Selasa, 13 Januari 2015

Inilah - CERPEN

Inilah
Kutelan ludah dalam-dalam. Itu menyakitiku. Itu menghancurkanku. Tapi aku, aku tetap berdiri, bertahan di atas pijakanku.

Mungkin aku harus ke Venesia, menyewa gondola bersamanya, dan melewati semua jembatan itu. Mungkin saja, kuharap itu akan membuat ini abadi. Akan tetapi, kupikir itu hanya kepercayaan yang tidak nyata.

Pada akhirnya, semua hal akan sama. Nyatanya pun akan sama. Ini yang aku lakukan, berdiri di atas cinta yang mencabik.

“Miki jadian sama Ayu. Lo tau itu kan?” Ucap Zahara padaku. Beritanya mengejutkan tapi, semua orang disekolah tahu siapa Miki. Selalu sama, dia selalu seperti ini sebelumnya.

Aku terkadang heran, mengapa mereka bisa termakan rayuan Miki. Apa karena dia tampan? Dia kaya? Mungkin saja. Tidak ada yang dapat memastikan alasan-alasan mereka.

“Vey, apa nggak sebaiknya lo putusin itu anak? Dia udah keterlaluan.” Zahara memandang iba padaku. “Veya!”

“Nggak tau gua.” Kataku lirih. Zahara benar tapi aku tidak tahu mengapa tidak bisa pergi darinya.

Terkadang. Tidak! Maksudku seringkali aku memprtanyakan ini pada Miki. Berkali-kali dia berpacaran dengan siswi disekolah ini, saat itu juga dia masih pacarku, kekasihku. Aku heran dengannya, jika dia tidak ingin berpisah, harusnya dia tidak selalu menyakitiku seperti ini.

“Sayang....” Dia memegang tanganku lembut. Kami ada di kantin sekolah. “Aku Cuma sayang sama kamu. Cuma kamu yang ada di hati aku. Kamu percaya?”

“Nggak. Aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu.” Aku mulai marah padanya tapi jujur, aku pun tidak ingin kehilangan dia dari hidupku. Aku terlalu mencintainya.

“Oke. Kamu ikut aku.” Dia menarik tanganku. “Hari ini, detik ini juga, aku putusin Ayu!” Dihadapanku, dia bicara pada Ayu. Selalu sama. Selalu seperti ini. Dia selalu mengakui setiap bermain dengan wanita lain dan selalu memutuskan hubungan dengan wanita itu dihadapanku.

Entah apa yang ada di otaknya. Apa yang ada di hatinya pun aku tidak berani memastikan. Namun selalu sama, dia selalu membuatku yakin akan cintanya padaku.

“Liburan nanti kita ke Bali, kamu setuju?” Tanyanya padaku. Aku diam. Belum kujawab pertanyaan itu. “Mama-Papa kamu pasti ngizinin.” Tambahnya. Tentu saja ibuku akan memberi izin, Mama sangat mempercayai Miki. Bukan hanya itu, Mama menginginkankan Miki menjadi pendamping hiupku nanti.

Hubunganku dengan Miki pun berawal dari perjodohan kami. Aku mengetahui perjodohan ini sejak duduk di bangku SMP. Saat itu kuanggap masabodo karena aku masih suka bermain-main dengan cinta. Tapi semakin lama aku mengenalnya, aku menyukainya bahkan dapat dikatakan mencintainya.

Kami selalu satu sekolah sejak SD. Aku tahu sifatnya dan aku tahu dia keras. Dapat dikatakan dia tidak pernah bersikap lembut pada siapa pun kecuali wanita.

“Kamu setuju kita ke Bali?” Tanyanya lagi. Dia berharap aku menyetujuinya. Liburan itu masih beberapa bulan dari dia mengajakku. “Setelah pengumuman kelulusan kita, kita akan langsung berangkat ke Bali.”

“Apa kamu yakin lulus?”

“Tentunya. Demi kamu aku harus lulus.” Dia mengusap kepalaku, membuat rambutku berantakan. “Aku ingin setelah lulus, kita menikah.” Ucapnya dan seketika jantungku dag dig dug dibuatnya. Apa dia main-main? Tapi selama ini dia tida pernah bermain-main dengan kata-katanya padaku.

“Aku tahu ini keinginan keluarga kita tapi aku pikir ini terlalu cepet.”

“Aku takut kehilangan kamu Vey. Aku janji nggak akan nyakitin kamu. Cuma kamu yang aku sayang. Cinta, kamu percaya kan?”

“Ya, aku tau kamu sayang sama aku tapi wanita-wanita itu apa?”

“Aku punya alasan sendiri. Pada saatnya akan aku jelaskan sama kamu sayang,” Dia menatapku dengan senyumnya yang menjerat. Oh Tuhan, aku benar-benar mencintainya. “Akan kujelaskan itu di Bali nanti. Kamu percaya sama aku sayang?”

“Selalu. Janji kamu selalu kamu tepati. Sekalipun kamu nggak pernah bohong sama aku.”

“Aku yakin kamu mencintaiku Vey. Aku ingin memiliki kamu selamanya, seutuhnya.” Jelasnya, aku diam masih mencerna situasi ini. “Yang kuinginkan bukan itu Vey. Aku hanya ingin dengan ikatan kita nanti, siapapun nggak akan ngedeketin kamu.”

Belum bsa aku mencernanya lebih banyak. Yang aku tahu, dia hanya menginginkan ikatan pernikahan agar tidak ada yang mendekatiku. Tapi mengapa? Siapa yang akan mendekatiku jika tahu aku pacarnya? Mereka akan berpikir puluhan, mungkin ratusan kali untuk mendekatiku. Mereka tidak ingin berurusan dengan Miki.

GUBRAK! PLAK!

Rasanya aku harus dapat tamparan keras untuk percaya ini.

Undangan pesta ulang tahun itu sebuah kejutan yang membuatku bingung, sangat mengejutkaku.  Oh Tuhan benarkah ini undangan darinya? Semenjak aku bilang bahwa aku mencintai Miki, aku tidak pernah mendapat undangan disetiap pesta ulang tahunnya, dia pun tidak pernah hadir pada pesta ulang tahunku padahal aku mengundangnya. Aku  tidak pernah berbincang lama dengannya walau kami masih segur sama. Ya, kami masih saling tegur sapa selama ini tapi dia menghindar dariku, menghindariku, aku tahu itu.

Ketika itu aku masih duduk dibangku 3SMP. Aku menjalin hubungan cinta dengan Dira, kami pacaran. Yah, aku juga tahu masih ada ikatan perjodohan antara aku dan Miki, tapi pikirku tidak ada salahnya menjalin cinta dengan yang lain. Pada dasarnya, saat itu aku belum mencintai Miki sama sekali.

Dira mencintaiku dengan tulus. Dia tahu perjodohanku dengan Miki tapi, dia tetap bertahan karena pikirnya kami saling mencintai. Namun dia mundur ketika aku bilang, aku mencintai Miki. Dia pergi dariku. Sejak hari itu kamu jarang bertemu. Untungnya kami tidak satu sekolah dan dia dapat melukapanku, aku harap begitu.

“Selamat ulang tahun ya.” Ucapku padanya. Aku datang seorang diri pada mu apesta itu. Tidak ingin kuajak Miki, dia akan kesal atau mungkin saja marah.

“Sendiri aja Vey?”

“Ya, seperti yang lo liat. Oh ya, ini kado buat lo. Semoga lo suka.” Aku memberikan hadiah yang aku bawa untuknya. Kuharap dia akan senang dengan hadiah dariku.

“Kehadiran lo aja udah jadi kado terindah malem ini.” Dira tersenyum padaku. Aku rada dia benar-benar menginginkan kehadiranku pada ulang tahunnya.

“Nggak nyangka lo ngundang gua di pesta ulang tahun lo.”

“Sejak dua tahun lebih kita pisah, gua rasa lo jadi pribadi yang lebik baik, lebih damai.” Katanya menatapku. Jarak kami hanya beberapa centimeter. Aku tidak yakin tapi aku rasa dia menginginkanku lagi.

Teman-temannya, tamu-tamu undangan menjadikan tempat ini penuh dengan wangi farfum macam-macam. Nyanyian-nyanyian itu, musik-musik itu, dan lagu-lagu itu membuat ruangan lebih ramai. Seperti inilah dulu, selalu ramai.

Dira cowok yang tidak pernah menyakitiku, aku yang menyakitinya. Dia bukan orang yang tenang, dia ramai. Dia membuat hidupku penuh keceriaan, penuh tawa dan warna. Sedangkan Miki damai dan tenang didekatku. Oh Tuhan! Mengapa aku membanding-bandingkan mereka?

“Ayok kita nari Vey,” Ajak Dira.

“Dansa?”

“Bukan! Kita nari kayak dulu, sesuka hati kayak anak TK. Ayolah Vey, mengenang masa lalu.”

“Em.... oke.” Kupikir, mengapa tidak? Toh itu menyenangkan untukku.

Aku bersamanya. Buka dansa tapi menari seperti anak kecil, layaknya remaja pada umumnya. Ya! Kami remaja, masih Smu tapi acara pestanya cukup formal. Ah bodo! Toh dia yang mengajakku. Rasanya aku lega-bebas-lepas menari bersamanya

“Untuk lo Vey,” Dira memberikan potongan pertama kue ulang tahunnya padaku. Apakah artinya ini? “Vey, Veya.” Dia berlutut padaku. “Gua harap hati lo bisa terisi dengan kehadiran gua. Izinin gua nulisin nama di atas hati lo Vey,”

“Maaf.... rasanya ini...”

“Sssutt.” Dira berdiri. Memainkan jarinya agar aku diam. “Jangan bilang lo sayang sama Miki. Gua pergi karena gua pikir dia bisa sayang sama lo lebih dari  gua.” Dira menarik nafas beberapa detik, dia menghembuskan perlahan, menatapku tajam penuh harapan. “Dua tahun lebih kita pisah tapi Cuma lo yang gua sayang. Belum ada yang bisa gantiin lo di hati gua Vey,”

Aku tidak mengerti. Semua hening, memandang kami ditengah ruangan. Kupikir semua undangan yang hadir ingin tahu kelanjutannya. Mereka mencoba untuk tenang.

“Gua tau Miki selalu nyakitin lo. Apa lo bertahan karena keluarga? Percayalah Vey, lo bisa bahagia diluar ini.” Suaranya sedikit lirih. Aku yakin para tamu undangan itu tidak medengar. Dia mulai mendekati mataku, merasuki nadi-nadi mataku. Aku menemukan kesungguhan di matanya. “Kita bisa kayak dulu lagi Vey,”

“Itu Cuma cinta monyet.”

“Nggak!” Dia menggelengkan kepalanya. “Gua taku lo bisa lebih ketawa senyum-bahagia disamping gua.” Dia memelukku. Aku membiarkan dia memelukku aku tidak melarang. Setidaknya untuk menghargai kejujurannya. Bukan hanya itu, aku berharap ini terakhir kalinya. Dia akan tersakiti jika seperti ini.

“Ini terlalu mendadak untuk gua denger.”

“Gua coba untuk deket sama lo laghi Vey, dan suatu hari nanti, lo akan tau ketulusan gua. Lo akan menjawabnya Vey.” Katanya lagi, aku hanya tersenyum sesaat. Kurasakan dia masih sama seperti dulu. Hatinya masih untukku tapi aku, aku terlalu mencintai Miki walaupun selalu tersakiti.

Ini salah! Mengapa aku seperti ini? Hah! Aku bersembunyi, diam-diam aku sering pergi bersama Dira tanpa Miki tahu. Apakah aku salah? Tapi ini benar jika aku ingin membalas dendam atas semuanya.

“Seminggu lagi pengumuman. Aku harap kita bisa cepet belibur ke Bali.” Kata Miki bersemangat. Kali ini dia sangat bersemangat, tidak seperti liburan sebelumnya. Ada yang lainkah? “Aku janji nggak akan main-main sama cewek lain lagi, siapapun itu. Cuma kamu yang aku inginkan, cinta.”

“Aki tau itu. Tiga bulan ini aku udah ngeliat semuanya. Aku tau, kamu Cuma main-main aja sama mereka.”

“Aku punya alesan untuk itu sayang.”

“Kamu janji?” Tanyaku.

“Ya. Kapan aku mengingkari ucapanku? Saat selingkuh pun, aku jujur sama kamu sayang.” Dia melingkarkan jari kelingkingnya ke jari kelingkingku. “Semua  akan semakin baik.” Dia mencium keningku dan memelukku erat seakan aku akan pergi jauh darinya.

Liburan bersamanya, hanya berdua. Itu benar-benar menyenangkan untukku. Rasanya aku harus melupakan semua kesalahannya padaku, dia sudah berjanji. Aku yakin dia yang terbaik. Tidak ada alasan lain aku percaya padanya kacuali hatiku menginginkanya.

“Menikahlah denganku Vey,” Katanya. Aku tahu ini akan terjadi. Dia bersemangat ketika ingin belibur bersama. Namun aku tidak tahu harus menjawab apa. Baru saja aku lulus SMU bahkan ijasahku pun belum aku terima. “Vey,” Katanya lagi yang menyadarkanku dalam lamunan. Cincin yang dia berikan, aku taruh di ats meja makan, aku belum meminta dia memakaikannya.

“Aku meminta penjelasan yang kamu janjikan. Kamu sayang aku kan?”

“Aku ngelakuin itu supaya aku yakin sama kamu.” Jelasnya, aku tertunduk. “Bukan seperti yang kamu pikirkan.” Lalu kuangkat kepalaku. “Aku kira kamu ngelajanin ini Cuma karena keluarga.”

“Kalo kami mikir gitu, nggak perlau aku ngejalanin hubungan ini sama kamu. Aku tinggal nunggu keluarga kita nikahin.”

“Itu alasan aku. Kamu marah tapi amarah kamu gitu-gitu aja, kamu Cuma nangis dan setelah itu nerima semuanya seakan kamu terpaksa mencintai aku.”

“Apa kamu kamu, aku nampar kamu? Jambak-jambak cewek-cewek itu?”

“Ya.” Jawabnya.

“Nggak. Aku Cuma butuh hati kamu. Aku juga nggak maksa kamu sayang sama aku.”

“Aku salah udah nyakitin kamu. Cara aku untuk tau sebesar apa cinta kamu ke aku rasanya salah.” Jelasnya. Aku mulai mengerti. Dia tidak pernah berbohong padaku. Dalam siatuasi ini, dia tidak aka mungkin bebohong. Niat berbohong pun tidak mungkin ada dalam otaknya.

“Kamu nggak salah. Kalo kamu nggak ngelakuin itu, aku pun nggak akan tau besarnya rasa sayang aku sama kamu.” Aku tahu dia salah tapi, aku tahu tanpa itu semua mungkin rasa cintaku tidak sebesar ini padanya. “Tapi, aku nggak mau nikah muda. Aku nggak mau punya anak di masa muda aku.”

“Loh, siapa yang mau juga punya anak semuda ini? Aku masih mau nikmatin masa muda aku dan masa pacaran kita.”

“Tapi..... aku.....”

“Vey, kalau kamu mau, kita nggak akan tinggal serumah sebelum kamu selesai kuliah. Aku tau kamu masih butuh orang tua kamu. Kamu kan manja sayang.”

“Tapi...”

“Aku Udah bilang sebelumnya sama kamu cinta, aku ingin orang-orang tahu ikata kita biar nggak ada yang deketin kamu.” Jelasnya lagi. Aku tahu, sebelumnya dia mengatakan ini juga tapi rasanya dia pun tahu kalau orang akan berpikiran ratusan kali untuk hal itu. Mereka tidak ingin berurusan dan membuat masalah dengan seorang Miki.

“Aku tahu itu. Aku pun pernah bilang, hati aku udah kamu milikin sayang.” Kataku. Aku memberikan cincin itu padanya, kukembalikan pada Miki. Dia nampak pucat ketika kukembalikan cincin itu. “Masa iya aku make sendiri? Pakein geh.”

“Vey,” Dia berdiri dari bangkunya. Berjalan kehadapanku. Dia berlutut padaku, memakaikan cincin itu, “I love you, cinta.  Dia memelukku erat dan menciumku.

“Tapi....” Aku merenggangkan pelukannya.

“Kamu masih nggak setuju? Kamu nggak yakin sama aku?”

“Bukan itu maksud aku. Tapi aku mau pestanya meriah dan kita akan lama mempersiapkannya.” Kataku lirih, dia mengusap kepalaku, mengacak-acak rambutku, itu sudah kebiasaannya.

Aku yakin ini keputusan yang tidak salah. Keluargaku akan senang mendengar ini, begitupun keluarganya walaupun rasanya terlalu cepat. Sudah kuyakinkan hatiku, dia akan menjadi cinta terakhirku sampai menutup mata.

“Liburan lo gimana Vey? Menyenagkan? Gua denger-denger lo liburan sama keluarga.” Ucap Dira padaku.

“Ya.” Jawabku berbohong.

“Wah sayang banget kita liburan beda tempat. Gua kangen nggak liat senyum lo Vey.”

“Oh ya?” Aku tersenyum padanya. “Rasanya gua gantungin lo. Lo berharap jawaban dari gua tapi sepanjang kita jalanin ini, gua belum jawab apa-apa.”

“Vey...” Dia memandangku. “Apa udah bisa lo jawab Vey?”

“Tanggak 18  Juli nanti lo akan tau jawaban gua. Lo dateng ya ke rumah gua?” Kataku, dia tersenyum.

“Tanggal 18 Juli kan ulang tahun lo. Lo ngundang gua ke pesta ulang tahun lo? Maafin gua kemaren-kemaren nggak pernah dateng ke pesta ulang tahun lo.” Katanya lagi. Aku tahu itu hari ulang tahunku tapi bukan hanya itu sajam dia akan mendapat jawaban pasti dariku. “Gua tunggu undangan dari lo Vey,”

“Nggak perlu kartu undangan. Gua ngundangn lo secara langsung. Ini undanngan khusus buat lo. Lo dateng ya? Gua harap dengan kehadiran lo nanti, jawaban yang lo minta akan lo dapetin.”

Cintaku disini, dia duduk disampingku, ikatan sudah terjalin. Keluargaku dan keluarganya menjadi satu keluarga. Memang ini penikahan yang terlalu cepat, umur kami masih muda, belum ada 20 thn. Hari ini juga bertepatan dengan hari ulang tahunk. Aku harus yakin! Harus!

“Risih make kabaya. Ish nggak pede loh aku.” Bisikku ke Miki. Aku mengeluh padanya.

“Kamu cantik kok.” Dia tertawa-tawa sendiri. Tawa kecilnya membuatku lebih risih lagi. Sebelumnya tidak pernah kubayangkan diriku akan menikah semuda ini. Ini lucu sekali rasanya. Pasti akan lucu, lebih menyenangkan dan membuatku bahagia.

“Ini jawaban lo Vey?” Tanya Dira. “Gua kira, gua salah liat tulisan-tulisan itu, tulisan di depan tapi ternyata gua nggak salah liat.” Katanya sedikit lesu. “Selamet ya Vey, semoga langgeng dengan pernikahan muda lo.” Katanya lagu sambil tersenyum berat lalu memberi pelukan persahabatan kepada Miki. “Semoga kalian langgeng.” Dia menepuk pundak Miki pelan.

“Maaf, gua jawab dengan cara seperti ini. Ini jawaban gua.” Kataku lalu dia tersenyum lagi. “Kita teman kan?”

“Tentunya. Hadiah ulang tahun lo rasanya jadi hadiah pernikahan kalian. Gua nggak bawa hadiah dobel Vey,” Dia mencium pipiku sebagai ucapan selamat dan selamat tinggal, ini untuk yang terakhir kalinya. “Lo cocok sama dia Vey. Lo cantik dengan kebaya ini.” Dia berjalan, menjauh dari hadapanku, bergabung dengan tamu undangan lain.

Miki, maksudku suamiku, dia tersenyum. Dia tidak marah atau pun cemburu. Mungkin dia perpikir marah atu cemburu tidak penting, tidak menguntunhgkannya, toh aku sudah menjadi miliknya seutuhnya-sepenuhnya.

“Aku kira kemaren-kemaren kamu akan nolak aku dan kembali sama Dira. Aku liat kamu seneng saat jalan sama dia.” Kata miki lirih.

“Kamu tau itu?” Tanyaku padanya, lirih.

“Ya. Semuanya.”

“Kok kamu diem aja?” Tanyaku. Seharusnya dia memukuli Dira. Sebelum ini, cowok-cowok yang mendekatiku pati dapat pukulan keras darinya. Dia biasanya menghajar tapi kali ini tidak sama sekali. Dira baik-baik saja.

“Sebelumnya aku melakukan kekerasan pada setiap cowok yang mendekati kamu karena kamu nggak suka, kamu merasa terganggu.” Dia bicara pelan agar semua tamu tidak mendengar. “Tapi Dira, aku rasa kamu nggak nolak saat dia mencoba ngedeketin hati kamu. Yang aku inginkah hati tulus kamu. Itu pilihan kamu. Kalau tadinya Dira adalah pilihan kamu, aku pun akan senang menerimanya.”

“Harusnya aku memilih dia.” Aku tertawa kecil. Miki pun ikut tertawa lalu dia ingin mengusap kepalaku tapi kuhentikan itu sebelum terjadi. “Ets nggak bisa. Kan nggak lucu di hari bersejarah ini rambut aku berantakan.”

Tidak pernah aku menyangka dia tahu semuanya. Namun aku senang dia tahu akan hal itu, itu menunjukkan dia perhatian padaku. Hari ini pun aku masih tidak menyangka dia berdiri di sampingku sebagai suamiku.

“Kata Mama kamu, dia udah nyiapom rumah buat kita nanti. Saat kita udah siap serumah.” Kataku. “Rasanya hari ini aku mau langsung kesana.”

“Maksud kamu sayang? Kamu ingin melihatnya?”

“Sayang banget rumah nya nggak di tempatin. Nanti banyak di huni setan lagi. Apa kita harus jadi setan itu untuk menempatinya?”

“Maksud kamu?”

“Aku bete dirumah, dimanjain terus sama Mama-Papa. Aku mau hidup mandiri tanpa mereka. Bisa kan rumah itu kita tempatin?”

“Tentunya. Aku akan manjain kamu lebih dari Mama-Papa kamu sayang.” Dia tersenyum bersemangat.

Ini tidak salah. Aku merasa ini yang benar. Dia dan aku akan  baik-baik saja hidup berdua mandiri tanpa orang tua. Aku yakin kami bisa menjalani ini.

“Tapi inget, kita nggak satu kamar. Aku belum mau punya anak dan jadi ibu muda.”

“Siapa juga yang mau jadi bapak-bapak di masa mudanya? Hah setiap pagi akan ada bidadari yang menemin aku sarapan.”

“Salah!” Aku tertawa kecil padanya. “Setiap pagi juga dan setiap hari kamu akan makan masakan bidadari yang cantik itu sayang.”

“Emang kamu bisa masak?”

“Ya belajar dong pelan-pelan. Mulai hari ini kamu nggak boleh makan masakan orang lain kecuali masakan bidadari itu. Enak nggak enak harus dimakan!” Kataku, dia tertawa kecil, kami tertawa bersama. Aku yakin ini akan lebih membahagiakan selanjutnya. Aku akan bersama cintaku selamanya.

Dia mencoba mencium bibirku. “Ssut nggak boleh. Banyak orang disini.”

“Tapi...”

“Banyak anak kecil. Nggak bagus mereka ngeliatnya.” Lalu kami tertawa bersama kembali.


TAMAT

Dibuat jam 6 sore sampai jam 23:52 malem. Hari senin, 16 Maret 2011. Dan di edit nya tgl 17 Maret, keesokan harinya pada jam 8 pagi sampe jam 11:16 siang,

Minggu, 14 Desember 2014

Mungkin benar atau entahlah, ada kalanya gue merasa entalah mungkin gue sedikit jahat atau entahlah yang jelas kadang dalam hati gue bilang 'entar juga saat lo gagal atau jatuh atau frustasi baru lo sadar dan gue gak akan ada disana'.
Yaa, sedikit kejam emang tp entahlah, ada seseuatu yang dirasa sulit untuk dipahami bahkan sekalipun paham, ada masanya untuk menolak paham.
Dibilang gue gak ikhlas? Tentu tidakkkk! Why? Karena gue gak ada
hak untuk bilang ikhlas. Buka

Selasa, 09 Desember 2014

Senang Senan Senang

Gue gak paham lah tadi pagi sama yang diomongin Yunda sama Kakak, mereka bilang abcd panjang lebar panjang kisah tapi gue kira kacek-kacek doang mau buat gue seneng.

Eh tapi mlm ini kakak (Dinda) ngasih kabar kalau itu beneran. Gue jelas gak percaya biasanya kan mereka kacek-kacek doang. Sampe gue telfon Yunda, eh kata Yunda beneran. Masih gak percaya.

Terus ngebahas sama kakak, sama Yunda lagi. Dan hasilnya, itu beneran.

Yaelah seneng kan gue tiba-tiba lagi sakit, eh langsung demamnya turun dadakan. Sesuatu banget sih ini ^^

Pokoknya makasih sama Yunda sama Kakak buat hari ini, kalian makin cantik loh kalau begini :)

Maaf, (CERPEN)




“Aku bukan Circe yang akan merubahnya menjadi monster karena dia bukan Scylla. Bukan. Baik Airin atau El, keduanya gak ada yang bertolak belakang,” ucapku lirih, Kevin terlihat seolah tak senang dengan hal ini, “kenapa? Hei, ada apa?”

Sebuah bola tiba-tiba meluncur tepat didepan mataku sebelum Kevin sempat menjawab, “seharusnya El gak usah bermain basket jika..., sudahlah,” ia mengusap kepalaku dan kembali ke lapangan. Sedangkan aku, hanya bisa memberi semangat.

Jika Kevin mengatakan waktu yang kumiliki sebelum ini terbuang sia-sia, aku tak merasa seperti itu. Apa yang kulakukan sebelumnya, bukan berarti ada hal lebih yang ingin kudapatkan. Kevin mengatakan aku terlalu munafik untuk menyangkalnya dan benar, aku akan menjadi orang munafik untuk satu hal ini.

**

“El sedang sakit, kurasa seperti itu,”

“Siapa yang memberitahumu? Kami bahkan gak mengetahuinya. Bagaimana bisa?” ia melemparkan banyak pertanyaan padaku seperti pemburu berita, “kamu paranormal?”

Aku tersenyum, memintanya untuk diam dan melanjutkan latihan atau aku akan mendoakannya agar tak menjadi kapten basket lagi.

“Paranormal, ckck,”

Jika saja Kevin tahu mengapa aku bisa menebaknya. Jika saja Kevin tahu apa alasan El tidak datang latihan. Namun, kurasa, Kevin tahu semuanya termasuk alasan El masuk tim basket.

“Apa-apaan ini? Dimana El?” tanya Maura yang baru saja tiba, “dimana El?” tanyanya lagi seolah aku anak kembar siam yang tak terpisahkan dengan El, “ups, gue lupa kalau El sudah sama Airin. Maaf,”

Tanpa basa-basi, aku menjambak kecil rambutnya. Maura pun membalasnya. Kami saling membalas kemudian tersenyum melihat tim basket sekolah kami sedang berlatih.

Rama melambaikan tangannya pada kami. Tidak. Ia hanya melambaikan tangan pada Maura, pacar kesayangannya. Dengan semangat 45, Maura seolah memberikan efek tersendiri bagi Rama, “Rama mengatakan kalau El akan dikeluarkan dari tim basket, mengerikan sekali,” ucapnya, aku mengangguk setuju, “koran sekolah pasti akan heboh. Gue harus dapetin edisi itu,”

“Hei! Kenapa kalian seperti itu pada El. Kalaupun benar ia berasa di tim basket hanya karena permintaan Airin, bisakah sedikit lebih sopan ketika mengeluarkannya?”

Aku tak terima El akan dikeluarkan dari tim basket sekolah apalagi para pemburu berita sangat menantikan hal tersebut. Ia akan jatuh dalam satu hari.
 
“Lo memihak El? Lo siapanya El sehingga melakukan itu? Bukankah itu akan menyakiti perasaan Kevin?”

“Hei!” aku mencubit tangannya, “kenapa membawa-bawa Kevin!” aku pun pergi begitu saja dengan Maura yang terus memanggil-manggilku, “diamlah!” aku berlari kecil-kecil tak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan celoteh Maura.

**
Kedua bola mata Airin sibuk memilih pakaian yang akan ia kenakan saat menonton pertandingan basket melawan sekolah tetangga. Ia memintaku untuk memilihkannya dan entahlah, ini untuk pertamakalinya aku mengatakan ‘terserah’ padanya.

“Lo masih sayang sama El?” tanyanya, aku mencoba tertawa kecil, “jangan sembunyikan sesuatu.”

“Dulu iya, sekarang gak geh. Kan kan, gue sukanya sama Kevin,” kataku, Airin terlihat percaya, “kenapa? Lo cemburu dulu gue deket sama El?”

Kepala Airin mengangguk kecil, aku memandang tanya padanya, “dulu, lo lebih perhatian sama dia dalam hal apapun. Dan, kalian sering keliatan berdua.”

“Yaelah Rin, itu karena gue curhat aja sih sama dia. Ciee yang cemburu berarti cinta dong ya,”

Airin tampak malu. Ia melanjutkan memilih pakaiannya lagi. Sedangkan aku, entahlah, rasanya ada yang mengganjal dengan ucapanku. Rasanya jujur pada Airin akan membawa dampak buruk bagi pertemanan kami.
**
“Apa-apaan ini?” Kevin menggeledah isi tasku, “kenapa kamu selucu ini?” kemudian ia mencubit kedua pipiku, “apakah kamu akan terus membohongi  seisi sekolah kalau kamu menyukaiku?” aku tersenyum tenang.

Jujur, ada rasa malu ketika Kevin menemukan banyak vitamin dan obat alergi disana. Itu bukan milikku tapi itu sesuatu yang dulu selalu tersimpan manis dalam tas sekolahku untuk jaga-jaga jika El sakit. Aku tak bisa mengelak, Kevin benar, aku terlalu munafik untuk mengakui perasaanku sendiri.

“Kenapa kamu gak pacaran dengan Tito yang jelas menyukaimu?” ia mulai memojokkanku, “kenapa kamu mengatakan kepada semua orang kalau kamu menyukaiku?”

“Entahlah, aku gak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Pokoknya cup gak bisa aku jelaskan,” aku tertawa kecil, Kevin tersenyum aneh, “ih! Kenapa seperti itu? Kamu mengejekku?”
**
“Edit berita itu! Edit atau gue akan....” aku berpikir sesaat apa yang akan kugunakan untuk mengancam mereka, “gue akan nangis seharian disini,”

“Gue penanggungjawab koran sekolah, menurut gue, gak ada yang salah dalam berita yang akan terbit besok. Koran sekolah gak pernah menerbitkan berita gosip, gak ada yang salah,” Tito menjelaskannya padaku, “jangan membawa perasaan pribadi untuk menghentikan edisi besok,”

“Lalu apa yang lo lakukan ini bukan atas dasar perasaan pribadi?” tanyaku, ia tersenyum dengan mengatakan jika ini memang kebenaran yang harus tertulis dikoran sekolah.

Baiklah. Aku salah. Benar jika aku gak boleh menghentikan atau meminta berita yang akan terbit besok dirubah. Itu benar-benar terlihat menyedihkan.

“Seharusnya Airin yang datang, bukan lo,” Tito menepuk pundakku, “keluarlah dari ruangan ini, ini bukan tempat yang bisa sembarangan orang datangi.”

Kakiku melangkah begitu saja. Aku tak dapat berbuat banyak atau aku akan menjadi gadis yang benar-benar terlihat menyedihkan.

“Kenapa keluar dari ruangan itu? Apa karena...” Airin memandang tak percaya, “apa karena El? Apa karena besok nama El akan menjadi tercemar?”

“El? Ada apa dengan El?” aku berbalik tanya seolah tak tahu apapun, “gue kesana karena mau ketemu fans gue, kenapa? Ciee, lo takut ya gue ada apa-apa sama El?”
**
Nama El benar-benar terlihat buruk. Sangat tertulis jelas alasan mengapa ia dikeluarkan dari tim basket sekolah. El telah dianggap mengotori tim basket sekolah. Aku benar-benar merasa tak percaya berita itu tertulis jelas pada koran sekolah edisi minggu ini.

“El, lo baik-baik aja kan?” 

El tak menjawab. Ia berjalan dengan ekspresi datar. Aku tahu bagaimana marahnya ia ketika berita itu keluar tapi aku sangat tahu kalau El tak akan bisa memukul atau menghajar orang-orang yang terlibat dalam penerbitan koran tersebut.

“Hibur dia,” Maura tiba-tiba disampingku, “bukannya dulu ada seseorang yang terus menjadi malaikatnya?”

“Atau bawakan makanan kesukannya seperti dulu,” Rama menambahi.

Kini dikanan maupun kiriku terdapat dua jin yang terus membuat kepalaku pusing.

“Biasanya lo paling ahli untuk membuat suasana hati El tenang,” Rama menepuk pundakku, “apa ada penyesalan?” aku tersenyum saja.

Baik Maura maupun Rama benar. Aku sudah terlalu biasa untuk disekitar El dan menjauh darinya terasa sangat sulit. Aku bahkan dapat mengira-ngira bagaimana suasana hati El sehingga aku dapat mengatur pembicaraanku. Namun, itu semua hanya dulu. Aku tak ingin terlihat didepan Airin kalau aku menyukai El. Aku hanya teman baik El, hanya itu. Dan aku sendiri yang membuat El dan Airin menjadi sepasang kekasih jadi aku harus bersikap seolah tak ada perasaan apapun.

“Gue kesel banget sama El tapi saat seperti ini, gue kasian. Setelah gue pikir-pikir, lo orang paling tepat untuk menghibur El tapi, lo beneran suka sama Kevin kan?” aku diam, “jangan bilang karena lo gak enak sama Airin jadi ngalihin perhatian? Hei!” Maura mulai kesal, “lo gak nangis kan dirumah?”

“Ya gak lah,” jawabku karena memang aku tidak menangis dirumah, aku menangis ditempat lain, “Kevin mana ya, kangen nih gak liat dia dari tadi.”

“Muka lo bete akut. Ada yang janggal,” Rama memandang wajahku diikuti Maura, “aneh.”
**
Aku meletakkan obat alergi dimeja El setelah tadi beberaa menit yang lalu kulihat El memakan udang dikantin. Aku yakin tubuhnya akan gatal-gatal. Namun, beberapa detik kemudian, aku mengambil lagi obat itu. El sudah memiliki Airin yang akan merawatnya dan membawanya ke poliklinik sekolah.

“Ckck,” Kevin tiba-tiba muncul, ia melirik obat alergi ditanganku, “ayo, ikut,”

Ia membawaku ke mading sekolah dan menunjukkan sebuah lomba menyanyi. Aku menggeleng karena sudah lama aku tak berlatih.

“Itu karena dulu waktumu banyak dihabiskan bersama El. Perhatianmu pada El lebih dari sekedar teman. Kini, sadarlah, sadar,”

“Hei! Aku gak tidur! Baiklah, aku akan mengikuti kompetisi itu tapi bagaimana kalau aku kalah? Itu memalukan. Apa yang harus kulakukan jika aku kalah?”

Kevin mengangkat tangannya dan memberikan jari kelingkingnya, “kalau kamu kalah, mintalah apapun dariku tapi kalau kamu menang, gunakan uang itu untuk berlibur dan ajak aku.”

Aku tertawa tapi aku suka tantangannya. Bagaimanapun, menyanyi merupakan hal yang kusukai.
**
“Belakangan ini, kita seakan jauh,” El bicara padaku diruang seni sekolah, “Airin mengatakan kalau..., lo pernah ada perasaan sama gue,”

Aku tersenyum, mengangguk kecil, mengiyakannya, “ya, itu dulu. Hanya perasaan sesaat. Gue Cuma gak mau Airin salah paham aja,” aku melangkah, mendekati sebuah piano yang ada disana, “ayahku sering sekali memainkan alat musik ini kemudian ia memintaku bernyanyi,” celotehku, “belakangan, gue sedikit lupa tentang itu.”

El memandangku. Aku tahu, ia tak mengerti kemana arah pembicaraanku. Ia terlihat bingung karena ia jelas tak tahu apa yang kusukai.

“Lo baik-baik aja kan?”

Tanyanya, aku tersenyum kemudian terlihat Airin berdiri didepan pintu ruang musik. Ia memandangku lesu kemudian melangkah pergi. El menyadarinya, ia bingung dengan keadaan itu. 

Kuminta El untuk mengejar Airin tapi ia merasa kalau tidak ada yang salah dalam hal ini, “Airin tahu kita teman baik,”

Ya, tentu saja. Hanya teman baik.
**
Kevin menjitak kepalaku ketika aku salah memilih lagu, “ini untuk perlombaan bukan untuk menyatakan isi hatimu,” 

“El hanya seorang anak dari keluarga yang berantakan. Ayahnya tak pernah menyayanginya sungguh-sungguh dan ibunya seolah tak peduli. Sedangkan kakaknya, mereka tampak seperti orang asing. Kurasa, aku  menyukainya hanya karena rasa kasihan.”

“Pikiranmu mulai jernih,”

**

Aku tak mengerti, belakangan kelas terasa sedikit tak nyaman semenjak El dan Airin resmi berpacaran. Jujur, aku tak suka melihat itu apalagi saat mereka saling melempar senyum padahal aku sendiri yang membuat itu terjadi.

“Mata pelajaran yang gak wajib mending masuk ke kelas Kevin atau yang lain,” bisik Maura, idenya terdengar bagus, “eh, El tuh....,” Maura memberitahu jika El sedang memperhatikan kami, “aneh, jangan bilang El pernah ada rasa sama lo?”

Kuikuti saran Maura. Aku mengambil jadwal dikelas lain saat mata pelajaran tak wajib. Dan, aku masuk ke kelas Kevin yang disambut oleh teman-temannya dengan tampang bertanya-tanya. Kevin yang tahu alasanku tak bertanya lagi, ia justru protes karena baginya itu seperti sebuah pelarian.

“Kamu punya pacar? Kalau kamu ribut dengan pacarmu karena ini, aku akan menjelaskannya,”

“Pertanyaanmu itu menggelikan, apa kita harus pacaran dulu?” godanya, aku tertawa kecil kemudian ia menyuruhku untuk memperhatikan pelajaran.
**

Aku makan siang dikantin bersama Kevin dan Maura, tidak dengan El seperti sebelum-sebelumnya. Mereka mengatakan agar aku benar-benar mengganti jadwal pelajaranku agar hatiku dapat tertata lagi.

“Itu seperti melarikan diri,” akuiku, “memalukan bukan?”

“Akan lebih memalukan jika seperti ini,” Kevin tiba-tiba mencium pipiku yang langsung membuat seisi kantin menoleh bahkan beberapa ada yang mengambil gambar kami, “ini akan menjadi berita hangat di media sosial,”

Kukepalkan tanganku. Rasanya aku ingin marah dan menamparnya tapi Maura mengatakan tidak. Aku melirik sisi lain kantin, El dan Airin juga ada disini, melihatnya. Dengan berat, aku mencoba tersenyum seolah senang.

“Kevin, kenapa lo nekat? Jangan-jangan cewek yang pernah lo ceritain ke gue itu...,” Maura melirikku, “wow, hebat!”

“Apa? Gue? Kenapa dengan gue?” tanyaku, “jangan menyebarkan issue disekolah ini.”

**

Airin mendatangi rumahku. Ia tamu yang baik sehingga aku pun ramah padanya. Namun, ia hanya baik beberapa saat.

“Lo tau obat alergi El yang bahkan gue gak tau dan El gak ngasih tau. Lo tau makanan kesukaannya yang bahkan El gak pernah bilang ke gue. Dan lo....,” Airin memandangku tajam, “kenapa lo lebih tau banyak dari gue?”

“Mungkin gue calon reporter, yaa, reporter manis,” ucapku sembari melempar canda, “kenapa? Apa ada yang salah?”

Please, jauhi El. Jangan membayanginya bahkan saat lo gak disamping dia,”

Aku mengangguk walaupun aku tak mengerti maksud perkataannya. Aku tak pernah membayangi El bahkan aku menghindari dan menjauhi El. Apa lagi yang salah?

“Kejutan,” Maura tiba-tiba masuk begitu saja dengan membawa banyak balon diikuti Kevin dibelakangnya, “Airin?” ia terkejut melihat Airin, Airin tersenyum menyapa, “baiklah, lupakan, pegang ini,” Maura memintaku memegang puluhan balon.

Kevin berjalan mendekatiku. Ia tersenyum membawa beberapa tangkai bunga di tangannya. Satu per satu, ia membuang bunga itu. Dan terakhir, tersisa satu mawar putih yang ia berikan padaku. Aku tersenyum, “ini dimulai dengan baik selama satu bulan,” kemudian, aku memeluknya.

“Kalian pacaran?” tanya Airin, aku diam, sedangkan Kevin langsung mengiyakannya padahal kami belum pacaran. Kevin hanya membantuku untuk melupakan El selama satu bulan ini dan itu cukup berhasil, “maaf, gue ganggu acara kalian,” Airin pun pamitan pulang.

**

Tangan Kevin membersihkan sisa ice cream yang ada dibibirku. Ia bahkan menyuapiku walaupun aku menolaknya. Dan saat seperti ini, aku teringat El dimana kami pernah makan ice cream bersama. Yang membedakan, saat itu El hanya terus makan saja sampai habis tanpa bicara apapun.

“Aku-kamu. Sejak pertama kali kita kenal, kita menggunakan bahasa cantik itu seolah kita pacaran,”

“Itu karena, sudahlah, jangan mengingatkanku lagi,” pintaku, “diam saja, diam,”

Kevin mengusap kepalaku lembut, “berapa banyak kamu akan membayarku agar aku diam?”

Aku langsung menutup mulutnya dengan memberikan ice cream banyak dimulutnya. Ia pun diam tapi tetap tersenyum padaku, senyum manis. Benar-benar senyum manis. Entahlah, ini rumit dijelaskan tapi aku suka senyumnya seperti ini.

**

“Lo mulai suka sama Kevin? Iya kan? Iya kan iya?” Maura memojokkanku, “udah gue bilang perasaan lo ke El itu Cuma rasa kasian aja karena gak ada yang merhatiin dia. Dan kalau Kevin, itu baru bener-bener yang bener,” ucapnya berputar-putar, “terus kapan kalian jadian?”

“Kevin aja gak nembak,”

“Jadi, lo berharap?” Maura terkejut, bukan seperti itu maksudku tapi jujur, ada perasaan aneh ketika aku disamping Kevin bahkan detak jantungku terasa aneh untuk pertamakalinya. Ah! Ini benar-benar rumit.

Maura langsung merapikan rambutku ketika ia tahu kalau nanti malam aku dan Kevin akan pergi. Sebenarnya, ini bukan kencan atau semacamnya tapi ini sebagai tugas sekolah. Kami harus mencari informasi mengenai kegiatan anak-anak jalanan ketika malam hari.

“Tetap saja harus cantik,” ia juga memilihkan pakaian yang manis namun tidak terlalu terbuka karena jalanan dimalam hari bisa menyeramkan, “gue dukung kalian jadian pokoknya,”

**

El menemuiku di ruang seni sekolah ketika aku berlatih untuk perlombaan. Ia menanyakan sejak kapan aku suka menyanyi dan sejak kapan aku ingin mengikuti perlombaan ini. Tentu saja, aku menjawab semuanya dengan jujur.

“Gue baru tau itu, denger-denger, lomba ini bisa duet kan? Apa lo sama Kevin?” 

“Anak-anak bilang suara Kevin luar biasa cuma terlalu sempurna banget kan kalau ada gue eh ada Kevin, pasangan lain bisa iri, ya kan? Disekolah ini aja banyak yang iri kok,” ucapku pede, “tapi, ide lo bagus juga,”

Tangan El mengambil sesuatu dari saku pakaiannya. Ia meminum obat alergi, aku tersenyum, “belakangan gue terpaksa bawa obat sendiri semenjak gak ada lo,” terangnya, aku tak tahu harus mengatakan apa, “ada yang terasa menghilang,”

Tiba-tiba Kevin masuk ke ruang seni, ia terkejut mendapatiku bersama El. Kemudian, Kevin duduk disamping El menanyakan keberadaannya diruang seni yang tak seperti biasanya.

“Soal basket, maaf, itu keputusan pelatih,” ucap Kevin bijak, “mungkin itu keputusan yang terbaik untuk tim basket sekolah.”

“Apa kalian bermusuhan setelah salah satu dikeluarkan? Tentu saja itu sulit tapi bisakah jangan menggangguku latihan?” pintaku, Kevin tak menggubris, “hei, kamu mau kugantung?”

“Kalian terlihat sangat cocok,” kemudian El pergi setelah mengatakannya.

**

Mataku terbelalak ketika melihat berkas pendaftaran kalau aku akan berduet dengan Kevin sedangkan setahuku, aku melakukan ini seorang diri. Saat seperti ini, Kevin justru tersenyum-senyum sendiri padahal tinggal 15 menit lagi kami tampil. 

“Kalau salah satu gak ada dianggap gugur, kita lakukan saja,”

“Apa?!” aku langsung menginjak kakinya, “bagaimana bisa? Kamu mau mati?” aku memandangnya kesal tapi ia langsung mencubit pipiku dan tersenyum. Hal itu membuatku luluh, “baiklah, apa yang harus kita nyanyikan?”

Kevin mengingatkanku bahwa sebelumnya aku pernah membuat lagu bersamanya. Aku ingat itu tapi, lagu itu sedikit tak kusukai, “kenapa? Apa kamu gak suka karena kamu menyukaiku?”

JLEB! Aku terpaksa mengiyakan hal itu daripada ia panjang lebar bertanya.

**

Maura memelukku setelah aku turun dari panggung, “lagu tadi itu, kalian berdua,” ia langsung melirik Kevin, “coba Rama gitu juga ya dulu,” Rama langsung membuang muka, “kalian pasti menang,” ia ingin memeluk Kevin tapi Rama melarangnya dan entahlah, aku juga tak suka ia melakukan itu. 

Dan tarrrra, ketika pengumuman, baikalah kami memang tak mendapat juara pertama tapi kami mendapat juara Favorite dari penonton. Mau tak mau, kami naik keatas panggung.

“Apa kamu ingin menjawabnya?” Kevin memandangku, “lagu itu untukmu, kenapa kamu gak mengerti juga sejak lama?”

Aku tersenyum malu. Penonton menyoraki kami, “kamu menolakku?” tanyanya, aku menggeleng. Ia tak banyak bicara lagi dan langsung mencium keningku.

**

Aku masuk ke kelas saat mata pelajarab wajib, El berdiri didepan kelas. Ia langsung menarikku, “jadi sebelum itu kalian belum jadian?” tanyanya, aku mengangguk, “kenapa Kevin bilang lo pacarnya? Kenapa lo juga gak nyangkal?”

“Memang ada yang salah ya?” tanyaku padahal jujur, aku tahu maksudnya.

Lagu yang semalam itu merupakan pengungkapan hati Kevin. Namun bukan itu saja, didalamnya terlihat jelas kalau sebelumnya Kevin tahu aku menyukai orang lain. Dan, itu El.

“Kenapa lo gak bilang dari dulu? Kenapa?” El memegang tanganku erat. Ia menatap mataku lekat dan tak melepaskannya, “seharusnya, hari itu, lo gak buat gue deket sama Airin,”

“Lepas!” Kevin langsung melepaskan tangan El dariku, dan BUKKK! Ia memukul wajah El tanpa basa-basi, “jangan menyentuhnya atau...,” aku menarik tangan Kevin, “kamu baik-baik aja kan?” aku mengangguk.

**

Airin menemuiku. Ia terlihat sedih ketika didepan mataku, “apa lo ribut sama El?” ia menggeleng, “kenapa?”
“El, sejak awal sayang sama lo. Dia jadiin gue pelarian aja saat lo bilang suka sama Kevin. Dan, lo ngalah buat gue kan?” Airin menangis, aku tak tahu harus berkata apa, “gue seolah pengganggu diantara kalian. Kalau gue gak bilang suka sama El, kalian berdua pasti udah...” aku memintanya berhenti bicara.
“Jangan katakan lagi, gue takut goyah. Gimana-gimana, Kevin udah disisi gue. Dan bagi gue, Kevin yang terbaik. Maaf, jangan katakan hal apapun lagi,”
Aku meninggalkannya namun ketika aku melangkah, El sudah ada disana. Tiba-tiba ia memelukku dan Airin melihat itu semua. Aku menjadi serba salah. Tepat saat itu Maura dan Rama melihatnya. Mereka pun tak bisa berbuat banyak.
“Lepas!” pintaku, El tak melepasnya, “kenapa El? Kenapa? Ada apa ini?”
“Gue terlambat, itu aja, maaf,” kemudian ia melepaskan pelukannya. Aku mengerti perasaannya tapi jujur, walaupun masih ada sedikit rasa sayangku padanya namun hatiku sudah menuliskan nama Kevin. Dan aku tak ingin lebih menyakiti Airin.
Maura tersenyum melihat itu begitupun Rama. Sedangkan aku, entahlah, aku merasa ini keputusan tepat tapi apakah El akan baik-baik saja?
“Kevin dateng,” Maura berbisik, aku pun langsung berlari kecil-kecil menghampiri Kevin. Aku mengambil coklat ditangannya yang pasti untukku. 
“Aku melihat El barusan, dia sedikit aneh,” Kevin melihat wajahku, “aku mengerti, tapi dalam hal ini, Airin yang sangat terluka,”

“Apa kamu ingin menenangkan Airin? Seperti itu? Lakukan saja,” aku meninggalkannya tapi ia langsung mengejar dan menggandeng tanganku.

 **

El berjalan seorang diri di koridor sekolah, aku ingin menghampirinya tapi tiba-tiba Maura muncul dan menggelengkan kepalanya.

Aku benar-benar tak mengerti, disisi El ada Airin yang jelas mencintainya tapi ia seolah tak memiliki itu. Dan disamping El, ia masih memiliki teman tapi ia menjauh sejak ia dikeluarkan dari tim basket sekolah secara tidak hormat.

“Jangan bilang lo masih ada rasa sama El?” Maura melotot tajam, “itu akan sangat kejam bagi Kevin,” terlihat sekali jika Maura tak suka dengan pikiranku tapi jujur, rasanya Maura benar jika aku belum bisa sepenuhnya melupakan El.

“Gue munafik kalau gak ngakuin itu tapi, entahlah, ini rumit,” ucapku lirih, “rasanya menyakitkan melihat El seperti itu,”

“Apa seperti itu?” tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang, Kevin, “aku akan menjadi orang kejam kali ini,” Kevin menarik tanganku. Aku tak tahu ia akan membawaku kemana.

Dan, ia membawaku ke ruang redaksi. Ia memperlihatkan semua berita yang tidak jadi diterbitkan dan itu semua tentang El. Aku diam. Aku tahu itu. Ada apa dengan Kevin memperlihatkan semua itu?

“Berhentilah atau aku akan menggantungmu,” ancamnya kemudian mengusap kepalaku, “perlahan, kamu akan melupakannya,” ia tersenyum. Mungkin Kevin sedikit kejam tapi akan lebih kejam jika aku berlari pada El.

“Akan sulit mendapatkan maaf dari kamu kalau aku pergi, benar kan?”

Kevin tak menjawab, ia hanya tersenyum kecil.

Kami tak tahu apa yang akan terjadi besok atau satu detik setelah ini tapi aku tak ingin setelah ini membuat keputusan salah dan membuat diriku dalam posisi harus meminta maaf.

Maaf,




TAMAT




Earning Per Share

a.      Definisi Earning Per Share Earning Per Share (EPS) atau pendapatan perlembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberik...