Rabu, 29 Mei 2019
Istana Negara (Kuala Lumpur, Malaysia)
Foto ini diambil sekitar jam 7 pagi waktu Malaysia. Kalau gak salah tanggal 31 Mei 2019 dimana tepat hari kepulangan gue dari Malaysia setelah keliling-keliling.
| Istana Negara - Malaysia |
Ini asli kejer-kejeran sama waktu karena tiket pesawat gue dapetnya jam 11 siang. Masih lama tapi setidaknya kalau penerbangan Internasional, gue mau 4 jam sebelumnya harus udah dibandara wkwk. Maklum tiket mahal belum lagi di negara orang, beda rasanya kalo ketinggalan pesawat ^^
Selasa, 28 Mei 2019
Kaget aja
Kaget aja ketika tadi siang kawan gue ke rumah buat ngobrol doang. Ehh ketika mau pulang, 'la, katanya lo deket sama si A ya'
Disitu gue kaget. Loh deket darimana? Heii. Jangan ngada-ngada.
Kawan gua bilang tau dari orang.
Hei.
Gue deket sama siapa pasti orang tau jadi gak mungkin kan gue deket sama orang diem-diem. Lucuuk.
Lalu bilang, 'tapi lo ada rasa gak?'
Gak ada. Kalaupun kawan, ya kawanan biasa aja bahkan gue lebih deket sama yang lain tapi gak digosipin haha.
Lalu kawan gue bilang lagi 'iya, gua aja gak percaya waktu denger. Masa iya sih?'
Haha yang denger aja gak percaya apalagi gue yang barusan denger. Aneh. Kayak sesuatu yang gak terduga aja sampai ada yang berkata hal sedemikian rupa.
Hm,
Aku punta banyak temen jadi kalau deket yang spesial, jelas temen-temen yang lain tau. Soal hati, entahlah, ada beberapa hal yang menurut gue unik.
Jadi, intinya.
Lucu aja.
Bisa kawan gue dapet kabar aneh begitu. Mana katanya dia dengernya udah agak lama. Gue ngakak guling-guling dongs tapi yaudahlah, salah gue juga kali akrab dengan orang yang persepsinya beda
Selasa, 21 Mei 2019
Minggu, 12 Mei 2019
Bahan novel 3 (cius?)
Hari itu, saya ingat.
Saya sempat berbohong sama salah satu orang terdekat kamu kalau kamu baik-baik saja
Tapi, kamu gak baik-baik saja.
Kamu terluka.
Mungkin
Atau kamu gak sadar sedang melukai diri kamu sendiri.
Keluarga kamu hari itu khawatir.
Karena ada sesuatu yang mereka lihat pada diri kamu berbeda.
Alhasil, kamu bilang ke saya agar mengatakan kamu baik-baik saja.
Kamu berkata, bahwa cukup dia yang menghadapinya, orang lain jangan tahu.
Loh, saya tahu.
Tapi, saya tahu kenapa kamu gak mau membaginya dengan keluarga kamu.
Kamu gak mau membagi beban.
Sesuatu yang luar biasa.
Padahal, sejujurnya, apa yang terjadi dengan kamu ketika itu, kamu butuh orang2 terdekat kamu, keluarga kamu misalnya, ayah-ibu kamu.
Tapi, kamu berusaha memendam pikiran itu sendiri. Menutupi masalah kamu sendiri.
Lalu setelahnya, saat kamu berkata baik2 saja, kamu memilih ke luar kota, liburan mungkin atau melarikan diri?
Saya hanya heran, tapi saya tidak bertanya lebih lanjut.
Karena kalau bertanya, kamu mungkin akan menghindar memberikan jawaban bahkan mungkin terlihat bersembunyi.
Tapi, saya tetap bertanya.
Satu per satu dengan rentang waktu yang lama.
Kenapa gak sekalian?
Karena saya tahu, semakin ditanya, semakin lelah kamu berpikir. Karena kamu tahu, kamu juga memiliki andil kesalahan disana.
Dan biasanya, saya hanya akan mengomel lalu menakut-nakuti yang ujungnya, kamu kadang jadi diam hening.
Kadang saya berpikir, kenapa saya masih berteman dengan kamu?
Singkat, jika orang tersebut tidak melukai saya kenapa saya harus memusuhi atau bahkan tidak ingin berteman.
Tidak ada alasan.
Saya kadang heran sama kamu.
Kamu mendengarkan saya tapi setelahnya mengabaikan nasehat saya.
Tapi, entahlah, saya blm lelah untuk mengingatkan karena ...., saya berpikir jika saya tidak mengingatkan kamu, saya merasa kamu benar-benar akan jatuh dan akan kesulitan berdiri lagi.
Saya juga kadang heran sama kamu.
Saat masalah itu datang lagi, kamu memilih liburan dengak gak menghitung rinci berapa banyak uang yang kamu habiskan.
Oke. Saya suka liburan kalau lagi suntuk.
Tapi bukan saya lari dari masalah.
Tapi kamu...,
Kamu liburan justru..., saya merasa kadang kamu sedikit nambah masalah.
Yaa walaupun kamu kalau liburan ngasih tau kalai gak depresi-depresi amat tapi saya berpikir, kalau kamu hanya ingin melupakan banyak hal sejenak.
Tapi..., saya juga tahu kalau dalam perjalanan liburan kamu justru masalah itu ikut dengan kamu.
Jadi kadang saya mikir kalau kamu share foto liburan, share pergi kesana kesini keliatan bahagia, dikit-dikit keluar kota liburan, kemaren bilang lagi di kota a tau-tau beli tiket mau liburan lagu, dikit-dikit blablabla pokoknya tampak bahagia.
Sebahagia itukah kelihatannya?
Saya cuma gak habis pikir, kamu luar biasa menutupi masalah kamu yang seperti itu dengan senyuman.
Tapi setidaknya, saya tahu kamu mulai memperbaikinya.
Walaupun memperbaikinya butuh waktu yang lama...cukup lama.
Bahkan, saya pikir selain diri kamu, kamu butuh beberapa orang untuk membuat kamu agar benar-benar baik-baik saja.
Tapi, saya tahu, berat masalah kamu untuk diceritakan pada oranh lain.
Dan saya yang tahu, saya pun diam membisu karena...., sudahlah jangan dibahas
Saya sempat berbohong sama salah satu orang terdekat kamu kalau kamu baik-baik saja
Tapi, kamu gak baik-baik saja.
Kamu terluka.
Mungkin
Atau kamu gak sadar sedang melukai diri kamu sendiri.
Keluarga kamu hari itu khawatir.
Karena ada sesuatu yang mereka lihat pada diri kamu berbeda.
Alhasil, kamu bilang ke saya agar mengatakan kamu baik-baik saja.
Kamu berkata, bahwa cukup dia yang menghadapinya, orang lain jangan tahu.
Loh, saya tahu.
Tapi, saya tahu kenapa kamu gak mau membaginya dengan keluarga kamu.
Kamu gak mau membagi beban.
Sesuatu yang luar biasa.
Padahal, sejujurnya, apa yang terjadi dengan kamu ketika itu, kamu butuh orang2 terdekat kamu, keluarga kamu misalnya, ayah-ibu kamu.
Tapi, kamu berusaha memendam pikiran itu sendiri. Menutupi masalah kamu sendiri.
Lalu setelahnya, saat kamu berkata baik2 saja, kamu memilih ke luar kota, liburan mungkin atau melarikan diri?
Saya hanya heran, tapi saya tidak bertanya lebih lanjut.
Karena kalau bertanya, kamu mungkin akan menghindar memberikan jawaban bahkan mungkin terlihat bersembunyi.
Tapi, saya tetap bertanya.
Satu per satu dengan rentang waktu yang lama.
Kenapa gak sekalian?
Karena saya tahu, semakin ditanya, semakin lelah kamu berpikir. Karena kamu tahu, kamu juga memiliki andil kesalahan disana.
Dan biasanya, saya hanya akan mengomel lalu menakut-nakuti yang ujungnya, kamu kadang jadi diam hening.
Kadang saya berpikir, kenapa saya masih berteman dengan kamu?
Singkat, jika orang tersebut tidak melukai saya kenapa saya harus memusuhi atau bahkan tidak ingin berteman.
Tidak ada alasan.
Saya kadang heran sama kamu.
Kamu mendengarkan saya tapi setelahnya mengabaikan nasehat saya.
Tapi, entahlah, saya blm lelah untuk mengingatkan karena ...., saya berpikir jika saya tidak mengingatkan kamu, saya merasa kamu benar-benar akan jatuh dan akan kesulitan berdiri lagi.
Saya juga kadang heran sama kamu.
Saat masalah itu datang lagi, kamu memilih liburan dengak gak menghitung rinci berapa banyak uang yang kamu habiskan.
Oke. Saya suka liburan kalau lagi suntuk.
Tapi bukan saya lari dari masalah.
Tapi kamu...,
Kamu liburan justru..., saya merasa kadang kamu sedikit nambah masalah.
Yaa walaupun kamu kalau liburan ngasih tau kalai gak depresi-depresi amat tapi saya berpikir, kalau kamu hanya ingin melupakan banyak hal sejenak.
Tapi..., saya juga tahu kalau dalam perjalanan liburan kamu justru masalah itu ikut dengan kamu.
Jadi kadang saya mikir kalau kamu share foto liburan, share pergi kesana kesini keliatan bahagia, dikit-dikit keluar kota liburan, kemaren bilang lagi di kota a tau-tau beli tiket mau liburan lagu, dikit-dikit blablabla pokoknya tampak bahagia.
Sebahagia itukah kelihatannya?
Saya cuma gak habis pikir, kamu luar biasa menutupi masalah kamu yang seperti itu dengan senyuman.
Tapi setidaknya, saya tahu kamu mulai memperbaikinya.
Walaupun memperbaikinya butuh waktu yang lama...cukup lama.
Bahkan, saya pikir selain diri kamu, kamu butuh beberapa orang untuk membuat kamu agar benar-benar baik-baik saja.
Tapi, saya tahu, berat masalah kamu untuk diceritakan pada oranh lain.
Dan saya yang tahu, saya pun diam membisu karena...., sudahlah jangan dibahas
Sabtu, 11 Mei 2019
Bahan novel 2
Saya terkadang ingin menulis sesuatu tentang bagaimana kamu bisa bangkit.
Tentang bagaimana kamu terjatuh sejatuh-jatuhnya namun kamu bisa menghadapinya sendirian, tanpa siapapun hingga akhirnya kamu bicara pada saya.
Kamu membicarakan sesuatu yang gak pernah kamu bagi untuk siapapun.
Bagaimana beratnya kamu menghadapinya. Bagaimana mental kamu kuat menerimanya. Tapi pada akhirnya kamu kuat dan saya tidak ingin kamh terjatuh.
Mungkin jika saya diposisi kamu, saya akan benar-benar tidak bisa bersikap setenang kamu bahkan saya akan depresi terberat dalam hidup saya. Tapi kamu...., Kamu bahkan terlihat bahagia, hidup kamu tampak bahagia, dan kamu tampak tak memiliki masalah.
Tapi sejujurnya, saya tahu, apa yang kamu alami merupakan hal terberat bagi seseorang yang tahu dirinya salah namun sulit untuk membenarkan. Saya tahu, kamu bertarung dengan diri kamu sendiri. Saya tahu, kamu sulit untuk merubah satu hal yang mungkin terberat
Pada akhirnya, kesulitan kamu merubahnya membuatmu jatuh sejatuh-jatuhnya. Membuat kamu seolah hati itu bernyawa tapi tak hidup. Kamu kecewa. Iya. Kecewa dengan diri kamu sendiri. Kamu tidak dapat menyalahkan siapapun.
Tapi..,
Setidaknya, kamu sadar dan bangkit dari terjatuhnyaa kamu. Bagaimana kamu tertatih dan berapa lama kamu naik untuk ke permukaan lagi tanpa depresi berlebih. Setidaknya, saya tahu bagaimana kamu berproses tapi seharusnya, orang tahu hidup kamu tidak seperti yang orang bayangkan.
Saya ingin menulis tentang bagaimana seorang manusia (kamu) bisa menghadapinya.
Tulisan itu akan memperlihatkan pada beberapa orang kalau apa yang kamu alami adalah sesuatu yang gak semudah itu untuk kamu menyelesaikannya. Karena itu bukan masalah dengan orang lain atau kelompok tapi masalah tentang diri kamu. Masalah tentang cara pikir kamu dan bagaimana dulu kamu pernah memandang sesuatu dengan salah.
Sesuatu yang kamu sadar salah.
Bahkan bagi saya tidak rasional tapi tidak tahu bagi kamu.
Kamu sadar bahwa seharusnya kamu tidak berpikir seperti itu tapi kamu sulit mengenyahkan pikiran kamu yang....entahlah, bagi saya aneh.
Tapi saya tahu alasan kamu.
Saya tau bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu.
Tapi apapun itu, apapun kamu, saya tidak pernah membenarkan walaupun saya mengerti tapi bagi saya tetap saja salah.
Hanya saya, saya tidak bisa menulis spesifik. Bukan menyakiti hati kamu. Bahkan mungkin kamu akan maklum selagi saya tidak menyebutkan nama kamu tapi....., mungkin tulisan itu tidak dapat diterima beberapa orang bahkan akan berpikir berbeda jika tidak membaca keseluruhan tulisan.
Tentang bagaimana kamu terjatuh sejatuh-jatuhnya namun kamu bisa menghadapinya sendirian, tanpa siapapun hingga akhirnya kamu bicara pada saya.
Kamu membicarakan sesuatu yang gak pernah kamu bagi untuk siapapun.
Bagaimana beratnya kamu menghadapinya. Bagaimana mental kamu kuat menerimanya. Tapi pada akhirnya kamu kuat dan saya tidak ingin kamh terjatuh.
Mungkin jika saya diposisi kamu, saya akan benar-benar tidak bisa bersikap setenang kamu bahkan saya akan depresi terberat dalam hidup saya. Tapi kamu...., Kamu bahkan terlihat bahagia, hidup kamu tampak bahagia, dan kamu tampak tak memiliki masalah.
Tapi sejujurnya, saya tahu, apa yang kamu alami merupakan hal terberat bagi seseorang yang tahu dirinya salah namun sulit untuk membenarkan. Saya tahu, kamu bertarung dengan diri kamu sendiri. Saya tahu, kamu sulit untuk merubah satu hal yang mungkin terberat
Pada akhirnya, kesulitan kamu merubahnya membuatmu jatuh sejatuh-jatuhnya. Membuat kamu seolah hati itu bernyawa tapi tak hidup. Kamu kecewa. Iya. Kecewa dengan diri kamu sendiri. Kamu tidak dapat menyalahkan siapapun.
Tapi..,
Setidaknya, kamu sadar dan bangkit dari terjatuhnyaa kamu. Bagaimana kamu tertatih dan berapa lama kamu naik untuk ke permukaan lagi tanpa depresi berlebih. Setidaknya, saya tahu bagaimana kamu berproses tapi seharusnya, orang tahu hidup kamu tidak seperti yang orang bayangkan.
Saya ingin menulis tentang bagaimana seorang manusia (kamu) bisa menghadapinya.
Tulisan itu akan memperlihatkan pada beberapa orang kalau apa yang kamu alami adalah sesuatu yang gak semudah itu untuk kamu menyelesaikannya. Karena itu bukan masalah dengan orang lain atau kelompok tapi masalah tentang diri kamu. Masalah tentang cara pikir kamu dan bagaimana dulu kamu pernah memandang sesuatu dengan salah.
Sesuatu yang kamu sadar salah.
Bahkan bagi saya tidak rasional tapi tidak tahu bagi kamu.
Kamu sadar bahwa seharusnya kamu tidak berpikir seperti itu tapi kamu sulit mengenyahkan pikiran kamu yang....entahlah, bagi saya aneh.
Tapi saya tahu alasan kamu.
Saya tau bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu.
Tapi apapun itu, apapun kamu, saya tidak pernah membenarkan walaupun saya mengerti tapi bagi saya tetap saja salah.
Hanya saya, saya tidak bisa menulis spesifik. Bukan menyakiti hati kamu. Bahkan mungkin kamu akan maklum selagi saya tidak menyebutkan nama kamu tapi....., mungkin tulisan itu tidak dapat diterima beberapa orang bahkan akan berpikir berbeda jika tidak membaca keseluruhan tulisan.
Kamis, 09 Mei 2019
Cukup
Cukup.
Nanti kalau dilanjutkan kamu yang terluka.
Bukan saya.
Mungkin sedikit sedih tapi saya mungkin masih bisa menata hati dengan tenang.
Tapi kamu...,
Saya takut kamu yang terluka lebih banyak.
Jika benar.
Jangan teruskan.
Kamu akan terluka dengan saya.
Saya hanya tidak ingin melukai ketulusan seseorang.
Walau mungkin, saya sudah menyakiti kamu.
Kenapa?
Karena terkadang, saya lebih mementingkan logika saya daripada hati kecil saya.
Saya tidak ingin kamu merasakan bagaimana nantinya saya berpikir tentang kehadiran kamu, karena mungkin, saya akan menganggap semua itu tidak hadir walaupun hati kecil saya berkata lain.
Kenapa gitu?
Entahlah.
Saya hanya tidak ingin menyakiti kamu saja.
*bahan novel*
Nanti kalau dilanjutkan kamu yang terluka.
Bukan saya.
Mungkin sedikit sedih tapi saya mungkin masih bisa menata hati dengan tenang.
Tapi kamu...,
Saya takut kamu yang terluka lebih banyak.
Jika benar.
Jangan teruskan.
Kamu akan terluka dengan saya.
Saya hanya tidak ingin melukai ketulusan seseorang.
Walau mungkin, saya sudah menyakiti kamu.
Kenapa?
Karena terkadang, saya lebih mementingkan logika saya daripada hati kecil saya.
Saya tidak ingin kamu merasakan bagaimana nantinya saya berpikir tentang kehadiran kamu, karena mungkin, saya akan menganggap semua itu tidak hadir walaupun hati kecil saya berkata lain.
Kenapa gitu?
Entahlah.
Saya hanya tidak ingin menyakiti kamu saja.
*bahan novel*
Langganan:
Postingan (Atom)
Earning Per Share
a. Definisi Earning Per Share Earning Per Share (EPS) atau pendapatan perlembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberik...
-
The MAGIC CANDLE One day, a young wanderer got lost in the wood. Suddenly he saw a light from an old hut. He knocked at the doo...
-
a. Definisi Earning Per Share Earning Per Share (EPS) atau pendapatan perlembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberik...
-
Hadits Marfu, Mauquf, dan Maqthu A. Hadits Marfu Hadits marfu adalah hadits yang khusus disandarkan kepada Nabi saw berupa per...