Selasa, 21 Juni 2011

Cerpen - New Student is Crazy (Cerpen Jaman SMP)


New Student is Crazy

(Sebuah sekolah yang di mana para siswa dan siswinya dari kalangan yang terpandang. Sekolah ini termasuk sekolah yang sangat faforit. Semua yang bersekolah di sekolah ini pastinya memiliki ekonomi di atas. Bukan sesuatu yang asing bila yang bersekolah ada orang indo atau bukan orang asli Indonesia tetapi kebersamaan tetap ada.) 

Hari itu siswa SMU Global Mandiri kedatangan siswa baru. Siswa itu pindah saat pertengahan semester. Saya tidak mengetahui alasan ia pindah, peduli amat. Saat ia pertama masuk kelas, pandangannya sangat tidak saya suka. Apa lagi teman sebelah saya. Ia sangat tidak menyukai senyum anak baru yang terlalu di buat-buat.
“Salam kenal. Nama gue Desta, ya itu nama panggilan gue. gue pindah karena mau cari suasana baru.” Ucap salam kenal Desta.
“Cari suasana apa pindah karna nilai semester awalnya kecil terus malu?” Tanya Nindy sisnis.
“Cewek di kelas ini cantik-cantik ya……….”
“Banyak basa-basi loe……”
Dari kata-kata yang Desta ucapkan sangat memperlihatkan dirinya yang pembohong. Dari sudut pandang yang buruk, Desta adalah tipe cowok yang pembohong besar. Ups, satu lagi. Dia di minta duduk di barisan nomor empat. Ia berjalan tetapi sambil memndangan Ira.
“Anak baru itu kok ngeliatin loe ya?” Tanya Chika yang duduk di sebelah Ira.
“Iya tah?” Tanya Ira tidak percaya.
“Eh, merhatiin loe tuh” beritahu Serli yang duduk tepat di belakang Ira.
Ira duduk di berisan nomor dua pojok sednagkan Serli di barisan nomor tiganya dan Desta duduk di barisan nomor empat bersama Ardi.
Desta adalah seorang anak dari pengusaha yang sukses dan terkenal. Huh……. Tidak heran dengan gayanya yang sok cool.
“Gimana kalo nanti istirahat gue traktir?” Tanya Desta pada Ardi.
“Semua?”
“Ya- iyalah.”
“Ok. Gue tanya sama yang lain.”
Ternyata banyak yang menolak kecuali anak laki-laki. Saya juga tidak tahu alasan banyak yang menolaknya tetapi biarlah.
Suatu ketika Desta mengutarakan isi hatinya kepada Ira tetapi Ira meminta waktu. Memang keadaan Ira saat itu baru putus dengan kekasihnya  4 hari. Di lain sisi Ira menyukai Andrean yang masih satu klelas dengannya. Sayangnya Andrean menyukai Vivi yang duduk di sebelah Serli. Ira memang bersahabat dengan Serli tetapi hati tidak bisa berbohong. Andrean juga tidak bisa mendapatkan Vivi karena Vivi telah memiliki Alvien. Bisa di bilang cinta banyak segi. Iuh…….
Akhirnya Ira mengatakan semuanya pada Vivi termasuk perasaannya pada Andrean. Vivi, Serli, dan Chika juga mengetahuinya. Ira meminta pendapat tentang Desta. Ira sedikit berfikir ‘belum kenal aja udah nembak, pendiriannya apa?’
Akhirnya Ira menjawab TIDAK. Keputusan Ira benar karena seminggu setelah itu ia nembak Yuke tetapi Yuke juga nolak. Terus nembak Aurora tapi di tolak juga. Aduh kacian……… makannya gak usah banyak bualannya. Ternyata sifat Desta itu negatiif banget. katanya sih.
Saat itu masih jam istirahat. Desta keluar kelas tetapi hanya sendiri saja. Aneh tetapi yang lain masih di kelas dan tidak keluar satupun kecuali Desta.
“Ada apa sih minta kita kumpul?” tanya Riska kepada Ardi.
“Gue cuma mau ngasih tau aja sifat Desta. Oke dia anak orang terpandang tapi blagu banget” jelas Ardi.
“Banggain bokap melulu lagi” lanjut Andrean.
“Bener tuh omonngan Ardi sama Andrean” ucap Rama.
“Iya tuh bener banget. Dia nembak gue. bilangnya gue sabar, baik, and bla…..bla…..bla.” jelas Ira.
“Sama dong” lanjut Yuke.
“Dia juga ngomong yang sama pas nembak gue.” lanjut Aurora.
“Nyebelin banget sih tuh anak” ucap Chika.
“Dikit-dikit ngomongin bokap yang pengusaha terkenal itu. Gue aja yang nyokap gue desainer terkenal aja gak banggain segitunya” lanjut Ryan.
“Kayaknya sekelas ini benci banget sama Desta. Gue juga sih termasuk….” ucap Vivi.
“Satu lagi nih yang gak gue suka. Nih anak suka jahil berlebihan tapi kalo di bales marah. Udah saraf kali tuh anak.” Lanjut Agung.
“Wajar gak ada yang mau temenan sama dia. Baru satu apa dua bulan kali ya…….dia di sini tapi……ih nyebelin banget” sela Serli.
“Gue yang duduk di samping dia aja gak tahan tapi mau gimana lagi. Pelitnya minta ampun lagi. Cuma nanya rumus aja di sipek-in. dia itu perhitungan banget terus dia itu selalu ngeremehin orang.” Jelas Ardi.
“Eh…..eh. panjang umur. Anaknya dateng tuh.” Ucap Icha yang melihat Desta menuju kelas.
Banyak yang membenci Desta di kelas. Bukan banyak tapi SEMUA.
“Eh si anak blagu dateng. Panjang umur nih” ucap Chika menyindir.
“Apa loe bilang?!!!” seru Desta.
“Pendengarannya masih baik kan?” sindir Serli.
“Bisanya banggain ortu aja” lanjut Ardi.
“Dasar pengacara nggak becus.” Ucap Desta menyindir Chika kerena ayahnya seorang pengacara yang pernah mengalahkan ayahnya Desta.
“Apa maksud loe! Gue tau loe itu nak pengusaha terkenal tapi loe cuma apa tanpa mereka. Sadar ya!” ucap Chika dengan nada marah.
“Sadar kalo di kelas ini gak ada yang mau temenan sama loe ya!” Lanjut Ira.
“Gue aja nggak terlalu sok tuh” lanjut Ardi.
“Baru anak pengusaha terkenal sok-nya selangit. Gimana kalo anaknya presiden. Melayang tuh….. awas aja kalo melayang and terbang nggak bisa balik lagi” sindir Vivi.
“Aduh-aduh. Gue aja yang imut, cantik, terkenal di sekolah and ortu gue yang…… gitulah. Semua juga tau tapi……. tapi gue gak kayak loe. Gue itu gak sombong. Loe baru bawa nama ortu aja bangga. Loe itu gak ada apa-apanya kali tanpa ortu loe. Ih……. Ada ya orang kayak loe……..” ucap Tyas yang menel dan berkata dengan gayanya yang snagat centil sambil memegang rambutnya yang di putar-putar.
“Kenapa loe? Nggak bisa berkutik? Takut? Mana keangkuhan loe?” ucap Samuel yang saat itu sedikit memanas.
“Ya ampun kemana sifat angkuh loe?” tanya Ira.
Pertengkaran sedikit mulai mereda. Keesokan harinya Desta berangkat tetapi ketika ia ingin duduk, meja dan kursinya tidak ada. Pagi-pagi sekali Ardi dan Ryan memindahkan meja dan kursi Desta ke gudang sekolah. Biar tau rasa tuh Desta. Desta sangat marah sekali dan akhirnya ia memustuskan untuk tidak bersekolah. Rasanya tenag jika tidak anak Desta yang menyebalkan.
Entah kebetulan apa tetapi  Ayah Desta berteman dengan Ayahnya Ira. Sangat tidak di snagka-sangka. Ini semua mengejutkan. Malam itu Ira sedang curhat dengan Mamanya di ruang keluarga.
“Ma, Ira punya temen sekelas nyebelin banget.”
“Nyebelin apa suka?”
“Suka. Ih ogah. Masak dia ngatain Papanya Chika, udah gitu sok lagi. Satu kelas itu musuin dia.”
“Kok bisa?”
“Abisnya dia sok banget. nembak cewek di kelas lebih dari satu, kata-katanya yang di bilang sama lagi.”
“Termasuk kamu?”
“Iya. Nambah nyebelinnya lagi, dia itu selalu banggain Papanya yang pengusaha terkenal terus terlalu perhitungan gitu.”
“Perhitungan?”
“Kalo ada yang nanya sama dia harus balas budi gitulah.”
“Ada apa nih kayaknya serius?” tanya Ayahnya Ira yang tiba-tiba datang.
“Di kelas Ira itu ada anak baru. Anaknya blagu, sok cakep, perhitungan, banggain papanya melulu, ngeremehin orang, pakoknya nyebelin deh. Sementang dia anak pengusaha ternama dan terkenal. Wajar sekelas musuhin dia.” Jelas Ira.
“Sekelas musuhin dia?”
“Ya-iyalah. Pokoknya nyebelin.”
“Dia anaknya pengusaha terkenal. Siapa?”
“Itu yang sering muncul di Infotaimen sama berita-berita gitu. Yang udah cerai sama istrinya.Yang anak pertamanya pacaran sama artis terkenal terus bilangnya anaknya itu baik-baik semua. Nyatanya………ih….nyebelin”
“O…….itu.”
“Mama mau batuin bibi siapin makan malam untuk tamu undangan papa nanti.”
“Siapa?”
“Mama juga nggak tau” ucap Mamanya Ira lalu pergi.
“Kamu benci sama Desta?” tanya Papanya Ira.
“Kok Papa tau?”
“Dia itu anak temen papa. Memang kata Ayahnya Desta itu sedikit angkuh tapi kerena ia banyak masalah sama masa lalunya.”
“Masa lalunya?”
“Dia benci sama ibunya yang udah ninggalin dia karena laki-laki lain. Ayahnya juga nggak nikah lagi. Semenjak saat itu dia mainin perempuan.”
“Orang tuanya kan pisah dua tahun lalu tapi sifatnya itu udah kayak dari kecil deh.”
“Dia itu selalu di bada-bedain sama kakaknya jadi dia juga cepet marah.”
“Cuma Desta kan Pa yang ikut sama Papanya terus kakak-kakaknya ikut sama mama mereka kan Pa. Desta itu kan anak paling kecil.”
“Nanti orang yang Papa undang makan malam itu Desta sama papanya lho.”
“Ih….nyebelin ah Papa ini.”
Ira sangat tidak menyangka bahwa Desta akan ke rumahnya. Bagaimana tidak, Desta kan sangat di benci Ira. Saat makan malam suasana Ira dan Desta tegang padahal mereka satu sekolah bahkan satu kelas.
“Kok diam-diaman?” tanya ayahnya Desta.
“Ih. Nggak mau ah deket-deket Desta.”
“Maaf, Ira belum tahu?” tanya ayahnya Desta.
“Om, Desta itu nyebelin terus angkuh, suka mainin cewek. Ya….. gitulah. Yang jelas satu kelas musuhin dia.”
“Apa mau loe?” tanya Desta pada Ira.
“Apa!”
“Ira. Papa mau kasih tau kamu.”
“Penting ya pa?”
“Iya. Papa………”
“Apa Pa?”
“Om aja yang jelasin. Om sama Papa kamu ada kesepakatan.”
“Kesepakatan?”
“Kamu nggak perlu mengetahuinya sekarang tapi Desta akan tinggal sama kamu untuk sementara” jelas ayahnya Desta.
“Apa Pa?” tanya Desta heran.
“Pa……. ini bukan main-main kan?” tanya Ira.
“Ini beneran. Om ada keperluan ke luar kota. Tadinya Desta mau om tinggal sendiri di rumah tapi karena suka pergi malem dan takutnya sering bolos sekolah jadi om titipin di sini.”
“Kenpa harus di sini?” tanya Ira.
“Itu kesepakatan Om sama Papa kamu. Om tau kamu benci sama Desta tapi………..”
“O……… Papa harap kamu mau akrab sama Desta.” Mohon ayahnya Ira kepada Ira.
“Desta itu nyebelin terus ih…….. males ah nyebutin kejelekan dia. Kayak nggak ada kerjaan lain aja.” ucap Ira.
“Apa loe bilang?” tanya Desta.
“Nyebelin. Mau jawaban yang lain?” jawab Ira.
“Papa akan sita kartu ATM kamu dan beberapa fasilitas lainnya” ucap papanya Desta kepada Desta.
“Apa Pa? Semua ATM sama Fasilitas?”
“Gak semua ATM kamu. Papa cuma kasih sat uterus kamu boleh pake mobil tapi dengan Ira biar nggak ngebut. Papa nggak suka kejadian kemarin-kemarin, yang kamu kecelakaan. Untung nyawa kamu masih selamet. Kamu juga nggak boleh keluar lebih dari jam sembilan malam. Papa udah ngatur semuanya dan kalau kamu nggak ngelakuinnya, nggak ada satu fasilitas pun yang akan Papa berikan.” Jelas Ayahnya Desta.
Malam itu Desta langsung tinggal di rumah Ira. Desta tidur di kamar tidur yang bersebelahan dengan kamar Ira. Ira begitu kesal dengan semua ini.
Pagi itu mau tidak mau Ira dan Desta harus berangkat bersama. Teman sekelas sangat heran melihat ini semua. Kemarin mereka berkelahi layaknya kucing dan anjing tetapi sekarang?
“Ehm……… ada penghianat nih” ucap Livtin.
“Maksud loe?” tanya Ira.
“Berangkat sama Desta apa itu?” tanya Yuke.
“Terpaksa kali. Lagian gue juga gak mau kalo bukan karna ortu gue” jelas Ira.
“Ortu loe?” tanya Ryan.
“Yaps. Ortu gue sama ortu anak blagu itu temen baik. Mau nggak mau. Udah gitu dia tinggal sementara di rumah gue lagi.”
“Apa!” tanya Ardi.
“Huh. Awalnya sebel sih tapi bisa ngerjain dia lebih luluasa.”
“Kalo gitu sering-sering aja ke rumah Ira biar bisa ngerjain tuh anak blagu” usal Serli.
“Gue setuju sama usul loe. Biar tau rasa tuh anak” lanjut Ardi.
“Ok.” Lanjut setuju Ira.
Hari itu Serli, Vivi, Andien, Ardi, dan Ryan menginap di rumah Ira. Mereka saat itu mengerjai Desta. Ucapan kasar selalu di lontarkan ke Desta. Desta sangat marah dan sempat terjadi keributan antara Desta dan Ardi. Hari itu kedua orang tua Ira tidak ada di rumah. Ira sedikit kasihan karena ia tahu masa lalu Desta yang suram tetapi jika melihat sikap Desta yang menjengkelkan ingin rasanya terus mengerjai dia.
Saat itu Ira keluar kamar malam-malam. Entah apa yang membuat Ira ingin ke luar tetapi ada sesuatu yang membuatnya ingin keluar. Ternyata Desta juga sedang di luar kamarnya.
“Ira!” seru Desta yang memanggil IRA.
“Apa? Mau apa lagi loe?”
“Jujur sebenernya gue sayang sama loe.”
“Berapa cewek yang denger ucapan loe itu?”
“Ini serius. Belum pernah gue sesayang ini sama cewek.”
“Terus?”
“Gue benci sama cewek karena masa lalu gue tapi loe ngerubah pola fikir gue.”
“What?”
“Sorry. Bukannya gue bohong tapi memang kata-kata ini pernah gue ucapkan sama cewek lain tapi ini jujur.”
“Jujur bohong?”
“Gue berani sumpah dan…………”
“Berani mati?”
“Kalo loe yang minta nggak masalah”
“Mati aja loe biar semua orang nggak liat tampang loe yang sok polos!”
“Kita di………”
“Di………..apa?”
“Ortu kamu belum bilang?”
“Apa?”
“Ya. Ya udah. Nggak penting.”
“Sorry. I tired pay attention to you.”(maaf. gue lelah dengerin loe)
“Tired?” (lelah)
“You exceedingly have a lot of speak. Understand?”(loe terlalu banyak bicara. Mengerti?)
“Kalo loe benci bilang.”
“Ya udah gue bilang. Gue. Benci. Loe! Puas!”
“Ok. Tapi liat aja nanti.”
Beberapa hari kemudian Desta mengalami perubahan drastis. Ia tidak terlalu sombong. Angkuh, pokoknya semua sifat buruknya tidak terlihat. Ia tiba-tiba meminta maaf kepada semua teman sekelasnya. Satu algi, Desta mengaku bahwa ia mencintai Ira dengan tulus dan tanpa kebohongan kepada teman sekelas.
“Ini sebagai permintaan maaf gue” ucap Desta sambil memegang tangan Ira.
“Serius nggak nih loe tobatnya?” tanya Ardi.
“Gue bersumpah untuk nggak ngeremehin orang lagi.”
“kayaknya nih anak bisa di percaya” lanjut Agung.
“Ya. Kalo gue liat dia nggak bohong” lanjut Serli.
“Desta. You want become different? (kamu mau berubah)
“Kalo ada kemauan pasti bisa.”
Saat itu Ira langsung pergi. Di lain sisi Desta telah di maafkan oleh teman satu kelasnya. Namun Ira masih tidak mempercayai hal itu. Tetapi perasaan Ira mengatakan bahwa ada cinta di hati kecilnya. Ira tidak menyukai Desta karena sifatnya tetapi masa lalunya adalah pokok dari sifat Desta yang sangat negativ.
Malam itu kedua keluarga berkumpul. Keluarga Ira dan Desta. Ira dan Desta sedikit berhubungan baik karena Desta telah berubah tetapi untuk menerima cinta Desta sangat sulit. Jujur Ira mencintai Desta tetapi ia masih ragu.
“Ira. Papa mau kasih tau kamu kalau sebenarnya kamu sama Desta itu di jodohkan.”
“What?”
“Iya. Gue sayang sma loe. Memang ini bukan zamannya Siti Nurbaya tapi tanpa perjodohan ini gue memang sayang sama loe.” Jelas Desta.
“Om sengaja pindahin Desta supaya bisa deket sama kamu dan kayaknya berhasil” ucap ayahnya Desta.
“Mama juga setuju kamua sama Desta.”
“Ok Ma, Pa. Ira tau ini keputusan Mama sama Papa tapi Desta itu kan……. Ada sih. Sedikit tapi sedikit banget……….. ya………..ya……gimana jelasinnya ya…..”
“Ya udah kamau sama Desta mending bicara berdua aja” usuk Mamanya Ira.
Ira dan Desta pun hanay berbicara berdua. Entah kenapa Ira langsung memeluk Desta. Iuh…….tidak di sangka Ira memiliki perasaan yang sama.
“I love you………” ucap Ira pelan berbisik.
“I already experience that from early.” (aku sudah merasakan itu dari awal)
“I sure, you can become different” (aku yakin kamu bisa berubah)
“I love you to”
“I love you”
Akhirnya Desta bisa berubah dan Ira bisa merubah sifat Desta. Mereka juga bisa saling mengerti satu sama lain dan saling memahami. Semua yang membenci Desta telah menjadi temannya dan ini akan terus selamanya. Persahabatan, cinta, pertemanan, permusuhan, dan segala hal yang menjadi sebuah arti penting dalam kehidupan merupakan sesuatu yang indah walaupun itu menyakitkan. “That happiness be in hand we as long as love be still  (kebahagiaan itu ada di tangan kita selama cinta masih ada)
By: Aula Nurul M. (3 April 2009)
Thanks buat
- Mutiara Azilla (alumni SMPN 19 BandarLampung)
- Almira Eka Damayanti (Alumni SMPN 19 bandarlampung)
- Alam Firdaus
- Rizky Kurniawan
- Anissa martiah
- Okta Aprianto
- Suci
- Myta tri Apsari

Ruginya Merokok



Nama                    :  Aula nurul ma’rifah
Kelas                     :  7a (jaman dulu)
Mata pelajaran       :  Bahasa Indonesia
Tugas                    :  Membuat karangan tentang rokok     
Guru                     : Ibu Hariati Kadi

Ruginya merokok
         Rokok adalah sesuatu yang terdengar tidak asing lagi bagi kita, bahkan banyak yang mengonsumsinya. Memang rokok sangat mempengaruhi kesehatan pernafasan bagi kita. Yang tidak mengonsumsinyapun dapat tergangggu. Misalnya jika seseorang merokok dan kita di dekatnya, pasti kita menghirup asap tersebut yang akan membuat kita sesak nafas. Rokok dapat menyebabkan penyakit kanker bagi yang mengonsumsinya terus-menerus. Di setiap jenis rokok pasti ada larangan merokok dan akibat dari mengonsumsi rokok, tetapi hal itu bukan suatu masalah bagi para pengonsumsi rokok. Rokok telah merajalela ke mana-mana. Bukan hanya orang dewasa saja yang mengonsumsi rokok. Dikalangan remaja serta pelajarpun ada yang mengonsumsinya. Mereka mengetahui bahwa rokok sangat berbahaya bagi mereka, tetapi mereka tidak memperdulikan hal itu. Jiak telah terserang kanker, siapa yang bisa menduga jika nyawa menjadi taruhannya. Padahal yang membuat penyakit itu adalah mereka sendiri.    
         Bagi seorang yang telah lama mengonsumsi rokok, mereka sangat sulit untuk melepas kebiasaan mereka. Biasanya seorang pengonsumsi rokok sudah mengenal rokok saat mereka remaja. Mungkin ada yang bilang bahwa seseorang yang tidak merokok kurang gaul. Semua itu salah besar jika taruhannya nyawa. Entah mengapa rokok menjadi sangat penting bagi yang mengonsumsinya. Bukankah rokok sangat merugikan bagi diri sendiri, apa lagi mengganggu saluran pernafasan kita. Bagi yang tidak mengonsumsipun dapat terganggu pernafasannya karena menghirup asap rokok. Rokok dan pengonsumsinya dapat kita temui di mana-mana. Di tempat umun, di jalan dan sebagainya. Jika seseorang mengonsumsinya di tempat umum akan mengganggu orang lain yang berada di sekitarnya karena asap rokok akan menyebar.
         Bukan hanya orang dewasa saja yang mengonsumsinya. Remaja bahkan pelajarpun ada yang mengonsumsinya. Banyak kita temui seorang pelajar yang sedang merokok. Mereka merokok secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Semua orang tua pasti tidak ingin anaknya yang masih seorang pelajar merokok. Tetapi bisa saja anak melihat orang tuanya sedang merokok, lalu ia ingin mencoba dan mencicipinya. Jika sekali mencoba akan merasa suka, maka bisa saja akan terus-menerus dan manjadi kebiasaan. Ada juga yang awalnya cuma coba-coba untuk mengikuti temannya lalu terjerumus. Apa untungnya merokok?. Mungkin merokok untuk menenangkan fikiran atau untuk bersenang-senang atau ada alasan yang lain. Tidak ada untungnya merokok jika menimbulkan penyakit yang akan mempertaruhkan nyawa kita.
         Ada beberapa cara untuk menghindari rokok. Yaitu: hidup sehat, menghindari pergaulan bebas, tidak terpengaruh teman yang sedang merokok, dan sebagainya. Cara penyembuhan penyakit yang di sebabkan rokok yaitu kanker, dan  sangat sulit untuk mengobatinya. Pergaulan yang terlalu bebas akn membuat seseorang bisa mengonsumsi rokok, bahkan narkoba sekalipun. Bukankah itu sangat berbahaya. Kaberadaan rokok  mengganggu bahkan sangat mengganggu semua orang. Bagi kesehatan pengonsumsinya atau yang tidak mengonsumsinya sama sekali. ada yang menganggap bahwa rokok menimbulkan banyak jerawat. Kalau benar, betapa ruginya. Wajah bisa menjadi rusak dan penuh jerawat dan sepertinya seorang yang mengonsumsi rokok biasanya memiliki jerawat yang cukup banyak.
         Rokok sangat di angggap merugikan bagi semua orang. Yang mengonsumsi atupun yang tidak mengonsumsinya. Di mana-mana pasti kita melihat orang yang merokok. Di jalan, di pasar, dan tempat umum lainnya. Sering sekali kita batuk jika kita bertemu dengan orang yang sedang mengonsumsi rokok. Memang rokok sangat merugikan, namun semua itu bukan masalah. Bagi seorang yang sudah mengonsumsi rokok pasti akan terus mengonsumsinya. Kebiasaan merokok bisa di hilangkan. Mungkin dengan memakan sesuatu. Bisa saja permen atau lain sebagainya. Semua itu tidak akan sulit jika di jalani sungguh-sungguh. Namun bagi yang tak mau berusaha tak akan bisa.

Cerpen - Percaya Gak Percaya HUKUM KARMA itu ada



Percaya Gak Percaya
Hukum Karma itu ada
(FIKSI)

Ini sebuah kisah tentang kehidupan gue. Kisah ini nyadarin gue akan hal yang sama sekali gak pernah gue percaya. Tapi ketidak-percayaan itu gak terbukti karena gue ngalamin sendiri.
Ups…… sebelum gue cerita, gue mau ngenalin diri dulu.
Nama gue JESICA atau temen-temen manggil gue dengan sebutan JESIE. Gue lahir di Semarang pada tanggal 25 Juni 1992. gue sekarang sekolah di SMU Taruna Jaya. SMU ini adalah sekolah faforit lho……………………………
Gue punya dua sahabat yang kebetulah satu SMU, bahkan satu kelas. Mereka adalah Chika dan Afryan. Chika adalah sahabat yang ngertiin gue banget dan Afryan………………  Jujur dari awal gue kenal sama Afryan, gue udah sedikit ada rasa tertarik. Afryan sih gak tau, apa lagi Chika. Gue tau kalo Afryan itu suka sama Chika. Chika sih gak terlalu peduli tapi gue yakin kalo Chika juga ada perasaan yang sama. Gue seneng satu sekolah sama Afryan tapi……. Chika? Ih….. tau deh. Sahabat or cinta?
Walaupun gue suka sama Afryan tapi saat itu sulit untuk terlalu nunjukin perasaan gue. Saat itu gue masih ngejalin hubungan sama Gilbert. Pacar gue sih ‘pastinya’ gak tau tapi lama-lama Gilbert mulai curiga. Kalo di pikir-pikir hubungan gue sama Gilbert mulai renggang dan akhirnya kita putus. Gue sempet ngejalin hubungan sama beberapa orang setelah gue putus sama Gilbert tapi berakhir dalam jangka waktu yang singkat banget. Paling lama sih sama Jason. Jujur Jason tau kalo gue itu suka sama Afryan. Empat bulan hubungan gue sama Jason baik-baik aja tapi pada bulan ke lima akhirnya putus juga.
Ada satu cowok di kelas, bisa di bilang sih temen baik Afryan di SMU. Banyak yang bilang tuh cowok mau menang sendiri, banggain kekuasaan, & angkauh ‘pastinya’. Dia anak pemilik yayasan. Namanya Ariel. Bisa di bilang dia lumayan cakep tapi ke angkuhannya itu menjadi penyebab banyak yang gak suka sama dia. Suatu ketika dia nembak gue. Wajar sih karena gue (Seorang Jesie gitu….) terkenal di sekolah. Terus gue tolak aja kerena alesan masih sayang sama mantan gue (Jason). Padahal gak benget, secara gue itu sayang sama Afryan.
Semenjak kejadian itu, Ariel jadi sedikit benci kali ya…… bodo deh! Peduli apa gue? Lagian gue gak deket-deket amat sama dia & gak masalah dia benci sama gue. Lama-lama-lama banget berlalu. Gue ngerasa aneh deh. Kok gue jadi mulai merhatiin Ariel. GAK MUNGKIN!!! Gue jadi gak ada rasa lagi sama Afryan tapi kok gue jadi suka sama Ariel. Aduh! HUKUM KARMA nih buat gue.
Nasi udah jadi bubur. Mau apa lagi? Dia yang awalnya ……… ya gitu deh. Sekarang gue yang balik suka tapi terlambat. Aduh! Nyesel deh. Dia ngasih respon dingin sama gue. Sebel sih tapi kalo di fikir secara logis, ini salah gue. Dia udah gak tau…….. apa yah. Gue juga gak ngerti yang jelas semua salah gue.
Gue sadar kalo ini semua salah gue. Gue udah nodai persahabatan gue, nyia-nyiain hal yang indah, & nyakitin hati orang. Kali ini HUKUM KARMA buat gue yang banyak salah. ternyata sesuatu yang gak gue percaya malah terjadi pada diri gue. Nyesel deh makan omongan sendiri.
Sekarang gue masih sendiri untuk nyoba berfikir secara positif. Gue juga berada dalam kisah dimana gue gak ada peran. Gue sadar kalo ternyata HUKUM KARMA itu berlaku buat gue. i…… uh.
Intinya HUKUM KARMA itu berlaku untuk semua orang nggak terkecuali gue. sakit sih ngerasain itu tapi itu buat gue lebih tegar dan menghargai perasaan orang lain. Semenjak itu gue ngehargai apapun yang orang katakana sama gue. mau itu baruk atau baik dari pada kena HUKUM KARMA lagi. Semoga nggak terjadi lagi deh.
Thank you udah mau dengerin cerita gue. gue JESIE cerita apa adanya lho. Sedikit ada perubahan tapi itu intinya.
By: Aula Nurul m. (13 maret 2009)
(Percayalah akan Hukum Karma. Siapa tahu nanti terjadi sama diri kamu.)
------------------------------Thank you very much------------------------------

Bukan kisah nyata dan karangan belaka.

cerpen - 50:50 ending


50:50 Ending
Hari itu Amara merasa dirinya sangat pusinng sekali. Ini mungkin suatu kesalahan besar tetapi hati memang yang mengatakan semuanya begitu saja. Baru satu minggu ia berpisah dengan Yoseph tetapi hatinya terbawa dengan seseorang yang tidak lain adalah teman sekelasnya sendiri, yaitu Ryan. Amara duduk di kelas XI IPA 2. sebenarnya semua itu sudah ia rasakan sejak lama tetapi ia belum begitu yakin sepenuhnya.

Semakin lama Amara memendamnya, semakin besar rasa cintanya. Namun di lain sisi Ryan menaruh hati kepada Chintya yang tidak lain adalah teman dekat Amara walaupun bukan sahabat. Memang saat Ryan mengungkapkan perasaannya, Chintya tidak menjawab tetapi hati Amara terasa sakit. Dilain sisi Amara tidak ingin membuat Ryan membencinya. Baru kali ini Amara merasakan sesuatu yang sangat berbeda walupun berkali-kali ia pacaran. Sayangnya seseorang yang ia cintai justru mencintai orang lain.

Amara berusaha melupakan Ryan namun sangat sulit sekali untuk melakukannya. Ia berusaha untuk tidak berbicara kepada Ryan walaupun biasanya mereka sedikit menjalin pertemanan. Dari hari-kahari dan minggu-keminggu, lalu waktru terus berjalan. Amara tidak lagi berbicara kepada Ryan dan waktu paling lama ia berbicara kepada Ryan tidak lebih dari satu menit. Memang sangat sulit untuk melakukan itu tetapi usaha tidak salah juga. 

Amara menjadi jauh dari teman sekelasnya. Ia jarang sekali berada dikelas dan sering berada dikelas lain. Diajak pergi dengan teman satu kelasnyapun ia menolak dan lebih senang menghabiskan waktu dengan teman yang sebenarnya memiliki sisi negative yang besar. Memang banyak sisi negative dari teman barunya diluar sekolah tetapi ia masih terjaga untuk tidak memakai obat-obatan telarang. Sulit bagi teman sekolahnya untuk menghubungi Amara karena ia juga tidak tahan sekolah disitu. Amara ingin pindah sekolah, namun kedua orang tuanya tidak memberi izin.ia mulai jauh dari kehidupan dikelasnya dan ia tidak ingin mengenal sisi yang indah dari suasana yang ada dikelas. Ia mencintai Ryan, namun Chintya menghalaginya. Memang Chintya teman baik Amara, namun Amara sendiri memiliki kebencian pribadi walaupun rasanya semua itu semakin menyulitkannya. Selain itu AMara membenci semua teman yang ada disekolah karena mereka mengharapkan agar Chintya menerima cinta Ryan. Amara tidak menerima akan hal itu.

Di lain sisi yang berbeda ada yang mengungkapkan perasaan hatinya kepada Amara. Ia adalah Raffi seorang siswa yang tidak terlalu dikenal Amara walaupun masih satu kelas karena Amara tidak ingin mengenal teman sekelasnya. Amara masih berfikir dan ada niat untuk mencoba walaupun hanya sebagai pelampiasan tetapi niatnya diurungkan karena ia juga berfikir bahwa seseoarng juga memiliki hak untuk mengetahui sebuah kejujuran. Sekolah masih diutamakan oleh Amara tetapi saat bel pulang sekolah, ia langsung pergi dengan teman-teman yang bisa dibilang sedikit berandalan. Hal itu bertolak belakang dengan Amara yang dulu, ia adalah remaja feminism, Anggun, serta menyukai sesuatu yang hening. Sekarang justru semuanay berubah bukan 180 derajat lagi, malainkan 360 serajat.

Amara terlalu menghindar dari Ryan akrena ia tidak ingin merndengar satu kata yang terucap dari bibir Ryan karena itu akan membuat sulit untuk melupakan sesuatu yang tersimpan dalam hatinya. Ia tahu Chintya menolak Ryan tetapi dari mata Chintya, Amara dapat menebak bahwa sebenarnya Chintya juga memiliki rasa yang sama. Entah mengapa, Amara sendri tidak mengerti apa yang telah terjadi. Ia merasakan suatu kebimbangan yang melanda dalam dirinya. Ia jauh dari teman-teman sekolahnya dan ia sering sekali berjalan dikoridor sekolah dengan wqajah yang menyeramkan. Ia menjadi seseornag yang pemarah, terkadang diam, dan terkadang tertawa sinis tanpa alasan.

Ia membenci semuanya! Teman yang dianggapnya baik, telah menusuknya dari belakang. Amara tidak menerima semua ini karena seharusnya CHintya jujur saja pada dirinya bahwa ia memili rasa yang sama terhadap Ryan. Semuanya dalam sebuahy rahasia yang sulit diungkap. Amara dan Chintya adalah wanita dan keduanya pasti mengetahui apa yang telah terjadi satu sama lain. Namuin semuanya diam dan tidak bisa berkata memberi alasan.
Ryan dan Amara tidak pernah saling berkata walaupun hanya satu kata. Semuanya menjadi begitu hitan dan Ryan maish mengharapkan cinta dari Chintya. Sakit yang Amara raskan begitu besar sampai ia bingung arti dari hidupnya. Semuanya dalam rahasia yang tidak terungkap dan sampai saat ini tidak ada yang mengetahui arti atau akhir dari kisah ini. (sorry, Endingnya belum tau)

judul-nya 50:50 ending krn emang gk dapet endingnya apa 

oleh : Aula Nurul Ma'rifah

cerpen - Tipe kita berda tapi nasib kita sama -


Tipe kita beda tapi nasib kita sama


Pernah nggak kalian merasa ada perbedaan di persahabatan kalian? Dan apa pernah rasanya sakit hati? Kalo perbedaan pasti ada dan kalo sakit hati ada sih tapi sakit baget. Sakit hati itu rasanya kaya’ di tusukin pisau di hati kita dan nggak bisa nyabutnya. Susah banget untuk ngobatin sekeras apapun itu.
Nah, ini ada cerita dua sahabat. Rara dan Caca. Mereka bersahabat sejak kecil tapi sering banget ejek-ejekan. Terutama soal cowok lah. Mereka sekolah di SMP Nusantara kelas 3 SMP. Sekolah ini adalah yayasan yang selain SMP, satu gedung juga dengan SMA.
Kalau Rara pernah pacaran sama anak SMA Nusantara yaitu Ray dan Caca justru pacaran sama adik kelasnya yaitu Micky. Rara lebih suka cowok yang umurnya diatas dia, yang jelas nggak lebih dari 3 tahun. Sedangkan Caca selalu pacaran dengan orang yang umurnya di bawah dia. Aneh deh.... sekarang keduanya udah mau lulus dan akan melanjutkan ke SMA Nusantara. Keduanya juga sama-sama lagi jomblo. Mereka mau belajar dulu dan istirahat supaya nggak di ganggu. Kan mau UN.
Rara dan Caca memang dua cewek yang sangat di kenal di sekolah. Mereka masih SMP tapi kalau melihat penampilan mereka dapat di katakan bukan anak SMP. Keduanay berpenampilan sangat dewasa dan dengan itu banyak sekali anak SMP yang seumurna serta SMA Nusantara mengejar keduanya. Tapi sayangnya dua cewek ini susah banget dapet cowok yang mereka mau. Pacaran juga terlalu milih-milih.
“Ra!” Panggil Caca ke Rara.
“Nggak usah teriak-teriak dong. Gue denger kali.” Rara kesel.
“Tadi gue ketemu Ray di gerbang. Terus dia narik gue dan ngasih ini supaya di kasih ke loe.” Jelas Caca dan memberikan hadiah dari Ray.
Setelah di buka ternyata isinya coklat. Rara tentunya kesel karena dia tidak menyukai cokelat karena dia alergi sama makanan itu. Memang Ray sering sekali memberi Rara cokelat saat mereka berpacaran walaupun ia tahu Rara tidak akan memakannya.
“Mau nggak?” tanya Caca.
“Buat loe aja deh.” Jawab Rara.
“Eh, gimana nih hubungan loe sama Micky. Secara yang mutusin kan Micky sendiri, bukan loe.” Ucap Rara karena yang minta putus itu memang Micky.
“Nggak usah di bahas deh.”
UN pun berlangsung dan waktu semakin berjalan. Keduanya lulus dengan nilai bagus. Mereka sekolah di SMA Nusantara. Masih satu kelas dan lebih serunya lagi karena Rara jadi adik kelasnya Ray. Ray sendiri kelas 3 SMA dan kalau Micky sendiri masih di bangku SMP kelas 3 di SMP Nusantara. Tentunya masih sering ketemu. Sekolah sudah berjalan 1 bulan.
“Ra, jujur ya. Gue sebenernya suka sama Arvan.” Akui Caca pada Rara.
“Dia kan adik kelas kita. Kelas 3 SMP lagi. Sekali-kali loe itu cari dong yang seumuran sama loe.” Jelas Rara.
“Mau gimana lagi. Guenya udah suka.”
“Sial ya nasib kita. Setiap suka sama cowok tapi dianya nggak suka. Malah banyak cowok cakep yang ngejer tapi kitanya nggak suka.”
“Kenapa loe juga harus sial?” tanya Caca penasaran.
“Gue suka tau sama guru paraktek kita.” Jelas Rara karena memang ada guru paraktek di situ.
“Siapa?” Caca ingin tahu.
“Itu Pak Lendro.” Jelas Rara dan Caca kaget banget.
“Apa! Loe gila tau nggak sih. Beda umur loe sama dia kan 6 tahun.”
“Dari pada loe sama adik kelas. Mending juga gue.” Caca kepedean.
“Tau ah! Pusing tau.”
Kedua sahabat ini kalau suka dengan orang pasti salah melulu. Caca yang sukanya sama di bawah umur dia 2 tahun dan Rara di atasnya 6 tahun. Bener-bener gila dua sahabat ini. Memang Lendro adalah guru paraktikum dari salah satu Universitas yang terkenal dan mengajarkan pelajaran Fisika. Dia cakep dan baik tapi sayangnya ketuaan buat Rara. Rara sendiri aja bingung karena bisa suka sama dia.
Hari itu adalah malam from untuk SMP kelas 3 dan seluruh siswa SMA Nusantara. Saat dansa saling mengambil pasangan masing-masing. Rara masih dengan Ray dan Caca dengan Micky. Keduanya berdansa seolah masih memiliki ikatan.
“Sepertinya dua pasangan itu akan kembali lagi.”ucap pembawa acara keras-keras.
Dua pasangan itu yaitu Rara dengan Ray, Caca dengan Micky membuat semua orang terpesona melihatnya. Satu demi satu peserta yang dansa duduk dan tinggal Caca dan Rara yang berdansa. Semua orang kagum melihat mereka berdansa karena sangat-sangat indah. Rara dan Caca sendiri justru matanya ke arah seseornag yang mereka suka yaitu Lendro dan Arvan. Kalau Ray pastinya curiga tapi Micky biasa saja karena ia juga tidak ada niat kembali kepada Caca.
“Kamu kenapa?” tanya Ray masih berdansa.
“Nggak kok.” Jawab Rara dan mereka terdiam dalam ucapan sambil dansa.
“Kamu suka sama Arvan?” tanya Micky yang sudah tahu.
“Kurang lebih gitu.” Jawab Caca santai.
“Aku kira setelah putus kamu nyari yang seumuran.” Kata Micky lalau melanjutkan dansa kembali.
Rara dan Caca masih berdansa dan semua orang melihat ke arah mereka.
“Oke! Acara selanjutnya tetep dansa tapi dengan mata di tutup. Kalau kalian ngerasa yakin pilihlah pasanga kalian dan harus dansa sampai musik berhenti kalian harus diem kaya’ patung. Eh, bukan cuma kalian tapi guru-guru sekolah kita juga guru paraktikum akan ikutan main ini.” Jelas pembawa acara.
Musik dimainkan dan mata ditutup. Masing-masing mencari pasangan mereka. Musik berhenti dalam keadaan mata tertutup. Penutup mata di buka dan betapa senangnya Caca ternyata di hadapannya adalah Arvan. Dan Rara juga bersama Lendro alias guru parktikum di sekolahnya. Rara seneng tapi dia agak aneh aja apalagi pada ngeliatin gimana gitu. Ray sendiri keliatan nggak suka dan ia pergi dari lantai dansa lalu duduk di mejanya.
Musik dimainkan kembali. Saling berdansa dan bertatapan mata. Rasanya dua sahabat ini merasakan sesuatu yang berbada walaupun pada dasarnya mereka sendiri bingung kenapa mencintai orang yang salah besar. Dansa pun berakhir lalu saat pengumuman dansa terbaik dari permainan taid adalah pasangan Caca dan Arvan. Semua orang memberi tepukan bahagia. Rara sendiri duduk di mejanya besama Lendro.
“Memang bener Caca selelu suka sama orang di bawah umurnya?” tanya Lendro.
“Nggak tau Pak.” Jawab Rara.
“Jangan panggil saya pak. Panggil aja Kak bisa.”
“Tapi kan.....”
“Anggeplah kita temen. Aku mau kok temenan sama kamu karena dari semua murid, kamu paling dewasa di sekolah ini.” Ucap Lendro tersenyum manis. Rara sendiri senang karena mereka bisa jadi teman dan bisa berbicara seperti teman. Selain itu keduanya juga cepet nyambung kalau berbincang karena Rara sendiri memang anak yang fikirannya sudah dewasa.
“Kak, tapi gimana kata temen lain kalo manggilnya kak?”
“Biarin aja.” Ucap Lendro lalu pergi dari hadapan Rara.
Caca kembali duduk dan Arvan pergi bergabung bersama teman-temannya.
“Gue maju nerima penghargaan, loe seneng ya deket nih sama itu...tuh..... kak Lendro.” Ucap Caca yang sedikit mendengarkan pembicaraan Rara dengan Lendro.
“Ih!” Rara kesel.
“Tapi seneng kan?” goda Caca.
“Kaya’ loe nggak seneng aja dapet penghargaan dansa paling romantis sama Arvan.” Sindir Rara balik dan Caca justru mengganggap itu pujian.
“Emang gue seneng. Terus kenapa? Ini from night paling the best selama ini.” Ucap Caca senyum.
Hari itu ada ekskul di sekolah. Arvan main basket dengan bagus banget dan Caca ngeliatin melulu sampe matanya nggak berkedip. Emang baru kali ini Caca sukanya berlebihan. Memang ya cinta itu susah untuk di tebak karena cinta itu sulit banget untuk di mengerti, dipahami, and paling susahnya dimiliki. Cari pacar gampang bagi Caca dan Rara tapi kalau cari Cinta itu bagi mereka susah, susah, dan susah benget.
“Hei!” ucap Rara yang datang mengagetkan Caca yang sedang melihat Arvan main basket.
“Pelan dong. Ganggu konsentari aja.” Caca sebel.
“Ya deh yang lagi merhatiin Arvan.”
Arvan dan timnya selesai main basket tapi Caca masih memperhatikan terus. Rasanya memang Caca terlalu suka sama Arvan. Cinta ini aneh apalagi dua sahabat ini mencintai orang dengan posisi yang salah banget. Arvan masih di sana dan beberapa saat kemudian Lendro dateng lalu mengajak Arvan main basket. Ajakan itu di terima dan Rara juga kagum karena ternyata orang yang di suka itu bagus banget main basketnya. Tapi dalam hati Rara rasanya ada yang aneh jika ia harus suka dengan Lendro. Ia sendiri tidak tahu mengapa bisa suka tapi kalau perasaan itu sudah datang, mau diapakan lagi?
Rara dan Caca masih melihat pangeran mereka dengan bahagianya.
“Ra, kalau gue perhatiin ternyata pak Lendro sama Arvan kok mirip ya?” pikir Caca.
“Ya tah? Kaya’nya nggak deh.” Rara menjawab dengan santai.
“Loe kenapa kok kaya’nya sedikit lesu?” tanya Caca.
“Mendingan loe, loe suka sama Arvan yang masih satu Skolah tapi gue.... huh, kalo dia bukan guru praktikum aja, pasti nggak akan kaya’ gini.”
“Emang sih aneh. Lucu aja tapi menurut gue itu nggak salah karena cinta itu datang nggak di undang.”
“Nggak di undnag dan buat kepala pusing?”
“Ya bukannya gitu tapi.... tau ah! Enti gue ikutan pusing lagi.”
Tiba-tiba Arvan dan Lendro menghampiri Rara serta Caca. Mereka sudah selesai main basket.
“Hei,....” kata Arvan menyapa.
“Kalian bagus main basketnya.” Puji Rara.
“Karena kamu suka sama Arvan?” tanya Lendro.
“Nggak kok pak.” Caca mengelak.
“Iya juga nggak apa-apa kali.” Sambung Rara.
“Pak, menurut saya kalian mirip deh.” Ucap Caca.
“Mana mungkin kakak adik nggak mirip?” kata Lendro.
“Ha?!” Rara dan Caca keget banget.
Kedua sahabata itu diam sesaat karena mereka tidak akan menyangka bahwa seseornag yang mereka sukai akan punya hubungan darah. Semua ini tidak di sangka sama sekali dan juga tidak di duga.
“Ca, kamu udah nonton latihan aku dari tadi. Mau aku anterin pulang nggak?” Arvan menawarkan.
“Oke.” Ucap Caca lalu pergi dengan Arvan.
Rara dan Lendro masih berdua di sana.
“Aku nggak nyangka kamu sama Arvan kakak berakdik.” Ucap Rara.
“Arvan itu sebenernya suka sama Caca tapi nggak tau kelanjutannya gimana.” Jelas Lendro.
“O, ya. Semenjak kamu ngajarin fisika ke aku, kaya’nya ada perubahan deh.”
“Perubahan apa? Bukannya dari dulu kamu udah pinter.”
“Emang tapi paling males buat catatan dan semenjak kamu jaid paraktikum sesekali masih mau nyatet walaupun jarang banget.”
“Walaupun nggak nyetet juga, kamu tetep pinter.”
“Ngibul.”
Mereka berdua saat itu memang banyak bicara. Landro sendiri orang yang suka bercanda jadi mambuat Rara senang.
Di lain sisi yang berbeda ternyata Arva mengajak Caca ke sebuah tempat kesukaannya. Ia mengajaknya ke bukit yang indah banget dan itu membuat Caca senang.
“Sewaktu kecil aku sering ke sini. Tempat ini memang nggak bisa di lupakan.” Jelas Arvan.
“Nggak salah kok kalo kamu suka sama tempat ini. Selain sepi, sunyi, juga damai jadi buat hati sejuk.” Kata Caca senang.
“Kamu suka tempat ini?”
“Bukan suka lagi. Banget malah.”
Kaduanya saling bicara seaikan mereka sudah memiliku ikatan dan ketika tidak ada pembicaraan lain, mau tidak mau membiacarakan Rara dan Lendro.
“Ca, sebenernya kakak aku memang suka sama Rara.” Jelas Arvan.
“Ha?!” Caca kaget.
“Memang aneh tapi kata kak Lendro, Rara itu dewasa jadi dia suka. Sayangnya dia nggak bisa bilang sama Rara karena Rara masih butuh belajar dan lacu aja kalo mereka jadian.” Kata Arvan.
“Coba nembak aja. Pasti Rara nerima karena Rara juga suka sama kakak kamu atau Pak Lendro.”
“Kamu sendiri masih sama Micky?” tanya Arvan.
“Nggak usah ditanya juga semua orang udah tau aku udah putus. Emang kenapa?”
“Nggak apa-apa. Cuma mau tau aja.”
Hari itu Rara dan Caca ketempat perkumpulan genk mereka yang berjumlah lebih dari seratus orang. Kedua sahabat ini paling mudah umurnya karena dari sekian orang hanya mereka yang SMA dan yang lain sudah kuliah. Tapi walaupun begitu semua anggota lain mengaggap tidak masalah karena keduanay sudah berpikiran dewasa. Rara dan Caca juga selalu di lindungi damn mereka berdua sudha menjadi anggota tetap. Di genk ini hanya ada 27 anggota tetap dan yang lain tidak tetap.
Tepat pada hari itu akan ada pelantikan anggota baru dan ada juga yang keluar karena alasan yang logis.  Jumlah orangnya ada sekitar 32. Kemarin-kemarin sudah ada seleksi dan Rara serta Caca tidak pernah datang karena sibuk sekolah. Sekarnag hanya dtanag lepantikan tapi ketua genknya meminta Rara dan Caca untuk melilih 25 orang saja dan harus ada tes lagi hari itu. Rara dan Caca senang tapi pastinay akan banyak memakan waktu. Akhirnya di ambil kesepakatan untuk bersama-sama mencari yang terbaik.
Setelah di perhatikan dari 32 orang di lihat satu persatu. Rara keget banget karena saat itu ada Lendro.
“Pak Lendro.” Ucap Caca kaget dan Lendro hanya senyum. Ia tidak menyangka bahwa siswi SMA akan bisa bergabung dengan genk ini karena untuk mausk saja susah tapi sepertinya ada yang berbeda.
“Kak, kok bisa di sini?” tanya Rara.
“Siapa loe nih anak?” tanya ketua genk yaitu Marlo.
“Dia guru paraktikum di sekoalh kita berdua.” Jawab Caca.
“O...gitu. tapi tetep dia nggak di istimewain.” Kata Marlo lagi.
“Kak, jangan di apa-apain ya?” mohon Rara berbisik kepada Marlo.
“Nanti nilai kita berdua jadi jelek lagi.” Kata Caca.
“Oke. Tapi untuk dia, gue yang nge-tes sendiri.” Ucpa Marlo.
Marlo pergi bersama 5 orang lainnya dan mengajak Lendro. Rara dan Caca sendiri takut kalau Marlo akan memakai kekarasan karena memang itu yang biasanya ia lakukan.
“Ra, apa yang di lakuin kak Marlo ya?” tanya Caca ke Rara.
“Gue takut tau. Loe tau kan kak Marlo gimana?”  ucap Rara.
“Gue takut kak Marlo nggak suka sama dia karena ngerasa cemburu.” Jelas Caca.
“Cemburu apa sih?” tanya Rara pura-pura nggak tau.
“”Loe tau kan kalo kak Marlo suka sama loe dari dulu tapi dia nggak berani bilang karena dia tau yang terbaik buat loe. Lagian kita masuk sini dengan mudah itu juga gara-gara kak Marlo. Kalo bukan karea kak Marlo suka sama loe, kita nggak kuat ngejalanin ujian dari genk ini dan pati nggak akan jaid anggota tetep.” Jelas Caca panjang lebar.
“Udah deh, loe nggak usah panjang lebar jelasin. Gue udah tau. Pokoknya kita diem aja dari pada kak Marlo marah, semua orang bisa kena amukannya.”
“Iya, kecuali loe yang nggak bakal diapa-apain.”
“Udah ah! Buat masalah aja loe. Lagian kak Marlo mana tau gue suka sama kak Lendro.”
“Jelas dia tau lah. Semua gerak-gerik loe kan pasti dia tau.”
“Jaid dia tau?”
“Terserah loe kalo nggak percaya.”
Marlo dan kelima temannya kembali tapi tidak bersama Lendro. Apa yang terjadi dengan Lendro? Entahlah, tidak ada yang tahu akan hal itu.
“Kak, mana orang yang tadi?” tanya Caca.
“Apa dia penting?” tanya Marlo santai.
“Please kak, jangan buat orang lain tersiksa.” Mohon Rara.
“Emang gue nggak tersiksa!” teriak Marlo dan semua orang saat itu jadi diem.
Beberapa saat kemudian Lendro dateng dengan wajah memar. Rara langsung menghampiri Lendro dan menanyakannya.
“Kak, kenapa kok memar?” tanya Rara walaupun ia tahu jawabannya.
“Ra, dia nggak bisa masuk genk kita.” Jelas Marlo.
“Kenapa?” tanya Rara.
“Karena aku tahu kamu suka sama dia!” Marlo marah.
“Maksud kakak?” tanya Rara kembali pada Marlo.
“Aku sayang sama kamu.”
Semua anggota terdiam tanpa suara. Marlo berlutut di hadapan Rara. “Jangan terus siksa aku” ucap Marlo kepada Rara. Marlo sudah dari dulu mencintai Rara sebelum ia mengetahu apa arti cinta.
“Maaf kak, aku harus pergi.” Ucap Rara lalu pergi bersama Lendro.
Caca masih di sana saat itu. Marlo terus saja marah-marah tanpa sebab yang mmbuat semua orang takut.
“Kak.” Ucap Caca menenangkan suasana.
“Gue nggak apa-apa. Semua lanjutin apa yang jadi tugas kalian!” ucap Marlo dan yang lainpun tidak ada yang berani melawan.
Beberapa saat kemudian Arvan datang dan mengajak Caca pergi. Caca sendiri tidak mengerti apa yang terjadi sehingga Arvan datang menjemputnya. Tapi mau apalagi, Caca pun menerima ajakan Arvan.  Tapi sayang sekali, saat itu Marlo memukul wajah Arvan juga.
“Siapa yang ngizinin loe ke sini?!” tanya Marlo marah.
“Kak, dia temen aku.” Jelas Caca.
“Oke. Tapi sekarnag ajak anak itu pergi.” Perintah Marlo.
Caca dan Arvan pergi bersama Arvan. Memang sebenarnya Marlo tidak ada niat memukul Arvan tapi karena suasana hatinya tidak baik jaid ia melampiaskannya dengan siapa saja.
“Kok kamu bisa tau aku ada di mana?” tanya Caca.
“Dari kak Lendro. Kamu nggak baik gabung sama genk ini.” Kata Arvan.
“Mungkin semua orang ngaggep genk ini kejem tapi di balik itu semua ada suatu kebaikan dan kekeluargaan.” Jelaa Caca.
“Maksud kamu?”
“Emang kenapa kamu minta aku keluar dari genk itu?”
“Karena aku sayang sama kamu.” Kata Arvan dan Caca pun tersenyum. Belum ada ikatan apapun tapi yang jelas keduanya saling menyukai.
Caca tahu seharusnya ia menjalin ikatan cinta bersama Arvan tapi tidak semua hal harus dilakukan dengan tergesa-gesa. Ia mau mendapatkan cinta dengan perjuangan yang indah.
“Ca, maaf karena aku......” ucap Arvan tidak selesai.
“Nggak ada kata maaf yang harus kamu ucapkan karena kita nggak punya kesalahan.” Jelas Caca.
Caca dan Arvan tiba di rumahnya Arvan atau juga dapat dikatakan rumah Lendro. Di sana ada Rara yang mengobati luka Lendro.
“Ehm, perhatian nih.” Kata Caca sedikit menyindir.
“Kak, aku sama Caca ke atas.” Jelas Arvan lalu ia mengajak Caca ke lantai atas.
Rara mengobati luka memar di muka Lendro. Sempat keduanya saling bertatapan tapi masih ada perasaan yang tidak menentu di antara dua manusia yang saling jatuh cinta ini.
Keesokan harinya di sekolah. Ternyata ada sebuah penyesalah besar di hati Micky karena melepas Caca dari genggaman tangannya. Tepat di gerbang, Micky menarik tangan Caca dan mencoba untuk bicara.
“Ca!” ucap Micky menarik tangan Caca.
“Lepasin!” Caca meminta untuk melepaskan.
“Ca, aku minta maaf karena ngambil keputusan yang salah.” Jelasnya.
“Maksud kamu apa?”
“Aku mau kita kaya’ dulu lagi.”
“Nggak bisa! Aku bisa maafin kamu sebagai temen tapi untuk kembali, maaf aku nggak akan pernah bisa.” Jelas Caca pada Micky lalu berbalik badan meninggalkan Micky.
“Ca!” Micky kembali menarik Caca dan berlutut di hadapannya. Caca bingung saat itu karena dalam hatinya masih ingin kembali kepada Micky tapi di sisi lain, ia juga mencintai Arvan.
“Maaf.” Kata Caca pelan.
“Aku akan nunggu kamu.” Kata Micky lagi.
Arvan masuk ke sekolah dan ia melihat hal yang sedang terjadi.
“Ca?” kata Arvan.
Caca mengajak Arvan pergi tapi Micky kembali menarik tangannya.
“Bisa lepas tangan Caca?” tanya Arvan pada Micky lalu Micky pun melepasnya.
Arvan mengambil langkah yang tidak salah karena jika ia terlambat sedikit saja, semua bisa berakibat burul.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Arvan.
“Nggak.” Jawab Caca.
“Kamu masih sayang sama Micky?” tanyanya kembali. Caca tidak menjawabnya. Ia hanya diam saja karena kalau di pikir-pikir, ia masih bingung sendiri dengan keadaan ini.
Di tempat yang berbeda, Rara sedang sendiri karena Caca sedang bersama Arvan dan yang lain sibuk dengan tugasnya. Ray mengajak Rara untuk bicara sebentar. Saat itu Rara menerimanya dan ia tahu apa yang akan di katakan Ray kepadanya.
“Apa Ray?” tanya Rara ingin tahu.
“Aku mau kita seperti dulu.” Pinta Ray.
“Maaf Ray, aku nggak bisa.” Jelas Rara pelan lalu pergi tapi Ray menarik tangannya.
“Apa karena Marlo?” tanya Ray.
“Bukan karena Marlo tapi....”
“Tapi apa?! Aku nggak akan terima alasan yang nggak bisa aku mengerti.” Jelas Rara.
Bel berbunyi dan seharusnya semua siswa masuk ke kelas. Rara ingin ke kelas tapi Ray masih menahannya saat itu.
“Aku nggak bisa jelasinnya sama kamu. Yang jelas kita nggak bisa kaya’ dulu lagi.” Jelas Rara.
“Aku cuma mau minta penjelasannya dari kamu. Itu udah cukup bagi aku.” Kata Ray lagi.
“Sedang apa kalian di sini?” tanya Lendro seorang guru parktikum.
“Nggak ada apa-apa Pak.” Jelas Ray.
“Ray, aku harus masuk kelas.”
“Aku mohon sama kamu. Ini pertama kalinya aku memohon sama orang, aku bisa terima alsan kamu.” Kata Ray lagi. Lendro sendiri saat itu hanya diam saja karena jika ia melakuakn sesuatu maka semua roang akan tahu apa perasaannya kepada Rara. Itu akan membuat seisi sekolah heran.
“Ray! Ngertiin aku!” kata Rara sedikit marah. Ray terdiam lalu ia memeluk Rara dan meninggalkannya tanpa kata-kata. Ray pun berlalu dan hanya Rara dengan Lendro sat itu.
“Dia mantan kamu?” tanya Lendro.
“Iya.” Jawab Rara singkat.
“Sekarang kamu masuk kelas.” Perintah Lendro.
Rara pergi ke kelasnya. Dalam hatinya ada sesuatu yang bingung harus terjadi seperti apa. Ia tahu bahwa Ray hanya bermain dengan cinta ini. Seisi sekolah juga sudha tahu siapa Ray sebenarnya. Ia hanya ingin berteman dengan Ray tapi tidak ingin menjalin kisah cinta lagi. Di dalam kelas kedua sahabat itu punya masalah yang sama.
“Ra, kenapa loe?” tanya Caca.
“Ray ngajak balikan. Kemaren juga gue ngerasa bersalah sama Marlo. Tapi gue sayang sama....”
“Udah Ra, nggak usah di jelasin. Gue ngerti kok. Nasib kita sama.”
“Maksud loe.”
“Tadi di gerbang sekolah gue ketemu Micky terus dia nyesel tapi Arvan ngajak gue pergi. Kemaren juga Arvan nembak gue tapi dia nggak mau pacaran sama gue.”
“Kok bisa?”
“Susah di jelasinnya.”
“Kenapa ya nasib kita sial banget.”
“Ra, gue mau keluar dari genk.” Kata Caca.
“Kenapa?”
“Arvan yang minta. Kalo menurut gue loe juga harus keluar dair genk itu untuk kebaikan loe dan semua orang.”
“Gue nggak mau lari dari masalah. Selain itu menurut gue Marlo nggak seburuk yang orang pikirin.”
“Gue tau Marlo baik tapi kalo dia marah bisa-bisa nyawa kita abis.”
“Sstt..... gurunya masuk tuh.” Kata Rara memberi tahu.
“Inimkan pelajaran Fisika. Wah, ada pak Lendro nih.” Sindir Caca.
Lendro mengajarkan pelajarn Fisika saat itu. Rara dan Caca sendiri tidak memperhatikan karena yang mereka pikirkan hanyalah masalah yang mereka hadapi. Lendro menyuruh semua siswa untuk mencatat tapi Rara tidak mencatatnya. Kalau Caca masih sedikit-sedikit mau mencatatnya. Bagi Rara mencatat itu tidak penting karena ia sudah bisa dengan semua yang harus di catat.
“Mana catatan kamu? Tanya Lendro.
“Nggak nyatet pak. Abis cape’ sih.” Rara memberikan alasan semaunya.
“Kamu merasa pintar jaid rtidak mencatat?!” Lendro marah.
“Kenapa harus nyatet kalo udah hafal.”
“Sekarnag kerjakan soal di depan.” Perintah Lendro.
“Sepuluh soal itu?” tanya Rara.
“Nggak sanggup?”
“Sanggup. Mudah lagi sayangnya nulisnya cape’”
“Cepat kerjakan kalau kamu merasa pintar.”
Rara maju ke depan dan ia mengerjakan semua soal yang memang sanagt sulit. Tapi bagi Rara itu mudah karena ia memang pintar jika mengerjakan semua pelajaran.
“Udan kan?” tanya Rara santai lalu ia duduk di kursinya.
“Gila. Loe bisa semuanya. Salut gue.” Kata Caca.
“Baik. Semuanya benar.” Kata Lendro dan ia melanjutkan penjelasannya lagi.
Hari itu Rara dan Caca ke tempat genk. Keduanya bertemu Marlo dan saat itu keadaan Marlo sudah tidak marah-marah lagi.
“Kak, maafin kita.” Kata Caca.
“Gue udah nggak marah lagi.” Jelas Marlo.
“Bener kak?” tanya Rara.
“Maaf Ra, aku kemaren salah. Aku tahu kamu sayang sama Lendro. Aku juga nggak mau maksain perasaan aku ke kamu.” Kata Marlo dengan hati ikhlas.
“Lagian Lendro juga nggak cocok masuk genk ini.” Sambung Caca.
Hari itu ada party untuk genk ini. Pada hari itu Rara dan Marlo berdanda layaknya pasangan kekasih tapi mau bagaimanapun hati keduanya tidak akan bisa di persatukan. Beberapa saat kemudian Micky datang dalam pesta itu. Aneh sekali karena anak SMP di larang masuk ke genk ini.
“Kok loe bisa di sini?” Tanya Rara.
“Nggak ada yang ngundang loe ke sini.” Ucap Caca sedikit sinis.
“Aku yang mengundang dia.” Jelas Marlo.
“Kak?” tanya Caca.
“Dia adik aku.” Kata Marlo lagi dan kedua sahabat itu kaget sekali. Selama ini belum pernah Marlo menceritakan tentang adiknya ataupun keluarga yang lain. Di sini terjadi sebuah pertengkaran besar antara Caca dan Micky. Ini di sebabkan karena Micky terlalu memaksakan diri. Caca tidak suka akan hal itu karea manurutnya satu kesalahan Micky tidak akan bisa di perbaiki sampai kapanpun.
“Maafin aku untuk terahir kalinya karena samapi kapanpun aku akan bilang tidak untuk cinta kamu ke aku.” Kata Caca.
“Ca,” Mohon Micky.
“Aku udah jelasin berapa kali ke kamu tapi kamu nggak pernah ngerti. Please, ngertiin aku untuk kali ini aja.” Kata Caca lagi dan Micky pun pergi dari party itu.
Marlo dan Micky adalah kakak beradik yang di sakiti oleh dua wanita yang saling bersahabat.
Lendro sudah tidak menjadi guru praktek lagi di SMU Nusantara. Tapi Rara masih sering menghubunginnya atau bertemu dengannya. Mereka berdua masih belum menjalin ikatan cinta apapun walaupun kenyataan mengatakan bahwa keduanya saling mencinta.
Di lain sisi yang berlainan Caca semakin dekat dengan Arvan. Mereka saling mencintai walaupun masih ada yang mengganjal di hati keduanya.
“Ca, aku mau ngomong sesuatu.” Kata Arvan.
“Aku juga ada yang mau di jelasin.”
“Aku mau kita nggak terus seperti ini. Aku sayang sama kamu.”
“Aku juga.”
Kaduanya terdiam da hening sesaat. Yang aneh dalam cinta mereka adalah status keduanya. Yang satu SMA dan satunya SMP dlaam yayasan sekolah yang sama. Tapi perbedaan bagi keduanya tidak masalah asalkan ada cinta yang tumbuh. Caca memeluk Arvan erat seolah tidak ingin berpisah.
“Aku tau status kita beda tapi semua itu bukan masalah.” Jelas Caca.
“Maafin aku karena terlambat.” Kata Arvan.
“Nggak. Kamu nggak terlambat.” Jelas Caca dan memeluk Arvan erat lagi.
Caca dan Arvan pergi ke kampusnya Lendro. Di sana ada Rara juga tapi Rara dan Lendro masih diam saja.
“Pengumuman penting.” Kata Caca yang baru datang dengan senyum bahagia.
“Pengumuamn apa nih? Kok seneng banget?” tanya Rara.
“Gue barussan jadian sama Arvan.” Jelas Caca.
“Senengnya.” Ucap Rara dan memeluk sahabatnya itu.
“Tapi aa yang kurang.” Sambung Arvan.
“Yang kurnag?” Tanya Lendro pernasaran.
“Iya ada yang kurnag kali.” Sambung Caca lagi.
“Kalian berdua belum jadian sama sekali.” Ucap Arvan.
Rara dan Lendro hanya tersenyum saja. Entah apa yang akan mereka lakukan tapi aneh saja jika hubungan ini berlanjut.
“Kak, kita temenan aja ya?” kata Rara dan ia pergi.
“Tunggu Ra,” Ucap Lendro menarik tangan Rara agar tidak pergi.
“Kak,” kata Rara lagi.
“Aku nggak mau kamu pergi dari aku.” Jelas Lendro lalu Rara memeluknya erat.
Lengkap sudah kedua sahabat Rara dan Caca untuk mencari cinta yang mereka cari selama ini dan kali ini telah mereka dapatkan walaupun banyak orang yang memandang aneh dalam cinta mereka. Perbedaan dalam cinta itu tidak masalah jika kita bisa menghapinya dengan hati tulus dan ikhlas. Karena cinta itu di awali dengan keikhlasan ahit untuk menerima satu sama lain.
By: Aula Nurul (17 Sep. 09)

Ini mungkin cerpen yang gk nyambung dan nggak enak di baca.
Hehe saya penulisnya aja males ngebaca ini cerpen karena saya juga buatnya ngasal jadi - ngasal2 aja. wkakak parah

kritik dan saran : 
niki_nawa@yahoo.com

Earning Per Share

a.      Definisi Earning Per Share Earning Per Share (EPS) atau pendapatan perlembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberik...