Selasa, 25 Agustus 2015

Enggano - CERPEN



Enggano


”Enggano.” Seseorang siswi memanggilku. ”Engga” dia memanggil lagi untuk kedua kalinya. Lorong ini terlalu ramai, aku tidak bisa mencari asal suara itu. ”Kamu baik-baik saja?”

”Oh, ada apa Al?” Tanyaku, Alda mengajakku duduk pada sebuah bangku di lorong ini.

Lorong ini memang aneh, seperti tampak roh-roh halus banyak berkeliaran. Namun, bukan hanya itu, hatiku juga ikut berkeliaran.

**

Ayah duduk di ruang kerjanya, membaca setumpuk kertas, dan mempelajarinya. Dia mendapat kasus baru dan berharap bisa memenangkannya esok hari.

”Enggano.” Ibu mengajakku makan malam bersamanya. ”Ibu harap nilai-nilai kamu baik-baik saja.”

”Dan aku berharap, suatu hari nanti Ayah bisa memenangkan kasusku di pengadilan.” Kataku lirih dan ibu tidak mendengarnya sama sekali.

**

Aku mengundurkan diri dari kapten basket. Banyak yang mempertanyakan itu padaku tapi, semua ini pilihanku. Aku lelah. Aku ingin beristirahat. Dan, basket memang bukan hobby ku.

”Kita sahabat, ayolah....” Alda duduk di sampingku, memberikan air meneral padaku. Kami ada di bangku penonton tanpa sebuah pertandingan basket. ”Apa yang terjadi?”

”Basket bukan impianku, bukan mimpiku.” Jelasku. ”Aku hanya ingin membuat Ayahku marah tapi, dia ternyata tidak memperhatikan itu.” Jelasku.

”Engga,” Alda tersenyum, mengibaskan rambutnya yang hitam. ”Hidup itu harus di bawa santai, jangan terus-terus mikirin satu hal, itu akan nyakitin hati kita sendiri.” Jelasnya, dia benar, tapi aku salah, aku tidak bisa mengikuti sarannya kali ini.

Beberapa waktu lalu, Alda pernah mengatakan bahwa mereka hidup hanya untukku. Namun, kurasa tidak, mereka hidup untuk keabadian, itu saja. Bahkan mereka tidak tahu bahwa tahun lalu aku di rawat dua minggu di rumah sakit.

**

Ibu sudah tidak ada di rumah. Semenjak dia menjadi anggota dewan, dia menjadi lebih sibuk dari sebelumnya. Lucu sekali, aku merasa seperti sebuah nama dalam Kartu Keluarga. Itu saja.

”Bagaimana dengan sekolahmu?” Tanya Ayah padaku.

”Em....”

”Baik-baiklah dengan sekolahmu.” Kata Ayah, aku belum sempat menjawab pertanyaan itu dan dia langsung pergi begitu saja.

Aku ke kamarku, membereskan beberapa jarum kecil yang ada di ranjang. Aku tertawa. Aku tersenyum. Dan aku merasa ini adalah mimpi bodoh yang terdampar pada alam bawah sadarku.

Ada sebungkus serbuk putih di atas meja belajarku, bukan buku. Aku mengambilnya dan kusimpan pada saku celanaku. Orang tidak akan ada yang menyangka, satu pun orang tidak ada dan belum ada yang mengetahuinya.

**

”Engga, tugas Bahasa Mandarinnya di kumpul hari ini kan?” Tanya Alda, aku mengangguk. ”Seorang Enggano pasti tugasnya beres, Enggano kan siswa yang paling jenius di sekolah ini.” Katanya.

”Dan aku ingin melepaskan kejeniusan itu.”

”Apa yang terjadi?” Tanyanya, aku diam, tidak menjawabnya.

Kutarik tangan Alda dan kuajak dia ke tengah lapangan basket. Di tempat ini aku ingat banyak siswi yang kagum padaku, memanggil namaku, tapi aku melepaskannya.

Alda tersenyum padaku, mendamaikan hatiku tapi tetap saja, aku tahu jika dia khawatir padaku. Bagaimana pun dia sahabat terbaik yang kumiliki dan kuharap ini akan selamanya, tidak akan berubah.

”Tatapan mata kamu berubah, ayolah, aku tahu itu.” Dia memandangku lekat. ”Kita sahabat, selamanya kita sahabat.” Jelasnya, meminta sebuah jawaban dariku. ”Aku mengenali arti perubahanmu, terutama perubahan matamu.” Tambahnya tapi aku tetap saja diam.

Bagaimana kujelaskan padanya? Apakah dia akan mengerti? Tentu, dia pasti mengerti tapi ini akan membebaninya.

”Ayahku seorang pengacara dan ibuku orang yang bekerja dipemerintahan.” Jelasku, dia tetap memajang senyum manisnya. ”Dan itu alasan mereka tetap bersama. Hanya karena posisi mereka, bukan karenaku.” Jelasku, Alda tidak berani bicara, aku tahu apa yang di pikirkannya. Dia pasti berpikir lebih baik diam sampai aku yang menyelesaikan penjelasan ini.

Kukatakan, ayahku memiliki wanita lain dan ibuku sudah mencintai laki-laki lain. Namun mereka masih bersama, bukan karena aku, bukan karena seorang anak yang terlahir beberapa belas lalu tapi, ini hanya karena pekerjaan dan posisi mereka yang di atas. Itu saja, tidak lebih.

**

”Ayah,” aku menemuinya di tengah malam, di ruang kerjanya. ”Aku memiliki sebuah pertanyaan, hanya satu.” Kataku yang duduk di depannya, di sebuah kursi empuk ruangan ini.

”Baiklah, jangan membuang-buang waktu.”

”Apakah Ayah pernah menangani kasus seorang pengedar narkoba yang ingin diringankan hukumannya?” Tanyaku, Ayah memandang. ”Atau seorang pemakai yang tertangkap basah oleh polisi, misalkan?”

Ayah diam sejenak, dia sepertinya memikirkan masak-masak pertanyaanku. Kuharap dia tidak mengerti arti lain dari pertanyaan ini atau kuharap dia langsung mengerti. Entahlah, ini menyulitkan.

”Temanmu terlibat kasus itu?” Tanya Ayah, aku diam. ”Sebaiknya jauhi temanmu, itu membuat namamu terlihat buruk.” Katanya lalu melirik ke pintu keluar, dia sama saja mengusirku.

**

Alda mengajakku sarapan di kantin. Dia tahu jika aku tidak sempat makan di rumah, rumah seperti kuburan bagiku.

Dia memesankan nasi goreng untukku, dia tahu apa yang kusukai. Yah, dia sangat perhatian padaku dan dia bukan hanya sahabat tapi, dia bagian dari hidupku.

”Al, misalkan ada hal buruk terjadi, apa kamu masih sahabatku?”

”Iya dong, ada apa sih?” Tanyanya. ”Hal buruk apa?”

”Misalkan aku menginap di suatu tempat dan keluar dalam waktu yang cukup lama, apa kita masih sahabat?” Tanyaku, dia mulai berpikir. ”Dan apa kata orang-orang tentangku, tentangmu yang bersahabat denganku?”

Dia menyeruput teh hangatnya. Udara pagi ini memang dingin tapi, suasana hatiku mengalahkan dinginnya pagi.

”Apa obat itu mempengaruhimu? Kamu ingin melepas obat itu di suatu tempat?” Tanyanya, aku tersenyum, aku baru menyadari ternyata dia sudah tahu dari awal tentang semua ini. ”Ya, jika itu demi kebaikanmu, aku di sampingmu, kamu sahabatmu, dan kuharap kamu bisa merahasiakannya dari orang-orang.” Dia memandangku bahagia. ”Setidaknya orang-orang akan menganggapmu berlibur.”

”Aku tidak akan menuntut seseorang yang menuduhku menggunakan barang itu.” Kataku. ”Tidak akan, aku akan datang sendiri dan bicara.” Nasi goreng di piringku sudah setengah habis. ”Dan mungkin itu akan lama, itu akan membuat mereka tahu bahwa aku bisa sibuk sendiri, jauh dari rumah.”

”Engga, ini salah.”

**

Aku menemui beberapa pria yang berseragam lengkap, mereka biasa di sebut polisi, dan mereka menyambut kedatangannku dengan hangat.

Entahlah, ada yang melegakan hatiku ketika mereka bertanya alasanku datang dan mengakui semuanya. Aku memang tidak menjawab tapi, aku benar-benar lega, lebih menyenangkan seperti ini.

”Engga,” Alda datang menjengukku, dia datang beberapa menit setelah aku sah menjadi penghuni baru. ”Ini pilihanmu? Untuk apa?”

”Untuk melepaskan semuanya Al,” Jelasku, ”Apa kamu masih sahabatku?” Tanyaku, dia mengangguk dan tersenyum. Aku tahu hatinya sedih tapi, dia tersenyum untuk membuatku kuat.

Ayah datang beberapa menit setelah Alda. Dia menampar wajahku dan aku tersenyum, tertawa kecil, lalu Ibu juga menyusul kedatangan Ayah dan dia mengatakan menyesal memiliki putra sepertiku.

”Apakah kalian takut jika tidak ada alasan di depan publik untuk mempertahankan keluarga ini?” Tanyaku, Alda menyadari kehadirannya di antara kami, dan dia pergi perlahan dari pandangan kami. ”Aku pernah bertanya apakah Ayah akan membuat kasusku menang di pengadilan?” Tanyaku, Ayah menggelengkan kepalanya. Bodoh sekali aku, ini bukan kasus yang layak di bawa ke pengadilan untuk meminta keringanan hukuman, aku bukan Gayus Tambunan yang dengan mudah meminta keringanan hukuman.

”Apa ini balasanmu sebagai seorang anak?!” Ayah menamparku lagi dan membentakku, Ibu hanya memandang dan wajahnya terlihat stres. ”Ini yang kamu inginkan!!!”

”Ya, tentu.” Jawabku. ”Setidaknya kita bertiga bisa berkumpul pada satu waktu yang sama. Kita bertiga, bukan sendiri atau hanya aku dan ibu, atau ayah dan ibu, atau aku dan ayah.” Jelasku detail.

”Apa kamu ingin menghianati Ibu?! Membuat Ibu malu!” Ibu memandangku marah.

”Mungkin saja.” Jawabku. ”Setidaknya kalian telah menuliskan namaku dalam Kartu Keluarga, dan hanya itu, tidak lebih, aku hanya hidup di sebuah rumah tanpa sebuah interaksi, itu saja.” Aku menjelaskannya dengan santai walaupun rasanya sangat sakit, aku menahannya, berusaha kuat. ”Dan hari ini, ini cukup menenangkan hatiku.” Lalu aku meminta pria yang berseragam polisi itu memasukkanku ke dalam sel dan memintanya agar menyuruh kedua orang tua dalam Kartu Keluargaku pergi jauh.

TAMAT

Cerpen oleh Aula Nurul M


Tanggapan Gue Setelah Menyelesaikan K-Drama 'OH MY GHOST'





Drama yang tayang di tvN ini cukup wow bagi gue. Entahlah. Kali ini gue nonton drama yang semua pemerannya bukan idola gue dalam dunia per-drama-an wkwk. Dan entah juga beberapa bulan belakangan gue suka nonton dramanya dari tvN padahal sebelumnya lebih suka yang laen.

Kalau ngasih bintang dari 5 bintang, gue kasih nilai 4 bintang karena kalau 5 bintang masih di pegang sama 'Princess Hours' alias K-Drama kesukaan gue.


Drama 'Oh My Ghost' ini gue selesaikan tepat hari ini tadi siang alias tanggal 25 Agustus. Masih fres dan seger ingatannya tentang drama ini.

Kenapa awalnya gue tertarik sama drama ini? Ini karena unsur ketidaksengajaan. Karena nunggu update episode baru drama laen belum keluar atau lebih tepatnya belum jadwalnya tayang disananya juga, isenglah  beberapa menit sapa tau bagus. Eh kelabasan sampe satu episode.

Kemudian berlanjutlah minggu demi minggu gue ikutin update ini K-Drama sampai kelar alias ending alias lagi TAMAT.

Gue berpikir kalau di drama ini bakal ada cinta segitiga antara Sun Wo, Bong Sun, dan si hantu Son Ae. Ternyata gue salah gaess. Salah besar. Memang si hantu juga suka sama Sun Wo begitupun Bong Sun yang suka juga sama Sun Wo. Tapi mereka gak rebutan Sun Wo. Gak sama sekali. *dari pengamatan gue sih mereka lebih ke arah kerjasama wkwk*

Gue pikir juga si hantu bakal ngambil tubuh Bong Sun atau apalah karena pengen deket sama Sun Wo ternyata si Son Ae baek luar biasa. Dia sadar siapa dia dan dia harus kembali ke alamnya.

Yap, bagi gue drama ini lebih kepada misteri untuk menguak kematian Son Ae, kemudian kecelakaannya Eun Hee, kemudian kematian petugas polisi laen *gue lupa namanya* kemudian dan kemudian pokoknya menguak misteri-rahasia.

Episode demi episode gue ikuti. Gue juga gak seberapa mendapati ada cowok lain di drama ini yang ngerebutin Bong Sun. Ceritanya menurut gue lebih kepada si Choi itu alias iparnya Sun Wo yang jahatnya yaampun. Tapi ternyata, Choi dirasukin roh jahat. Roh jahat gaes. eits, dia jahat karena roh itu? Sebelum dirasukin roh jahat, dia juga udah rada jahat tapi kejahatannya bertambah setelah dirasuki wkwk

Gue suka endingnya.

Ending yang cukup menarik.

Ending yang gak buat gue naek darah.

Dan gue suka kecocokan Sun Wo sama Bong Sun.


Sebuah K-Drama yang gue rekomendasiin untuk ditonton. Oh iya, tonton juga drama 'Hello Monster' yang bagus apalagi pemainnya tamvan-tamvan ^^ wkwk Selanjutnya, gue lagi ngikutin drama 'Young Pal' karena ceritanya unik-menarik-wow daebak ditambah pemerannya SayaSukaSayaSuka.







Tanggapan Gue Setelah Nonton K-Drama 'HELLO MONSTER'

 


K-Drama yang gue selesaikan beberapa waktu lalu ini menurut gue menarik. Sangat menarik.

Kenapa? Pertama karena pemerannya Seo In Guk.  Wajahnya membuat gue pengen nonton gitu. Ada daya tarik tersendiri ^^

Kemudian, gue suka dari kisahnya yang tentang 'psikopat' wkwk tapi bukan artinya gue bakalan jatuh hati sama 'psikopat' loh ya. Sama seperti dulu gue nonton Gap Dong yang ada psikopatnya juga. Entahlah, dua drama yang ada psikopat-psikopatnya ini meluluhkan hati gue. Atau karena para psikopatnya tamvan? Mungkin!

Eits, tapi gak cuman disitu gaes. Setelah gue nonton beberapa episode, jujur, gue penasaran! gue sampe nungguin 'aduh, minggu depan masih lama ya? gue penasaran' begitulah.

Untuk kisah percintaannya cukup gue suka tapi jujur lebih suka saat ada kasus-kasus dan ketika ada dua kakak beradik sama si gurunya psikopat wkwk.

Entahlah, gue bingung mau ngelasin gimana. Gue juga suka sii tokoh Min walaupun di K-Drama sii Min ini bunuh ini dan itu, entahlah, gue malah merasa simpati sama dia. Bukan karena dia jahat bunuh orang sana-sini akibat merasa sakit hati sama kakaknya tapi gue simpati karena gue merasa dia itu sepi-sendirian-menyedihkan. Di mata gue, pada dasarnya Min itu baek.

Dan gue juga kasian sama si psikopat tua tapi gak seberapa kasian sih. Sebenarnya dia itu baek asal masalalu dia gak sesuram itu aja.

Endingnya? Entahlah. Endingnya gue merasa kurang. Kurang banget. Gue mikir kenapa gak tiga orang itu jadi sekeluarga aja dan tinggal jauh dari keramaian. Gue rasa mereka bakalan akur asal gak jadi keluarga psiko aja sih. Tapi gue rasa kalau tiga orang ini rukun, tinggal bareng, mereka akan jadi 3 pria yang baik hati terhadap sesama.



K-Drama ini gue rekomendasiin untuk ditonton di bulan agustus-september 2015 ini. Tonton juga drama 'Oh My Ghost' yang udah sampai ending. Juga tonton 'Young Pal' tapi masih belum sampai ending karena baru tayang beberapa minggu di Korea. Ikutin aja dramanya pasti penasaran.



Sayang, endingnya gak gitu ^^

Pengertian ILMU EKONOMI REGIONAL



Oke. Gue akan membahas mengenai Ekonomi Regional. Yap, untuk kali ini hanya mengenai apasih itu Ilmu Ekonomi Regional. Hanya sebatas itu karena pembahasan lain akan dibahas pada postingan berikutnya.

Ilmu Ekonomi Regional atau katakanlah Ilmu Ekonomi Wilayah adalah salah satu cabang dari ilmu ekonomi dimana pembahasan Ilmu Ekonomi Regional memasukkan unsur perbedaan potensi satu wilayah dengan wilayah lain.

Dalam Ekonomi Regional juga dibahas hubungan antardaerah yang mana cukup menarik dan memunculkan implikasi kebijakan dimana dapat mempercepat tercapainya tujuan ekonomi nasional.

JADI, apasih persoalan utama yang dibahas dalam Ekonomi Regional? WHERE >> Where do all those activities should be carried out atau dimana lokasi dari berbagai kegiatan tersebut.

Ilmu Ekonomi Regional punya suatu kekhususan yang tidak dibahas oleh cabang oleh cabang ilmu lain dan IER memiliki prinsip yang mampu menjelaskan bidang tersebut secara menyeluruh sehingga dianggap berdiri sendiri.

Apakah hanya where saja? Tentu perlu dilengkapi dengan why. Tahu kan kalau pokok persoalan ilmu ekonomi itu mencakup 3 hal yaitu what, how, for whom (Samuelson-1955) kemudian ditambah when? Yap, pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dilengkapi dengan why alias mengapa hal itu perlu dilakukan. Jadi akan memunculkan alasan mengapa hal itu menjadi pilihan.

TUJUAN  UTAMA Ilmu Ekonomi Regional APA (?)

Tujuannya yaitu menjawab pertanyaan di wilayah mana suatu kegiatan sebaiknya dipilih dan mengapa bagian wilayah itu menjadi pilihan. Eits, tapi perlu di ingat bahwa dalam menentukan lokasi maka IER hanya mampu menunjuk sampai batas wilayah mana tetapi tidak menujuk kepada tempat kegiatan. Lalu bagaimana untuk sampai kesana? Dibutuhkan bantuan ilmu lain, seperti ilmu kesesuaian lahan, teknik sipil, atau teknik arsitektur.

SELAIN TUJUAN Utama, tujuan IER apalagiapalagi?
-                 Menciptakan full employment
-                 Adanya Economic Growth
-                 Terciptanya Price Stability (ini sering banget dibahas orang ya)
-                 Terjaganya kelestarian lingkungan hidup
-                 Pemerataan pembangunan dalam wilayah
-                 Peneapan sektor unggulan wilayah
-                 Membuat keterkaitan antarsektor yang lebih serasi dalam wilayah, sehingga menjadi bersinergi dan berkesinambungan
-                 Pemenuhan kebutuhan pangan wilayah

MANFAAT IER (MAKRO)
Yaitu bagaimana pemerintah pusat dapat menggunakannya untuk mempercepat laju pertumbuhan keseluruhan wilayah.

MANFAAT  EIR (MIKRO)
Yaitu bagaimana IER dapat membantu perencana wilayah menghemat waktu dan biaya dalam proses menentukan lokasi suatu kegiatan atau proyek. Kalau kata gue sih, simpel kata, biar irit-irit ^^




Sumber : Berbagai sumber, dari buku kuliah gue, catetan kuliah gue, de-el-el

Jumat, 05 Juni 2015

Tanggapan K-Drama 'Super Daddy Yul'




Super Daddy Yul-p1.jpg


Tanggapan gue soal K-Drama ini luar biasa bagus. Sarang alias anak kecil yang meranin sebagai anaknya Mi-Rae bener-bener luar biasa keren.

Drama ini menurut gue mencoba mengatakan kalau anak yang terlihat baik-baik saja dan tegar kadangkala yang terjadi dalam dirinya itu berbeda. Iya seperti itu.



Lyra



Tokoh : Lyra, Dave, Leo, Natalie, Caroline ^^


Lyra kembali meletakkan potongan kertas kecil di loker milik Dave. Ia selalu seperti ini, setiap pagi, tanpa Dave tahu, meletakkan kertas bertuliskan beberapa hal sederhana.

“Hei!” Leo menjitak keras kepala Lyra, “kenapa kamu meletakkan itu pada loker tanpa pemilik?”

Tak terima dengan ucapan Leo, Lyra membalasnya dengan menginjak kuat kakinya, “kenapa semua orang disekitarku beranggapan Dave sudah mati? Dia masih bernafas!” suaranya meninggi tapi kemudian diam karena Leo langsung menutup mulutnya.

**

Mulut Lyra komat-kamit dimeja makan. Ia sama sekali tak nafsu makan apalagi satu meja dengan Leo.

“Mama, itu tuh Leo, eh maksud aku, kak Leo kejam! Aku gak mau makan,” ia pergi dari meja makan dan seorang pun tak ada yang mengejarnya.

Sedangkan Leo hanya tersenyum kecil melihat tingkah Lyra. Sebagai seorang kakak, ia tak ingin adiknya terus-terusan mengerjakan hal yang sia-sia. Dan sebagai seorang sahabat, ia juga tak ingin melihat sahabatnya melakukan hal yang melelahkan tanpa hasil.

“Apa Lyra masih berusaha membuat Dave sembuh?” tanya Mama, Leo mengangguk, “Mama lebih senang jika ia berpacaran denganmu,” mendengar Mama bicara seperti itu, Leo langsung menghentikan makannya kemudian memandang Mama, “ada yang salah?”

Leo tak bisa bicara apa-apa. Ia beranggapan jika hubungan mereka sebatas kakak beradik.

Flashback beberapa tahun lalu ketika kedua orang tua Leo mengalami kecelakaan pesawat dan meninggal. Tak hanya kedua orang tuanya namun ayah Lyra pun mengalami kecelakaan yang sama. Kenangan tersebut begitu menyakitkan bagi kedua keluarga namun yang lebih menyedihkan adalah Leo, ia tak memiliki siapapun. Ia berakhir dengan tinggal bersama Lyra dan Mama.

“Restoran berjalan sangat baik, kapan kamu akan belajar mengurusnya?” tanya Mama, Leo diam, “walaupun restoran itu mengingatkan akan kedua orangtuamu, tapi kamu harus mengurusnya.”

Mendengarnya, Leo hanya diam.

Flashback. Ayah Lyra hanya seorang karyawan di restoran keluarga Leo namun kekeluargaan mereka begitu erat. Dan beberapa minggu setelah kecelakaan itu terjadi, tidak ada yang mengurus restoran. Baru ketika pengacara keluarga Leo membacakan surat wasiat yang sudah jauh-jauh hari dibuat oleh ayah Leo, hak asuh Leo jatuh pada Mama dan Mama yang mengurus restoran sampai Leo bisa mengurusnya suatu hari nanti.

“Mama! Aku lapar,” teriak Lyra dari kamarnya, “tapi, tapi, aku gak mau liat muka kak Leo! Gak mau!”

Teriakan Lyra membuat lamunan Mama buyar. Namun, tetap saja, baik Mama ataupun Leo tak ada yang langsung berlari melihat keadaan Lyra yang sedang ngambek. Mereka sangat paham jika Lyra tak akan bertahan lama menahan lapar.

**

Lyra kembali meletakkan potongan kertas kecil. Kali ini tak ada tulisannya namun potongan kertas itu berbentuk hati. Dari jauh, Leo melihat itu semua dan kasihan terhadap Lyra.

“Apa Lyra masih berusaha? Ini kan udah setahun,” Natalie menggeleng tak percaya, “Ini bukan salah Lyra atau Dave tapi gue pikir, Lyra harus berhenti,” ia menepuk-nepuk pundak Leo, “lo tau apa yang gue maksud,” kemudian ia melangkah meninggalkan Leo yang asik memperhatikan kegiatan Lyra di depan loker Dave.

**

Jari Dave sibuk mengetuk-ngetuk meja. Jika seperti ini, ia pasti sedang berpikir. ‘siapa orang ini?’ setiap hari selama setahun, ia terus memikirkan siapa seseorang yang selalu mengiriminya potongan kertas. ‘bentuknya macam-macam bahkan terkadang ada sebuah kalimat’

Kemudian, Elsa, pacarnya masuk ke kelas. Ia langsung menyembunyikan potongan kertas itu dan berpura-pura sedang belajar. Namun, dalam hati kecilnya, ia masih begitu penasaran tentang siapa pengirimnya.

‘orang itu tahu kalau aku membenci coklat walaupun aku sering memakannya’ ia mengingat kalau setiap minggu ada coklat di lokernya dan tertulis ‘jangan dimakan, kamu gak suka coklat. Tapi aku tahu kalau kamu akan memakannya.’

Setiap minggu selalu ada hal seperti itu.

**

Lapangan basket riuh dengan suara-suara para pendukung masing-masing tim basket. Kecuali Lyra, ia tak bersemangat mendukung salah satu tim walaupun Leo ada didalamnya.

“Kalau dukung Leo, gue rugi,” gerutunya. Ia ingat perjanjiannya dengan Leo, jika tim Leo menang maka ia harus berhenti meletakkan potongan kertas diloker Dave.

‘gak! Tim Leo gak boleh menang! Titik!’

Teman-teman Lyra paham sekali mengapa Lyra terus berdoa seperti itu tapi mereka cuek seolah tak mendengar Lyra bicara. Mereka justru ingin Leo menang agar Lyra berhenti melakukan hal sia-sia.

“Hei! Kalian!” Lyra mencubit beberapa temannya karena justru asik menonton seolah berharap Leo menang, “kalian temen gue bukan sih?”

“Anggap aja Dave udah meninggal. Untuk apa coba kalau badannya ada tapi...,” mereka berhenti ketika melihat Dave mendekat dan duduk disamping kiri Lyra.

Hati Lyra pun senang karena setidaknya bisa duduk didekat Dave. Ia menyapa Dave ramah seperti layaknya teman walaupun kadangkala hatinya sesak bahkan terasa sakit ketika berada didekat Dave.

“Sendirian bro? Pacar lo mana?” pertanyaan Lyra bukanlah benar-benar pertanyaan dari hatinya. Dalam hati ia berpikir ‘sebelum kecelakaan itu, kita masih pacaran. Ya, sebelum itu terjadi. Dan kini, bahkan kamu gak mengingat apapun’

**

Mata Elsa terbelalak menemukan beberapa potongan kertas berbentuk hati yang tersimpan rapi dalam kotak kecil pada tas Dave. Ia paham sekali siapa yang mengirimkan kertas itu pada Dave.

‘kalian sudah berakhir. Kenapa ini bisa terjadi?’ Elsa mengambil kotak kecil itu kemudian melangkah ke kelas Lyra. Ia ingin mengembalikan itu semua namun langkahnya terhenti oleh Leo, “apa? Kenapa, kak?” tanya berusaha sopan karena Leo kakak kelas. Leo memegang kotak itu dan memintanya meletakkan kembali pada tas Dave, “apa?”

“Ini sudah setahun dan ingatan Dave belum balik. Dan sepertinya gak akan balik. Kenapa lo harus setakut itu?”

Elsa terdiam. Ia melangkah mundur, mengembalikannya kembali pada tas Dave. ‘oke, ini gak masalah’

**

Leo dan beberapa temannya sangat berisik ketika bermain PS. Hal tersebut membuat Lyra geram karena suara itu terdengar sampai kamarnya. Tak tahan, Lyra menggedor-gedor pintu kamar Leo. Ia meminta mereka diam.

Dan, mereka tak mau diam.

Kesal, Lyra pergi berjalan-jalan dengan kedua kakinya disekitar rumah. Ia memikirkan perjanjiannya dengan Leo saat tim Leo menang. Dan sudah seminggu ini, Lyra berhenti mengirimkan potongan kertas berbentuk hati maupun bintang. ‘tapi, gue masih bisa meletakkan coklat diloker Dave’ senyumnya mengembang.

Ia kemudian teringat Dave yang sampai detik ini masih hilang ingatan, ‘jika kami berpisah karena gak cocok atau orang ketiga, aku gak akan seperti ini. Ia hanya hilang ingatan, aku yakin hatinya gak akan berubah. Tapi, Elsa?’ kepala Lyra tambah sakit. Ia pun kembali pulang kerumah dan menantang Leo untuk bermain game dengannya.

Sayang, baik Leo maupun teman-teman yang lain tak ada yang menerima tantangan Lyra. Mereka justru meminta Lyra tidur dan mengompres kepalanya agar tidak sakit lagi.

“Kalian pikir gue sakit?!”

“Semua orang tau ada orang aneh meletakkan sesuatu di loker Dave. Berhenti kali Lyr,” mereka serempak menyindir keras Lyra.

**

Ada sesuatu yang hilang bagi Dave. Ia kehilangan potongan kertas-kertas itu untuk beberapa minggu belakangan walaupun tergantikan dengan coklat yang terus ada di lokernya setiap hari. ‘aneh, ada apa dengan orang ini?’

Ia membolak-balik tumpukan buku-bukunya, berharap potongan kertas itu terselip. Namun, ia tak menemukan apapun. Dave benar-benar kehilangan sesuatu yang unik yang selama setahun belakangan ini selalu ada. ‘tapi, siapa orang ini? Setiap kali mencari tahu, selalu gagal’

Dave teringat beberapa waktu lalu ketika ia hampir menemukan siapa pengirim potongan kertas tersebut, ada saja gangguan dari teman-temannya. Tapi sebentar, Dave memahami sesuatu, ‘mereka sengaja melakukan itu supaya gue gak tau siapa pengirimnya’ ia baru menyadari itu.

Langkah kaki Dave dipercepat mencari teman-temannya. Ia meminta penjelasan. Dan walaupun semua temannya bahkan mungkin seisi sekolah tahu siapa yang meletakkan itu, mereka tutup mulut. Tak ada yang berani membuka suara.

“Gue gak tau. Kenapa lo nanya ke gue? Kenapa gak nanya sama temen-temen sekelas lo atau sama temen-teman lo yang lain? Kenapa?”Caroline, teman sekelasnya kesal karena Dave menanyakan hal yang sedikit sulit dijawab.

“Ayolah,” Dave terus memohon tapi Caroline tetap bertahan sampai akhirnya Dave berlutut karena ia meresa semenjak ingatannya hilang, orang-orang menyembunyikan sesuatu darinya.

Beberapa saat Caroline berpikir, “oke. Dia seorang cewek. Cewek yang dulu bagi lo begitu berharga. Cewek yang sampai pingsan berkali-kali ketika lo koma. Udah, itu aja. Lagipula, kalaupun lo tau, lo gak inget.” Kemudian Caroline melangkah pergi tapi ia berbalik lagi, “dan, sekarang, gue rasa cewek itu sedang membuka hatinya untuk orang lain,” tambahnya berbohong.

**

Elsa dan Dave menghadiri pesta kejutan ulang tahun Leo. Sebenarnya Elsa tak ingin ikutan memberikan kejutan ulang tahun Leo namun karena Dave mengatakan tak enak hati pada teman-teman lain jadi mau tak mau Elsa mengiyakannya.

“Buat kakak gue yang paling tampan, jangan suka nindas gue lagi ya. Biarin gue ngelakuin apa yang gue suka,” ucap Lyra sebagai permintaannya dihari ulang tahun Leo, “oke?”

Dengan santainya, Leo memberi tanda silang dengan kedua tangannya diikuti  beberapa teman yang lain.

“Buat sohib gue, semoga lo jodoh bro sama Lyra.” Doa tersebut disoraki yang lain seolah mendukung. Lyra yang mendengar hanya tersenyum, tak ingin merusak kemeriahan.

Lain disisi Dave yang terkejut karena sepengetahuannya, Lyra dan Leo adalah saudara kandung. Ia tak mengerti bagaimana mereka bisa mendoakan seperti itu. ‘apa mereka bukan saudara kandung? Lyra anak yang cantik dan sangat baik. Leo beruntung jika itu benar.’

Tangan Elsa memegang lembut tangan Dave tapi entah kenapa Dave melepasnya secara perlahan. Dave melangkah pelan mendekati Lyra. Hal tersebut membuat orang-orang terkejut. Namun, setelah Dave mendekat, ternyata ia bukan mendekati Lyra namun mendekati beberapa potongan kertas dibelakang Lyra.

“Siapa yang membuat potongan ini?” tanyanya, seseorang ingin mengatakan kalau itu buatan Lyra namun yang lain langsung menjawab jika mereka membelinya pada seseorang yang cukup kreatif.

‘mereka berbohong. Gak ada yang menjual seperti ini. Siapa yang mereka sembunyikan?’

**

Hari-hari Dave terasa sepi tanpa potongan kertas itu. Ia sudah mengumpulkan potongan kertas itu yang berjumlah hampir 400 potongan. Dan ia sangat kehilangan beberapa tulisan tentang dirinya pada potongan itu.

Tak hanya itu, bahkan Dave sangat terlihat tidak bersemangat. Elsa yang menyadari itu benar-benar kesal namun ia tak dapat mengatakan kekesalannya pada Dave.

“Ada banyak hal yang orang itu ketahui tentangku yang bahkan kamu gak tau,” jujur Dave, Elsa menguatkan hatinya. Setelah mengatakan itu, Dave meminta maaf. Ia teringat ucapan Caroline tentang orang itu, ‘apakah sebelum kecelakaan itu ada seorang gadis yang begitu berharga?’ Dave berusaha mengingat tapi sampai detik ini ia sangat sulit. Hanya beberapa ingatan yang kembali tapi itupun hanya mengenai keluarganya saja. ‘dan tentang Elsa, sepertinya sangat janggal’

Dave pergi ke lapangan basket. Ia mengelilingi lapangan basket. Seseorang menceritakan padanya jika sebelumnya ia kapten basket namun karena kecelakaan itu, ia tidak diperbolehkan bermain basket lagi.

‘sebenarnya, banyak hal aneh terjadi. Semua akun jejaring sosialku menghilang. Setidaknya, jika aku gak bisa membuka akun-ku sendiri, aku bisa melihatnya melalui akun orang lain namun, semua menghilang tanpa jejak. Apakah gadis itu? Siapa dia? Kenapa dia tidak muncul setelah aku sadar dari koma?’

Kepala Dave sakit ketika terus memikirkan itu. Ia benar-benar sedang berusaha mengingat.

**

“Bangun!” Leo menarik tangan Lyra agar bangun dari sofa dan pindah tidur ke kamar namun Lyra justru ngedumel tidak jelas, “ampun anak ini,” mau tak mau ia menggendong Lyra dan memindahkan ke kamar, “anak ini, ckck” ia menggeleng-gelengkan kepalanya ketika Lyra mengigau. Setelah itu, ia mematikan lampu kamar dan pergi.

Mama melihatnya keluar dari kamar Lyra, “apa dia tertidur lagi di sofa? Lain kali, biarkan dia tertidur disana. Akan jadi kebiasaan kalau kamu memindahkannya setiap hari.”

“Gak pa-pa kok Ma.”

Sudah menjadi kebiasaan Lyra yang selalu tidur di sofa kemudian menunggu seseorang memindahkan tubuhnya ke kamar. Sejak kecil kebiasaan itu sudah melekat padanya. Ayah yang selalu memindahkannya namun semenjak ayah tidak ada, Leo yang melakukan hal itu.

“Belakangan, Lyra terlihat gelisah. Apakah ada yang salah dengan dirinya?”

“Itu Ma,” Leo berpikir sejenak kemudian menjelaskan mengenai potongan kertas-kertas berbentuk hati dan bintang, “Lyra udah berhenti Ma,” tambahnya kemudian menjelaskan lagi mengapa Lyra menghentikan kegiatan tersebut.

“Jika kalian bertaruh seperti itu, Mama senang. Perlahan, Lyra harus melupakan Dave.”

**

Kini gantian Dave yang mondar-mandir didepan lokernya sendiri. Ia bingung karena sudah siang namun tidak ada coklat dilokernya. ‘kemana? Apa dia sengaja perlahan menghilangkan jejaknya?’

Kesal, ia memukul keras lokernya sendiri. Hal tersebut tak luput dari penglihatan beberapa anak basket sekolah. Mereka langsung menghampiri Dave dan meminta agar tidak menghancurkan fasilitas sekolah.

“Lo banyak berubah bro,” mereka menepuk sekali pundak Dave kemudian meninggalkannya.

Sebenarnya, mereka ingin membantu Dave agar ingatannya kembali namun Dave telah banyak berubah. Ia sedikit memberi jarak terhadap siswa-siswa lain disekolah. Apalagi, mereka kenal baik bagaimana Dave.

“Kasian gue sama Lyra,” pikir salah seorang dari mereka.

“Kita doa yang terbaik buat mereka,”

**

Tubuh Lyra benar-benar terasa lemas. Ia tak tahu mengapa sejak pagi tadi seperti ini. Kepalanya terasa berkunang-kunang dan kepalanya seperti dihantam batu besar.

“Kepala, kepala gue,” ia melangkah gontai ke kelasnya. Berharap Leo datang dan bisa membawanya pulang namun Leo sedang pergi dengan Mama ke luar kota beberapa hari, “kapala...”

BRUK!

Tubuh Lyra jatuh kelantai. Anak-anak menghampirinya. Mereka akan mengangkat tubuh Lyra ke ruang UKS namun ketika melihat Dave datang, mereka sengaja tak jadi mengangkat tubuh Lyra.

“Pundak gue rada sakit,” ucap seorang siswa diikuti alasan-alasan lain. Dalam hati kecil mereka, mereka ingin tahu bagaimana reaksi Dave.

Benar saja, Dave membawa Lyra ke UKS. Ia bahkan menunggui Lyra sampai sadar karena tidak ada siswa/i lain yang menunggui Lyra. Mereka sengaja melakukan itu.

“Lo udah baikan?” Dave memegang kepala Lyra yang masih sedikit demam, “Leo kemana?” gelengan kepala yang Lyra berikan padanya.

‘Kenapa kamu muncul disini? Apakah aku bermimpi? Mimpi apa-apaan ini? Kupikir kak Leo akan muncul secara tiba-tiba’

Ia berusaha untuk duduk dan pergi dari ruang UKS namun tubuhnya masih belum kuat melakukan itu. Mau tak mau, ia kembali berbaring. Dave masih disampingnya. Sesekali, Dave memandangnya tajam. ‘kenapa Lyra membuat gue penasaran?’

Sadar dirinya dipandangi begitu tajam, Lyra menegurnya. Ia meminta agar Dave tak melihatnya seperti monster.

“Kenapa lo gak makan beberapa hari ini? Pingsan kan lo jadinya,” ceramahi Dave. Lyra terkejut karena untuk pertamakalinya Dave bicara cukup panjang dengannya, “lo diet? Gak usah diet, lo udah cantik kok.” Lyra mematung. Ucapan itu, dulu selalu Dave katakan ketika ia tak banyak makan.

“Udah, gak masalah,” senyum Lyra mengembang namun wajahnya masih pucat. Dave meminta penjelasan kenapa ia tak makan, “itu karena, karena...,” Lyra berpikir. Dulu, ia pingsan karena stres dan jarang makan saat Dave koma. Kini, ia tidak makan karena tidak ada teman makan selama beberapa hari dirumah, “untuk pertamakalinya, gue ngerasa sepi saat nyokap sama kakak gue pergi.” Jelasnya jujur.

Mendengarnya, Dave tersenyum. Ia keluar sebentar kemudian kembali dengan membawa makanan. Bahkan, ia menyuapi Lyra. Dalam hatinya, ia juga bingung kenapa ingin melakukan hal seperti ini pada Lyra. Ia juga tak mengerti mengapa ia khawatir melihat Lyra sakit. Padahal, sebelum ini, ia tak pernah khawatir pada siapapun. ‘apa sebelum kecelakaan, gue orang yang baik sama orang lain?’

“Eh, gue makan sendiri. Gak enak kalau Elsa liat dikira apaan,” Lyra menarik sendok dari tangan Dave kemudian makan dengan tangannya sendiri. Refleks, Dave tersenyum dengan mengusap kepala Lyra lembut seperti yang ia lakukan sebelum kecelakaan. Lyra juga menyadari itu, ia senang namun ada kejanggalan yang juga ia rasakan. ‘kenapa ini? Kenapa rasanya sedikit hambar?’

**

Leo mencak-mencak mengetahui Lyra sakit. Bahkan, ketika ia pulang, ia langsung memarahi Lyra habis-habisan. Mama yang melihatnya pun hanya tersenyum menyadari kalau Leo sebenarnya begitu khawatir pada Lyra.

“Kamu masih mikirin Dave? Kesehatan kamu itu penting!”

Lyra menunduk sambil menggeleng kecil, “gue bete, gue bete sendirian di rumah, gue bete,” ia pun mengangkat kepalanya, “gue gak suka makan sendirian!” kemudian ia berlari ke kamar dan mengunci pintu kamarnya.

Baik Mama maupun Leo terkejut namun kemudian mereka berdua tersenyum. Mama merasa ada hal baik yang terjadi. Begitu pun dengan Leo namun Leo masih tidak yakin.

**

Kaki Dave berlari cepat mengejar Lyra. Ia langsung menanyakan keadaan Lyra yang beberapa hari ini tidak masuk sekolah.

“Kok lo tau gue gak masuk? Kita kan gak sekelas?” tanya Lyra santai tanpa menyadari apapun, “gue baik-baik aja kok,” kemudian ia melangkah pergi. ‘argh! Gue lupa!’ Lyra baru ingat kalau ia lupa membeli coklat untuk diletakkan pada loker Dave.
Ia pun berbalik ke kantin untuk membeli coklat. Namun, Caroline dan Nataline, dua siswi kembar itu langsung menghalanginya. Mereka tak suka Lyra membuang-buang waktu.

“Kita mau nanya, kalau Dave inget, terus lo mau balik jadi pacar Dave lagi kemudian Dave ninggalin Elsa? Atau misal Dave gak inget tapi dia jadi berpaling dari Elsa, lo mau gitu?”

Kedua kembar cerewet itu terus nyerocos membuat telinga Lyra begitu sakit. Ia pun mengurungkan niatnya untuk membeli coklat dan memilih kembali ke kelas. Namun, sebelum kembali ke kelas, ia berpapasan dengan Elsa yang memandangnya penuh perang.

‘Apa-apaan Elsa? Gue salah apa?’

**

Kepala Dave terasa sedikit sakit. Ia kesulitan bangun dari tempat tidur. Beberapa hal ia ingat. Ada Lyra dalam ingatannya dan tidak ada Elsa namun ada seorang gadis lain. Ia tidak tahu siapa gadis itu, wajahnya tidak terlukis dalam ingatannya.

“Lyra,” Dave bangun dari tempat tidurnya sambil terus menyebut nama Lyra.

Kedua orangtua Dave mengatakan kalau Dave tidak memiliki hubungan apapun dengan Lyra. Sebelum kecelakaan, Dave tidak dekat dengan gadis mana pun.

“Tapi kenapa dalam ingatanku, aku mengatakan kalau kami berjodoh?” tanyanya, kedua orangtuanya tidak tahu apapun mengenai itu. Mereka mengatakan setidaknya ada ingatan Dave yang kembali tapi mereka meminta agar Dave tidak terlalu memaksakan diri, “ini aneh.”

Cepat-cepat, Dave mencari beberapa barang digudang. Ia mencari beberapa benda masalalu nya. Hanya ada beberapa foto disana dengan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya. Kemudian, ada beberapa foto dirinya dengan Lyra.

‘Siapa Lyra? Siapa gadis satunya lagi? Sial!’ ia menendang-nendang beberapa barang karena tak berhasil mengingat apapun, ‘apa gue sama Lyra pernah pacaran? Atau justru gue sama cewek satunya ini yang pernah pacaran? Tapi,’ ia teringat Elsa yang selalu disampingnya. Kemudian, ia berpikir jika masa lalu adalah masa lalu. Kini, ia tak ingin menyakiti Elsa.

................... bersambung, gue pegel mau nulis lagi. Besok-besok yee



Earning Per Share

a.      Definisi Earning Per Share Earning Per Share (EPS) atau pendapatan perlembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberik...