aku takut jika dia orang jahat tapi, entah kenapa kakiku membeku sehingga tidak bisa bergerak untuk mengayuh sepeda.

“Mengapa kamu melihatku?” tanyanya padahal pertanyaan itu harusnya aku yang mengucapkannya, “mengapa kamu memandangiku? Apa aku tampak seperti setan? Atau tampak seperti pemuda jahat?”

Aku memandangnya sejenak, memperhatikan wajahnya yang pucat dan matanya yang merah, benar-benar merah, “maaf, aku nggak bermaksud melihatmu seperti itu. Maaf,” kataku berulang kali memohon maaf agar dia tidak menggangguku. Aku berpikir dia setan, atau preman, atau juga gelandangan yang kelaparan karena wajahnya pucat, seperti tidak makan satu minggu.

“Ini yang kuinginkan, apa kamu benar-benar melihatku dan bicara denganku?” tanyanya dan memandangku tajam, “apa kamu mendengar suaraku?” kuanggukkan kepalaku lagi, “apa wajahku begitu pucat?” lagi dan lagi aku mengangguk, “akhirnya kutemukan seseorang yang dapat memandangku sebagai seorang manusia.”

Entahlah, tiba-tiba tanganku bergerak dan bersalaman dengannya lalu memperkenalkan namaku. Dia tampak kebingungan saat tanganku menyalami tangannya namun, dia akhirnya menyebutkan namanya. Dia Awan, seorang siswa SMU juga namun di Jakarta dan aku Jane, siswi kelas 2 SMU di Bandung.

“Setiap aku bicara, nggak ada yang bisa mendengarkanku bahkan melihatku dan aku nggak bisa menyentuh seorang manusia pun, bahkan hewan, atau tumbuhan kecuali benda mati.” Jelasnya, aku kebingungan, benar-benar bingung lalu dia berjalan ke tengah jalan raya. Kendaraan bermotor masih sepi, tapi ada satu-dua yang lewat dan dia berdiri disana seolah-olah ingin bunuh diri. Entah kenapa, aku tidak menghalangi tindakan bunuh dirinya namun aku menonton.

Ini gila! Ini mimpi! Ini benar-benar gila! Dia di tengah jalan, dua-tiga mobil bahkan truk menabraknya tapi semua menembus badannya. Aku kebingungan dan merasa ini mimpi, mimpi buruk, benar-benar buruk dan aneh. Kembali lagi dia menuju arahku lalu badannya menembus orang-orang, loh? Loh? Tadi dia bisa bersalaman denganku? Dia nyata menyentuhku dan dia bisa bicara denganku.

Aku ketakutan, benar-benar ketakutan dan kurasa dia jin. Tidak, tidak, dia setan. Bukan-bukan, dia-dia arwah penasaran tapi, ini pukul 6 pagi, mana ada setan, jin, dan arwah jam segini? Ini gila!

Rasa takut itu merasuki seluruh darahku dan kurasa darahku membeku, benar-benar sebeku es. Namun, entahlah, aku tidak bisa berlari, yang kulakukan justru tersenyum pada arwah, jin, atau setan aneh itu.

“Kamu nggak terkejut? Ketakutan?” tanyanya, aku sedikit gila! Aku malah menepuk pundaknya lalu aku berjalan bersamanya ke taman. Kami duduk di bangku taman, “hei, apa kamu nggak terkejut?” tanyanya lagi, “hei!”

“Diam, diam sejenak, aku masih bingung, kamu arwah, jin, setan, atau... atau aku gila?” tanyaku, dia menengok kanan-kiri, taman sepi karena ini sudah memasuki pukul 6.15, saatnya orang bekerja dan bersiap ke sekolah, “hei, aku ketakutan!” teriakku.

“Kamu ketakutan?” dia tampak heran, “aku nggak tau kamu takut, kamu terlihat biasa saja, buktinya kamu justru tersenyum. Atau kamu memang gadis gila?”

Kepalaku melayang-layang, sejuta kebingungan melanda. Apa aku mulai gila? Tapi kalau aku gila, aku masih bisa mengingat tentang rumus-rumus logika, bukan rumus logika yang sebenarnya tapi sesuatu yang masih bisa di nilai dari logika. Jadi, aku tidak gila kan? Atau aku setengah gila? Seperempat gila? Hah! Ini seperti penjual dan pembeli di pasar tradisional.

“Kamu heran, aku lebih heran,” pemuda yang bernama Awan itu memandangku, matanya masih merah dan wajahnya masih pucat, pucat sekali. Dia benar-benar mirip seperti seorang pemuda yang menuju kematian namun tidak sampai-sampai pada kematian abadinya, “semua orang, semua mahluk hidup tidak bisa kusentuh, hanya benda mati yang bisa kusentuh tapi, kenapa aku bisa menyentuhmu? Kenapa aku bisa memegang bunga ini saat bersamamu? Ini aneh!” dia memukul sebuah bunga mawar dan tampak sekali, dia bukan bingung tapi kesal.

Kembali lagi pada handphoneku, Ayah mengirim pesan singkat bahwa ini sudah pukul 6.30 dan aku harus segeran pulang lalu bersiap ke sekolah, untung saja sekolahku masuk pukul 7.30 tapi, pulang pukul 16.00, huh.

“Aku ingin pulang, ke sekolah, mungkin kamu akan berkelana sendirian. Aku nggak tau kamu jin, arwah, setan atau yang lain tapi, yang jelas, aku kasihan padamu.”

Kakiku melangkah menuju sepedaku dan aku menggoes sepedaku sambil melambaikan tangan tapi, Awan tidak ada di bangku taman itu. Jadi, dia arwah di pagi hari?

“Aku nggak bisa menghilang seperti hantu, aku bisa pergi jauh dengan berjalan kaki, seperti manusia,” tiba-tiba Awan di sampingku dan kami berbincang lagi, larinya menyamai kayuhan sepedaku. Jadi, apakah sebelum dia mati, dia adalah atlet pelari?

“Oh iya, kamu ingin kemana? Mengikutiku?” tanyaku, dia mengangguk, “hah? Kau akan mengikutiku terus sampai kapan? Sampai aku mati?”

“Hm.... aku hidup, kamu hidup hanya saja, kamu terlihat, aku nggak terlihat.” Keluhnya dan aku jadi kasihan, “maaf, jika kamu keberatan, ya sudah, tapi, aku memaksa untuk di dekatmu. Bukan karena aku ingin mengganggumu tapi untuk mengetahui segala keanehan ini.”

“Baiklah, oh iya, kau bisa menyentuh benda mati tapi, kenapa benda mati bisa menembus tubuhmu?”

“Karena bukan aku yang menyentuhnya melainkan benda itu tapi, aku juga bisa menembus dengan sendirinya, ini agak membingungkan tapi, seperti inilah kehidupan ruh.” Jelasnya, dia memberitahukan kalau dia ruh. Ruh? Kalau dia ruh berarti dia hidup, dia masih memiliki kehidupan, lalu....lalu.... tubuhnya dimana? Tubuhnya yang nyata ada dimana?

Dia terus mengikutiku sampai aku tiba dirumah. Aku memarkirkan sepedaku di halaman depan dan tanpa kuminta, dia masuk ke rumahnya menembus tembok tapi, brak! Dia tidak bisa menembusnya. Hah?! Ini aneh padahal tadi dia bisa menembusnya. Lalu, aku mencoba menabraknya dengan sepeda dan dia terjatuh lalu mengeluh kesakitan.

“Ada apa ini? Mengapa aku seperti nyata? Mengapa aku seperti manusia?” tanyanya padaku tapi aku tidak mempedulikan pertanyaannya. Aku sedikit sebal padanya tapi, aku juga tidak bisa marah padanya, entah, mungkin aku kasihan.

Aku membukakan pintu untuknya dan untuk diriku. Dia masuk, dia iseng lalu dia mencoba menyentuh Ayahku, dia menembus tubuh Ayahku. Heran, benar-benar heran.

Dia mengikutiku saat aku menuju kamarku dan lagi-lagi, kusuruh dia menembus pintu kamarku tapi, dia terjatuh dan mengeluh kesakitan. Otomatis, aku tertawa terbahak-bahak melihatnya.

“Aneh, mengapa setiap di dekatmu seperti ini? Aneh,” katanya kebingungan lalu adikku berlari dan menabraknya tapi tembus. Loh? Loh? Kenapa begini? Apa yang terjadi ini? Benar-benar aneh tapi, entahlah, perutku sakit menahan tawa tapi aku tetap tertawa walaupun tawa kecil.

“Baiklah, kamu berdiri di depan kamarku, aku ingin bersiap-siap ke sekolah.” Kataku tegas seperti menegaskan pada anak kecil, “kamu mengerti?!”

“Iya,” jawabnya pasrah.

Buku sudah, pena, pensil, penggaris, penghapus, handphone, headset sudah lengkap, tinggal berangkat ke sekolah.

Damien sudah menunggu di depan rumah. Dia pasti sudah menunggu lama sekali tapi, rasanya itu sudah kewajibannya.

“Kamu akan meninggalkanku di rumah ini sendiri?” tanya Awan, aku mengangguk, “kamu jahat sekali!” teriaknya seperti anak TK kehilangan permen, dia benar-benar tampak seperti anak kecil kali ini tapi, aku merasa dia lucu, benar-benar lucu.

“Masuklah!” aku membukakan pintu kamarku dan kusuruh dia masuk, “istirahatlah selama aku ke sekolah, atau kamu bisa menonton televisi, atau merenungi nasibmu.” Tambahku, “yang jelas, jangan rusak barang-barang di kamarku selama aku nggak ada di rumah!” aku mengingatkannya sambil menendang kakinya.

Dia tampak kesal tapi lebih tampak pasrah dan menyedihkan, “baiklah,” wajahnya menunduk seolah-olah aku menindasnya, “jangan lama-lama, aku takut jika nanti kamu nggak bisa melihatku lagi dan aku akan kesepian tanpa ada orang yang bisa kuajak bicara.”

Oke ruh yang aneh,  bye bye.”

Entahlah apa dia bisa menonton televisi tapi, dia kan bisa menyentuh benda mati jadi, dia pasti bisa. Yah, kalau tidak bisa, anggap saja dia kupenjara satu hari. Yah, ini lucu tapi dia tidak bisa menembus dinding kamarku dan ini membuatku benar-benar ingin terus tertawa.

“Beb, kamu kenapa?” tanya Damien, “kamu kesel sama siapa? Liat tuh muka aneh kamu.”

“Biasa, mimpi ketemu ruh gila, haha, udahlah sayang, berangkat gih, udah mau bel masuk loh, masa kita mau di hukum?”

Damien langsung membawa motor seperti setan kesurupan, eh? Emang setan bisa kesurupan? Rasanya tidak.

Kami tiba di sekolah dengan selamat padahal kukira, sebelum masuk ke sekolah, aku ke UGD terlebih dahulu tapi, aku aman-aman saja tidak kecelakaan atau terjatuh dari motor.

“Haduh, untung dah selemat sampai sekolah,” Aku tertawa diikuti tawa Damien, “oh iya sayang, kamu percaya ruh nggak sih?”

“Percaya tapi nggak percaya juga, yaa, diantara keduanya lah.” Jawabnya datar, “udah, ke kelas kamu gih, belajar sana jangan keluyuran sampe cabut jam belajar,”

Menyebalkan padahal, jujur, aku tidak pernah cabut jam pelajaran. Aku memang agak berisik di kelas tapi, aku tidak bodoh-bodoh amat, aku masih 10 besar di kelasku walaupun aku juga di nobatkan sebagai siswi perusuh di kelas.

“Hei nona, jam berapa ini?” tanya Vio, teman sekelasku, “biasanya pagi, tumben jam segini, haha, aneh.”

“Ini kan belum bel jadi tak apalah.” Lalu aku duduk di bangkuku dan memainkan game di handphoneku.

Entahlah, kepalaku melayang-layang tidak beraturan. Aku masih memiliki satu pertanyaan apakah aku gila atau memang setengah gila? Apakah Awan yang sebenarnya ruh itu benar-benar ada atau mimpi belaka?

Satu-dua-tiga-empat menit aku melamun memikirkan itu dan timbul rasa khawatir yang amat mendalam. Bukan khawatir pada Awan tapi, khawatir pada otakku yang benar-benar di luar nalar.

“Kenapa jeng?” Vio mengejutkanku. “mikirin siapa hayo? Jangan bilang tadi ribut sama Damien. Haha udah 5 bulan loh kalian itu, ini pertamakalinya pacaran langgeng, pertahanin geh.”

“Emang gue ribut gitu sama Damien? Ye, nggak geh, nggak ya maaf aja ini mah.”

Pelajaran jam pertama, jam kedua, istirahat sambil mendengarkan musik lalu makan di kantin dan mengobrol dengan teman alias bergosip lalu pelajaran jam ketiga, keempat dan sampai bel pulang kepalaku masih tertuju pada ruh yang aneh.

Oh iya, aku lupa kalau Damien akan latihan basket jadi aku tidak pulang bersamanya.

Aku berjalan menuju halte bis dan baik bis menuju ke rumah. Hm, kira-kira tadi pagi itu mimpi atau bukan ya? Jika mimpi alhamdulilah, jika bukan, yah, itu nasib sialku harus menampungnya di rumahku.

Pintu rumah terkunci dan aku lewat pintu samping yang tidak terkunci. Mama menggeleng-gelengkan kepala melihatku yang biasanya santai dan ini justru buru-buru ingin masuk kamar.

Kubuka pintu kamarku dan kulihat Awan sedang menonton televisi. Jadi? Dia bisa menyentuh benda alias remote televisi? Baguslah, walaupun, jujur, jujur agar aneh.

“Kamu udah pulang? Huh, aku hampir gila dikamarmu yang serba bewarna biru penuh hiasan lumba-lumba ini!” keluhnya kesal, “dan kamu tahu, aku nggak bisa keluar kamar kamu sama sekali.”

Aku memandangnya kesal, sukur-sukur kutampung dia hari ini dirumahku, bukannya berterimakasih justru mengomel seperti nenek-nenek yang kembali ke masa bayi.

Remote TV kutarik dari tangannya dan kupukul kepalanya dengan remote, “hei, kamu terlihat lemah dan pucat dan matamu seperti setan, apa kamu benar-benar ruh yang menyedihkan? Tapi, kenapa larimu tadi pagi cepat?”

“Aku bisa berlari cepat tapi, aku lebih lemah dari diriku sebenarnya. Aku seorang kapten basket dan aku suka berolahraga tapi, memegang remote TV saja kurasakan berat sekali, sungguh tersiksa dan pukulanmu ke kepalaku seperti aku di pukul dengan batu besar.” Jelasnya dengan wajah anak TK yang kehabisan coklat.

“Hah! Sudah-sudah! Kamu keluar dari kamarku!” Aku mendorongnya sampai dia menembus tembok dan keluar kamarku. Loh? Kenapa dia bisa menembus tembok saat aku yang mendorongnya tapi, dia tidak bisa masuk sendiri. Kenapa dan kenapa lalu mengapa? Aih! Sudahlah.

Kulihat televisiku yang masih menyala, ternyata dia menonton berita. Hah? Harusnya dia menonton film kartun atau yang lainnya, lah ini? Berita tentang korupsi melulu, kan membosankan sekali.

“Hei!” Aku menjitak kepalanya ketika aku keluar kamar dan menemukannya jongkok di depan pintu kamarku, “hei!” aku menjitaknya lagi. Di rumah ini tidak ada siapa-siapa, Mama dan Ayah serta adikku pergi jadi, aku tidak akan di sangka gila bicara sendirian.

Awan memandangku, kali ini dia lebih pucat lagi tapi, matanya sudah tidak merah dan dia terlihat lebih rapi, tidak seperti setan bermata seram. Ku pukul pundaknya pelan dan dia diam saja lalu dia jatuh.

Ada yang aneh, dia seperti mematung tapi masih memandangku begitu tajam, menakutkan dan benar-benar menyeramkan sekali. Aku menariknya dan tubuh, eh bukan tubuh tapi ruh nya enteng sekali seperti aku menarik bantal.

Kutaruh dia di sofa dan kupandanginya. Dia sepertinya pingsan dengan mata terbuka tapi, kalau aku siram dia dengan air, apa dia akan bangun? Dia kan ruh, memang ada ruh yang pingsan? Aduh, ini membuat kepalaku sakit.

“Hei! Jangan membuatku bingung!” aku memukul kepalanya dan dia mengedipkan mata lalu tampak seperti orang yang baru sadar dari pingsannya, “kamu membuatku takut!”

“Aku selalu seperti ini. Jika keadaan tubuhku di rumah sakit melemah, maka ruh ku juga semakin melemah, seperti itulah.”

Aku mencoba meresapi ucapannya dari awal pertemuan sampai detik ini, “jadi, jadi, tubuhmu dirumah sakit? Kamu koma? Kritis? Sekarat? Atau yang lainnya?” dia mengangguk, “kasihan, kasihan sekali dirimu itu ruh yang manis, hahaha” aku menertawainya tapi, sepertinya dia tidak suka tapi aku tetap tertawa dan akhirnya, dia pun ikut tertawa.

 Novel ini gue buat seminggu sebelum masuk ke tahun ajaran baru, sekitar tanggal 2 Juli 2012 dan selesai saat memasuki tahun ajaran baru. Cepet banget yaa? emang, ini novel paling cepet gue buat. Alesannya, selain ide nya sedikit pasaran, gue juga di buru waktu mau sekolah karena, kls 3 SMA kan sibuk belajar, susah mau buat novel lagi ^_^ 


BAB 2 nya udah selesai tp memang gak di posting ^_^ maaf, 











Novel # Bab 1 (blm ada judul)

BAB 1
My life is so perfect. I do not mean perfect but close to perfect. Family, love, friends, and life there is no overload my brain. Everything is casual and fun. [1]

“Aku ingin kamu melihatku di setiap alam bawah sadarmu.” Ucap Hasya ketika di telfon. “Mungkin aku nggak bisa melihat senyummu di sana tapi, di pikiranku, semua itu tergambar jelas.”

“I want you here, in front of my eyes, smiled at me, and it definitely makes me happy.” [2] Aku menarik nafas sejenak. “Kadang aku berpikir mengapa hubungan kita mendekati sempurna dan aku juga ingin sesekali kita ribut seperti pasangan lain.”

Hasya terdengar seperti tertawa kecil mendengar ucapanku. Baiklah, benar, aku merindukannya, aku menginginkan dia ada di depan mataku dan bicara padaku. Namun, aku tahu dia tidak di sini.

“Tapi terkadang timbul sebuah pertanyaan, apa kamu benar-benar menuliskan nama aku di hati kamu?” Tanya Hasya, aku tidak menjawab. “Baiklah, mungkin kamu belum berani untuk mengatakan sesuatu tentang cinta.”

Cinta, aku tidak tahu ini cinta atau bukan. Bagiku, hidupku baik-baik saja bahkan tidak ada kecurigaan atau kecemburuan. Aneh sekali padahal Hasya ada di luar kota dan kata kebanyakan orang, cemburu tanda cinta.

Hasya, dia pacarku sekaligus tunanganku. Mungkin terdengar sedikit aneh jika anak SMU seumuranku sudah bertunangan tapi, sebelum SMU, aku memang sudah bertunangan sejak kecil. Maksudku ketika aku kecil, aku di jodohkan dengan Hasya.

Pertama kali aku mengenal Hasya adalah saat aku berusia 8 tahun. Mama dan Papa mengenalkannya padaku. Sejak saat itu kami berteman dekat tapi, aku tahu kalau kami di jodohkan ketika aku berusia 14 tahun.

Awalnya aku terkejut ketika di jodohkan tapi, Hasya baik dan aku juga mengenalnya dengan baik selama bertahun-tahun. Tanpa penolakan dariku atau dari Hasya, kami menerima perjodohan ini toh sejak awal Hasya juga sudah perhatian padaku.

“I love you, nothing else, only you, only you is written on my heart”[3] Hasya mengirim sms padaku. “Believe me, I'm far from you but, in my mind there's only you”"[4] Dia mengirim sms sampai dua kali padaku dan aku hanya tersenyum tanpa membalas smsnya.

Sebelum aku menerima perjodohan ini, Mama mengatakan semuanya bisa di batalkan jika aku atau Hasya menolak tapi, tidak ada yang menolak di antara kami. Entahlah padahal saat itu aku benar-benar tidak mengerti tentang cinta bahkan aku kurang peduli tentang perasaan seorang cowok padaku. Mungkin ini aneh tapi, aku belum merasakan yang namanya cinta sama sekali.

Kata Hasya, bukan aku belum bisa merasakan cinta tapi belum merasakan sedih karena cinta. Aku mengerti maksudnya, maksudnya, aku sudah memiliki cinta yang di sampingku tapi aku belum merasakan sakit karena cinta.

“Zena, kamu belum tidur sayang?” Mama masuk ke kamarku lalu duduk di ranjangku. “Apa yang tadi menelfonmu Hasya?”

“Iya Ma, Mama mau telfonan juga dengan Hasya?” Tanyaku, Mama menggeleng.

“Nggak.” Mama mengusap kepalaku. “Apa kamu mencintainya?” Tanya Mama, aku hanya tersenyum penuh misteri. “Mama berharap akan seperti itu.”

Mama benar, Mama tidak salah mempertanyakan itu. Kalau Hasya, dia bicara pada Mama dan Papaku serta Mama dan Papanya kalau dia mencintaiku tapi, aku tidak mengatakan seperti itu. Mereka tahu kalau aku belum sepenuhnya mengerti cinta jadi mereka memakluminya.

“Jangan tidur terlalu malam, besok kamu sekolah.”  Kata Mama lalu mencium keningku dan meninggalkan kamarku dengan menutup pintu kamar perlahan.

**
Life with no problems, everything is fine, almost perfect, but there is one thing, one thing I want. I want to occasionally have problems in my heart and feel the pain of love. Once in my life[5]

“Zen, mau kemana?” tanya Aldo, teman satu sekolah dan anak kelas tetangga. “Kantin kan? Bareng sekalian.” Kami berjalan bersama.

Aldo atau biasa di panggil Al, dia teman baikku di SMU dan dia salah satu cowok yang mendapatkan banyak prestasi belajar di sekolah. Selain dia baik, dia juga di kenal ramah dan sedikit humoris walaupun aku merasa, dia tidak humoris sama sekali.

“Fisika kemaren gimana Zen?” tanyanya, aku hanya mengangkat pundakku.

Kami sama-sama mengikuti olimpiade fisika tapi, aku keluar untuk olimpiade tahun ini karena kondisi tubuhku sedang di landa penyakit-penyakit ringan tapi berulang. Ini aneh, memang aneh, tapi setidaknya, jika aku mundur, peluang untuk yang lain terbuka. Bukankah itu menguntungkan?

“Zen, gimana?” Tanyanya lagi. “Atau berita tentang lo ngundurin diri bener?”

“Ya begitulah Al, lagian gua nggak pinter-pinter amat di fisika, masih banyak yang lebih pinter dari gue.”

“Berarti gua bakalan jarang maen ke rumah lo buat belajar.” Jelasnya tapi aku mengatakan bahwa dia bisa sesekali kerumahku jika ingin belajar bersama dan tentunya, aku tidak aka menolak.

Dia memesan nasi goreng ketika di kantin dan segelas jus jambu. Katanya, sekarang sedang musim demam berdarah jadi dia memakan makanan yang mengandung jambu. Aneh sekali, agak membingungkan.

“Zen, nggak mesen apa-apa?” Tanyanya, aku tersenyum. “Bilang aja minta bayarin. Bayar sendiri geh.”

“Pelit, yaudah jus jeruk aja dah.” Kataku kesal lalu memainkan handphoneku dan sudah ada pesan masuk dari Hasya.

Kata Hasya, bulan depan orang tuanya akan kerumahku dan dia menitipkan sesuatu untukku. Kuharap dia akan menghadiahkanku sesuatu yang kusuka, menyenangkan sekali tapi, mengapa hanya orang tuanya? Mengapa Hasya juga tidak ikut.

“Aku udah kelas 3, kamu ngerti kan?” Hasya mengirim sms lagi dan aku tersenyum tanpa membalas sms itu. Aku tahu, dia sudah kelas 3 SMU, beda denganku yang baru kelas 1 jadi dia tentu saja lebih sibuk dari pada aku.

“Sms dari siapa Zen?” Tanya Al, aku hanya tersenyum. “Atau senyum karena bisa satu meja di kantin sama gua?”

“Nggak banget dah.” Aku tertawa lalu langsung menyeruput jus jeruk yang sudah tersedia di mejaku beberapa detik lalu. “Oh iya Al, masa ulangan Fisika gue cuma dapet 80? Bete bener lah,”

“Malu-maluin gua aja lo ini.” Ucap Al agak menyindir. “Nggak biasa-biasanya ulangan fisika lo cuma segitu, ada masalah tah?” Tanyanya, aku menggeleng. “Galau?” Aku menggeleng lagi. “Begadang?” Aku menggangguk lalu dia tertawa. Memang, sehari sebelum ulangan, aku begadang dan paginya, aku masih mengantuk.

Aku begadang bukan karena sedih atau banyak pikiran tapi, aku membaca sebuah novel yang di kirimkan Hasya beberapa hari lalu. Dan, ketika ujian Fisika, aku mengantuk bahkan aku kesulitan membaca soal-soal itu. Sudahlah, itu sudah terjadi, walaupun menjengkelkan, itu tetap terjadi.

“Udah nggak usah di pikirin.” Kata Al, “Makan nih.” Dia menawariku nasi gorengnya. “Apa mau gua suapin?” katanya sambil mengejek. “Galau tah cuma gara-gara nilai yang pas-pasan?” Tanyanya, aku mengangguk.

Al berdiri dari tempatnya duduk dan pergi entah kemana padahal makanannya belum habis ditambah belum di bayar. Jangan katakan jika aku yang membayarnya.

“Nih…” Dia memberiku secangkir coklat hangat. “Biar pikiran lo lebih tenang, kasian gua liat muka lo aneh begitu.”

Al benar, aku pusing sekali tapi, ini juga bukan masalah besar. Ini hanya masalah biasa yang mudah terselesaikan. Entahlah, aku belum pernah menemui masalah besar dalam hidupku atau masalah yang membuatku begitu sakit di dada lalu menangis. Memang, aku pernah menangis tapi, itu hanya karena aku jatuh dari sepeda bukan karena masalah yang menyangkut hati.

“Malah ngelamun!” Al menjitak kepalaku.

“Emang gue ngelamun tah Al?” tanyaku, Al malah membisu dan melanjutkan makannya yang belum selesai. “Aneh,” kataku singkat.

Al makan sambil tersenyum-senyum padaku. Rasanya dia benar-benar mengejekku karena nilai ulanganku di bawah nilainya. Sial sekali, untung aku tidak satu kelas dengan Al dan jika satu kelas, aku akan kesal dengan senyumnya yang seperti ini.

Selesai makan, Al mengantarkanku ke kelas. Katanya, dia ingin sekalian mampir ke kelasku untuk menemui Niko, sahabat baiknya. Terserah, setidaknya aku ada teman untuk kembali ke kelas.

**

Mama menungguku di teras rumah seperti biasa. Entahlah, semenjak SMU, Mama sangat memperhatikanku dan terlalu banyak bertanya tentang kegiatanku padahal sebelumnya tidak sama sekali.

CERPEN - Creative Student


Creative Student

Asidosis loh Ndu yang pH nya tinggi itu.” Viola berusaha membela apa yang menurutnya benar. “Loe geh Ndu yang salah.”

“Nona cantik, Asidosis itu rendah, yang tinggi alkalosis.” Jelas Vandu sambil menunjukkan penjelasan itu di buku Kimianya. “Baru kemaren belajar tentang larutan penyangga. Kan pikunan!” Vandu menjitak pelan kepala Viola.

“Oh iya deng.” Viola tersenyum malu.

Mereka ke kantin sekolah sambil membicarakan ujian kimia yang berlangsung kemarin. Keduanya memang seringkali berbeda pendapat mengenai pelajaran tapi, keduanya pun kadang tidak mau mengalah walaupun tahu itu salah.

“Sekolah kita nggak ada sampah plastik ya Ndu?” Tanya Viona, Vandu hanya tersenyum.

Bagaimana tidak, kantin di larang untuk menjual snack yang bungkusnya dapat mengotori area sekolah bahkan permen pun di larang. OMG! Namun, sampah dedauan cukup banyak karena sekolah mereka memang mengutamakan kebersihan udara di lingkungan sekolah agar siswa nyaman.

“Sampah daun di sekolah kita kalo nggak di bakar, ya di jadiin kompos, itu-itu aja. Parahnya mah kalo di bakar.” Ucap Viola sambil berpikir. “Padahal masih ada cara lain biar asap dari pembakaran itu nggak berkondensasi sama udara bebas.” Dia mulai berpikir panjang lagi, tahun lalu, Viola dan kelasnyalah yang mengusulkan untuk memisahkan sampah organik dengan non-organik. Tentu saja ide itu di sambut hangat walaupun 90 persen sampah di sekolah ini adalah sampah organik.

Kali ini, berbeda dengan ide sebelumnya. Dalam otak Viola ada sebuah ide dimana sampah-sampah itu tidak saja menguntungkan sekolah mereka tapi, bisa menguntungka sebuah perkebunan yang terletak tidak jauh dari mereka. Hal ini juga bisa menguntungkan masyarakat banyak dimana udara bersih tidak makin kotor tiap harinya.

“Nah, gue mau usul dah sama kepsek kita. Ya semua di mulai dari sekolah kan Ndu?” Viola memandang Vandu dan cowok yang tidak lain adalah sahabat Viola itu sangat senang dengan pemikiran Viola. “Ndu, kok senyum-senyum aja sih?”

“Karena loe cantik.” Ucap Vandu. “Nggak deng, karena gue ngerasa aneh sama loe. Kadang loe itu terkesan cuek, kadang peduli banget sama lingkungan.” Dia tertawa kecil dan Viola hanya menarik nafas pendek lalu menghembuskannya perlahan.

**

Teknologi pembakaran, cukup efisien untuk sampah kering, untuk sampah basah akan menghasilkan asap tebal dan waktu pembakaran yang lama, sehingga menimbulkan cemaran asap yang cukup mengganggu kesehatan. Dan masih banyak cara lain untuk mengolah sampah yang kadang mencemari udara bebas.

Namun, Viola memiliki ide lain dari sebelumnya. Dia ingin sekolahnya memiliki siswa-siswi yang kreatif. Walaupun ide itu bukan hasil penemuan siswa tapi, setidaknya itu adalah ide siswa untuk mencoba penemuan itu.

“Emang mau di gimanaan Vi?” Tanya teman-teman sekelas Viola. “Kan biasanya di jadiin kompos doang, atau kerajinan pake daun kering de el el.”

“Pernah denger asap cair nggak?” Tanya Viola, teman-temannya mengangguk. “Kita coba aja ngajak seisi sekolah kita buat ngolah sampah jadi asap cair. Nah kegunaannya banyak kan asap cair itu?”

Sekelas hening, mereka tahu tentang asap cair dan bagaimana pengolahannya tapi, mereka tidak pernah berpikir untuk mencobanya di sekolah. Dan kali ini, mereka terkejut dengan ajakan Viola.

“Gue ikut Vi.” Vandu menganggkat tangannya dan Viola masih berdiri di depan kelas. “Kelas kita kan harus jadi kelas paling kompak untuk tahun ini, kelas paling the best untuk segala hal.”

“Gue ikut.” Kata beberapa siswa yang lain. “Demi kelas kita, okelah.” Sambung beberapa siswa yang biasanya cuek.

Viola dan anak-anak sekelasnya mendiskusikan ide mereka beberapa minggu. Mereka mencari info-info dari internet dan beberapa orang yang mereka wawancarai. Ini membuahkan hasil dan mereka beniat untuk mengajukan proposal ke kepala sekolah.

“Viola pinter, Viola cantik.” Vandu mengusap kepala Viola saat seisi kelas sedang berdiskusi di rumah Vandu. “Kalo proposal kan untuk para pejabat sekolah, kalo ini buat kita.” Vandu menunjukkan hasil kerja mereka selama sebulan ini yang di rangkum dalam beberapa puluh lembar 

*) Ini bukan cerpen bersambung hanya blm di posting semuanya aja ^^

oleh : Aula Nurul M

lanjutannya ada kok next time, biar ada yang penasaran ^_^ 


Earning Per Share

a.      Definisi Earning Per Share Earning Per Share (EPS) atau pendapatan perlembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberik...