Minggu, 28 Oktober 2012

Mario Oh Mario (CERPEN)


Wanita itu bukan mahluk yang menyebalkan, bukan mahluk yang selalu mengganggu, dan bukan mahluk yang di anggap berisik. Wanita itu adalah wanita, sudah takdirnya jika wanita seperti itu. Kalau tidak menyebalkan, itu bukan wanita. Kalau tidak berisik itu bukan wanita. Bisa-bisa dunia ini sepi tanpa adanya wanita.

Nggak tau kenapa, di sekolah ini ada salah satu cowok sinting yang menganggap wanita itu mahluk yang menyebalkan. Aku pernah mendengarnya dari beberapa teman. Kurasa dia seorang gay atau dia nggak pernah di lahirkan seorang wanita, tiba-tiba muncul saja di bumi

Tiba-tiba di kelasku masuk seorang siswi yang kurang kusukai, namanya Nanda, “hei,” sapanya pada beberapa teman. Tampangnya sok manis dan sok cantik, di tambah sok ramah padahal di kelas ini hampir 90 persen membencinya. Jelas saja, dia menyebalkan dan sombong tapi, sudahlah, lebih baik Aku men-deletenya dari kisah ini.

“Boom boom tak!” seseorang menjitak kepalaku, cukup sakit, “ada gue tuh di mata lo,” tambahnya. Dia Joshua, temanbaikku sekaligus sahabat baikku. Joshua dan Aku sudah berteman sejak kami SMP dan di lajutkan lagi sampai SMA ini. Dia dan Aku seperti nggak terpisahkan.

“Josh Josh, lo tau nggak, kemaren kan gue ketemu si cowok aneh itu, eh dia sinis gitu ke gue. Hidih,” kataku, Joshua tidak merespon, “Josh!”

“Ada yang mau gue bilangin sama lo,” kata Joshua lirih lalu dia mengeluarkan handphonenya, “mantan lo kemaren kecelakaan,”

Mantanku kecelakaan? Waw, kejutan sekali. Mungkin itu hukuman untuknya karena telah selingkuh. Memang Aku sama sekali nggak cinta sama dia tapi, tetap saja memalukan jika di selingkuhi apalagi berita itu menyebar ke seantero sekolah. Di taruh mana mukaku?

“Tapi, kasian juga sih,” kataku, “eh tapi, sudahlah, pacarnya kan sudah menunggunya di sisinya dan mudah-mudahan aja mereka langgeng selanggeng-langgengnya.”

“Yaudah santai-santai, senyum yang manis geh,” Joshua menyubit pipiku, “natal nanti masa iya lo nggak punya pacar?” Josh memandang, “apa mau pacaran sama gue?”

Ketika jam seni, kelasku di tugasi untuk menuliskan benda apa saja yang ada di ruang seni sekolah. Yang jelas, ada banyak alat musi tapi, mana kutahu nama alat musik itu apa. Kalau gitar jelas Aku tahu tapi kalau yang tradisional-tradisional, Aku nggak tau sama sekali. Aku kan bukan pecinta seni, Aku pecinta buku. Eh salah, ngawur sekali. Aku suka seni tapi, jika dalam posisi itu Aku di jadikan objek.

Satu-dua-tiga dan beberapa benda kuamati tapi, Aku benar-benar bingung nggak ngerti, nggak conect untuk membuat coretan di buku. Bukan karena Aku bodoh tapi, karena otakku sedikit konslet. Yap, rasanya begitulah.

“Kay, liat geh Mario tuh,” kata Cristin sambil menunjuk ke Mario. Yap, itu Mario, si cowok aneh yang mengatakan kalau wanita itu aneh. Menurutku malah dia yang aneh. Jangan-jangan benar kalau dia gay, “sayang ya padahal cakep-cakep tapi ya kok nggak suka sama cewek, haduh. Gue aja mau jadi pacarnya tapi, ckck,”

“Habis dia nggak deket sama cewek jenis apapun.”

Entah jin apa yang merasuki otakku, Aku melangkah berjalan mendekati Mario. Aku penasaran saja sama anak kelas tetangga yang sendirian memperhatikan barang-barang seni di sini.

“Eh Mario, ngapain disini?” tanyaku, dia cuek, “yah... kok gue di cuekin, nyedih banget sih, ckck”

Mario masih diam dan tidak bicara. Rasanya benar kalau ini manusia sangat anti dengan wanita. Lihat saja, jelas-jelas ada siswi cantik yang mencoba mengajaknya berbincang tapi dia tidak merespon. Awas saja kalau dia tiba-tiba menyukaiku lalu memohon-mohon cintaku, akan kubuat sengsara.

“Hm... lo suka seni ya, aduh, gue malah suka belanja,” kataku ngawur, dia masih cuek. Sumpah, Aku merasa tertantang untuk membuatnya berbicara, “Mario-Mario, kok lo hebat banget sih jadi kapten futsal sekolah ini.”

“Kay,” Mario bicara padaku dan dup, entahlah kok Aku jadi salah tingkah dia bicara padaku, “apa lo nggak bisa sesekali hening?” hah? Sesekali hening? Memang kapan Aku cerewet di hadapannya, rasanya nggak pernah, “udah selesai Kay tugas lo?”

“Udah kok,” kataku bohong, “oh iya, pita suara lo mahal ya kok jarang ngomong sama cewek?” tanyaku, dia tersenyum, “eh akhirnya Mario senyum padahal gue kira senyum lo lebih mahal lagi,”

Suara riuh gaduh mulai terdengar. Anak-anak kelasku mulai iseng memainkan alat musik satu per satu lalu mencoba beberapa pakaian adat satu per satu, benar-benar sinting. Lalu di sini, Aku masih berdiri bersama Mario sambil memperhatikan sebuah kain yang bernama Tapis asal daerah Lampung.

Kata orang-orang sih, kain ini melambangkan sesuatu tapi, kataku kain ini melambangkan kesabaran. Jelas saja, dari bentuk, cara pembuatan, dan pemakaianya pun pasti harus dengan kesabaran.

“Oh iya Nes, tumben lo . . . .. . . . . BERSAMBUNG

Pacar Pilihan Mama (CERPEN)




‘Aku tunggu kamu di taman’ sebuah pesan singkat tertera di handphoneku. Dengan diam-diam, Aku keluar rumah menuju taman belakang kompleks. Aku takut jika Mama tahu dan pastinya, Mama tidak akan mengizinkanku pergi. Kalau pun di izinkan, Mama pasti mengomel seribu bahasa.

Dengan langkah cepat sedikit berlari, akhirnya Aku sampai di taman dan kutemukan sesosok cowok yang sangat kukenal, Adrian namanya. Dia tidak lain adalah kekasihku, pacarku, sekaligus teman satusekolahku.

“Aku cuma mau ngasih ini ke kamu,” Adrian memberikan sebuah kotak kecil, “kamu terima ya,” Aku menerimanya lalu kubuka kotak kecil itu, isinya sebuah gelang perak yang sangat cantik, “I love you,” Adrian memelukku.

Bibirku tidak bisa berkata apa-apa kecuali tersenyum senang. Bagaimana pun, hadiahnya ini benar-benar mengejutkanku. Dia bisa memberikannya di sekolah, atau dia bisa memberikannya di tempatku kursus bahasa Jerman tapi, inilah Adrian yang kukenal.

“Kalau gitu, kita jalan-jalan gimana?” Ajakku, Adrian menggeleng lalu dia mengecup keningku, “kamu mau kemana?”tanyaku, dia hanya mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Dengan tanda tanya besar, Aku membiarkan Adrian pergi bersama motornya begitu saja.

Sebenarnya, ini agak sedikit aneh tapi, sudahlah, dia memang sering terlihat aneh jika memberiku hadiah. Kata Mama, Adrian anak yang baik hanya saja, Mama kurang menyukainya. Entah apa yang membuat Mama kurang menyukainya tapi, Mama sering berpesan kalau Aku tidak boleh terlalu mencintai Adrian.

Pemikiran Mama seperti pemikiran orang jaman dahulu. Dulu, saat Aku masih duduk di bangku SMP, Mama melarangkupacaran. Ketika Aku pertamakali pacaran, Mama mengomel habis-habisan. Dan ketika Aku pacaran denga Adrian, Mama sedikit membuka hati tapi, selalu mengatakan jangan terlalu cinta. Ini bukan jaman Siti Nurbaya. Aku berhak memilih cintaku, memilih dimana harus menyimpan hatiku.

“Dari mana kamu?” tanya Mama, Aku tidak menjawab, “sudah hampir malam, masuklah, sebentar lagi makan malam.” Kata Mama tanpa banyak bicara padahal biasanya Mama akan bertanya apakah Aku bertemu Adrian, apakah Aku jalan-jalan dengan Adrian, dan kemana Aku pergi dengan Adrian. Selalu seperti itu. Menyebalkan sekali bukan?

**

Kelas terasa agak berbeda. Suara gaduh tidak terdengar lagi, suara teriakan berebut PR pun tidak terdengar sama sekali, ada apa ini?

“Hari ini semua guru libur tah kok kelas ini hening banget?” tanyaku pada teman sebangkuku, dia menggeleng, “kalo gitu kenapa?”

“Finsa,” dia menarik nafas sejenak, “Adrian hari ini nggak sms lo kan?”


“Duduk Fin,”

Aku duduk di bangkuku, kulihat seisi kelas melirik padaku. Hm... Apakah ada yang salah denganku? Atau memangpenampilanku hari ini aneh?

Seorang guru masuk lalu memberikan sebuah pengumuman kalau hari ini jam belajar mengajar di kosongkan. Aku cukup senang, berarti Aku bisa jalan-jalan ke mol bersama Adrian tapi, kenapa seisi kelasku hening dan tampak galau?

Pak Dodi yang belum sempat menyelesaikan pengumumannya mulai berbicara lagi dan tiba-tiba, telingaku terasa salah mendengar. Apa maksudnya dalam rangka berbela sungkawa? Mendoakan Adrian?

“Kemarin pukul 5 sore pemakaman Adrian,” seseorang menjelaskan padaku sambil menepuk pundakku, dia juga salah satu teman baik Adrian yang satu tim basket, “semuanya ngerahasiain dari lo karena, Adrian nggak mau lo ngeliat saat pemakamannya.”


Rio mengantarkanku ke makan Adrian. Tanahnya masih terlihat basah, dia pasti kedinginan di bawah sana. Rio mengatakan, sebelum Adrian pergi, dia meminta kepada keluarganya agar membuatku tidak mengetahui detik-detik kepergiannya.

“Dia gila atau gue yang gila?!” air mataku menetes, “dia atau gue yang sinting?!” air mataku tambah deras, “gue sayang sama dia tapi....” Aku terus mengeluarkan semua isi hatiku. Rasanya Aku tidak percaya kalau dia benar-benar sudah pergi ke surga.

“Dia sayang sama lo Fin. Karena dia sayang sama lo, dia nggak mau lo lebih sedih saat tahu penyakit dia sampai pemakaman dia,”

“Kemaren, jam 5 sore, dia ngasih gelang ke gue. Dia bilang, semuanya akan baik-baik aja.” Dadaku terasa sesak, kemarin Aku merasa Adrian aneh dan aneh tapi hari ini, semua keanehan itu terjawab sudah, “kalau dia bilang baik-baik aja, gue berusaha untuk baik-baik aja,”


Aku sudah mulai tenang dengan kepergian Adrian. Bagiku, dia adalah cinta terindah yang kukenal dan kutemui. Bagiku, Adrian adalah malaikat yang di hadiahkan Tuhan padaku.

Namun, kepergian Adrian membuatku sulit menerima cinta baru. Bulan lalu, Aku baru saja putus dengan Pisco, anak SMA tetangga yang sedikit pembuat onar di sekolah. Sebelumnya, Aku juga sempat pacaran dengan kakak kelasku, anak kelas XII IPA 1 tapi, dia sadar kalau kami memang tidak cocok apalagi di hatiku masih tertutup.
 
BERSAMBUNG

Pacar Pilihan Mama (CERPEN)



Pacar Pilihan Mama

‘Aku tunggu kamu di taman’ sebuah pesan singkat tertera di handphoneku. Dengan diam-diam, Aku keluar rumah menuju taman belakang kompleks. Aku takut jika Mama tahu dan pastinya, Mama tidak akan mengizinkanku pergi. Kalau pun di izinkan, Mama pasti mengomel seribu bahasa.

Dengan langkah cepat sedikit berlari, akhirnya Aku sampai di taman dan kutemukan sesosok cowok yang sangat kukenal, Adrian namanya. Dia tidak lain adalah kekasihku, pacarku, sekaligus teman satu sekolahku.

“Aku cuma mau ngasih ini ke kamu,” Adrian memberikan sebuah kotak kecil, “kamu terima ya,” Aku menerimanya lalu kubuka kotak kecil itu, isinya sebuah gelang perak yang sangat cantik, “I love you,” Adrian memelukku.

Bibirku tidak bisa berkata apa-apa kecuali tersenyum senang. Bagaimana pun, hadiahnya ini benar-benar mengejutkanku. Dia bisa memberikannya di sekolah, atau dia bisa memberikannya di tempatku kursus bahasa Jerman tapi, inilah Adrian yang kukenal.

“Kalau gitu, kita jalan-jalan gimana?” Ajakku, Adrian menggeleng lalu dia mengecup keningku, “kamu mau kemana?” tanyaku, dia hanya mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Dengan tanda tanya besar, Aku membiarkan Adrian pergi bersama motornya begitu saja.

Sebenarnya, ini agak sedikit aneh tapi, sudahlah, dia memang sering terlihat aneh jika memberiku hadiah. Kata Mama, Adrian anak yang baik hanya saja, Mama kurang menyukainya. Entah apa yang membuat Mama kurang menyukainya tapi, Mama sering berpesan kalau Aku tidak boleh terlalu mencintai Adrian.

Pemikiran Mama seperti pemikiran orang jaman dahulu. Dulu, saat Aku masih duduk di bangku SMP, Mama melarangku pacaran. Ketika Aku pertamakali pacaran, Mama mengomel habis-habisan. Dan ketika Aku pacaran denga Adrian, Mama sedikit membuka hati tapi, selalu mengatakan jangan terlalu cinta. Ini bukan jaman Siti Nurbaya. Aku berhak memilih cintaku, memilih dimana harus menyimpan hatiku.

“Dari mana kamu?” tanya Mama, Aku tidak menjawab, “sudah hampir malam, masuklah, sebentar lagi makan malam.” Kata Mama tanpa banyak bicara padahal biasanya Mama akan bertanya apakah Aku bertemu Adrian, apakah Aku jalan-jalan dengan Adrian, dan kemana Aku pergi dengan Adrian. Selalu seperti itu. Menyebalkan sekali bukan?

**

Kelas terasa agak berbeda. Suara gaduh tidak terdengar lagi, suara teriakan berebut PR pun tidak terdengar sama sekali, ada apa ini?

“Hari ini semua guru libur tah kok kelas ini hening banget?” tanyaku pada teman sebangkuku, dia menggeleng, “kalo gitu kenapa?”

“Finsa,” dia menarik nafas sejenak, “Adrian hari ini nggak sms lo kan?”

“Ya nggak lah, kan gue kemaren udah janjian kalo hari ini nggak berangkat bareng,” jelasku, “kenapa memangnya? Naksir cowok gue yaa?” godaku, Adrian memang cukup terkenal di sekolah. Selain wajahnya yang tampan, dia juga kapten basket sekolah ini.

“Duduk Fin,”

Aku duduk di bangkuku, kulihat seisi kelas melirik padaku. Hm... Apakah ada yang salah denganku? Atau memang penampilanku hari ini aneh?

Seorang guru masuk lalu memberikan sebuah pengumuman kalau hari ini jam belajar mengajar di kosongkan. Aku cukup senang, berarti Aku bisa jalan-jalan ke mol bersama Adrian tapi, kenapa seisi kelasku hening dan tampak galau?

Pak Dodi yang belum sempat menyelesaikan pengumumannya mulai berbicara lagi dan tiba-tiba, telingaku terasa salah mendengar. Apa maksudnya dalam rangka berbela sungkawa? Mendoakan Adrian?

“Kemarin pukul 5 sore pemakaman Adrian,” seseorang menjelaskan padaku sambil menepuk pundakku, dia juga salah satu teman baik Adrian yang satu tim basket, “semuanya ngerahasiain dari lo karena, Adrian nggak mau lo ngeliat saat pemakamannya.”

Kakiku lemas, benar-benar lemas. Rasanya Aku tidak memiliki tenaga untuk berdiri. Kata Rio, Adrian sudah mengidap kanker cukup lama dan dia sudah sangat luar biasa untuk bertahan. Katanya, mundurnya Adrian dari kapten basket 4 bulan lalu bukan karena ingin fokus belajar tapi karena penyakitnya. Kata Rio juga, Mamaku melarangku pacaran dengan Adrian karena Mama takut kalau Aku akan sedih bukan karena tidak menyukai Adrian.

Rio mengantarkanku ke makan Adrian. Tanahnya masih terlihat basah, dia pasti kedinginan di bawah sana. Rio mengatakan, sebelum Adrian pergi, dia meminta kepada keluarganya agar membuatku tidak mengetahui detik-detik kepergiannya.

“Dia gila atau gue yang gila?!” air mataku menetes, “dia atau gue yang sinting?!” air mataku tambah deras, “gue sayang sama dia tapi....” Aku terus mengeluarkan semua isi hatiku. Rasanya Aku tidak percaya kalau dia benar-benar sudah pergi ke surga.

“Dia sayang sama lo Fin. Karena dia sayang sama lo, dia nggak mau lo lebih sedih saat tahu penyakit dia sampai pemakaman dia,”

“Kemaren, jam 5 sore, dia ngasih gelang ke gue. Dia bilang, semuanya akan baik-baik aja.” Dadaku terasa sesak, kemarin Aku merasa Adrian aneh dan aneh tapi hari ini, semua keanehan itu terjawab sudah, “kalau dia bilang baik-baik aja, gue berusaha untuk baik-baik aja,”

5 bulan kemudian

Aku sudah mulai tenang dengan kepergian Adrian. Bagiku, dia adalah cinta terindah yang kukenal dan kutemui. Bagiku, Adrian adalah malaikat yang di hadiahkan Tuhan padaku.

Namun, kepergian Adrian membuatku sulit menerima cinta baru. Bulan lalu, Aku baru saja putus dengan Pisco, anak SMA tetangga yang sedikit pembuat onar di sekolah. Sebelumnya, Aku juga sempat pacaran dengan kakak kelasku, anak kelas XII IPA 1 tapi, dia sadar kalau kami memang tidak cocok apalagi di hatiku masih tertutup.
 
BERSAMBUNG

Rabu, 19 September 2012

Mengejar Tuhan (NOVEL)


Ini cuplikan novel yang gue tulis dari halaman 36 dimana dalam novel ini gue harus dan kudu mempelajari tentang apa itu medulloblastomas, apa itu seizure, metastasis, linier, bla bla bla panjang labar paleng gue tapi, alhasil hasilnya gue suka. Walaupun baru gue tawarin ke penerbit beberapa bulan lalu, di terima atau nggak nya bagi gue itu hal yang nanti-nanti saja toh seenggaknya hati gue udah puas dengan menyelesaikan novel ini ^_^ sipoke, mudah-mudahan terbit. Amin

”Waw! Yur! Loe liat koran sekolah hari ini kan?! Ayolah jangan bilang loe belum liat.” Stevani mengobrak-abrik meja Yuri.

”Apaan?” Tanya Yuri tanpa semangat, kepanya sedikit terasa sakit.

Stevani, cewek yang berambut lurus dan berkulit kuning langsat itu mengambil bangku dan di dekatkan pada Yuri. Mereka bersahabat sejak duduk di bangku SMU.

”Ada puisi cinta buat loe. Ayolah.” Stevani memberikan koran sekolah pagi itu.

Bibir Yuri yang tadinya jatuh ketanah langsung mengembang dan kembali ke arah langit. Dia melihat ada sebuah tulisan dari Dion untuk dirinya. Tanpa banyak bicara, Yuri membaca puisi itu dan dia benar-benar tersenyum.

’Bagaimana bisa? Dion tidak seberapa pandai merangkai kata-kat dan tulisannya ini sedikit kacau. Bagaimana bisa para pengurus koran sekolah membiarkan tulisan ini di pajang? Biasanya mereka akan menolak tulisan yang sengaja di tujukan untuk seseorang. Apa Dion memohon pada mereka? Mungkin, mereka sangat sulit di ajak kompromi’ Pikir Yuri dalam otak di dadanya.

Untukmu cinta
Aku tidak tahu kapan mengenalmu
Aku lupa cinta,

Kau datang seperti angin malam
Hadirmu membuat dadaku tidak beraturan
Kau bukan bintang atau matahari bagiku
Kau seperti malaikatku, bidadariku cinta

Lukisan hatimu tidak tertebak olehku
Kau begitu misterius
Tapi cinta,
Aku menyukaimu sejak itu

Ketenangan jiwamu cinta,
Surgamu di sisiku cinta,
Aku mencintaimu dan selamanya kau milikku

Hanya aku,
Hanya kamu,
Hanya kita,
Cinta,
Untuk yang tersayang, Yuri Santika, kekasihku

”Seorang Dion nulis puisi? Oh anugrah dari Tuhan yang terbesar kayaknya.” Stevani masih memandangi koran sekolah itu. ”Yuri, lo nggak kesambet kan?” Tanyanya ketika Yuri menatap kosong koran sekolah itu.

”Gue bingung mau bilang apa. Jujur, puisinya berantakan.”

“Memang, gua akuin sedikit berantakan tapi, ini seorang Dion yang nulis. Rasanya mau kiamat kali. Itu anak kan paling nggak suka nulis puisi, pelajaran bahasa Indonesia aja dia bosen.”

Stevani mengenal Dion, seisi sekolah pun mengenal cowok yang setia pada kekasihnya itu. Menurut Stevani, perlu keberanian besar untuk Dion memajang tulisan itu.

Dion yang di kenal disekolah sebagai pacar yang setia. Seorang cowok yang dikenal ahli dalam bidang biologi dan cukup di kenal juga sebagai cowok yang tampan. Tapi, orang akan memberi tanda tanya besar tentang tulisannya.

Menurut Yuri, tulisan itu berantakan bahkan tidak cocok masuk di koran sekolah. Puisi itu menjadi perbincangan seisi sekolah sampai Yuri malu di buatnya. Namun, Yuri masih bisa tenang karena dia tahu Dion melakukan ini dengan keberanian yang besar.

”Anak nakal.” Dion menjitak kepala Yuri pelan. ”Bukannya bilang terimakasih pada sang kekasih malah majang muka asem.”

”Bagaimana caranya?” Tanya Yuri, ”Apa kamu memohon pada mereka? Sayang, tulisan kamu berantakan dan itu tulisan terburuk dalam koran sekolah.” Ucap Yuri, Dion tertunduk mendengar kata-kata itu dari bibir sang kekasih. ”Tapi itu puisi terbaik yang ada di hati aku sayang,”

”Benarkah itu?” Wajah Dion yang padam tiba-tiba cerah seperti pelangi di pagi buta. ”Aku tahu kamu menyukainya Tapi, apa kamu tahu sesuatu di balik itu?”

”Tentu, kamu menyayangiku bukan?” Yuri berbicara pada Dion sambil membaca novel yang baru saja di belinya di toko buku. ”Apa itu bener? Hayo, ngaku, kamu cinta mati ya sama aku?”

Dion belum menjawab pertanyaan Yuri. Dia mengajak Yuri untuk ke ruang seni di sekolah. Cowok itu mengajak Yuri ke tempat yang tenang dan disana, mereka bicara.

Dalam pikiran Dion, ada makna yang ingin dia sampaikan dari puisi itu. Ada sesuatu yang ingin dia katakan melalui tulisan itu tapi, mungkin orang tidak bisa menebaknya termasuk Yuri.

Sejenak Dion mengambil satu dari pemikirannya untuk menjelaskan. Dia mencari ribuan kata yang berbaris di otak untuk dia eliminasi. Dia harap, Yuri bisa mengerti apa yang dia katakan nanti.

”Ini kain tapis kan sayang?” Tanya Yuri ketika dia memegang satu dari sekian kain yang ada di ruang seni itu. ”Ada berbagai kain disini tapi, aku jadi ingat kalau aku orang Lampung. Sayang sekali, aku tidak bisa berbahasa Lampung.”

”Kamu bisa belajar.” Dion ikut memegang kain tapis itu. ”Kain ini bermotif belah ketupat, pasti sangat sulit untuk menjadikannya kain seindah ini.”

Kain yang berasal dari Lampung itu memang unik. Perlu kesabaran penuh untuk membuatnya seindah itu seperti keindahan memiliki hati Yuri.

Gadis itu tidak pernah merasa terusik sedikitpun jika di samping Dion. Dia tidak tahu mengapa tapi anak laki-laki kecil itu sejak dulu telah memikat hatinya dan sekarang dia menjadi seorang cowok yang tampan. Cinta Yuri mungkin sudah di penjara oleh Dion, gadis itu tidak bisa lari dari cowok yang memenjarakan hatinya.

”Hidup kamu serumit motif ini kan sayang?” tanyanya, aku membisu.

***
 Perlu ketelitian dan kesabaran untuk menyelesaikan kain itu. Kain itu hanya hanya menggunakan satu motif, belah ketupat tapi ketika membuatnya, serasa ada seribu motif yang di hidangkan.

”Seperti kamu, perlu kesabaran untuk terus menjagamu.” Dion duduk di bangku yang ada di ruang seni. ”Tapi, kesabaran itu akan membuahkan hasil yang indah.”

”Kamu kan janji sama aku dan Papaku kalau akan menjagaku.”

”Ketenangan jiwamu, aku tahu itu tapi ada sesuatu di balik ketenangan itu.” Dion menyuruh Yuri duduk di hadapannya, mereka berbicara seakan ada diskusi kelompok. ”Aku bisa menjaga hatimu pada cinta kita tapi, nggak untuk cinta yang lain sayang,”

Yuri diam tanpa kata, dia berpikir sejenak untuk mencerna kata-kata kekasihnya itu. Ada sesuatu yang ingin kekasihnya sampaikan, pasti.

Dion tidak akan memandang Yuri sampai Yuri merasa pori-porinya terbuka semua. Cowok itu memasuki nadi-nadi darahnya dan membuat takut mendadak. Ada sesuatu. Ya, ada sesuatu di balik itu semua.

”Kamu nggak mau bicara sayang?” Tanya Dion melihat kebisuan Yuri. ”Aku tahu, sebenarnya ada suatu jawaban yang melintas di pikiranmu.” Dia memegang tangan Yuri dan berlutut di depan gadis itu. ”Ayolah sayang, ada cinta yang kamu sembunyikan dariku. Aku tahu itu.”

”Aku nggak pernah mencintai orang lain selain kamu. Kamu tahu itu harusnya,” Yuri menunduk menatap Dion yang berlutut padanya.

”Bukan itu sayang, aku tahu pikiranmu ada pada cinta yang lain, cinta Mama kamu.” Kata-kata itu tidak Dion lanjutkan, dia melihat begitu banyak tanya pada mata Yuri dan dia mengambil jeda untuk membuat kekasihnya mengerti. ”Kamu bisa menebaknya?”

Mereka saling memandang. Cowok itu masih berlutut di hadapan Yuri dan menggenggam tangannya lembut. Dia berusaha membuat Yuri bicara tentang ini walaupun dia tahu apa yang akan keluar dari bibir kekasihnya itu.

Semua cinta sama, semua cinta ada kasih sayang dan ada duka. Cinta Dion membawa kasih sayang tapi cinta ibu bagi Yuri membawa bencana. Wanita yang di panggil ’Mama’ sejak kecil itu tidak pernah mencintainya. Sama sekali tidak pernah!

”Aku tahu, seperti tahun sebelumnya, ini pernah terjadi.” Kepala Yuri menggeleng dengan rona wajah pucat. ”Kamu akan memintaku mencari hadiah ulang tahun Mama, lalu aku memberikannya dengan ikhlas tapi, sepeti biasanya Mama akan mencium pipiku di hadapan para tamu undangan.” Wajahnya semakin kesal tapi juga sedih mengingat itu. ”Dan setelah acara selesai, Mama memintaku berbicara lalu hadiah dariku dia lemparkan tepat di wajahku.” Air mata Yuri menetes satu persatu.

”Ulang tahun Mamamu beberapa hari lagi. Aku tahu kamu ada di antara benci dan sayang padanya.” Dion mengambil sapu tangan di saku celananya, dia perlahan menghapus air mata Yuri. ”Dulu aku memintamu hadir pada pesta itu tapi, kali ini nggak sayang. Aku nggak akan membiarkan kamu menangis di hari bahagia Mama kamu.”

Air mata Yuri sudah terhapuskan oleh kehadiran Dion di hadapannya. Seperti sebelumnya, cowok itu merayunya untuk menghargai wanita itu dan datang ke pesta ulang tahunnya. Awalnya Yuri takut untuk hadir tapi, dia membuat Yuri berani walaupun pada akhirnya Yuri yang tersakiti.

Namun, kali ini berbeda. Dion tidak ingin kekasihnya itu menangis lagi. Air mata Yuri terlalu berharga untuk ini, pikir Dion dalam hati.

”Aku udah ngomong kok sayang sama Papa kamu, dia mengizinkan kamu untuk nggak dateng.”

”Makasih ya,” Senyum ceria memancar seketika dari wajah Yuri.

”Nggak boleh bilang makasih, itu kewajiban aku.”

***

Visco pulang dan langsung ambruk di ranjangnya. Dia terus mengoceh seperti seorang wanita yang pertama kali datang bulan.

”Kak! Berisik tau!” Yuri membuka pintu kamar Visco lalu dia masuk dan berdiri memandang kakaknya yang terlihat kesal. ”Ada masalah kak?”

”Ambilin palu geh di gudang terus lo ketokin ke kepala kakak.” Perintah Visco.

”Palu mah kelamaan kak. Aku ambilin batu gede aja ya terus aku lemparin ke kepala kakak. Oke? Setuju nggak?” Ucap adiknya panjang lebar dan langsung saja Visco duduk lalu mencubit nakal.

Mereka tertawa bersama di kamar. Kakak beradik ini memang selalu akur sejak sejak dulu dan sampai kapan pun

Visco menyayangi Yuri lebih dari apapun. Yuri adalah yang terpenting di hidupnya. Gadis berparas cantik itu selalu dia utamakan lebih dari siapapun termasuk kekasihnya sekalipun.

Mungkin perlakuan Visco yang begitu menuruti dan memanjakan adiknya seperti anak kecil sedikit berlebihan. Tapi, itu kewajibannya. Ada kakak beradik yang seringkali bertengkar atau memperebutkan sesuatu tapi, Visco tidak melakukan itu. Dia selalu mengalah untuk adiknya dan melakukan apapun untuk adik yang paling dia sayangi.

Tidak ada yang bisa Visco lakukan kecuali menyayangi Yuri lebih dari dirinya, memanjakan Yuri serta menjaga Yuri. Semua itu dia lakukan agar Yuri tidak kehilangan kasih sayang. Yang Visco lakukan benar walaupun dia tahu, Yuri lebih butuh kasih sayang seorang ibu dari pada seorang kakak.

Visco memiliki kasih sayang yang lengkap. Ayah, Ibu dan adiknya menyayangi dia tapi tidak dengan adiknya yang kekukangan kasih sayang Ibu. Jika Visco bisa, dia ingin menentang Tuhan dan meminta untuk membuat Yuri hidup di keluarga lain.

”Ada masalah kak?” Tanya adiknya ingin tahu.

”Pengen raasanya ada yang sedia nyeturin palu ke kepala kakak.” Dia melihat begitu banyak tanya pada mata adiknya. ”Bukan masalah gede. Kakak cuma pening aja numpuk pekerjaan kuliah.”

Earning Per Share

a.      Definisi Earning Per Share Earning Per Share (EPS) atau pendapatan perlembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberik...