Jumat, 25 April 2014

Ragam Bahasa

MAKALAH BAHASA INDONESIA
Ragam Bahasa


Disusun oleh

Arum Kusuma Darmawati
Aula Nurul Ma’rifah
Umi Sofiatun
Tubagus Agil

Description: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/6/68/Logo_IAIN_Raden_Intan_Bandar_Lampung.jpg
Institut Agama Islam Negeri
Raden Intan Lampung
Tahun 2013



Daftar Isi
Kata Pengantar.......................................................................................................3
Daftar Isi.................................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang ........................................................................................................4
1.2  Rumusan Masalah...................................................................................................4
1.3  Tujuan......................................................................................................................4
1.4  Manfaat...................................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pentingnya Bahasa....................................................................................................6
2.2 Pengertian Ragam Bahasa........................................................................................6
2.3 Sebab Terjadinya Ragam Bahasa..............................................................................7
2.4 Macam-macam Ragam Bahasa................................................................................7
2.4.1 Ragam Bahasa Menurut Cara Berkomunikasi.......................................................8
2.4.2 Ragam Bahasa Indonesia Menurut Cara Pandang Penutur...................................14
2.4.3 Ragam Bahasa Menurut Topik Pembicaraan.........................................................15
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan...................................................................................................................19
3.2 Saran.............................................................................................................................19
Daftar Pustaka..............................................................................................................20


Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan pada kita semua sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dimana makalah ini membahas tentang ragam bahasa.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari banyak pihak sangat kami harapkan untuk menyempurnakan makalah ini.
Akhirnya, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yan telah membantu dalam pembuatan makalah ini, kami harapkan makalah ini dapat bermanfaat dan mampu menambah wawasan bagi semua semua orang.


Bab I
PENDAHULUAN
1.1                 Latar Belakang
Bahasa Indonesia merupakan bahasa ibu dari bangsa Indonesia yang sudah dipakai oleh masyarakat Indonesia sejak dahulu jauh sebelum Belanda menjajah Indonesia, namun tidak semua orang menggunakan tata cara atau aturan-aturan yang benar, salah satunya pada penggunaan bahasa Indonesia itu sendiri yang tidak sesuai dengan Ejaan maupun Kamus Besar Bahasa Indonesia oleh karena itu pengetahuan tentang ragam bahasa cukup penting untuk mempelajari bahasa Indonesia secara menyeluruh yang akhirnya bisa diterapkan dan dapat digunakan dengan baik dan benar sehingga identitas kita sebagai bangsa Indonesia tidak akan hilang.
Bahasa Indonesia wajib dipelajari oleh semua lapisan masyrakat. Tidak hanya pelajar dan mahasiswa saja, tetapi semua warga Indonesia wajib mempelajari bahasa Indonesia. Dalam bahasan bahasa Indonesia dimana ragam bahasa yaitu variasi bahasa Indonesia yang digunakannya berbeda-beda. Ada ragam bahasa lisan dan ada ragam bahasa tulisan. Disini yang lebih lebih ditekankan adalah ragam bahasa lisan , karena lebih banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan ngobrol, puisi, pidato,ceramah,dll.
1.2                 Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1.      Apakah yang dimaksud dengan ragam bahasa?
2.      Apa saja macam-macam ragam bahasa?
3.      Bagaimana cara menggunakan ragam bahasa yang baik dan benar?
1.3                 Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui tentang ragam bahasa Indonesia dan macam-macam ragam bahasa Indonesia ditinjau dari berbagai aspek. Dan memenuhi tugas bahasa Indonesia.
1.4    Manfaat
Manfaat dibuatnya makalah ini adalah :
1.      Mahasiswa dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan ragam bahasa.
2.      Mengetahui adanya berbagai ragam bahasa Indonesia yang sering digunakan.
3.      Penggunaan ragam bahasa.
4.      Contoh-contoh ragam bahasa.

























BAB II
PEMBAHASAN
2.1                 Pentingnya Bahasa
Manusia merupakan makhluk sosial. Makhluk yang tidak dapat hidup sendiri atau individu. Manusia sangat membutuhkan manusia lain dalam menjalankan aktivitas. Salah satu contoh penggunaan bahasa yaitu komunikasi dengan orang lain.
Kamus Besar Bahasa Indonesia secara terminology mengartikan bahasa sebagai  sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengindentifikasikan diri. Gorys Keraf (1994:1) memberikan pengertian bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa juga mencakup dua bidang, yaitu bunyi vokal dan arti atau makna. Bahasa sebagai bunyi vokal berarti sesuatu yang dihasilkan oleh alat ucap manusia berupa bunyi yang merupakan getaran yang merangsang alat pendengar. Sedangkan bahasa sebagai arti atau makna berarti isi yang terkandung di dalam arus bunyi yang menyebabkan reaksi atau tanggapan orang lain.
Bahasa adalah alat komunikasi antaranggota masyarakat Indonesia. Bahasa juga menunjukkan perbedaan antara satu penutur dengan penutur lainnya, tetapi masing-masing tetap mengikat kelompok penuturnya dalam satu kesatuan sehingga mampu menyesuaikan dengan adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat. Selain itu, fungsi bahasa juga melambangkan pikiran atau gagasan tertentu, dan juga melambangkan perasaan, kemauan bahkan dapat melambangkan tingkah laku seseorang.
Tanpa adanya bahasa didalam kehidupan bermasyarakat, maka kita akan sulit untuk menyampaikan maksud dalam melakukan suatu tindakan. Baik itu secara langsung melalui ucapan yang keluar dari ucapan kita, ataupun tulisan yang kita tulis untuk disampaikan.
Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial.
2.2                 Pengertian Ragam Bahasa
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.
Ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, ragam bahasa terdiri dari:
(1)   Ragam bahasa lisan
(2)   Ragam bahasa tulis
Bahasa yang dihasilkan melalui alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dinamakan ragam bahasa lisan, sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya, dinamakan ragam bahasa tulis. Jadi dalam ragam bahasa lisan, kita menggunakan lafal, dalam ragam bahasa tulis, kita menggunakan tata cara penulisan (ejaan). Selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua jenis ragam itu memiliki hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya huruf, melambangkan ragam bahasa lisan. Oleh karena itu, sering timbul kesan bahwa ragam bahasa lisan dan tulis itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjdi sistem bahasa yang memiliki seperangkat kaidah yang tidak identik benar, meskipun ada pula kesamaannya. Meskipun ada kedekatan aspek tata bahasa dan kosa kata, masing-masing memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu dari yang lain.
2.3                 Sebab Terjadinya Ragam Bahasa
Ragam bahasa timbul seiring dengan perubahan masyarakat. Perubahan itu berupa variasi-variasi bahasa yang dipakai sesuai keperluannnya. Agar banyaknya variasi tidak mengurangi fungsi bahasa sebagai alat komunikasi yang efisien, dalam bahasa timbul mekanisme untuk memilih variasi tertentu yang cocok untuk keperluan tertentu yang disebut ragam standar.

2.4                 Macam-Macam Ragam Bahasa
Ragam bahasa memiliki jumlah yang sangat banyak karena penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi tidak terlepas dari latar budaya penuturnya yang berbeda-beda. Selain itu, pemakaian bahasa juga bergantung pada pokok persoalan yang dibicarakan serta keperluan pemakainya.
Ragam bahasa di bagi berdasarkan beberapa cara yang pertama berkomunikasi yaitu: (1) Ragam Lisan, dan (2) ragam tulisan, kedua berdasarkan cara pandang penutur yaitu: (1) Ragam Dialek, (2) ragam terpelajar, (3) ragam resmi, dan (4) ragam tak resmi, berdasarkan pesan komunikasi yaitu (1) ragam politik, (2) ragam hukum, (3) ragam pendidikan, (4) ragam sastra, dan sebagainya.
2.4.1 Ragam Bahasa Menurut Cara Berkomunikasi
A.                    Ragam Lisan
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur  di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.
Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis.  Kedua ragam itu masing-masing, ragam tulis dan ragam lisan memiliki ciri kebakuan yang berbeda.
Ciri-ciri ragam lisan:
a.       Memerlukan orang kedua/teman bicara;
b.      Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu;
c.       Tidak harus memperhatikan unsur gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
d.      Berlangsung cepat;
e.       Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu;
f.       Kesalahan dapat langsung dikoreksi;
g.      Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.
h.      Di pengaruhi oleh tinggi rendahnya suara.
Contoh ragam lisan
Penggunaan Bentuk Kata
-  Nia sedang baca surat kabar.
-  Ari mau nulis surat.
-  Tapi kau tak boleh nolak lamaran itu.
-  Mereka tinggal di Medan.
-  Jalan layang itu untuk mengatasi kamacetan lalu lintas
Penggunaan Kosa Kata
-  Alzeta bilang kalau kita harus belajar.
-  Kita harus bikin karya tulis.
-  Saya sudah kasih tahu mereka tentang hal itu.
Penggunaan Struktur Kalimat
-  Rencana ini sudah saya sampaikan kepada Direktur.
-  Dalam “Asah Terampil” ini dihadiri juga oleh Gubernur Jakarta
B.                    Ragam Tulis
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan media tulis seperti kertas dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan dan kosakata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata atau pun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca daam mengungkapkan ide. Ragam tulis yang standar kita temui dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat kabar, poster, iklan. Kita juga dapat menemukan ragam tulis non standar dalam majalah remaja, iklan, atau poster.
Ciri-ciri ragam tulis :
1.                       Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara.
2.                       Bersifat objektif.
3.                       Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu.
4.                       Mengemban konsep makna yang jelas.
5.      Harus memperhatikan unsur gramatikal.
6.      Berlangsung lambat.
7.      Jelas struktur bahasanya, susunan kalimatnya juga jeas, dan runtut.
8.      Selalu memakai alat bantu;
9.      Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi;
10.      Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda baca.
Ketentuan-ketentuan ragam tulis :
1.                       Memakai ejaan resmi.
2.                       Menghindari unsur kedaerahan.
3.                       Memakai fungsi gramatikal secara eksplisit.
4.                       Memakai bentuk sintesis.
5.                       Pemakaian partikel secara konsisten.
6.                       Menghindari unsur leksikal yang terpengaruh bahasa daerah
Kelebihan ragam bahasa tulis :
1.                       Informasi yang disajikan bisa pilih untuk dikemas sebagai media atau materi yang menarik dan menyenangkan.
2.                       Umumnya memiliki kedekatan budaya dengan kehidupan masyarakat.
3.                       Sebagai sarana memperkaya kosakata.
4.                       Dapat digunakan untuk menyampaikan maksud, membeberkan informasi atau mengungkap unsur-unsur emosi sehingga mampu mencanggihkan wawasan pembaca.
Kelemahan ragam bahasa tulis :
1.                       Alat atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan tidak ada akibatnya bahasa tulisan harus disusun lebih sempurna.
2.                       Tidak mampu menyajikan berita secara lugas, jernih dan jujur, jika harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa yang dianggap cendrung miskin daya pikat dan nilai jual.
3.                       Yang tidak ada dalam bahasa tulisan tidak dapat diperjelas/ditolong,  oleh karena itu dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih besar.
Contoh ragam tulis adalah ’Saya sudah membaca buku itu.’
Contoh perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis (berdasarkan tata bahasa dan kosa kata):
o   Tata Bahasa
(Bentuk kata, Tata Bahasa, Struktur Kalimat, Kosa Kata)
a.        Ragam bahasa lisan:
-          Nia sedang baca surat kabar
-          Ari mau nulis surat
b.      Ragam bahasa tulis:
-          Nia sedang membaca surat kabar.
-          Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran itu.
-          Mereka bertempat tinggal di Menteng
-          Akan saya tanyakan soal itu.
o   Kosa kata
Contoh ragam lisan dan tulis berdasarkan kosa kata:
a.        Ragam Lisan
-          Ariani bilang kalau kita harus belajar
-          Kita harus bikin karya tulis
-          Rasanya masih terlalu pagi buat saya, Pak
b.       Ragam Tulis
-          Ariani mengatakan bahwa kita harus belajar
-          Kita harus membuat karya tulis.
-          Rasanya masih terlalu muda bagi saya, Pak.
Istilah lain yang digunakan selain ragam bahasa baku adalah ragam bahasa standar, semi standar dan nonstandar. Bahasa ragam standar memiliki sifat kemantapan berupa kaidah dan aturan tetap. Akan tetapi, kemantapan itu tidak bersifat kaku. Ragam standar tetap luwes sehingga memungkinkan perubahan di bidang kosakata, peristilahan, serta mengizinkan perkembangan berbagai jenis laras yang diperlukan dalam kehidupan modem (Alwi, 1998: 14).
Pembedaan antara ragam standar, nonstandar, dan semi standar dilakukan berdasarkan:
a.       Topik yang sedang dibahas,
b.        Hubungan antarpembicara,
c.       Medium yang digunakan,
d.        Lingkungan, atau
e.        Situasi saat pembicaraan terjadi

Ciri yang membedakan antara ragam standar, semi standar dan nonstandard adalah sebagai berikut:
·         Penggunaan kata sapaan dan kata ganti,
·         Penggunaan kata tertentu,
·         Penggunaan imbuhan,
·         Penggunaan kata sambung (konjungsi), dan
·         Penggunaan fungsi yang lengkap.
Penggunaan kata sapaan dan kata ganti merupakan ciri pembeda ragam standar dan ragam nonstandar yang sangat menonjol. Kepada orang yang kita hormati, kita akan cenderung menyapa dengan menggunakan kata Bapak, Ibu, Saudara, Anda. Jika kita menyebut diri kita, dalam ragam standar kita akan menggunakan kata saya atau aku. Dalam ragam nonstandar, kita akan menggunakan kata gue.
Penggunaan kata tertentu merupakan ciri lain yang sangat menandai perbedaan ragam standar dan ragam nonstandar. Dalam ragam standar, digunakan kata-kata yang merupakan bentuk baku atau istilah dan bidang ilmu tertentu. Penggunaan imbuhan adalah ciri lain. Dalam ragam standar kita harus menggunakan imbuhan secara jelas dan teliti.
Kelengkapan fungsi merupakan ciri terakhir yang membedakan ragam standar dan nonstandar. Artinya, ada bagian dalam kalimat yang dihilangkan karena situasi sudah dianggap cukup mendukung pengertian. Dalam kalimat-kalimat yang nonstandar itu, predikat kalimat dihilangkan. Seringkali pelesapan fungsi terjadi jika kita menjawab pertanyaan orang. Misalnya, Hai, Ida, mau ke mana?” “Pulang.” Sering kali juga kita menjawab “Tau.” untuk menyatakan ‘tidak tahu’. Sebenarnya, pëmbedaan lain, yang juga muncul, tetapi tidak disebutkan di atas adalah Intonasi. Masalahnya, pembeda intonasi ini hanya ditemukan dalam ragam lisan dan tidak terwujud dalam ragam tulis.
Beberapa penyusun buku seperti E.Zaenal Arifin dan S.Amran Tasai (1999:18-19) mengatakan bahwa pada dasarnya, ragam tulis dan ragam lisan terdiri pula atas ragam baku dan ragam tidak baku.
Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya atau ragam bahasa yang dipakai jika kawan bicara adalah orang yang dihormati oleh pembicara, atau jika topik pembicaraan bersifat resmi (mis. Surat-menyurat dinas, perundang-undangan, karangan teknis), atau jika pembicara dilakukan didepan umum. Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku.
Ragam baku itu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a) Kemantapan dinamis
Mantap artinya sesuai dengan kaidah bahasa, kalau katarasa dibubuhi awalan pe-, akan terbentuk kata perasa. Kataraba dibubuhi pe-, akan terbentuk kata peraba. Oleh karena itu, menurut kemantapan bahasa, kata rajin dibubuhi pe-, akan menjadi perajin, bukan pengrajin. Kalau kita berpegang pada sifat mantap, kata pengrajin tidak dapat kita terima.
Dinamis artinya tidak statis, tidak kaku. Kata langganan mempunyai makna ganda, yaitu orang yang berlangganan dan toko tempat berlangganan. Dalam hal ini, tokonya disebutlangganan dan orang yang berlangganan itu disebut pelanggan.
b) Cendekia
Ragam baku bersifat cendekia karena ragam baku dipakai pada tempat-tempat resmi. Pewujud ragam baku ini adalah orang-orang yang terpelajar. Hal ini dimungkinkan oleh pembinaan dan pengembangan bahasa yang lebih banyak melalui jalur pendidikan formal (sekolah).
Di samping itu, ragam baku dapat dengan tepat memberikan gambaran apa yang ada dalam otak pembicara atau penulis. Selanjutnya, ragam baku dapat memberikan gambaran yang jelas dalam otak pendengar atau pembaca.
c) Seragam
Ragam baku bersifat seragam, pada hakikatnya, proses pembakuan bahasa ialah proses penyeragaman bahasa. Dengan kata lain, pembakuan bahasa adalah pencarian titik-titik keseragaman. Pelayan kapal terbang dianjurkan untuk memakai istilah pramugara danpramugari. Andaikata ada orang yang mengusulkan bahwa pelayan kapal terbang disebut steward atau stewardes dan penyerapan itu seragam, kata itu menjadi ragam baku.
 Akan tetapi, kata steward dan stewardes sampai dengan saat ini tidak disepekati untuk dipakai. Yang timbul dalam masyarakat ialahpramugara atau pramugari.
Dalam berbahasa Indonesia, kita sudah mengenal ragam lisan dan ragam tulis, ragam baku dan ragam tidak baku. Oleh sebab itu muncul ragam baku tulis dan ragam baku lisan. Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran atau buku-buku ilmiah lainnya. Pemerintah sekarang mendahulukan ragam baku tulis secara nasional. Usaha itu dilakukan dengan menerbitkan masalah ejaan bahasa Indonesia, yang tercantum dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa yang Disempurnakan.
Dalam masalah ragam baku lisan, ukuran dan nilai ragam baku lisan ini bergantung pada besar atau kecilnya ragam daerah yang terdengar dalam ucapan. Seseorang dikatakan berbahasa lisan yang baku kalau dalam pembicaraannya tidak terlalu menonjol pengaruh logat atau dialek daerahnya.
2.4.2      Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan cara pandang penutur
Berdasarkan cara pandang penutur, ragam bahasa dibagi menjadi empat, yaitu: Ragam Dialek, Ragam Terpelajar, Ragam Resmi, dan Ragam Takresmi.
a. Ragam Dialek
Ragam daerah/dialek adalah variasi bahasa yang dipakai oleh kelompok banhasawan ditempat tertentu(lihat Kridalaksana, 1993:42). Dalam istilah lama disebut dengan logat.logat yang paling menonjol yang mudah diamati ialah lafal (lihat Sugono, 1999:11). Logat bahasa Indonesia orang Jawa tampak dalam pelafalan /b/pada posisi awal nama-nama kota, seperti mBandung, mBayuwangi,atau realisai pelafalan kata seperti pendidi’an, tabra’an, kenai’an, gera’an. Logat daerah paling kentara karena tata bunyinya. Logat indonesia yang dilafalkan oleh seorang Tapanuli dapat dikenali, misalnya, karena tekanan kata yang amat jelas; logat indonesia orang bali dan jawa, karena pelaksanaan bunyi /t/ dan /d/-nya. Ciri-ciri khas yang meliputi tekanan, turun naiknya nada, dan panjang pendeknya bunyi bahasa membangun aksen yang berbeda-beda.
b. Ragam Terpelajar
Tingkat pendidikan penutur bahasa indonesia juga mewarnai penggunaan bahasa indonesia. Bahasa indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur berpendidikan tampak jelas perbedeaannya dengan yang digunakan oleh kelompok penutur yang tidak berpendidikan. Terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, seperti contoh dalam tabel berikut.
Tidak Terpelajar
Terpelajar
Pidio
Video
Pilem
Film
Komplek
Kompleks
Pajar
Fajar
Pitamin
Vitamin

c. Ragam Resmi dan Tak Resmi
Kedua ragam bahasa tersebut akan dijelaskan secara rinci sebagai berikut.
1. Ragam resmi
Ragam resmi adalah bahasa yang digunakan dalam situasi resmi, seperti pertemuan-pertemuan, peraturan-peraturan, dan undangan-undangan.
Ciri-ciri ragam bahasa resmi :
a. Menggunakan unsur gramatikal secara eksplisit dan konsisten;
b. Menggunakan imbuhan secara lengkap;
c. Menggunakan kata ganti resmi;
d. Menggunakan kata baku;
e. Menggunakan EYD;
f. Menghindari unsur kedaerahan.
2. Ragam tak resmi
Ragam takresmi adalah bahasa yang digunakan dalam situasi takresmi, seperti dalam pergaulan, dan percakapan pribadi, seperti dalam pergaulan, dan percakapan pribadi (lihat Keraf, 1991:6). Ciri-ciri ragam bahasa tidak resmi kebalikan dari ragambahasa resmi. Ragam bahasa tidak resmi ini digunakan ketika kita berada dalam situasi yang tidak normal.
Ragam bahasa resmi atau takresmi ditentukan oleh tingkat keformalan bahasa yang digunakan. Semakin tinggi tingkat kebakuan suatu bahasa, derarti semakin resmi bahas yang digunakan. Sebaliknya semakin rendah pula tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan- (lihat Sugono, 1998:12-13). Contoh: Bahasa yang digunakan oleh bawahan kepada atasan adalah bahas resmi sedangkan bahasa yang digunakan oleh anak muda adalah ragam bahasa santai/takresmi.
2.4.3      Ragam bahasa Indonesia menurut topik pembicaraan.
Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa dibagi menjadi: ragam politik, ragam hukum, ragam pendidikan, ragam jurnalistik, dan Ragam sastra dan sebagainya. Kelima jenis ragam bahasa tersebut akan dijelaskan secara rinci sebagai berikut.
a.        Ragam politik
Bahasa politik berisi kebijakan yang dibuat oleh penguasa dalam rangka menata dan mengatur kehidupan masyarakat. dengan sendirinya penguasa merupakan salah satu sumber penutur bahasa yang mempunyai pengaruh yang besar dalam pengembangan bahasa di masyarakat.
b.       Ragam hukum
Salah satu ciri khas dari bahasa hukum adalah penggunaan kalimat yang panjang dengan pola kalimat luas. Diakui bahwa bahasa hukum Indonesia tidak terlalu memperhatikan sifat dan ciri khas bahasa Indonesia dalam strukturnya. Hal ini disebabkan karena hukum Indonesia pada umumnya didasarkan pada hukum yang ditulis pada zaman penjajahan Belanda dan ditulis dalam bahasa Belanda. Namun, terkadang sangat sulit menggunakan kalimat yang pendek dalam bahasa hukum karena dalam bahasa hukum kejelasan norma-norma dan aturan terkadang membutuhkan penjelasan yang lebar, jelas kriterianya, keadaan, serta situasi yang dimaksud.

c.                        Ragam Sosial dan Ragam Fungsional
Ragam sosial dapat didefinisikan sebagai ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakantan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat. Ragam sosial membedakan penggunaan bahasa berdasarkan hubungan orang misalnya berbahasa dengan keluarga, teman akrab dan atau sebaya, serta tingkat status sosial orang yang menjadi lawan bicara. Ragam sosial ini juga berlaku pada ragam tulis maupun ragam lisan. Sebagai contoh orang takkan sama dalam menyebut lawan bicara jika berbicara dengan teman dan orang yang punya kedudukan sosial yang lebih tinggi. Pembicara dapat menyebut “kamu” pada lawan bicara yang merupakan teman tetapi takkan melakukan itu jika berbicara dengan orang dengan status sosial yang lebih tinggi atau kepada orang tua.
Ragam fungsioanal, sering juga disebut ragam professional merupakan ragam bahasa yang diakitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya. Sebagai contoh yaitu adanya ragam keagamaan, ragam kedokteran, ragam teknologi dll. Kesemuaan ragam ini memiliki fungsi pada dunia mereka sendiri.
d.        Ragam jurnalistik
Bahasa Jurnalistik adalah ragam bahasa yang dipergunakan oleh dunia persurat-kabaran (dunia pers = media massa cetak). Dalam perkembangan lebih lanjut, bahasa jurnalistik adalah bahasa yang dipergunakan oleh seluruh media massa. Termasuk media massa audio (radio), audio visual (televisi) dan multimedia (internet). Hingga bahasa jurnalistik adalah salah satu ragam bahasa, yang dibentuk karena spesifikasi materi yang disampaikannya. Ragam khusus jurnalistik termasuk dalam ragam bahasa ringkas.
Ragam ringkas mempunyai sifat-sifat umum sebagai berikut.
ü  Bahasanya padat
ü  Selalu berpusat pada hal yang dibicarakan
ü  Banyak sifat objektifnya daripada subjektifnya
ü  Lebih banyak unsure pikiran daripada perasaan
ü  Lebih bersifat memberitahukan daripada menggerakkan emosi
Tujuan utama ialah supaya pendengar/pembaca tahu atau mengerti. Oleh karena itu, yang diutamakan ialah jelas dan seksamanya. Kalimat-kalimatnya disusun selogis-logisnya.
Bahasa jurnalistik ditujukan kepada umum, tidak membedakan tingkat kecerdasan, kedudukan, keyakinan, dan pengetahuan.
e.       Ragam sastra
Ragam bahasa sastra memiliki sifat atau karakter subjektif, lentur, konotatif, kreatif dan inovatif. Dalam bahasa yang beragam khusus terdapat kata-kata, cara-cara penuturan, dan ungkapan-ungkapan yang khusus, yang kurang lazim atau tak dikenal dalam bahasa umum. Bahasa sastra ialah bahasa yang dipakai untuk menyampaikan emosi (perasaan) dan pikiran, fantasi dan lukisan angan-angan, penghayatan batin dan lahir, peristiwa dan khayalan, dengan bentuk istimewa. Istimewa karena kekuatan efeknya pada pendengar/pembaca dan istimewa cara penuturannya. Bahasa dalam ragam sastra ini digunakan sebagai bahan kesenian di samping alat komunikasi. Untuk memperbesar efek penuturan dikerahkan segala kemampuan yang ada pada bahasa. Arti, bunyi, asosiasi, irama, tekanan, suara, panjang pendek suara, persesuaian bunyi kata, sajak, asonansi, posisi kata, ulangan kata/kalimat dimana perlu dikerahkan untuk mempertinggi efek. Misalnya, bahasa dalam sajak jelas bedanya dengan bahasa dalam karangan umum.
Berbeda dengan ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa sastra banyak mengunakan kalimat yang tidak efektif. Penggambaran yang sejelas-jelasnya melalui rangkaian kata bermakna konotasi sering dipakai dalam ragam bahasa sastra. Hal ini dilakukan agar tercipta pencitraan di dalam imajinasi pembaca.
Jika ditelusuri lebih jauh, ragam berdasarkan cara pandang penutur dapat dirinci lagi berdasarkan ciri (1) kedaerahan, (2) pendidikan, dan (3) Sikap penutur sehingga di samping ragam yang tertera diatas, terdapat pula ragam menurut daerah, ragam menurut pendidikan, dan ragan menurut sikap penutur. Ragam menurut daerah akan muncul jika para penutur dan mitra komunikasinya berasal sari suku/etnik yang sama. Pilihan ragam akan beralih jika para pelakunya multietnik atau suasana berubah, misalnya dari takresmi menjadi resmi.
Penetapan ragam yang dipakai bergantung pada situasi, kondisi, topik pembicaraan, serta bentuk hubungan antar pelaku. Berbagai faktor tadi akan mempengaruhi cara pandang penutur untuk menetapkan salah satu ragam yang digunakan (dialeg, terpelajar, resmi, takresmi).
Dalam praktek pemakaian seluruh ragam yang dibahas diatas sering memiliki kesamaan satu sama lain dalam hal pemakaian kata. Ragam lisan (sehari-hari) cenderung sama dengan ragam dialek, dan ragam takresmi, sedangkan ragam tulis (formal) cenderung sama dengan ragam resmi dan ragam terpelajar. Selanjutnya, ragam terpelajar tentu mirip dengan ragam ilmu.
Dibawah ini akan diberikan contuh ragan-ragam tersebut. Ragam ilmu sengaja dipertentangkan dengan ragam nonilmu demi kejelasan ragam ilmu itu sendiri.
Ragam
Contoh
a.Lisan
b.Tulis
c.Dialek
d.Terpelajar
e.Resmi
f.Takresmi
Sudah saya baca buku itu.
Saya sudah membaca buku itu.
Gue udah baca itu buku.
Saya sudah membaca buku itu
Saya sudah membaca buku itu
Sudah saya baca buku itu.



Ragam
Nonilmu (nonilmiah)
Ilmu (ilmiah)
Ayan bukan penyakit menular.
- Polisi bertugas menanyai tersangka.
- Setiap agen akan mendapatkan potongan.
Jalan cerita sinetron itu membosankan.
Epilepsi bukan penyakit menular.
- Polisi bertugas menginterogasi tersangka.
- Setiap agen akan mendapatkan rabat.
Alur cerita sinetron itu membosankan
Ciri-ciri ragam ilmiah:
1.      Bahasa Indonesia ragam baku;
2.      Penggunaan kalimat efektif;
3.      Menghindari bentuk bahasa yang bermakna ganda;
4.      Penggunaan kata dan istilah yang bermakna lugas dan menghindari pemakaian kata dan istilah yang bermakna kias;
5.      Menghindari penonjolan persona dengan tujuan menjaga objektivitas isi tulisan;
6.      Adanya keselarasan dan keruntutan antarproposisi dan antaralinea.
Contoh ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan:
1.                       Dia dihukum karena melakukan tindak pidana. (ragam hukum)
2.      Setiap pembelian di atas nilai tertentu akan diberikan diskon.(ragam bisnis)
3.      Cerita itu menggunakan unsur flashback. (ragam sastra)
4.      Anak itu menderita penyakit kuorsior. (ragam kedokteran)
5.      Penderita autis perlu mendapatkan bimbingan yang intensif. (ragam psikologi)




BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Dalam konteks ini ragam bahasa meliputi bahasa lisan dan bahasa baku tulis.
Pada ragam bahasa baku tulis diharapkan para penulis mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menggunakan Ejaan bahasa yang telah Disempurnakan (EYD), sedangkan untuk ragam bahasa lisan diharapkan para warga negara Indonesia mampu mengucapkan dan memakai bahasa Indonesia dengan baik serta bertutur kata sopan sebagaimana pedoman yang ada.
3.2                 Saran
Sebaiknya kita atau siapa pun penduduk di Indonesia menggunakan ragam bahasa yang baik dan benar sehingga keberadaan ragam bahasa itu sendiri tidak punah dengan adanya bahasa-bahasa yang terkadang jauh dari aturan bahasa yang ada di Indonesia bahkan bertentangan.










DAFTAR PUSTAKA
Rahardi Kunjawa. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta : Penerbit Erlangga, 2009.
Tim Pengembang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung, Penggunaan Bahasa Indonesia Laras Ilmiah, 2010.

Neraca Pembayaran Indonesia

Hubungan ekonomi antar bangsa dan lintas wilayah negara sudah berlangsung selama berabad-abad. Di masa lampau, bentuknya yang paling umum adalah berupa perdagangan atau transaksi barang. Di beberapa wilayah, terjadi pula transaksi jasa berupa penggunaan tenaga kerja dari bangsa lain secara musiman.

Seiring dengan kemajuan teknologi, khususnya di bidang transportasi dan komunikasi, perdagangan yang bersifat antar bangsa dan lintas wilayah mengalami pertumbuhan luar biasa selama dua abad terakhir. Perkembangan terjadi dalam volume, nilai, serta ragam bentuk hubungan ekonomi. Hal yang biasa disebut sebagai perdagangan internasional ini masih terus menunjukkan kecenderungan (trend) peningkatan.

Volume dan nilai transaksi barang terus tumbuh, dan jenis barang yang diperjualbelikan menjadi semakin banyak. Ada makanan, minuman, pakaian, perabotan rumah tangga, peralatan kantor, mesin produksi, kendaraan bermotor, produk kimia, sampai dengan persenjataan. Sedangkan transaksi jasa menjadi semakin populer, dengan aneka bentuk yang kompleks serta menjangkau wilayah yang semakin luas. Transaksi jasa bahkan cenderung tumbuh lebih cepat daripada transaksi barang. Transaksi jasa yang populer antara lain meliputi: jasa transportasi, pariwisata, asuransi, keuangan, perbankan, manajemen, alih teknologi, dan hiburan.

Selain transaksi barang dan transaksi jasa, ada jenis hubungan ekonomi internasional yang disebut transaksi modal dan transaksi keuangan. Meski baru belakangan dikenal luas, namun perkembangan nilainya sangat spektakuler. Dilihat dari ciri pokok dan bentuk dasar hubungan ekonomi, sebenarnya transaksi modal dan keuangan merupakan transaksi jasa. Namun karena besaran dan ciri tertentu yang khas, serta untuk kemudahan analisa, jenis perdagangan ini biasa dikategorikan secara tersendiri. Yang termasuk jenis ini antara lain adalah transaksi utang piutang dan penanaman modal atau investasi lintas negara.

Perkembangan pun terjadi dalam hal pelaku perdagangan internasional. Kini, pelakunya adalah pemerintah, individu, perusahaan, serta lembaga-lembaga non negara. Beberapa lembaga bahkan tidak bernaung dalam yurisdiksi suatu negara, melainkan bersifat internasional, seperti: Bank Dunia, IMF, ADB, dan lain-lainnya.

Sebagian perusahaan telah bercirikan multinasional, sehingga biasa disebut sebagai multi national corporation (MNC). MNC memiliki ciri-ciri antara lain: dimiliki oleh banyak orang dengan kewarganegaraan berbeda; wilayah operasionalnya mendunia; sekalipun berkantor pusat di suatu negara, mereka memiliki banyak anak perusahaan di berbagai negara; dan ciri yang terpenting adalah memiliki asset dan omset penjualan yang luar biasa besar nilainya, yang melampaui nilai PDB banyak negara. Beberapa contoh MNC yang terkenal adalah: Exxon mobil, Newmont, Ford, Toyota, Unilever, IBM, Microsoft, Nokia, Samsung, City Bank dan Prudential.

Transaksi ekonomi yang bersifat internasional lazim dicatat secara sistematis oleh setiap negara. Di kebanyakan negara, catatan itu direkapitulasi dan dipublikasikan secara rutin, setiap tahun dan setiap tiga bulan. Pencatatan dan penghitungan dilakukan dengan sudut pandang masing-masing negara. Fokus utama pencatatan adalah keluar masuknya uang dalam denominasi mata uang asing (devisa). Jadi yang hendak dicatat adalah seberapa banyak devisa masuk dan keluar dalam kurun waktu tertentu, akibat adanya transaksi ekonomi dengan luar negeri.

Di setiap negara, pencatatan ada yang dilaksanakan oleh suatu departemen atau lembaga pemerintahan, dan ada pula yang dilakukan oleh bank sentralnya. Perlu diketahui bahwa sebagian besar bank sentral saat ini bersifat otonom dari pemerintahan dan dianggap sebagai suatu lembaga negara. Di Indonesia pun pencatatan dan publikasi dilakukan oleh Bank Indonesia. Dalam beberapa bagian tertentu ada pula yang dicatat dan dipublikasikan oleh BPS, namun dengan sedikit perbedaan pendekatan.

Catatan sistematis atas nilai transaksi barang, biasanya untuk kurun waktu satu tahun, disebut neraca perdagangan (trade balance). Ada pencatatan tentang nilai ekspor, barang-barang yang dijual ke luar negeri; serta pencatatan tentang nilai impor, barang-barang yang dibeli dari luar negeri. Istilah yang dipakai untuk menunjukkan nilainya secara bersamaan disebut ekspor bersih (neto), nilai ekspor dikurangi nilai impor.

Catatan sistematis atas nilai transaksi jasa selama satu tahun disebut neraca jasa (services account). Sama seperti pada neraca perdagangan, yang dicatat adalah nilai ekspor jasa-jasa dan impor jasa-jasa. Juga ada istilah transaksi jasa bersih (neto), yang serupa dengan ekspor neto. Akan tetapi kelaziman pencatatan sekarang adalah dengan memilah-milah lagi transaksi jasa dan mencatatnya ke dalam beberapa neraca. Pencatatan Bank Indonesia memilahnya menjadi: Jasa-jasa (services), Pendapatan (incomes), dan transfer berjalan (current transfers). Dengan demikian pengertian neraca jasa dapat berarti luas mencakup seluruh jasa, dan bisa berarti sempit sebagai kelompok jenis jasa tertentu.

Dalam artian yang sempit menurut pencatatan Bank Indonesia, jasa-jasa terutama meliputi transportasi (barang maupun penumpang), travel (wisata), dan jasa lainnya. Sebagai contoh adalah penggunaan armada asing untuk mengangkut impor barang. penerimaan devisa dari turis mancanegara, pengeluaran devisa turis domestik yang pergi ke luar negeri, jasa telekomunikasi, pembelanjaan kedutaan/perwakilan negara asing, dan pembiayaan kedutaan/perwakilan Indonesia di luar negeri.

Pendapatan meliputi kompensasi pekerja (compensation of employees) dan pendapatan investasi (investment income). Pendapatan investasi terdiri dari investasi langsung (direct investment), investasi portofolio (portfolio investment), dan investasi lainnya. Pembayaran bunga utang luar negeri dan keuntungan dari perusahaan asing yang dikirim ke luar negeri, dan pembayaran bunga surat utang (obligasi) domestik yang dimiliki asing termasuk ke dalam catatan ini.. Akan tetapi jangan dilupakan bahwa ada penduduk Indonesia yang melakukan investasi di luar negeri, serta membeli surat berharga (saham dan obligasi), yang memberikan pendapatan, sehingga perlu dicatat dalam neraca yang sama secara berkebalikan.

Transfer berjalan meliputi transfer sektor pemerintah dan sektor lainnya. Transaksinya lebih bersifat perpindahan uang, yang tidak secara langsung terkait dengan balas jasa atas penggunaan faktor produksi, yang disebut dengan pos transfer berjalan. Contoh macam transaksinya yang terpenting adalah pengiriman transfer oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri, serta penerimaan hibah. Penerimaan hibah dari luar negeri, misalnya untuk bantuan bencana alam, bantuan mengatasi masalah kemanusiaan tertentu, dan sebagainya. Tentu saja dicatat secara berkebalikan, transfer dari Indonesia ke luar negeri untuk transaksi serupa.

Kedua jenis neraca yang telah dijelaskan tadi sering digabungkan, disajikan dalam satu neraca yang disebut transaksi berjalan (current accounts). Artinya, transaksi berjalan merupakan catatan gabungan dari neraca perdagangan, neraca jasa, pendapatan dan transfer berjalan.

Di awal tulisan disinggung adanya jenis transaksi yang lebih belakangan dikenal dunia, namun jumlahnya semakin dominan, yakni transaksi modal. Catatan sistematis atas nilai transaksi modal selama satu tahun disebut neraca modal (capital account) atau transaksi modal, yang kadang disebut secara lengkap sebagai transaksi modal dan finansial. Yang dicatat adalah transaksi yang berkenaan dengan utang piutang dan investasi, yang bersifat internasional. Penerimaan utang baru dan pembayaran cicilan pokok utang lama masuk ke dalam catatan ini. Ingat, pembayaran bunga utang masuk ke dalam neraca jasa, karena dianggap balas jasa atas modal.

Logika yang sama dipakai untuk investasi langsung dan investasi portofolio. Nilai keluar masuknya modal dicatat dalam transaksi modal, sedangkan pembayaran keuntungan dari modal tersebut dicatat pada neraca jasa. Yang dimaksud investasi langsung adalah penanaman modal yang secara langsung dimaksudkan untuk menambah kapasitas produksi barang dan jasa, seperti pendirian pabrik, penambahan mesin-mesin produksi, penambahan tenaga kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia, perbaikan teknologi produksi, upaya meningkatkan pemasaran, dan hal lain yang serupa. Sedangkan investasi portofolio adalah penanaman modal dalam bentuk surat berharga, seperti saham, obligasi negara, obligasi korporasi, SBI, dan semacamnya.

Secara teknis biasa dijelaskan bahwa transaksi modal mencakup transfer modal dan transaksi terkait aset nonfinansial tidak terbarukan (non-produced, non-financial assets). Transfer modal berisikan transfer kepemilikan atas aset tetap tanpa imbalan secara langsung, atau transfer dana yang terkait dengan aset tetap, atau pembatalan klaim finansial dengan kesepakatan bersama antara kreditur dan debitur (pengampunan utang—debt forgiveness). Sementara itu, transaksi finansial memberi hak untuk menerima atau kewajiban untuk menyediakan uang atau instrumen finansial lainnya. Transaksi finansial terdiri dari transaksi yang terkait dengan perubahan kepemilikan aset dan kewajiban finansial luar negeri Indonesia.

Selanjutnya kita dapat pula melihat catatan gabungan dari transaksi berjalan dengan neraca atau lalu lintas modal, yang disebut dengan neraca pembayaran internasional, seringkali disingkat dengan istilah neraca pembayaran (balance of payments). Dengan kata lain, neraca pembayaran suatu negara menggambarkan hasil bersih arus uang masuk dan ke luar negaranya selama kurun waktu tertentu, biasanya dalam setahun. Uang yang dipakai adalah uang yang umum diterima sebagai alat pembayaran internasional, biasa disebut dengan devisa. Saat ini, kebanyakan devisa berupa emas, dolar Amerika, Euro, Poundsterling, Yen, dan SDR (mata uang IMF).

Secara konvensional, neraca pembayaran (termasuk neraca perdagangan, neraca jasa, dan transaksi berjalan) dinyatakan dalam dolar Amerika. Sekalipun sebagian transaksi yang terjadi mungkin dibayar dengan mata uang lain atau dengan emas, pencatatannya pada neraca pembayaran dikonversikan ke dalam dolar.

Dari uraian di atas, kita tegaskan kembali bahwa Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) merupakan pencatatan atas transaksi ekonomi yang terjadi antara penduduk dengan bukan penduduk Indonesia pada suatu periode tertentu.

Penduduk Indonesia didefinisikan sebagai unit institusional yang memiliki pusat kepentingan ekonomi (center of economic interest) di Indonesia. Suatu unit institusional dikatakan memiliki pusat kepentingan ekonomi di Indonesia bila telah atau berencana terlibat dalam kegiatan dan transaksi ekonomi (tinggal, berproduksi, mengonsumsi, berinvestasi, dan/atau memperoleh penghasilan) di Indonesia selama satu tahun atau lebih.

Dalam statistik NPI, penduduk Indonesia terdiri dari: (1) Lembaga pemerintah yang terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan lembaga pemerintah nondepartemen. Kedutaan Besar dan Konsulat Indonesia di luar negeri merupakan wilayah teritori Indonesia sehingga termasuk dalam definisi penduduk Indonesia; sebaliknya Kedutaan Besar negara asing di Indonesia bukan merupakan penduduk Indonesia; (2) Lembaga keuangan dan perusahaan bukan lembaga keuangan yang mencakup semua perusahaan yang terlibat dalam produksi barang dan jasa secara komersial dalam wilayah teritori Indonesia. Perusahaan ini dapat berbentuk inkorporasi atau bukan inkorporasi; dimiliki/dikontrol oleh pemerintah (BUMN/BUMD)/swasta (BUMS); ataupun dimiliki/dikontrol oleh domestik/asing. Cabang perusahaan asing di Indonesia merupakan penduduk Indonesia, sementara cabang perusahaan Indonesia di luar negeri tidak termasuk penduduk Indonesia; (3) Lembaga nirlaba, yaitu lembaga yang memproduksi barang dan jasa dalam wilayah teritori Indonesia tidak dengan tujuan untuk memperoleh penghasilan finansial. Contohnya adalah lembaga keagamaan dan lembaga sosial. (4) Rumah tangga dan perorangan, yaitu semua orang yang tinggal di dalam wilayah teritori Indonesia selama satu tahun atau lebih dan pusat kepentingan ekonominya ada di Indonesia. Dalam pengertian ini termasuk orang Indonesia yang bepergian ke luar negeri untuk tujuan wisata, belajar, atau berobat; staf diplomatik beserta keluarganya di kedubes atau konsulat Indonesia di luar negeri; serta staf organisasi internasional (yang tidak berstatus diplomat) yang bertugas di Indonesia.

Dalam menyusun statistik NPI, Bank Indonesia mengaku selalu berusaha untuk mengikuti standar yang berlaku secara internasional, yaitu Balance of Payments Manual (BPM). BPM diterbitkan oleh International Monetary Fund (IMF) guna memberikan panduan bagi negara-negara anggotanya dalam mengompilasi data neraca pembayaran dan posisi investasi internasional sehingga data satu negara dengan lainnya dapat diperbandingkan. Edisi terkini (edisi kelima) manual tersebut (BPM5) terbit pada tahun 1993. Bank Indonesia mulai menggunakan BPM5 sebagai referensi penyusunan statistik NPI secara penuh sejak tahun 2004.

Format ringkas penyajian NPI saat ini adalah sebagai berikut:
I. Transaksi Berjalan
A. Barang, bersih (Neraca Perdagangan)
1. Ekspor, fob
2. Impor, fob
B. Jasa-jasa, bersih
C. Pendapatan, bersih
D. Transfer Berjalan, bersih
II. Transaksi Modal dan Finansial
A. Transaksi Modal
B. Transaksi Finansial
1. Investasi Langsung
a. Ke Luar Negeri, bersih
b. Di Indonesia (FDI), bersih
2. Investasi Portofolio
a. Aset, bersih
b. Kewajiban, bersih
3. Investasi Lainnya
a. Aset, bersih
b. Kewajiban, bersih
III. Jumlah (I + II)
IV. Selisih Perhitungan Bersih
V. Neraca Keseluruhan (III + IV)
VI. Cadangan Devisa dan yang Terkait
a. Perubahan Cadangan Devisa
b. Pinjaman IMF

Sebagai catatan, NPI hampir selalu mengalami surplus selama satu dasawarsa terakhir, kecuali pada tahun 2001 dan 2008. Nilai surplusnya amat berfluktuatif. Sebagai contoh, pada tahun 2004 dan 2005 hanya surplus sebesar USD 0,3 milar dan USD 0,4 miliar. Pada tahun 2006 terjadi lonjakan surplus yang mencapai lebih dari USD 14,5 miliar, serta masih bertahan dengan surplus USD 12,7 miliar pada tahun 2007. Defisit pada tahun 2008 mencapai hampir USD 2 miliar. Pada tahun 2009, NPI kembali surplus sekitar USD 13 miliar, namun rincian neraca belum dipublikasikan Bank Indonesia ketika tulisan ini dibuat.

Sumber : 


Selasa, 08 April 2014

NEW Cerpen - Belum ada judul - masih berantakan

Nama Tokoh
Calvin
Ardell
Alan
Ernest
Lucia
Zeas/Zeus




Ernest menahan amarahnya. Sedapat mungkin ia harus mengatur hatinya disetiap langkahnya ke kelas. Kakinya terus berjalan seolah tidak ada apa-apa yang terjadi disepanjang koridor yang dilewatinya.

'Apakah ini benar? Aku tidak tahu. Jika ini benar, aku akan baik-baik saja. Dan, kalau pun aku salah, aku tetap akan baik-baik saja. Mereka tidak mengerti, bahkan aku pun tidak mengerti. Aku hanya menjalani sesuatu yang memang dihadiahkan untukku'

Sebelum ke kelas, ia masuk ke ruang seni sekolah. Seperti biasa, tidak ada siapa pun sepagi ini diruangan itu. Hanya ada dirinya yang kini memandang sebuah lukisan.

'Aku ingat lukisan ini. Ini lukisan pertamaku yang dapat dinikmati mata. Aku ingin ketempat itu. Aku tidak hanya ingin melihatnya dari lukisan ini saja,'

Ia melukisakan sebuah tempat yang selalu menjadi impiannya sejak lama. Ia ingin mengunjungi tempat itu tapi, ia tidak ingin sendiri. Ada seseorang yang ingin diajaknya namun, ia pun tidak tahu orang itu siapa.

Cukup lama Ernest di dalam ruang seni sampai-sampai ia tidak mendengar bel masuk. Ia baru sadar setelah seorang petugas kebersihan menegurnya.

"Nest," Ardell menyapanya, "lo dari mana aja?"
"Biasa, ruang seni,"
"Pasti ngeliatin lukisan lo itu kan? Sebentar lagi kita lulus sekolah, pasti lo bakal sedih karena bakal jarang ke ruang seni sekolah kita,"

Anak-anak memandang Ernest. Sejak beberapa minggu lalu, mereka terus saja membicarakan Ernest tanpa henti. Setiap detik ada saja hal-hal buruk yang diberitakan tentangnya. Hal itu tentu saja menyakitkan namun Ernest tidak bisa marah karena ia pun tidak bisa menjelaskan apa-apa pada mereka.

"Udah lagi. Apa yang mereka bilang anggep aja kenyataan kan bagus juga buat lo,"
"Apa coba yang bagus? Mereka nge-gosip kalau gue sama Calvin itu udah tunangan. Mereka juga bilang kalau gue ini jahat gak ngundang ke acara pertunangan itu. Dan, lebih parahnya, mereka ngira gue sok gak mau ngaku karena mau nyari yang lebih dari Calvin. Mereka bilang gue ini cewek yang beruntung tapi sombong. Dan, mereka nulis banyak hal negatif tentang gue di social network. Oke! Bukan itu aja. Mereka nulis hal buruk tentang gue di mading! Mading!"
"Ya mereka kan pada fansnya Calvin. Wajar dong mereka jadi anti-fans lo," Ardell tertawa senang, "mereka iri atau cemburu lah intinya,"

Ernest mengerti hal itu tapi menurutnya, itu berlebihan. Membuat berita yang tidak benar seperti ini terlalu berlebihan. Ia ingin mengatakan jika semua hal yang mereka tahu berbalik dengan kenyataannya namun Calvin yang terus menempel padanya membuatnya tidak bisa melakukan itu semua.

Pelajaran demi pelajaran dilalui Ernest dengan tenang. Ia siswi cerdas di sekolah ini bahkan berbagai pernghargaan telah didapatkannya. Setiap orang yang melihatnya, mereka akan mengatakan jika Ernest gadis yang sempurna, tidak ada kekurangannya sedikitpun. Apalagi gosip yang menyebar tentang hubungannya dengan Calvin membuatnya terlihat lebih sempurna. Namun berbalik dengan mereka, bagi Ernest tidak seperti itu.

Didepan kelas XII A2, Calvin sudah menunggu keluarnya Ernest dari kelas. Seperti biasa, ia dan Ernest akan pulang bersama. Beberapa pasang mata terutama dari para siswi golongan penggemar Calvin langsung memandang sejuta perang pada Ernest ketika Ernest keluar dari kelasnya dan Calvin langsung memegang tangannya lembut.

Tentu saja, mereka cemburu, mereka iri. Mereka cemburu karena Calvin dimiliki orang lain dan mereka iri karena gadis yang memiliki Calvin adalah gadis yang sempurna dimata mereka.

"Hei! Gue laper!" Ernest marah-marah ketika Calvin melarangnya makan, "gue laper!" ia mulai naik darah. Ia tidak suka ketika Calvin menghabiskan begitu saja makanan pesanannya, "mau lo apasih!"

Calvin nyengir-nyengir. Ia lalu memesankan sebuah makanan yang tidak pedas untuk Ernest, "kata dokter, lo gak boleh makan pedes. Simpel kan?" Ernest langsung merengut. Ia tidak bisa berkata apa-apa, "kalo lo gak mau makan apa yang udah gue pesenin, kita pulang,"

Dengan terpaksa, Ernest menghabiskan makanannya. Ia benar-benar harus menahan emosi setiap bersama Calvin. Baginya, Calvin adalah malaikat dari neraka yang siap memakannya kapa saja. Ia tidak mengerti mengapa ada mahluk seperti Calvin.

Ia teringat ketika tahun lalu Calvin pindah ke sekolahnya dan menjadi idola baru sepenjuru sekolah. Ia benar-benar sangat ingat hal itu. Dan yang paling diingatnya ketika Calvin memperkenalkan diri bukan hanya sebagai siswa pindahan tapi sebagai pacarnya. Ia sangat kesal jika mengingat hal itu apalagi Calvin tidak satu kelas dengannya jadi dengan leluasa, Calvin bisa bicara seenak hati didepan orang lain.

"Lo inget pertamakali dateng ke sekolah gue, gara-gara lo semuanya jadi kacau,"
"Kan bagus gue pindah ke sekolah lo biar kita makin lengket," ia mencubit pipi Ernest, "dari kecil, lo kan nempel ke gue mulu jadi apa salahnya gue yang balik nempel ke lo? Bener kan?"
"Iya tapi gara-gara lo, gak ada cowok yang deketin gue. Semua cowok ngira, gue itu pacar lo bahkan sekarang tunangan,"
"Cuma itu aja kan?"

Tangan Ernest sudah gatal ingin mencakar pipi Calvin tapi sangat menyayangkan baginya jika merusak wajah Calvin yang cukup langka. Dulu, ada disisi Calvin setiap saat adalah hal terbaik. Disisi Calvin sangat menenangkan dan tidak ada sedikit pun gangguan. Namun kini, semuanya terasa berbeda. Ia ingin memiliki pacar. Ia ingin ada seorang anak laki-laki dekat dengannya. Keberadaan Calvin benar-benar sangat menyulitkan baginya mendapatkan seorang pacar.

"Calvin," wajahnya mulai menunjukkan ekspresi memohon, "gue mau punya pacar. Gue iri sama temen-temen yang lain. Mereka bisa diperhatiin pacar mereka, jalan bareng pacar mereka, nah gue? Coba liat gue sekarang?"
"Lo mau diperhatiin? Gue udah merhatiin lo. Mau jalan? Bukannya hampir tiap hari kita jalan bareng?"
"Tapi beda. Beeeedaaaa," pertegasnya, "sangat beda," hidungnya mengembang, "Calvin," ia merengek, "cariin gue pacar deh kalo gitu. Lo kan punya banyak temen di komunitas anak muda tuh, kenalin gue ke mereka. Selama ini, lo gak pernah ngenalin gue ke mereka. ya ya ya,"

Calvin menjitak kepala Ernest, "gue akan ngenalin lo ke mereka. Tenang aja,"
"Beneran?"
"Iya, sebagai pacar gue,"

Ernest lagi-lagi menahan emosinya. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya memiliki seorang pacar jika semua orang yang dikenalnya mengenal Calvin. Calvin membuatnya benar-benar sulit.

"Yaudah deh. Iya!" Ernest beranjak, "lama-lama kepala gue sakit mikirin pacar mulu. Mending kita nonton, yuk," ia menarik tangan Calvin, "lo harus traktir gue. Oke?"
"Hm,"

**

Ernest melempat barang-barangnya keluar kamar. Ia tidak suka barang-barang itu ada dikamarnya. Mama yang melihat tindakan Ernest langsung melarang Ernest melakukan hal itu.

"Tapi Ma, itu mengertikan!"
"Itu hanya boneka,"
"Mama! Mama kan tau, aku gak suka boneka! Itu seperti monster!"

Mama tertawa kecil, "Calvin yang membawa boneka itu. Ia mengatakan jika Mama harus tertawa ketika melihat ekspresimu,"
"Apa?" Ernest benar-benar harus menahan emosinya, "Mama membiarkan Calvin meletakkan boneka dikamar ini? Ma, Mama kan tau aku gak suka boneka,"
"Calvin juga tahu hal itu,"

Mama membereskan semua boneka itu dengan sedikit tawa. Ia tahu putrinya tidak membenci boneka-boneka tersebut tapi putrinya takut melihat banyak boneka.

'Apakah kamu sadar jika Calvin melakukan hal ini karena ingin melihatmu menyadari perasaannya padamu?  Kapan kamu akan menyadari perasaan Calvin,'

Wajah Mama terlihat lelah. Mama benar-benar tidak habis sangka mengapa putrinya tidak pernah menyadari keberadaan Calvin yang menyukainya sejak lama. Bahkan, Mama yang melihatnya pun sangat menyadari hal tersebut.

"Ma, Calvin mau daftar universitas yang itu kan Ma?" Mama mengiyakan, "baiklah. Mama gak akan memaksa aku masuk ke universitas itu kan?"
"Baiklah, Mama tahu apa yang ada dipikiranmu,"

Ernest tersenyum puas. Ia langsung membayangkan jika ia akan mendapatkan teman-teman baru yang mana Calvin tidak akan ikut mengenal mereka. Itu akan sangat menyenangkan.

'Bukan gue gak mau deket sama Calvin tapi gue bener-bener pengen kenal dunia lain yang gak selalu ada Calvin. Gue pengen dapet pacar. Titik. Kalau Calvin terus dan terus nempel, semua orang tetep akan ngira dia pacar gue. Bener-bener gak seru,'

Ia mengunci kamarnya dan menyiapkan aplikasi untuk mendaftar disebuah universitas tanpa diketahui orang tuanya. Ia benar-benar ingin kuliah ditempat yang berbeda dengan Calvin. Kalaupun ia harus ke luar negeri, ia akan melakukannya hanya saja, uangnya tidak cukup untuk pergi kesana.

**

Ardell tertawa lepas melihat tingkah Ernest yang sengaja ingin kuliah ditempat lain. Ia justru mengatakan seharusnya Ernest berharap jika nanti tumbuh cinta diantara ia dan Calvin. Mereka cocok. Sangat cocok. Bahkan amat cocok.

"Dipandang mata, gue sama Calvin memang cocok tapi duh, gue sama tuh mahluk planet bener-bener gak ada cinta. Sebatas sahabat. Dan, gue itu pengen punya pacar yang romantis bukan pacar yang selalu ngelarang-larang gue ini dan itu,"
"Tapi kan itu demi kebaikan lo."
"Ya tapi caranya dia itu ngelarang bener-bener maksa. Maksa. Dan dia itu manfaatin bokap gue yang galak supaya gue juga nurut sama dia. Gak asik banget. Sumpah,"
"Ah, justru lo yang gak asik. Lo mah susah banget ngertinya,"



DILANJUTKAN BESOK! OKE!

Rabu, 02 April 2014

PEMILU

Kadang saat PEMILU mulai mendekati hari-H, ada aja hal-hal yang kata gue sih sesuatu banget *ini kata Syahrini*

Maksud gue sesuatu banget itu bukan karena abcdefg janji-janji para calon legislatif atau para calon presiden tapi itu loh itu masyarakat Indonesianya itu punya sesuatu yang unik bin unik.

Gue sempet liat di TV TV tuh, saat kamapanye ada partai yang ngelibatin anak-anak. Sebenernya sih bukan salah partainya tapi bukan juga salah anak-anaknya secara anak kecil mah belum tau apa-apa soal politik. Nah, jadi salah siapa? Apa salah orang tuanya? Ya sebenernya salah kita juga sih atau dapat dikatakan 'mungkin' gue ikut salah soalnya kita kadang liat anak kecil ikut kampanye dijalan-jalan atau dimana, kita cuma diem, senyum, terus lanjut deh jalan atau lanjut pergi entah kemana. Gue juga mungkin gitu kalau gue lagi buru-buru mau pergi entah kemana, liat orang kampanye bawa anak kecil, mungkin dan mungkin gue bakal labas aja sambil bawa kendaraan. Yaa jadi gue juga ikut salah karena cuek bebek gak peduli. Tapi dan tapi, gue belum pernah liat dan semoga gak terjadi di dekat gue hal seperti itu. *amin* nah, jadi salah siapa? Yang jelas dan yang paling jelas bukan salah anak kecilnya. Kalau dia masih balita dan ngerengek sama ortunya minta ikut, ya tetep bukan salah dia karena anak kecil mau ikut si ortu bukan mau ikut si partai. Yap, yang salah sih kata gue masyarakatnya termasuk mungkin gue kalau gue ikut kampanye atau nonton atau liat atau tau. Setelah berita ini heboh di TV atau heboh dimasyarakat yang dari mulut ke mulut atau dari hati ke hati *abaikan*, barulah ada tindakan. Inilah ciri khasnya kampanye, banyak kejadian unik yang mengundang banyak masyarakat untuk jadi lebih memperhatikan setelah ada kejadian dan setelah heboh, coba kalau gak heboh? Gimana hayoh?

Gue juga liat di TV TV, ada aja partai yang bayar penyanyi dangdut dimana penyanyinya itu cantik luar biasa, badannya sexy, senyumnya manis, ramah, de el el. Nah sebenernya gpp sih sah-sah aja cuman itu loh, goyangannya erotis men erotis terus pakaiannya bro itu pakaiannya kekurangan bahan. Ya soal pakaian sih gue gak berani nuntut abcd panjang lebar untuk si penyanyi itu hak dia toh gue juga gak ketemu langsung sama tuh penyanyi alias dari TV liatnya ^^ masalahnya, masalahnya itu, pakainnya itu selain kurang bahan tapi modelnya mengundang mata kaum laki-laki itu menuju padanya. Ya namanya kucing dikasih ikan langsung nyamber lah. Sekarang salah siapa? Ya bukan salah dangdutnya sih yang jelas mah soalnya dangdut bukan manusia dan kalau dipermasalahkan juga dia gak bisa ngomong kecuali dangdut itu nama manusia. Terus apa salah artisnya? tergantung sih. Bisa iya. Bisa juga nggak. Kadang dan terkadang si artis-artis dangdut itu berpakaian dan bergoyang begono karena permintaan penonton atau karena permintaan yang mengundang dia nyanyi disana. Terus salah siapa? Nah tapi kalau gak ada dangdut gak seru kampanye-nya gak heboh etc. Heboh gak hebohnya itu bukan masalah ada atau gak nya dangdutnya karena setau gue dangdut itu musik jadi kalau para penontonnya heboh disaat kampanye karena ada dangdut, coba deh itu yang dihebohkan suara si penyanyi yang luar biasa dan lagunya yang patut diacungi jempol atau justru goyangan + pakaian sexy si penyanyi? Nah loh. Jadi ini mau kampanye legistatif atau mau kampanye pemilihan artis dangdut mana yang paling heboh dari artis-artis dangdut yang nyanyi di kampanye partai lain? Duh, ribet ya omongan gue. Gue aja bingung geh sama tulisan gue ini ^^ tapi dan tapi, yang harus diperjelas disini adalah dangdutnya gak salah^^

Gue juga liat di TV TV ada aja orang-orang yang memaksa orang daerahnya untuk memilih satu orang calon legislatif. Doh ini pemaksaan banget kan? Jelas lah. Terus ada yang pake acara ngancem-ngancem segala. Ih ngeselin deh liatnya. Sama aja seperti kita gak suka sama seseorang tapi kita dipaksa pacaran sama dia atau lebih parahnya nikah. Gila men! Gak seru banget begini nih. Nyiksa batin. Nyiksa otak. Nyiksa kapasitas hati dan otak. Lebay banget kan omongan gue? Pemaksaan itu pelanggaran HAM. Bebas milih. Bebas berpendapat. Kalau ada yang maksa pake acara ngancem, itu orang yang maksa-maksa sambil memberi ancaman mengerikan gue doa'in deh nanti org yg dia banggakan menang, dia seneng sampe selangit tiba-tiba dihempaskan begitu aja dengan berbagai kasus dan dikejer-kejer KPK, POLISI, dll terus otak dia gak sanggup nanggung beban dan dia mau bunuh diri tapi gagal terus gila masuk rumah sakit jiwa terus saat dia sembuh dari kegilaannya, keluarganya gak mau nerima dia lagi. Hihi ^^ kejem banget ya doa gue? Ya bukan kejem sih cuman kalau dia gagal diawal itu biasa aja tapi kalau berhasil terus bangga dan terbang terus tiba-tiba jatoh itu pasti jatohnya luar biasa sakit ^^ ya gak sih? Eh ya kalau ada orang yang pernah ngelakuin hal ini dan baca tulisan gue, jangan marah ya, jangan jampi-jampi gue, jangan nyantet. Doa gue gak beneran kok ^^ gue cuman mengungkapkan yang barusan terlintas dikepala gue tapi kalau tiba-tiba doa gue dikabulkan ya gue seneng juga sih, alhamdulilah *eh* ya pokoknya biar kapok aja sih yang ngelakuin hal begini nih. Kenapa gue bilang gini karena gue tipe orang yang gak suka di paksa-paksa.

Nah nih ada lagi kasus yang dari jaman dulu dulu dan dulu gak pernah reda reda. Itu loh itu, membeli suara. Masyarakat diberi amplop dengan isinya daun, eh salah, uang lah. Nah nanti diminta milih dia. Atau milih partai dia. Atau ya pokoknya buat kepentingan dia deh. Dari dulu hal begini selalu dan selalu terjadi. Unik banget kan macem budaya nyontek dikalangan pelajar saat ujian. Kalau ini sih budayanya di saat menuju PEMILU gitu. Daebak! Ada aja musim-nya hal yang begini. Indonesia ternyata punya musim 4 tahunan ^^ tapi sekarang masyarakat Indonesia yang biasanya di kasih amplop mulai minterin atau pinter atau mengakali atau blablabla. Mereka nerima tuh amplop. Dari partai ini terima. Dari partai itu terima. Dari calon anggota legislatif ini itu onoh terimaaa semua tapi semuanya gak ada yang dipilih. Hihi ini orang niat banget mengakalinya ckck. Saran gue sih pilih aja semua yang ngasih amplop. Diterima 5 amplop ya coblos 5 orang gitu *Sesat* hihi jangan ya jangan soalnya suara bakal gak kepake loh. Tadi itu cuman ide sesat gue loh ^^ udah deh soal uang-uang ini kalau ditulis gak ada habisnya. Banyak forum diinternet yang bahas lebih rinci dan memakai bahasa yang baku gak macem gue yang ngelantur entah kemana-mana ujungnya.

Soal unik-uniknya kejadian waktu mau PEMILU itu banyak banget-nget-nget. Pokoknya banyak! Gue gak bisa sebutin satu-satu karena gue lupa, gue gak hapal. Kalau mau lebih tau banyak liat berita di TV, di koran, atau di media online seperti kompas, liputan 6 yang online, sindo, etc yang ada diinternet banyak banget.

Sekarang soal calon Presiden.
Tugas Presiden itu berat loh berat banget.

Karena gue suka nonton film kerajaan, kadang raja itu bisa jantungnya melayang entah kemana tapi mau gak mau dipaksakan harus tenang damai tentram biar rakyatnya gak tambah kejang-kejang padahal kadang rakyatnya ngelekin dia. Kadang juga suatu kerajaan itu ada masalah besar banget-nget dan rakyatnya nyalahin raja padahal kadang raja gak tau apa-apa karena laporan dari para pejabat kerajaannya itu baik-baik aja *kebawa drama saeguk banget gue*

Oke, next.
Simpelnya menurut gue, kalau dari jaman Pak Presiden Soekarno sampai sekarang banyak orang yang nilai positif negatif untuk presiden itu gak salah tapi jangan terlalu menyalahkan. Kata gue dari sekian Presiden yang pernah menjabat, mereka itu punya sisi positif semuanya. Hati nurani mereka untuk memajukan bangsa. Kalau ada negatifnya karena faktor-faktor lain alias bisikan jin-jin atau karena ada faktor terpaksa dan itu jalan terbaik atau mungkin ada hal-hal lain yang melatarbelakanginya. Yang jelas bukan dari hati nurani karena hati nurani itu selalu berasal dari hal baik untuk yang baik *cieileh macem ngomongin cinta aja gue* Gue jadi inget drama saeguk yang rajanya ngambil keputusan dimana rakyatnya jadi gak suka sama dia padahal itu pilihan terbaik sampe gue itu ngerasa kasian sama tuh raja waktu main drama, ah! Salut sama akting, cerita, alur, etc nya.

Sekarang kan pemilihan presidennya. Dari tulisan sebelumnya, bukan dalam arti siapapun presidennya membawa hal baik untuk Indonesia. Yap, hal baik ada tapi kita harus mempertimbangkan hal yang gak baiknya. Dipikir mateng-mateng, masak-masak, mendalam-dalam, *sama aja* terus diliat bukan dari apa yang paling banyak membawa nilai + tapi liat yang paling dikit dulu membawa nilai - baru diliat +nya gimana dan ditimbang-timbang deh ^^ simpel gak tuh.

Kalau gue sendiri sih udah ada pilihan hati walaupun beda agaknya sama pilihan orang-orang terdekat gue *orang terdekatnya bukan pacar loh ya, pacar gue masih di Korea si G-Dragon dan dia bukan WNI jadi gak bisa ikut pemilu (mimpi)*  ^^ tapi gue juga masih bimbang sih gimana-gimananya soalnya dan soalnya masih nimbang-nimbang. Sama bimbangnya kalau misalkan GD dan Junsu nembak gue, gue bingung mana yang harus gue terima *woy ngimpi woy! Sadar!*

Karena gue orangnya simpel, gue milih mana yang gak bakal ngerugiin gue atas kebijakan yang nanti bakal dipilih presiden selanjutnya. Berawal dari gue dulu dong pastinya *Egois banget yah? biarin ^^ itu hak aku loh hak aku*. Kalau kebijakan yang direncanakan dia gak merugikan gue baru gue mikir ngerugiin orang lain gak terus dampaknya ntar gimana dan gimana kalau nantinya dibohongin dan dan dan masih banyak lagi. Ribet kan pemikiran gue ini? Ribet gpp deh yang penting hati gue gak ribet untuk tetap gak mendua-mentiga-de el el untuk GD padahal inget, gue suka juga sih sama Junsu 2PM, JYH, Jae Jong^^ wkwk


Oke, selesai.

inti tulisan gue ini sebenernya, apa ya?
Ah menurut lo apa?
Menurut gue sih ungkapan isi kepala gue aja jadi kalau ada pihak yang tersinggung ya maaf tapi bandingin dengan omongan orang-orang lain di blog-blog dan web2 lain yang lebih nyelekit ^^ hihi

Masa harus sok males ketemu? GAK DEH!

Tadi temen dikampus bilang kalau semakin kita males ketemu orang itu maka kita malah bakal ketemu terus. Gue jadi mikir, apa iya kalau tiba-tiba gue males ketemu G-Dragon malah bakal ketemu dia terus? Berarti dia ke Indonesia dong dan ke Lampung atau gue yang ke Korea? Ah, tapi masa gue harus sedikit nyoba muak sama G-Dragon (?) Gak bisa pokoknya. Sulit. Susah. Sesusah saat sulit sulit dan sulit untuk.... apa ya *tidak bisa diungkapkan kata-kata*

Gue takutnya kan gue sengaja tuh, eh malah hasilnya duh gak asik kan gimana gitu. Gak lucu banget. Gue gak mau jadi fans yang mendua atau mentiga padahal dilain sisi gue juga suka sih sama Junsu 2PM dan JYH atau Jae Jong deh Jae Jong aktingnya bagus setiap main film ^^ wow banyak yah? Ya gimana geh semuanya bagus-bagus wkwk

Jujur, sebenernya, tulisan ini gak nyambung bener sama judulnya. Eh nyambung.Eh nggak deng. Ah! nyambung atau gak nyambung urusan belakang yang penting G-Dragon bisa ketemu sama gue atau lebih tepatnya gue sih yang ngarep banget bisa ketemu. Hihi ada yang mau menghadiahkan tiket konser gratis G-Dragon saat dia ngadain konser di Indonesia suatu hari nanti? *duh* *abaikan*

Labil macem anak SMP ^^

DIHAPUS

Earning Per Share

a.      Definisi Earning Per Share Earning Per Share (EPS) atau pendapatan perlembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberik...