Selasa, 21 Juni 2011

cerpen - Tipe kita berda tapi nasib kita sama -


Tipe kita beda tapi nasib kita sama


Pernah nggak kalian merasa ada perbedaan di persahabatan kalian? Dan apa pernah rasanya sakit hati? Kalo perbedaan pasti ada dan kalo sakit hati ada sih tapi sakit baget. Sakit hati itu rasanya kaya’ di tusukin pisau di hati kita dan nggak bisa nyabutnya. Susah banget untuk ngobatin sekeras apapun itu.
Nah, ini ada cerita dua sahabat. Rara dan Caca. Mereka bersahabat sejak kecil tapi sering banget ejek-ejekan. Terutama soal cowok lah. Mereka sekolah di SMP Nusantara kelas 3 SMP. Sekolah ini adalah yayasan yang selain SMP, satu gedung juga dengan SMA.
Kalau Rara pernah pacaran sama anak SMA Nusantara yaitu Ray dan Caca justru pacaran sama adik kelasnya yaitu Micky. Rara lebih suka cowok yang umurnya diatas dia, yang jelas nggak lebih dari 3 tahun. Sedangkan Caca selalu pacaran dengan orang yang umurnya di bawah dia. Aneh deh.... sekarang keduanya udah mau lulus dan akan melanjutkan ke SMA Nusantara. Keduanya juga sama-sama lagi jomblo. Mereka mau belajar dulu dan istirahat supaya nggak di ganggu. Kan mau UN.
Rara dan Caca memang dua cewek yang sangat di kenal di sekolah. Mereka masih SMP tapi kalau melihat penampilan mereka dapat di katakan bukan anak SMP. Keduanay berpenampilan sangat dewasa dan dengan itu banyak sekali anak SMP yang seumurna serta SMA Nusantara mengejar keduanya. Tapi sayangnya dua cewek ini susah banget dapet cowok yang mereka mau. Pacaran juga terlalu milih-milih.
“Ra!” Panggil Caca ke Rara.
“Nggak usah teriak-teriak dong. Gue denger kali.” Rara kesel.
“Tadi gue ketemu Ray di gerbang. Terus dia narik gue dan ngasih ini supaya di kasih ke loe.” Jelas Caca dan memberikan hadiah dari Ray.
Setelah di buka ternyata isinya coklat. Rara tentunya kesel karena dia tidak menyukai cokelat karena dia alergi sama makanan itu. Memang Ray sering sekali memberi Rara cokelat saat mereka berpacaran walaupun ia tahu Rara tidak akan memakannya.
“Mau nggak?” tanya Caca.
“Buat loe aja deh.” Jawab Rara.
“Eh, gimana nih hubungan loe sama Micky. Secara yang mutusin kan Micky sendiri, bukan loe.” Ucap Rara karena yang minta putus itu memang Micky.
“Nggak usah di bahas deh.”
UN pun berlangsung dan waktu semakin berjalan. Keduanya lulus dengan nilai bagus. Mereka sekolah di SMA Nusantara. Masih satu kelas dan lebih serunya lagi karena Rara jadi adik kelasnya Ray. Ray sendiri kelas 3 SMA dan kalau Micky sendiri masih di bangku SMP kelas 3 di SMP Nusantara. Tentunya masih sering ketemu. Sekolah sudah berjalan 1 bulan.
“Ra, jujur ya. Gue sebenernya suka sama Arvan.” Akui Caca pada Rara.
“Dia kan adik kelas kita. Kelas 3 SMP lagi. Sekali-kali loe itu cari dong yang seumuran sama loe.” Jelas Rara.
“Mau gimana lagi. Guenya udah suka.”
“Sial ya nasib kita. Setiap suka sama cowok tapi dianya nggak suka. Malah banyak cowok cakep yang ngejer tapi kitanya nggak suka.”
“Kenapa loe juga harus sial?” tanya Caca penasaran.
“Gue suka tau sama guru paraktek kita.” Jelas Rara karena memang ada guru paraktek di situ.
“Siapa?” Caca ingin tahu.
“Itu Pak Lendro.” Jelas Rara dan Caca kaget banget.
“Apa! Loe gila tau nggak sih. Beda umur loe sama dia kan 6 tahun.”
“Dari pada loe sama adik kelas. Mending juga gue.” Caca kepedean.
“Tau ah! Pusing tau.”
Kedua sahabat ini kalau suka dengan orang pasti salah melulu. Caca yang sukanya sama di bawah umur dia 2 tahun dan Rara di atasnya 6 tahun. Bener-bener gila dua sahabat ini. Memang Lendro adalah guru paraktikum dari salah satu Universitas yang terkenal dan mengajarkan pelajaran Fisika. Dia cakep dan baik tapi sayangnya ketuaan buat Rara. Rara sendiri aja bingung karena bisa suka sama dia.
Hari itu adalah malam from untuk SMP kelas 3 dan seluruh siswa SMA Nusantara. Saat dansa saling mengambil pasangan masing-masing. Rara masih dengan Ray dan Caca dengan Micky. Keduanya berdansa seolah masih memiliki ikatan.
“Sepertinya dua pasangan itu akan kembali lagi.”ucap pembawa acara keras-keras.
Dua pasangan itu yaitu Rara dengan Ray, Caca dengan Micky membuat semua orang terpesona melihatnya. Satu demi satu peserta yang dansa duduk dan tinggal Caca dan Rara yang berdansa. Semua orang kagum melihat mereka berdansa karena sangat-sangat indah. Rara dan Caca sendiri justru matanya ke arah seseornag yang mereka suka yaitu Lendro dan Arvan. Kalau Ray pastinya curiga tapi Micky biasa saja karena ia juga tidak ada niat kembali kepada Caca.
“Kamu kenapa?” tanya Ray masih berdansa.
“Nggak kok.” Jawab Rara dan mereka terdiam dalam ucapan sambil dansa.
“Kamu suka sama Arvan?” tanya Micky yang sudah tahu.
“Kurang lebih gitu.” Jawab Caca santai.
“Aku kira setelah putus kamu nyari yang seumuran.” Kata Micky lalau melanjutkan dansa kembali.
Rara dan Caca masih berdansa dan semua orang melihat ke arah mereka.
“Oke! Acara selanjutnya tetep dansa tapi dengan mata di tutup. Kalau kalian ngerasa yakin pilihlah pasanga kalian dan harus dansa sampai musik berhenti kalian harus diem kaya’ patung. Eh, bukan cuma kalian tapi guru-guru sekolah kita juga guru paraktikum akan ikutan main ini.” Jelas pembawa acara.
Musik dimainkan dan mata ditutup. Masing-masing mencari pasangan mereka. Musik berhenti dalam keadaan mata tertutup. Penutup mata di buka dan betapa senangnya Caca ternyata di hadapannya adalah Arvan. Dan Rara juga bersama Lendro alias guru parktikum di sekolahnya. Rara seneng tapi dia agak aneh aja apalagi pada ngeliatin gimana gitu. Ray sendiri keliatan nggak suka dan ia pergi dari lantai dansa lalu duduk di mejanya.
Musik dimainkan kembali. Saling berdansa dan bertatapan mata. Rasanya dua sahabat ini merasakan sesuatu yang berbada walaupun pada dasarnya mereka sendiri bingung kenapa mencintai orang yang salah besar. Dansa pun berakhir lalu saat pengumuman dansa terbaik dari permainan taid adalah pasangan Caca dan Arvan. Semua orang memberi tepukan bahagia. Rara sendiri duduk di mejanya besama Lendro.
“Memang bener Caca selelu suka sama orang di bawah umurnya?” tanya Lendro.
“Nggak tau Pak.” Jawab Rara.
“Jangan panggil saya pak. Panggil aja Kak bisa.”
“Tapi kan.....”
“Anggeplah kita temen. Aku mau kok temenan sama kamu karena dari semua murid, kamu paling dewasa di sekolah ini.” Ucap Lendro tersenyum manis. Rara sendiri senang karena mereka bisa jadi teman dan bisa berbicara seperti teman. Selain itu keduanya juga cepet nyambung kalau berbincang karena Rara sendiri memang anak yang fikirannya sudah dewasa.
“Kak, tapi gimana kata temen lain kalo manggilnya kak?”
“Biarin aja.” Ucap Lendro lalu pergi dari hadapan Rara.
Caca kembali duduk dan Arvan pergi bergabung bersama teman-temannya.
“Gue maju nerima penghargaan, loe seneng ya deket nih sama itu...tuh..... kak Lendro.” Ucap Caca yang sedikit mendengarkan pembicaraan Rara dengan Lendro.
“Ih!” Rara kesel.
“Tapi seneng kan?” goda Caca.
“Kaya’ loe nggak seneng aja dapet penghargaan dansa paling romantis sama Arvan.” Sindir Rara balik dan Caca justru mengganggap itu pujian.
“Emang gue seneng. Terus kenapa? Ini from night paling the best selama ini.” Ucap Caca senyum.
Hari itu ada ekskul di sekolah. Arvan main basket dengan bagus banget dan Caca ngeliatin melulu sampe matanya nggak berkedip. Emang baru kali ini Caca sukanya berlebihan. Memang ya cinta itu susah untuk di tebak karena cinta itu sulit banget untuk di mengerti, dipahami, and paling susahnya dimiliki. Cari pacar gampang bagi Caca dan Rara tapi kalau cari Cinta itu bagi mereka susah, susah, dan susah benget.
“Hei!” ucap Rara yang datang mengagetkan Caca yang sedang melihat Arvan main basket.
“Pelan dong. Ganggu konsentari aja.” Caca sebel.
“Ya deh yang lagi merhatiin Arvan.”
Arvan dan timnya selesai main basket tapi Caca masih memperhatikan terus. Rasanya memang Caca terlalu suka sama Arvan. Cinta ini aneh apalagi dua sahabat ini mencintai orang dengan posisi yang salah banget. Arvan masih di sana dan beberapa saat kemudian Lendro dateng lalu mengajak Arvan main basket. Ajakan itu di terima dan Rara juga kagum karena ternyata orang yang di suka itu bagus banget main basketnya. Tapi dalam hati Rara rasanya ada yang aneh jika ia harus suka dengan Lendro. Ia sendiri tidak tahu mengapa bisa suka tapi kalau perasaan itu sudah datang, mau diapakan lagi?
Rara dan Caca masih melihat pangeran mereka dengan bahagianya.
“Ra, kalau gue perhatiin ternyata pak Lendro sama Arvan kok mirip ya?” pikir Caca.
“Ya tah? Kaya’nya nggak deh.” Rara menjawab dengan santai.
“Loe kenapa kok kaya’nya sedikit lesu?” tanya Caca.
“Mendingan loe, loe suka sama Arvan yang masih satu Skolah tapi gue.... huh, kalo dia bukan guru praktikum aja, pasti nggak akan kaya’ gini.”
“Emang sih aneh. Lucu aja tapi menurut gue itu nggak salah karena cinta itu datang nggak di undang.”
“Nggak di undnag dan buat kepala pusing?”
“Ya bukannya gitu tapi.... tau ah! Enti gue ikutan pusing lagi.”
Tiba-tiba Arvan dan Lendro menghampiri Rara serta Caca. Mereka sudah selesai main basket.
“Hei,....” kata Arvan menyapa.
“Kalian bagus main basketnya.” Puji Rara.
“Karena kamu suka sama Arvan?” tanya Lendro.
“Nggak kok pak.” Caca mengelak.
“Iya juga nggak apa-apa kali.” Sambung Rara.
“Pak, menurut saya kalian mirip deh.” Ucap Caca.
“Mana mungkin kakak adik nggak mirip?” kata Lendro.
“Ha?!” Rara dan Caca keget banget.
Kedua sahabata itu diam sesaat karena mereka tidak akan menyangka bahwa seseornag yang mereka sukai akan punya hubungan darah. Semua ini tidak di sangka sama sekali dan juga tidak di duga.
“Ca, kamu udah nonton latihan aku dari tadi. Mau aku anterin pulang nggak?” Arvan menawarkan.
“Oke.” Ucap Caca lalu pergi dengan Arvan.
Rara dan Lendro masih berdua di sana.
“Aku nggak nyangka kamu sama Arvan kakak berakdik.” Ucap Rara.
“Arvan itu sebenernya suka sama Caca tapi nggak tau kelanjutannya gimana.” Jelas Lendro.
“O, ya. Semenjak kamu ngajarin fisika ke aku, kaya’nya ada perubahan deh.”
“Perubahan apa? Bukannya dari dulu kamu udah pinter.”
“Emang tapi paling males buat catatan dan semenjak kamu jaid paraktikum sesekali masih mau nyatet walaupun jarang banget.”
“Walaupun nggak nyetet juga, kamu tetep pinter.”
“Ngibul.”
Mereka berdua saat itu memang banyak bicara. Landro sendiri orang yang suka bercanda jadi mambuat Rara senang.
Di lain sisi yang berbeda ternyata Arva mengajak Caca ke sebuah tempat kesukaannya. Ia mengajaknya ke bukit yang indah banget dan itu membuat Caca senang.
“Sewaktu kecil aku sering ke sini. Tempat ini memang nggak bisa di lupakan.” Jelas Arvan.
“Nggak salah kok kalo kamu suka sama tempat ini. Selain sepi, sunyi, juga damai jadi buat hati sejuk.” Kata Caca senang.
“Kamu suka tempat ini?”
“Bukan suka lagi. Banget malah.”
Kaduanya saling bicara seaikan mereka sudah memiliku ikatan dan ketika tidak ada pembicaraan lain, mau tidak mau membiacarakan Rara dan Lendro.
“Ca, sebenernya kakak aku memang suka sama Rara.” Jelas Arvan.
“Ha?!” Caca kaget.
“Memang aneh tapi kata kak Lendro, Rara itu dewasa jadi dia suka. Sayangnya dia nggak bisa bilang sama Rara karena Rara masih butuh belajar dan lacu aja kalo mereka jadian.” Kata Arvan.
“Coba nembak aja. Pasti Rara nerima karena Rara juga suka sama kakak kamu atau Pak Lendro.”
“Kamu sendiri masih sama Micky?” tanya Arvan.
“Nggak usah ditanya juga semua orang udah tau aku udah putus. Emang kenapa?”
“Nggak apa-apa. Cuma mau tau aja.”
Hari itu Rara dan Caca ketempat perkumpulan genk mereka yang berjumlah lebih dari seratus orang. Kedua sahabat ini paling mudah umurnya karena dari sekian orang hanya mereka yang SMA dan yang lain sudah kuliah. Tapi walaupun begitu semua anggota lain mengaggap tidak masalah karena keduanay sudah berpikiran dewasa. Rara dan Caca juga selalu di lindungi damn mereka berdua sudha menjadi anggota tetap. Di genk ini hanya ada 27 anggota tetap dan yang lain tidak tetap.
Tepat pada hari itu akan ada pelantikan anggota baru dan ada juga yang keluar karena alasan yang logis.  Jumlah orangnya ada sekitar 32. Kemarin-kemarin sudah ada seleksi dan Rara serta Caca tidak pernah datang karena sibuk sekolah. Sekarnag hanya dtanag lepantikan tapi ketua genknya meminta Rara dan Caca untuk melilih 25 orang saja dan harus ada tes lagi hari itu. Rara dan Caca senang tapi pastinay akan banyak memakan waktu. Akhirnya di ambil kesepakatan untuk bersama-sama mencari yang terbaik.
Setelah di perhatikan dari 32 orang di lihat satu persatu. Rara keget banget karena saat itu ada Lendro.
“Pak Lendro.” Ucap Caca kaget dan Lendro hanya senyum. Ia tidak menyangka bahwa siswi SMA akan bisa bergabung dengan genk ini karena untuk mausk saja susah tapi sepertinya ada yang berbeda.
“Kak, kok bisa di sini?” tanya Rara.
“Siapa loe nih anak?” tanya ketua genk yaitu Marlo.
“Dia guru paraktikum di sekoalh kita berdua.” Jawab Caca.
“O...gitu. tapi tetep dia nggak di istimewain.” Kata Marlo lagi.
“Kak, jangan di apa-apain ya?” mohon Rara berbisik kepada Marlo.
“Nanti nilai kita berdua jadi jelek lagi.” Kata Caca.
“Oke. Tapi untuk dia, gue yang nge-tes sendiri.” Ucpa Marlo.
Marlo pergi bersama 5 orang lainnya dan mengajak Lendro. Rara dan Caca sendiri takut kalau Marlo akan memakai kekarasan karena memang itu yang biasanya ia lakukan.
“Ra, apa yang di lakuin kak Marlo ya?” tanya Caca ke Rara.
“Gue takut tau. Loe tau kan kak Marlo gimana?”  ucap Rara.
“Gue takut kak Marlo nggak suka sama dia karena ngerasa cemburu.” Jelas Caca.
“Cemburu apa sih?” tanya Rara pura-pura nggak tau.
“”Loe tau kan kalo kak Marlo suka sama loe dari dulu tapi dia nggak berani bilang karena dia tau yang terbaik buat loe. Lagian kita masuk sini dengan mudah itu juga gara-gara kak Marlo. Kalo bukan karea kak Marlo suka sama loe, kita nggak kuat ngejalanin ujian dari genk ini dan pati nggak akan jaid anggota tetep.” Jelas Caca panjang lebar.
“Udah deh, loe nggak usah panjang lebar jelasin. Gue udah tau. Pokoknya kita diem aja dari pada kak Marlo marah, semua orang bisa kena amukannya.”
“Iya, kecuali loe yang nggak bakal diapa-apain.”
“Udah ah! Buat masalah aja loe. Lagian kak Marlo mana tau gue suka sama kak Lendro.”
“Jelas dia tau lah. Semua gerak-gerik loe kan pasti dia tau.”
“Jaid dia tau?”
“Terserah loe kalo nggak percaya.”
Marlo dan kelima temannya kembali tapi tidak bersama Lendro. Apa yang terjadi dengan Lendro? Entahlah, tidak ada yang tahu akan hal itu.
“Kak, mana orang yang tadi?” tanya Caca.
“Apa dia penting?” tanya Marlo santai.
“Please kak, jangan buat orang lain tersiksa.” Mohon Rara.
“Emang gue nggak tersiksa!” teriak Marlo dan semua orang saat itu jadi diem.
Beberapa saat kemudian Lendro dateng dengan wajah memar. Rara langsung menghampiri Lendro dan menanyakannya.
“Kak, kenapa kok memar?” tanya Rara walaupun ia tahu jawabannya.
“Ra, dia nggak bisa masuk genk kita.” Jelas Marlo.
“Kenapa?” tanya Rara.
“Karena aku tahu kamu suka sama dia!” Marlo marah.
“Maksud kakak?” tanya Rara kembali pada Marlo.
“Aku sayang sama kamu.”
Semua anggota terdiam tanpa suara. Marlo berlutut di hadapan Rara. “Jangan terus siksa aku” ucap Marlo kepada Rara. Marlo sudah dari dulu mencintai Rara sebelum ia mengetahu apa arti cinta.
“Maaf kak, aku harus pergi.” Ucap Rara lalu pergi bersama Lendro.
Caca masih di sana saat itu. Marlo terus saja marah-marah tanpa sebab yang mmbuat semua orang takut.
“Kak.” Ucap Caca menenangkan suasana.
“Gue nggak apa-apa. Semua lanjutin apa yang jadi tugas kalian!” ucap Marlo dan yang lainpun tidak ada yang berani melawan.
Beberapa saat kemudian Arvan datang dan mengajak Caca pergi. Caca sendiri tidak mengerti apa yang terjadi sehingga Arvan datang menjemputnya. Tapi mau apalagi, Caca pun menerima ajakan Arvan.  Tapi sayang sekali, saat itu Marlo memukul wajah Arvan juga.
“Siapa yang ngizinin loe ke sini?!” tanya Marlo marah.
“Kak, dia temen aku.” Jelas Caca.
“Oke. Tapi sekarnag ajak anak itu pergi.” Perintah Marlo.
Caca dan Arvan pergi bersama Arvan. Memang sebenarnya Marlo tidak ada niat memukul Arvan tapi karena suasana hatinya tidak baik jaid ia melampiaskannya dengan siapa saja.
“Kok kamu bisa tau aku ada di mana?” tanya Caca.
“Dari kak Lendro. Kamu nggak baik gabung sama genk ini.” Kata Arvan.
“Mungkin semua orang ngaggep genk ini kejem tapi di balik itu semua ada suatu kebaikan dan kekeluargaan.” Jelaa Caca.
“Maksud kamu?”
“Emang kenapa kamu minta aku keluar dari genk itu?”
“Karena aku sayang sama kamu.” Kata Arvan dan Caca pun tersenyum. Belum ada ikatan apapun tapi yang jelas keduanya saling menyukai.
Caca tahu seharusnya ia menjalin ikatan cinta bersama Arvan tapi tidak semua hal harus dilakukan dengan tergesa-gesa. Ia mau mendapatkan cinta dengan perjuangan yang indah.
“Ca, maaf karena aku......” ucap Arvan tidak selesai.
“Nggak ada kata maaf yang harus kamu ucapkan karena kita nggak punya kesalahan.” Jelas Caca.
Caca dan Arvan tiba di rumahnya Arvan atau juga dapat dikatakan rumah Lendro. Di sana ada Rara yang mengobati luka Lendro.
“Ehm, perhatian nih.” Kata Caca sedikit menyindir.
“Kak, aku sama Caca ke atas.” Jelas Arvan lalu ia mengajak Caca ke lantai atas.
Rara mengobati luka memar di muka Lendro. Sempat keduanya saling bertatapan tapi masih ada perasaan yang tidak menentu di antara dua manusia yang saling jatuh cinta ini.
Keesokan harinya di sekolah. Ternyata ada sebuah penyesalah besar di hati Micky karena melepas Caca dari genggaman tangannya. Tepat di gerbang, Micky menarik tangan Caca dan mencoba untuk bicara.
“Ca!” ucap Micky menarik tangan Caca.
“Lepasin!” Caca meminta untuk melepaskan.
“Ca, aku minta maaf karena ngambil keputusan yang salah.” Jelasnya.
“Maksud kamu apa?”
“Aku mau kita kaya’ dulu lagi.”
“Nggak bisa! Aku bisa maafin kamu sebagai temen tapi untuk kembali, maaf aku nggak akan pernah bisa.” Jelas Caca pada Micky lalu berbalik badan meninggalkan Micky.
“Ca!” Micky kembali menarik Caca dan berlutut di hadapannya. Caca bingung saat itu karena dalam hatinya masih ingin kembali kepada Micky tapi di sisi lain, ia juga mencintai Arvan.
“Maaf.” Kata Caca pelan.
“Aku akan nunggu kamu.” Kata Micky lagi.
Arvan masuk ke sekolah dan ia melihat hal yang sedang terjadi.
“Ca?” kata Arvan.
Caca mengajak Arvan pergi tapi Micky kembali menarik tangannya.
“Bisa lepas tangan Caca?” tanya Arvan pada Micky lalu Micky pun melepasnya.
Arvan mengambil langkah yang tidak salah karena jika ia terlambat sedikit saja, semua bisa berakibat burul.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Arvan.
“Nggak.” Jawab Caca.
“Kamu masih sayang sama Micky?” tanyanya kembali. Caca tidak menjawabnya. Ia hanya diam saja karena kalau di pikir-pikir, ia masih bingung sendiri dengan keadaan ini.
Di tempat yang berbeda, Rara sedang sendiri karena Caca sedang bersama Arvan dan yang lain sibuk dengan tugasnya. Ray mengajak Rara untuk bicara sebentar. Saat itu Rara menerimanya dan ia tahu apa yang akan di katakan Ray kepadanya.
“Apa Ray?” tanya Rara ingin tahu.
“Aku mau kita seperti dulu.” Pinta Ray.
“Maaf Ray, aku nggak bisa.” Jelas Rara pelan lalu pergi tapi Ray menarik tangannya.
“Apa karena Marlo?” tanya Ray.
“Bukan karena Marlo tapi....”
“Tapi apa?! Aku nggak akan terima alasan yang nggak bisa aku mengerti.” Jelas Rara.
Bel berbunyi dan seharusnya semua siswa masuk ke kelas. Rara ingin ke kelas tapi Ray masih menahannya saat itu.
“Aku nggak bisa jelasinnya sama kamu. Yang jelas kita nggak bisa kaya’ dulu lagi.” Jelas Rara.
“Aku cuma mau minta penjelasannya dari kamu. Itu udah cukup bagi aku.” Kata Ray lagi.
“Sedang apa kalian di sini?” tanya Lendro seorang guru parktikum.
“Nggak ada apa-apa Pak.” Jelas Ray.
“Ray, aku harus masuk kelas.”
“Aku mohon sama kamu. Ini pertama kalinya aku memohon sama orang, aku bisa terima alsan kamu.” Kata Ray lagi. Lendro sendiri saat itu hanya diam saja karena jika ia melakuakn sesuatu maka semua roang akan tahu apa perasaannya kepada Rara. Itu akan membuat seisi sekolah heran.
“Ray! Ngertiin aku!” kata Rara sedikit marah. Ray terdiam lalu ia memeluk Rara dan meninggalkannya tanpa kata-kata. Ray pun berlalu dan hanya Rara dengan Lendro sat itu.
“Dia mantan kamu?” tanya Lendro.
“Iya.” Jawab Rara singkat.
“Sekarang kamu masuk kelas.” Perintah Lendro.
Rara pergi ke kelasnya. Dalam hatinya ada sesuatu yang bingung harus terjadi seperti apa. Ia tahu bahwa Ray hanya bermain dengan cinta ini. Seisi sekolah juga sudha tahu siapa Ray sebenarnya. Ia hanya ingin berteman dengan Ray tapi tidak ingin menjalin kisah cinta lagi. Di dalam kelas kedua sahabat itu punya masalah yang sama.
“Ra, kenapa loe?” tanya Caca.
“Ray ngajak balikan. Kemaren juga gue ngerasa bersalah sama Marlo. Tapi gue sayang sama....”
“Udah Ra, nggak usah di jelasin. Gue ngerti kok. Nasib kita sama.”
“Maksud loe.”
“Tadi di gerbang sekolah gue ketemu Micky terus dia nyesel tapi Arvan ngajak gue pergi. Kemaren juga Arvan nembak gue tapi dia nggak mau pacaran sama gue.”
“Kok bisa?”
“Susah di jelasinnya.”
“Kenapa ya nasib kita sial banget.”
“Ra, gue mau keluar dari genk.” Kata Caca.
“Kenapa?”
“Arvan yang minta. Kalo menurut gue loe juga harus keluar dair genk itu untuk kebaikan loe dan semua orang.”
“Gue nggak mau lari dari masalah. Selain itu menurut gue Marlo nggak seburuk yang orang pikirin.”
“Gue tau Marlo baik tapi kalo dia marah bisa-bisa nyawa kita abis.”
“Sstt..... gurunya masuk tuh.” Kata Rara memberi tahu.
“Inimkan pelajaran Fisika. Wah, ada pak Lendro nih.” Sindir Caca.
Lendro mengajarkan pelajarn Fisika saat itu. Rara dan Caca sendiri tidak memperhatikan karena yang mereka pikirkan hanyalah masalah yang mereka hadapi. Lendro menyuruh semua siswa untuk mencatat tapi Rara tidak mencatatnya. Kalau Caca masih sedikit-sedikit mau mencatatnya. Bagi Rara mencatat itu tidak penting karena ia sudah bisa dengan semua yang harus di catat.
“Mana catatan kamu? Tanya Lendro.
“Nggak nyatet pak. Abis cape’ sih.” Rara memberikan alasan semaunya.
“Kamu merasa pintar jaid rtidak mencatat?!” Lendro marah.
“Kenapa harus nyatet kalo udah hafal.”
“Sekarnag kerjakan soal di depan.” Perintah Lendro.
“Sepuluh soal itu?” tanya Rara.
“Nggak sanggup?”
“Sanggup. Mudah lagi sayangnya nulisnya cape’”
“Cepat kerjakan kalau kamu merasa pintar.”
Rara maju ke depan dan ia mengerjakan semua soal yang memang sanagt sulit. Tapi bagi Rara itu mudah karena ia memang pintar jika mengerjakan semua pelajaran.
“Udan kan?” tanya Rara santai lalu ia duduk di kursinya.
“Gila. Loe bisa semuanya. Salut gue.” Kata Caca.
“Baik. Semuanya benar.” Kata Lendro dan ia melanjutkan penjelasannya lagi.
Hari itu Rara dan Caca ke tempat genk. Keduanya bertemu Marlo dan saat itu keadaan Marlo sudah tidak marah-marah lagi.
“Kak, maafin kita.” Kata Caca.
“Gue udah nggak marah lagi.” Jelas Marlo.
“Bener kak?” tanya Rara.
“Maaf Ra, aku kemaren salah. Aku tahu kamu sayang sama Lendro. Aku juga nggak mau maksain perasaan aku ke kamu.” Kata Marlo dengan hati ikhlas.
“Lagian Lendro juga nggak cocok masuk genk ini.” Sambung Caca.
Hari itu ada party untuk genk ini. Pada hari itu Rara dan Marlo berdanda layaknya pasangan kekasih tapi mau bagaimanapun hati keduanya tidak akan bisa di persatukan. Beberapa saat kemudian Micky datang dalam pesta itu. Aneh sekali karena anak SMP di larang masuk ke genk ini.
“Kok loe bisa di sini?” Tanya Rara.
“Nggak ada yang ngundang loe ke sini.” Ucap Caca sedikit sinis.
“Aku yang mengundang dia.” Jelas Marlo.
“Kak?” tanya Caca.
“Dia adik aku.” Kata Marlo lagi dan kedua sahabat itu kaget sekali. Selama ini belum pernah Marlo menceritakan tentang adiknya ataupun keluarga yang lain. Di sini terjadi sebuah pertengkaran besar antara Caca dan Micky. Ini di sebabkan karena Micky terlalu memaksakan diri. Caca tidak suka akan hal itu karea manurutnya satu kesalahan Micky tidak akan bisa di perbaiki sampai kapanpun.
“Maafin aku untuk terahir kalinya karena samapi kapanpun aku akan bilang tidak untuk cinta kamu ke aku.” Kata Caca.
“Ca,” Mohon Micky.
“Aku udah jelasin berapa kali ke kamu tapi kamu nggak pernah ngerti. Please, ngertiin aku untuk kali ini aja.” Kata Caca lagi dan Micky pun pergi dari party itu.
Marlo dan Micky adalah kakak beradik yang di sakiti oleh dua wanita yang saling bersahabat.
Lendro sudah tidak menjadi guru praktek lagi di SMU Nusantara. Tapi Rara masih sering menghubunginnya atau bertemu dengannya. Mereka berdua masih belum menjalin ikatan cinta apapun walaupun kenyataan mengatakan bahwa keduanya saling mencinta.
Di lain sisi yang berlainan Caca semakin dekat dengan Arvan. Mereka saling mencintai walaupun masih ada yang mengganjal di hati keduanya.
“Ca, aku mau ngomong sesuatu.” Kata Arvan.
“Aku juga ada yang mau di jelasin.”
“Aku mau kita nggak terus seperti ini. Aku sayang sama kamu.”
“Aku juga.”
Kaduanya terdiam da hening sesaat. Yang aneh dalam cinta mereka adalah status keduanya. Yang satu SMA dan satunya SMP dlaam yayasan sekolah yang sama. Tapi perbedaan bagi keduanya tidak masalah asalkan ada cinta yang tumbuh. Caca memeluk Arvan erat seolah tidak ingin berpisah.
“Aku tau status kita beda tapi semua itu bukan masalah.” Jelas Caca.
“Maafin aku karena terlambat.” Kata Arvan.
“Nggak. Kamu nggak terlambat.” Jelas Caca dan memeluk Arvan erat lagi.
Caca dan Arvan pergi ke kampusnya Lendro. Di sana ada Rara juga tapi Rara dan Lendro masih diam saja.
“Pengumuman penting.” Kata Caca yang baru datang dengan senyum bahagia.
“Pengumuamn apa nih? Kok seneng banget?” tanya Rara.
“Gue barussan jadian sama Arvan.” Jelas Caca.
“Senengnya.” Ucap Rara dan memeluk sahabatnya itu.
“Tapi aa yang kurang.” Sambung Arvan.
“Yang kurnag?” Tanya Lendro pernasaran.
“Iya ada yang kurnag kali.” Sambung Caca lagi.
“Kalian berdua belum jadian sama sekali.” Ucap Arvan.
Rara dan Lendro hanya tersenyum saja. Entah apa yang akan mereka lakukan tapi aneh saja jika hubungan ini berlanjut.
“Kak, kita temenan aja ya?” kata Rara dan ia pergi.
“Tunggu Ra,” Ucap Lendro menarik tangan Rara agar tidak pergi.
“Kak,” kata Rara lagi.
“Aku nggak mau kamu pergi dari aku.” Jelas Lendro lalu Rara memeluknya erat.
Lengkap sudah kedua sahabat Rara dan Caca untuk mencari cinta yang mereka cari selama ini dan kali ini telah mereka dapatkan walaupun banyak orang yang memandang aneh dalam cinta mereka. Perbedaan dalam cinta itu tidak masalah jika kita bisa menghapinya dengan hati tulus dan ikhlas. Karena cinta itu di awali dengan keikhlasan ahit untuk menerima satu sama lain.
By: Aula Nurul (17 Sep. 09)

Ini mungkin cerpen yang gk nyambung dan nggak enak di baca.
Hehe saya penulisnya aja males ngebaca ini cerpen karena saya juga buatnya ngasal jadi - ngasal2 aja. wkakak parah

kritik dan saran : 
niki_nawa@yahoo.com

Cerpen - Nggak Harus Mengejar Cinta -


Nggak Harus Mengejar CINTA!

Ini sebuah cerita tentang seorang remaja berumur 18 tahun yang  bernama Airin. Ia cantik, menarik, dan semua pria pasti akan tersihir oleh wajah catiknya. Sayangnya ia memiliki penyakit di mana ia tidak kuat berdiri lebih dari satu jam dan tidak bisa terus berjalanb-jalan. Penyakit ini sudah di deritanya sejak kecil dan terkadang ia harus menggunakan kursi roda, namun Airin selalu menolak menggunakan kursi roda. Baginya, ia tidak cacat. Untungnya ada seorang pria yang selalu menjaganya sejak kecil. Pria itu adalah anak dari teman bisnis keluarganya. Pria itu adalah Ferdian.
Ferdian dan Airin tinggal dalam satu rumah. Keluarga mereka sudah sejak lama bekerja sama dalam hal bisnis dan Ferdian sendiri sudah di anggap sebagai anak sendiri oleh kedua orang tua Airin. Airin sendiri senang karena ada seseorang yang selalu menjaganya di saat ia membutuhkan. Jika penyakit Airin kambuh lagi dan ia tidak bisa menggunakan kakinya, Ferdian lah yang akan menggendongnya.
Sebenarnya ada sesuatu yang tersimpan di hati Ferdian dan ia tidak bisa mengungkapkannya. Ia mencintai Airin sejak lama, namun ada sesuatu yang menghalangi. Airin pernah bilang padanya bahwa tidak ada yang boleh mencintai dan di cintai olehnya.
“Aku nggak mau ada orang yang sayang sama aku dan aku nggak mau mencintai seseornag.” Kata Airin pelan saat masih bersama Ferdian.
“Tapi apa hidup kamu akan terus sendiri?” tanya Ferdian.
“Aku nggak mau menyakiti hati orang lain dan diriku sendiri karena penyakitku ini.”
“Tapi kamu masih bisa jalan. Cuma kamu nggak bisa bertahan lama.”
“Apa bedanya? Itu sama aja. Aku mau lari dan jalan tanpa beban.” Kata Airin pelan.
Ferdian yang mendengarkan akan hal itu menjadi sadar bahwa cintanya tidak akan sampai kepada Airin tetapi Ferdian tetap berusaha agar Airin bisa bersemangat. Walaupun cinta itu bukan untuknya, ia rela asalkan Airin bisa bahagia. Selama ini senyum Airin hanya senyum palsu karena ia masih menginginkan sesuatu yang sulit ia dapatkan.
Hari itu Airin mengajak Ferdian ke salah satu tempat wisata untuk mencari udara segar dan hiburan. Awalnya Ferdian menolak ajakan Airin tapi karena Airin memintanya dengan sungguh-sungguh, Ferdian tidak bisa menolaknya. Ia ingin menolak permintaan Airin karena itu akan membuat kaki Airin menjadi sakit. Namun mau bagaimana lagi, ia tidak bisa menolakpermintaan Airin.
“Rin, kamu nggak apa-apa?” tanya Ferdian khawatir karena Airin sudah berjalan selama 30 menit.
“Nggak apa-apa. Baru setengah jam, lagian aku nggak akan mati karena kaki aku.” Jelas Airin tapi Ferdian tetap khawatir.
Keduanya terlihat senang melihat tempat-tempat indah di sana. Dalam senyum Ferdian ada sesuatu yang di sembunyikan tetapi berusaha ia tuitupi. Begitu khawatirnya Ferdian kepada Airin sampai ia sedih melihat Airin yang berusaha tegar dengan kebohongannya. Airin sendiri sudah merasakan sakit pada kakinya tapi ia menahannya agar Ferdian tidak khawatir. Wajah Airin sudah terlihat sedikit mencurigakan dan membuat Ferdian merasa aneh.
“Rin, kamu mau istirahat?” tanya Ferdian.
“Nggak kok. Aku nggak apa-apa.” Jelas Airin karena ia tidak ingin menyusahkan Ferdian.
“Rin, yuk?” ajak Ferdian agar Airin mau di gendong olehnya.
Airin awalnya menolak tapi karena ia tidak sanggup lagi, akhirnya ia menerima ajakan Ferdian. Ferdian sendiri sudha biasa menggendong Airin sejak lama dan ia merasa bahwa semua ini tidak seharusnya terjadi kepada Airin.
“Maafin aku ya? Aku udah banyak nyusahin kamu?” kata Airin pelan.
“Aku nggak merasa kamu nhusahin aku. Justru aku seneng.” Kata Ferdian dan Airin tersenyum manis.
“Makasih ya?”
Airin meminta Ferdian untuk berhenti da membelikannya es krim. Ferdian pergi memberli es krim dan Airin menunggunya. Airin memang sangat suka es krim sejak kecil dan makanan itulah yang membuatnya bisa sedikit tenang.
Lima menit sudah Airin menunggu Ferdian tetapi ia tidak datang membawa es krimnya. Karena Airin bosan jadi ia berjalan-jalan sebentar. Tidak terasa Airin sudah berjalan cukup jauh dari tempatnya duduk tadi. Mungkin Ferdian sudah membawa es krim dan Airin pergi ke tempatnya semula.
Saat Airin ingin pergi ke tempatnya semula, ia merasakan kakinya sangat sakit dan tiba-tiba ia lemas lalu kakinya tidak bisa untuk berdiri lagi. Ia buka tasnya untuk mengambil hpnya tapi ternyata tertinggal di mobil. Airin bingung harus berbuat apa. Di dekat ia jatuh, ada batu besar yang ada di tempat wisata itu lalu ia duduk di sana.
“Jangan keliatan sakit. Jangan!  Aku nggak boleh keliatan lemah di depan banyak orang.” Kata Airin dalam hatinya yang berusaha kuat.
Ia duduk seolah tidak merasakansakit tapi sebenarnya yang ia rasakan adalah sakit yang luar biasa. Ferdian sendiri mencarinya kemana-mana tapi tidak bertemu dengan Airin. Di hubungi pun tidak bisa dan di saat itu Ferdian sangat-sangat merasa bersalah kerena telah meninggalkan Airin sendiri.
“Ferdian…. Kamu ke mana? Aku butuh kamu.” Kata Airin pelan tanpa ada yang mendengarnya.
“Maaf, apa kamu sedang tersesat?” tanya seorang pria yang tidak sengaja mendengar Airin bicara sendiri.
“Siapa kamu?” tanya Airin.
“Kenalin, Gilang. Apa kamu tersesat?”
“Aku Airin dan aku nggak tersesat.”
“Lalu kenapa sepertinya kamu kebingungan?” tanya Gilang.
“Nggak kok.” Jawab Airin lalui ia berdiri dan berusaha jalan namun terjatuh.
Gilang menolong Airin dan menemaninya. Airin sendiri tidak bicara apapun kepada Gilang karena ia tidka mau ada seornag pun yang tahu bahwa kakinya bermasalah. Airin diam dan begitupun dnegan Gilang. Gilang mengira Airin cacat jadi ia merasa bersalah soal kejadian yang tadi.
“Maafin aku, aku nggak tau kalau kamu nggak bisa jalan.” Kata Gilang merasa bersalah.
“Aku nggak cacat! Aku bisa jalan sendiri!” Jelas Airin dengan nada tinggi.
Gilang diam saat Airin marah karena ia tidak mau menyinggung perasaan Airin lagi. Ia sendiri masih menemani Airin karena merasa kasihan.
Ferdian masih berusaha mencari Airin dnegan membawa es krim. Ia melihat Airin dnegan seornag pria lalu menghampiri Airin.
“Airin!” panggil Ferdian sambil berlari ke arah Airin.
“Ferdian?! Kemana aja? Aku nungguin dari tadi.” Kata Airin.
“Tadi aku nyari es krim kesukaan kamu tapi susah. Maaf ya?” jelas Ferdian.
“Ya udah yuk.” Ajak Airin.
“Mau aku gendong?” tawari Ferdian.
“Aku bisa sendiri. Jangan sampe ada orang ngira aku cacat.” Kata Airin lalu ia benar-benar berusaha berdiri.
Gilang yang melihat Airin bisa berjalan lebih merasa bersalah karena sebelumnya mengatakan Airin tidak bisa berjalan. Airin sendiri sebenarnya tidak sanggup lagi berjalan tapi ia tidak mau ada seornagpun yang mengira bahwa dirinya cacat dan tidak bisa berjalan. Wajah Airin memperlihatkan kepada Ferdian bahwa ia tidak sanggup lagi tapi tetap berusaha. Ferdian kasihan melihat Airin yang selalu berusaha untuk tegar tapi apalagi yang dapat ia lakukan. Semua yang Airin inginkan tidak bisa ia halangi kecuali hati Airin sedang baik.
“Rin, kamu masih kuat?” tanya Ferdian pelan khawatir.
“Aku bisa. Nggak ada seornagpun yang boleh bilang kalau aku nggak bisa jalan. Aku bukan orang cacat.” Kata Airin menangis.
“Rin…..” lalu Ferdian menggendong Airin.
Airin menangis karena ia ingin bebas seperti remaja lainnya. Semua yang ia mau sudah ia dapatkan tapi hanya satu yang tidak ia dapatkan yaitu suatu kebebasan sendiri. Ferdian ikut sedih karena Airin mengangis dan air mata Ferdian pun menetes. Dari segala sesuatu di dunia ini hanya satu yang dapat membuat Ferdian meneteskan air matanya. Hanya karena Airin, tidak ada yang lain karena semua hal di dunia ini tidka penitng baginya. Yang terpenting dalam hidupnya adalah kebahagiaan Airin.
“Rin, kenapa kamu tadi pergi?” tanya Ferdian.
“Tadi ada cowok yang bilangin aku ini cacat. Apa bener itu?” tanya Airin menangis.
“Kamu nggak seperti yang dia bilang.” Kata Ferdian memberi semangat.
“Baru satu orang yang bilang aku cacat. Besok siapa lagi? Apa semua orang akan bilang aku ini cacat?” Air mata Airin terus mengalir.
“Nggak! Itu nggak akan terjadi!” lalu Ferdian memeluk Airin memberikan dukungan kuat.
Airin terus menangis tiada henti karena hari itu adalah hari di mana ada seseorang yang mengatakan ia tidak bisa berjalan. Gilang memang mengatakan dengan bahasa halus tapi di hati Airin tetap saja itu terasa sakit. Ia merasa bahwa dirinya sudah hampir cacat karena untuk berjalan lebih lama saja tidak kuat.
“Rin, kamu dengerin aku! Kamu bisa menghadapi semua ini. Kamu bisa Rin!” semangati Ferdian dan Airin kembali memeluk Ferdian. Memang Ferdianlah yang selalu menjadi tempat bersandar Airin.
Hari itu Ferdian mengajak Airin ke butik untuk membeli gaun untuk pesta ulang tahunnya seminggu lagi. Airin duduk di sebuah kursi yang di siapkan dan yang memilihkan gaunnya adalah Ferdian. Airin tidak bisa mencoba satu demi satu pakaian itu karena ia akan kelelahan. Saat Ferdian sednag mencari gaun yang cocok, seornag pria menyapanya.
“Airin?” sapa seorang pria dan itu adalah Gilang.
“Gilang? Kok bisa di sini?” tanya Airin.
“Memang nggak boleh? Lagian ini kan butik aku.” Kata Gilang.
“O…..” kata Airin singkat.
“Maaf kalau sebelumnya aku mengatakan kamu tidak bisa berjalan. Aku benar-benar menyesal.”
“Kamu nggak salah.”
Ferdian mendapatkan satu gaun yang cocok untuk Airin.
“Rin, ini cocok buat kamu.” Kata Ferdian.
“Kamu nyari gaun? Aku ada yang cocok buat kamu.” Kata Gilang.
Gilang pergi mencari gaun itu dan ia kembali membawa gaun yang benar-benar cocok untuk Airin dan Airin senang sekali karena itu memang gaun yang snagat bagus.
“Kamu suka?” tanya Gilang.
“Aku suka tapi Ferdian udah milihin untuk aku.” Kata Airin.
“Kalau kamu suka, ambil yang itu aja. Aku nggak masalah.” Jelas Ferdian.
“Tapi kamu udah susah-susah milihin untuk aku.” Kata Airin lagi.
“Nggak masalah. Yang penting kamu seneng. Kalau kamu seneng, aku juga seneng.” Jelas Ferdian.
“Gimana?” tanya Gilang.
“Ya udah. Aku mau yang ini aja.” Jelas Airin.
“Ini hadian untuk kamu sebagai permintaan maaf aku ke kamu.” Jelas Gilang.
“Makasih ya. O…ya, ini undangan buat kamu. Dateng ya?” kata Airin memberikan undangan di pesta ulang tahunnya.
“Aku pasti dateng karena aku nggak mau ngecewain kamu.” Ucap Gilang.
Airin dan Ferdian pergi dari butik itu dan mencari barang-barang lain yang di perlukan untuk pesta ulang tahun Airin. Airin memang menginginkan pesta ulang tahunnya ia sendiri yang membuatnya tanpa bantuan siapapun. Seseorang yang membantunya untuk mempersiapkan segala hal adalah Ferdian.
Hari itu pesta ulang tahun Airin tetapi ia tidak berdiri sambil menerima tamu melainkan sambil duduk. Airin senang sekali karena banyak tamu yang datang. Bukan hanya dari teman-temannya tapi beberapa rekan bisnis keluarganya. Ia senang mendapatklan hal yang indah hari itui tetapi ada seseorang yang ia nantikan yaitu Gilang. Airin baru kenal dengan Gilang sebentar tapi ia mengharapkan agar Gilang datang. Entah apa yang di rasakan Airin ini tapi ia berharap Gilang datang. Wajah Airin menggambarkan sebuah penantian yang membuat Ferdian ingin tahu.
“Rin, kamu nunggu siapa?” tanya Ferdian.
“Aku nunggu Gilang. Dia kok nggak keliatan ya? Padahal aku berharap dia datang.” Jelas Airin.
Ferdian diam karena baru kali ini ia melihat Airin menunggu seseorang sampai seperti itu. Apa yang telah terjadi? Terus saja Airin menunggu Gilang tapi Gilang tidak juga datang. Ferdian yang melihat Airin menunggu Gilang meraa ada yang berbeda dari diri Airin.
“Rin, kamu masih nunggu Gilang?” tanya Ferdian.
“Nggak.” Jawab Airin berbohong.
Airin sendiri tidak mengerti dengan dirinya sendiri dan apa yang sedang ia rasakan dalam hatinya. Hanya satu yang Airin tahu bahwa ia menginginkan Gilang datang ke pestanya. Harapan Airin tercapai. Gilang dtaang walaupun acara sudah setengah di mulai. Airin senang tapi Gilang datang bersama seornag wanita yang snagat cantik.
“Happy britday ya?” kata Gilang.
“Makasih udah dateng.” Kata Airin singkat.
“Aku kan udah bilang pasti dateng.” Kata Gilang tetapi wanita yang beramanya sepertinya sedikit terganggu walaupun tidak di perlihatkan.
“Jadi ini cewek yang kamu bilang.” Kata wanita yang datang bersama Gilang.
“O….ya, kenalin ini Shany. Dia temen baik aku.” Kata Gilang sambil memperkenalkan wanita yang bersamanya.
“Cuma temen?” tanya Ferdian.
“Eh, nikmatin pestanya ya….” Ucap Airin.
Airin senang sekali karena Gilang datang. Entah apa yang terjadi pada dirinya tapi ia senang atas kedatangan Gilang. Sayangnya Gilang datang bersama Shany. Shany ramah dan ia cantik serat tidak terlihat kesal karena Gilang juga memperhatikan Airin. Airin yang melihat merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya tapi ia berusaha menyembunyikannya.
Shany adalah sahabat Gilang sejak kecil. Ia mencintai Gilang tapi cintanya tidak pernah sampai. Gilang sendiri hanya sekali bercinta dengan seorang wanita dan setelah itu ia tidak mau menganal apa yang namanya cinta lagi. Ia sudah cukup bercinta sekali dalam hidupnya dan kehilangan cinta itu selamanya. Gilang pernah mencintai seorang wanita dan wanita itu telah pergi selamanya dari kehidupan ini. Gilang sangat mencintainya lebih dari hidupnya sendiri tapi wanita itu pergi tanpa kata dan membiarkan cinta yang sedang tumbuh menjadi sirna seketika. Sejak saat itulah Gilang tidak ingin bercinta lagi dengan siapapun karena ia takut akan kehilangan cintanya. Sebelumnya juga ia telah kehilangan ibu yang sangat ia cintai. Ia sudah cukup kehilangan dua orang yang berharga di hidupnya dan tidak ingin kehilangan lagi.  
Tapi kali ini Gilang sifatnya berubah sejak bertemu dengan Airin. Shany sendiri melihat bahwa ada penyemangat hidup Gilang lagi setelah kehilangan kekasihnya beberapa tahun lalu. Airin sangat mirip dengan kekasihnya yang sudah tiada dan itulah yang membuat Gilang penasaran dengan Airin. Gilang datang ke arah Airin dan berbincang dengannya. Awalnya hanya perbincnagan biasa namun ada satu hal yang membuat Airin bingung.
“Rin, apa kamu pernah berfikir kalau di dunia ini ada dua orang yang wajahnya bisa sama?” Kata Gilang kepada Airin.
“Menurut aku itu bisa aja kalau mereka kembar.” Jawab Airin.
“Tapi kalau keduanya tidka mengenal dan salah satu pergi dari kehidupan ini, apakah yang satu biosa menggantikan posisi itu?”
“Apa maksud kamu? Aku nggak ngerti sama permbicaraan kamu.” Ucap Airin yang memang tidak mengerti.
“Rin, ke sana yuk?” ajak Ferdian yang sengaja melakukan hal itu.
Airin pergi bersama Ferdian menyambut tamu lain yang baru datang. Ferdian sendiri agaknya tahu apa yang terjadi sebenarnya. Shany sendiri melihat dair jarak yang sedikit jauh dan melihat Gilang sepertinya hidup kembali. Ia tahu sejak awal bertemu dnegan Airin, Gilang selalu bercerita bahwa Airin akan membuat hidupnya seperti dahulu lagi. Shany menemui Airin dan membawanya ke tempat yang sedikit sepi.
“Rin, aku nggak kenal kamu dan nggak pernah ketemu kamu sebelumnya tapi aku ada satu permintaan dan aku harap kamu mau mengabulkannya.” Jelas Shany kepada Airin dan Ferdian diam-diam menguping pembicaraan mereka.
“Apa yang mau kamu bicarain?” tanya Airin dan saat itu kakinya mulai teraa sakit.
“Gilang pernah kehoangan wanita yang ia cintai untuk selamanya dan ia tidak pernah tersenyum lagi sejak saat itu. Tapi ia bercerita bertemu seornag wanita yang mirip dengan kekasihnya yang sudah tiada dan itu kamu. Sejak pertemuan pertama itulah Gilang sedikit ada harapan untuk hidup lagi dan aku mohon sama kamu agar tidak menyakitinya.” Jelas Shany panjang lebar.
“Aku nggak ngerti sama pembicaraan kamu karena ku belum lama mengenal Gilang.”
“Aku tahu itu tapi cuma kamu yang bisa membuat Gialng hidup lagi.”
“Maaf, aku nggak bisa.” Jelas Airin sambil menahan rasa sakit pada kakinya.
“Aku nggak maksain kamu tapi aku mohon karena ini demi hidup Gilang.” Mohon Shany sambil meneteskan air mata.
Airin sendiri tidka mengerti mengapa sepertinya Shany snagat takut akan kehilangan gilang. Ia bingung dnegan penjalasan Shany karena ia sulit untuk mengabulkan permintaan Shany. Jika Airin juga mencintai Gilang, Airin tidak mau seseorang yang ia cintai tahu akan penyakitnya. Tapi Airin tidak mencintai Gialng dan siapapun karena baginya cinta itu tidak akan ia dapatkan.
“Rin….” Ucap Shany menyadarkan Airin yang diam saja.
“Maaf….” Kata Airin pelan dan ia pergi. Selain Airin bingung, rasa sakit di kakinya juga sudah tidak bisa ia tahan lagi.
Airin kembali ke pesta itu dan ia tetap tersenyum walaupun rasa sakit di kakinya sudah tidak bisa di tahan lagi. Tapi ia tidak mau telihat lemah di depan orang lain. Pesta sebentar lagi akan berakhir dan rasanya ia akan sanggup sampai pestanya selesai.
“Rin, kaki kamu nggak apa-apa?” tanya Ferdian yang sudah tahu.
“Aku masih kuat.” Jawab Airin.
“Selesai acara ini kita ke rumah sakit.”
“Jangan keliatan khawatir, nanti semua ornag curiga dan tau kalau aku sakit.” Jelas Airin dan Ferdianpun mengikuti kemauannya.
Pesta sudah selesai dan satu persatu tamu pun pergi. Tinggal keluarga Airin serta Ferdian dan Gilang serta Shany saat itu. Gilang tidak ingin pergi karena ia ingin tahu apa yang ada pada diri Airin. Airin sendiri sudah tidak sangggup lagi menahan rasa sakit pada kakinya dan Ferdian pun ingin segera ke rumah sakit.
“Rin, aku mau bicara sama kamu.” Jelas Gilang.
“Maaf, aku nggak bisa.” Jwab Airin sambil menahan sakit pada kakinya.
“Apa karena ku maksa? Aku mohon untuk dengerin aku Rin….”
“Maaf, aku nggak bisa. Bukannya karena aku………” ucap Airin tapi ia berhenti berkata dan tubuhnya langusng lemas karena kakinya sudah tidak bisa bertahan lagi. Saat itu tubuh Airin terjatuh dan membuat semau orang yang masih di dalam menjadi panik.
Orang tua Airin menjadi snagat panik tapi Ferdian menengakannya dan Airin juga berusaha agar orang tuanya tidak khawatir.
“Rin….” Kata Shany pelan.
“Apa yang terjadi dengan kamu?” tanya Gilang.
“Kamu nggak perlu tau.” Jelas Airin pelan sambil menahan tangisannya karena rasa sakit itu.
“Kamu tahan ya Rin….” Ucap Ferdian memberi semangat dan mengangkat tubuh Airin lalu di bawanya masuk ke dalam mobil.
Gilang sendiri bingung apa yang terjadi pada diri Airin dan ia tidka bisa menghalangi Airin pergi. Lalu Gilang pulang dengan Shany. Di lain sisi yang berlainan, Ferdian membawa Airin ke rumah sakit. Airin memang sudah langganan ke rumah sakit kalau kakinya terasa sakit lagi. Airin di rawat di rumah sakit itu dan ia sedih karena selalu saja terjadi hal seperti ini.
“Apa hidup aku akan terus kaya’ gini?” tanya Airin pada Ferdian yang menjaganya.
“Kamu percaya sama aku kalau kamu itu bisa melewatkan semuanya.” Semangati Ferdian.
“Aku udah nggak kuat lagi. Aku lebih baik mati dari pada terus kaya’ gini.”
“Rin, aku nggak tau kamu ada rasa suka atau nggak tapi kau tahu kamu tadi terus merhatiin Gilang dan sama halnya dengan Gilang. Kamu juga nunggu dia dateng.”
“Maksud kamu apa?”
“Apa kamu ada perasaa suka dengan Gilang?”
“Nggak. Aku nggak tau apa itu suka karena di dunia ini cuma satu yang aku butuhin yaitu aku mau sembuh.”
“Rin….” Ucap Ferdian lalu memeluk Airin.
Gilang yang tahu kabarnya Airin dirawat, ia datang menjenguk Airin tapi yang ia lihat saat itu adalah saat Airin sedang memuluk Ferdian erat. Gilang tidak jadi masuk dan duduk di kursi untuk menunggu Ferdian keluar. Gilang sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan. Selain wajah Airin mirip, ia juga tidka ingin Airin terluka karena ini. Mencintai bukan karena wajah tapi hati dan itu tidak terjadi pada Gilang. Gilang merasa Airin adalah masa lalunya dan ia ingin Airin menjadi maa lalunya. Tapi itu tidak boleh terjadi karena Airin adalah Airin dan bukan siapapun kecuali dirinya sendiri.
“Gilang?” kata Ferdian yang keluar dari kamar Airin.
“Airin nggak apa-apa?” tanya Gilang.
“Dia baik-baik aja. Kalau kamu mau menjenguk, masuk saja dan jaga Airin sampai sembuh.”
“Apa penuyakit Airin separah itu?”
“Airin nggak sakit dan nggak akan sakit.” Kata Ferdian pelan.
Gilang masuk ke dalam kamar Airin di rawat. Airin masih tertidur lelap dan Gilang duduk di sampingnya dengan diam agar tidak mengganggu Airin. Ia melihat wajah Airin dan ia melihat masa lalunya tergambar pada diri Airin.
Ferdian sendiri keluardari ruamh sakit itu dan meninggalkan Airin dengan Gilang. Ia tahu ada sesuatu antara Airin dan Gilang tapi masih belum terungkap. Saat ingin keluar rumah sakit, Ferdian bertemu Shany dan keduanya sama-sama melepas seseorang yang mereka cintai.
“Airin dirawat di sini?” tanya Shany pada Ferdian.
“Dia sedang bersama Gilang. Apa kamu mau menjenguk Airin?” tanya Ferdian.
“Nggak. Aku cuma mau mastiin Gilang di sini karena sepertinya Gilang khwatir dengan keadaan Airin.”
“Apa benar Gilang secepat itu mencintai Airin? Atau karena Airin mirip dengan masa lalunya?”
“Aku nggak tau tapi hidup Gilang berubah belakangan ini menjadi lebih bahagia. Aku akan senang kalau Gilang bahagia.”
“Kamu mencintai Gilang dan berkorban demi dia?” tanya Ferdian.
“Bukannya itru sama halnya dengan kamu?”
“Maksud kamu?”
“Kamu mencintai Airin bukan?” tanya Shany tapi Ferdian tidak menjawab.
Fedian dan Shany akhirnya pergi berdua dan berbincang untuk berbagi. Keduanya sama-sama melepas seseornag yang mereka cintai demi kebahagiaan ornag yang mereka cintai.
Gilang masih menemani Airin di kamar Airin di rawat. Airin tersadar dari tidurnya dan ia melihat Gilang ada di sampinya. Ia senang sekali karena Gilang menjaganya tapi satu g Airin tidak sukai karena Gilang menganggap dirinya adalah bagian dari masa lalu Gilang.
“Kamu udah bangun?” tanya Gilang.
“Kamu nungguin aku dari tadi?” Airin berbalik bertanya.
“Aku senang kamu sudah sedikit baikan. Aku khawatir dengan keadaan kamu.”
“Apa kamu khawatir sekali dengan keadaanku?”
“Aku sangat khawatir dan nggak mau kehilangan seseorang yang aku cintai seperti halnya kamu.”
“Maksud kamu apa?”
“Aku sayang sama kamu Rin…..”
“Aku nggak bisa jawab itu karena kita baru kenal dan satu hal yang harus kamu ketahui bahwa ini adalah diri aku, bukan masa lalu kamu.” Jelas Airin dan Gilang tidak berani berkata apa-apa lagi.
Airin semakin lama semakin dekat dengan Gilang……….
2 tahun kemudian………….
Airin dan gilang menjadi teman baik walaupun sampai kini Gilang tidak pernah tahu apa penyakit yang di derita oleh Airin saat ini. Gilang hanya tahu bahwa Airin jarang mau di ajak pergi dengannya. Sebenarya Airin tidak ingin menolak tapi ia tidak mau jika penyakitnya akan kambuh saat pergi dengan Gilang. Di lain sisi ada Ferdian yang sejak awal sudah banyak berkorban untuk Airin tapi cintanya tidak pernah sampai kepada seseorang yang ia cintai.
“Hei, Rin…. Mau kemana nih kok rapi banget….” Goda Ferdian.
“Cuma jalan-jalan aja sama Gilang.” Jelas Airin.
“Oh, ya udah.” Kata Ferdian singkat. Sebenarnya Ferdian ingin mengajak Airin pergi ke suatu tempat tapi ia sudah mendengar penjelasan Airin dan tidak ingin berkata apapun lagi.
Airin sendiri sebenarnya ingin menolak ajakan Gilang tapi ia tidak bisa untuk menolaknya. Airin takut jika kakinya terasa sakit lagi dan ia tidak tahu bagaimana saat itu karena Ferdian tidak ada bersamanya.
“Rin, jadi kan?” tanya Gilang.
“Ya.” Kata Airin singkat.
“Tapi kita ke makam mama aku dulu.”
“Okey…. Nggak masalah.”
Gilang mengajak Airin ke makam ibunya dan di samping makam ibunya, ada makam seseornag yang pernah ia cintai dan wajahnya sama persis dengan Airin. Gilang sedih di sana dan ia berkata bahwa dunia ini terlalu kejam untuknya.
“Gilang, ini makam mama kamu dan mantan pacar kamu ya?” tanya Airin.
“Dia adalah wanita pertama yang berarti di hidup aku dan wanita pertama yang bisa membuat aku bahagia setelah kepergian mama aku tapi ia juga harus pergi meninggalkanku.”
“Kamu sangat mencintainya?”
“Seperti yang kamu lihat dan di wajah kamu ada bayangannya.”
“Di wajah aku ada bayangan dia dan itu membuktikan bahwa kamu menganggap aku adalah dia. Bukan diri aku sepenuhnya.”
“Rin, tapi jujur aku sayang sama kamu bukian karena……….”
“Udah, cinta kamu hanya untuk dia. Lagian aku juga nggak akan bisa nerima cinta kamu.”
“Maaf Rin, aku maksain kamu….”
Gilang mangajak Airin ke sebuah resort dan Airin cukup senang walaupun kakinya mulai terasa sakit karena terlalu lama berdiri di pemakaman. Airin di ajak olah Gilang untuk mencoba beberapa permainan yang menantang tapi semuanya di tolak oleh Airin.
“Rin, kamu kenapa kok dari tadi diem aja?” tanya Gilang penasaran karena Airin diam saja.
“Nggak apa-apa cuma lagi males aja.” Jawab Airin padahal kakinya sudah sangat-sangat sakit.
“Aku cariin minum dulu ya….”
Gilang sendiri sebenarnya mencarikan es krim untuk Airin agar ia bisa sedikit senang. Tapi Airin sudah tidak kuat dan sepertinya akan terjadi hal buruk pada kakinya. Airin menghubungi Ferdian.
“Ferdian, cepet ke sini aku udah nggak kuat lagi.” Jelas Airin dan Ferdian langusng menuju ke sana.
Gilang tidak terlihat juga dan Ferdian telah datang menjemput Airin. Ferdian langsung mengajak Airin pergi dengan pelan-pelan dan akan di bawa ke rumah sakit. Ternyata Gilang sudah tiba tapi ia tidak mendekati Airin dan ia hanya melihat ada seorang pria yang bisa menjaga Airin lebih dari dirinya. Gilang merasa cemburu tapi mau bagaimana lagi karena sepertinya Airin lebih mempercayai Ferdian di bandingkan dengan dirinya.
Ferdian membawa Airin ke rumah sakit dan Gilang mengikuti mobil Ferdian dari belakang. Airin di bawa masuk ke dalam rumah sakit dan untuk segera di rawat, ini sudah biasa terjadi pada Airin tapi ia ingin sembuh. Setelah Airin di periksa, Ferdian menemaninya di kamar ia di rawat.
“Rin, kenapa kamu maksain untuk pergi. Kamu tau kan penyakit kamu?” tanya Ferdian sangat khawatir.
“Tapi aku nggak bisa nolak. Padahal aku tau kalau itu bahaya buat aku tapi aku ngerasa aneh.”
“Kamu sayang sama Gilang?”
“Nggak. Aku nggak sayang sama dia.” Jelas Airin berbohong.
“Rin, aku sama kamu udah sejak kecil selalu bersama dan aku tahu kamu sekarang berbohong.”
“Aku nggak bohong. Lagian aku kenal dia baru sekitar dua tahun ini dan aku nggak mungkin suka sama dia secpat itu.”
“Dua tahun bukan sebentar Rin. Okey, kalau itu yang kamu mau tapi jawab satu pertanyaan aku dengan jujur.”
“Dengan jujur?”
“Kenapa kamu nyembunyiin penyakit kamu dari dia? Kenapa Rin? Kamu sayang sama dia?”
“Nggak.”
“Aku minta kamu jujur karena aku tau kamu sayang sama dia.”
“Tapi aku nggak mau di anggap orang lain dalam kehidupan dia. Aku mau dia nganggep ini aku, bukan seseorang yang sama dalam masa lalunya.”
“Ya udah, kamu istirahat dan jangan lupa doa supaya kamu cepet sembuh.”
Ferdian keluar kamar Airin tapi ia melihat Gilang yang dari tadi mendengar pembicaraan keduanya. Ferdian pergi meninggalkan Gilang tanpa berkata apapun karena Ferdian merasa bahwa ia tidak harus menjelaskan apapun untuk satu hal yang ini.
“Rin,……” Gilang masuk dengan rasa bersalah.
“Kamu kok tau aku di sini?” tanya Airin.
“Maafin aku karena aku nganggep kamu orag lain tapi jujur aku sayang sama kamu.”
“Maaf, kita hanya bisa jadi teman saja.”
“Aku mau kamu jawab aku. Kenapa kamu nggak cerita penyakit kamu?”
“Kamu nggak perlu tau apa alasan aku.”
“Rin, aku udah denger semuanya dan aku mau kamu jujur sama aku.”
“Maaf,……” ucap Airin lalu ia bangun dari tempat tidurnya dan berdiri tapi sebelum ia berdiri, saat itu kakinya langsung terasa sakit dan ia terjatuh.
Gilang mengangkat tubuh Airin dan ia menaruh Airin di tempat tidur lagi. Airin duduk lalu Gilang memeluknya erat sekali seakan kehilangan Airin.
“Aku jujur sayang sama kamu dan nggak mau kehilangan kamu tapi Ferdian  lebih bisa ngejaga kamu di bandingin aku.”
“Apa maksud kamu?”
“Aku nggak pernah sekalipun menganggap kamu sebagai masa lalu aku. Kamu adalah kamu dan aku hanya ingin perasaan ini tulus di terima kamu. Karena aku nggak akan pernah maksain sesuatu yang aku inginkan.”
“Maaf, pasien akan di periksa.” Kata seorang dokter yang masuk. Gilang pergi ke luar dan membiarkan Airin di periksa.
Ternyata Gilang juga pergi dari rumah sakit itu dan ia juga bingung harus bagaimana lagi karena ia masih bingung menjelaskannya kepada Airin.
“Gilang, kamu dari mana?” tanya Shany.
“Mungkin hidup aku akan selalu kehilangan orang yang aku sayang.” Jelas Gilang.
“Maksud kamu?”
“Sebelum aku memiliki Airin, aku sudah kehilangan dia terlebih dahulu.”
“Hanya Airin yang ada di dalam hati kamu?”
“Dia wanita pertama yang membuat aku melupakan masa lalu aku yang suram.”
“Aku harap kamu bisa mendapatkannya.” Kata Shany pelan karena ia sebenarnya sakit mendengar semua penjelasan itu.
Di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa Airin bisa sembuh tapi dia harus di bawa ke luar negeri untuk pengobatan lebih lanjutnya. Airin senang tapi ia harus meninggalkan Gilang.
“Rin, kamu mau pergi ke sana?” tanya Ferdian.
“Ini yang aku cari selama ini. Aku cuma mau sembuh dan semoga semuanya bisa berjalan dengan lancar.”
“Doa kamu terkabul.”
“Tapi setelah ini aku nggak mau kembali ke sini lagi.”
“Maksud kamu?”
“Aku mau mencari dunia baru dan kahidupan baru. Aku tahu bahwa aku memiliki sedikit rasa kepada Gilang tapi aku nggak mau dia menganggap aku masa lalunya.”
“Rin,….”
“Aku udah kenal dia lebih dari dua tahun dan dia selalu bilang sayang sama aku dan sedikit-sedikit akupun mulai merasakan itu tapi masih ada yang mengganjal di hati aku.”
“Kalau itu mau kamu, aku akan mengabulkannya.”
“Dan kamu janji nggak akan bilang tentang kepergianku ini.”
Hari itu Airin sudah bersiap-siap menuju bandar untuk berobat. Tapi Ferdian tidak bersamanya.
“Rin, kamu duluan aja. Nanti aku akan menyusul.” Jelas Ferdian.
“Tapi kamu nggak bohong kan?” tanya Airin.
“Tunggu aku 15 menit aja. Dan sekarang kamu duluan ke bandara.”
Airin pergi ke bandar dengan kedua orangtuanya dan Ferdian pergi ke tempat yang tidak Airin tahu. Airin tidak mengerti mengapa Ferdian pergi seperti ada yang di sembunyikan. Tapi mau bagaimana lagi karena itulah kemauan Ferdian.
Ternyata Ferdian menemui Gilang dan sampai di hadapan Gilang, Ferdian memukul wajah Gilang dengan kuatnya.
“Keapa loe!” Gilang marah.
“Asal loe tau! Gue bukannya marah karena loe tapi loe sadar kaloa loe itu keterlaluan!” kata Ferdian keras.
“Maksud loe?”
“Airin rela bohong demi loe dan rela ninggalin semuanya sejak saat ini. Seumur hidup Airin gak pernah bohong sama gue dan demi loe, dia bohong.”
“Maksud loe?”
“Gue nggak perlu jelasin lagi yang jelas mulai sekarang Airin akan pergi selamanya dari loe dan satu hal yang mau gue bilang, kalo loe sayang sama Airin kejar dia tapi anggap dia Airin bukan masa lalu loe.”
Ferdian pergi menuju bandara lagi untuk menemani Airin tapi Gilang sendiri masih diam. Ia tidak tahu mau mengejar Airin atau tidak karena satu hal yang ia tahu bahwa ia mencintai Airin tapi masih teringat maa lalunya. Gilang tidak mengejar Airin, ia membiarkan Airin pergi karena ia tidak mau mengganggap Airin sebagai orang lain. Itu kan lebih menyakiti hati Airin karena sepenuhnya masih bimbang dengan perasaan ini.
“Kamu nggak ngejer Airin?” tanya Shany.
“Aku nggak mau dia akan terluka jika ia tahu bahwa aku masih terbayang-bayang masa laluku.” Jelas Gilang kepada Shany.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku masih bimbang dengan semau ini.”
“Aku yakin kamu akan bisa melupakan masa lalu kamu dan Airin akan kamu miliki.”
Ferdian sendiri menunggu kedatangan Gilang tapi ia tidka terlihat dan akhirnya semuanya pergi untuk mengobatkan Airin. Sampai di sana, Airin berhasil di sembuhkan dan itu rasanya seperti mukzizat yang selama ini di inginkan Airin. Semua itu berkat kemauan Airin ingin sembuh dan ia bisa berjalan atau berlari sesuka hatinya.
“Kamu seneng Rin atas kesembuhan kamu?” tanya Ferdian.
“Semua ini karena kamu yang udah mau menjaga aku dan aku seneng apa yang aku impikan telah tercapai.” Jelas Airin pelan dengan senyumnya.
“Rin, ada kejutan untuk kamu…” kata Ferdian.
“Apa?” tanya Airin penasaran.
“Aku pergi dulu dan kado istimewa itu akan datang sebentar lagi….” Lalu Ferdian pergi meninggalkan Airin.
Ternyata kado istimewa itu adalah kedatangan Gilang. Keduanya masih diam tanpa kata dalam ruangan itu. Ferdian keluar dan di sana ada Shany yang juga harus melihat seseorang yang ia cintai bersama orang lain.
“Kamu juga ke sini?” tanya Ferdian.
“Pengorbanan terakhir hanya ini.” Jelas Shany pelan.
“Mungkin kita hanya orang yang membantu mereka bersatu.”
“Dan mereka bahagia karena kita.”
“Sebaiknya kita biarkan mereka bersama di dalam.” Kata Ferdian lalu mengajak Shany pergi.
Airin masih tidak percaya apa yang ada di hadapannya. Ia melihat Gilang ada di hadapannya dan Airin tidak tahu siapa yang memberitahukan hal ini kepada Gilang.
“Rin, maafin aku karena aku kemarin nggak menghalangi kamu pergi.” Jelas Gilang.
“Menghalangi aku?” tanya Airin heran.
“Aku nggak ngucapin salam perpisahan saat kamu pergi karena saat itu aku ingin mengatakan aku sayang sama jkamu tapi kau nggak mau kamu sakit karena aku.”
“Maksud kamu?”
“Aku sekarang yakin bahwa masa laluku tidak akan membayangi setiap ditik di hidupku.”
“Maaf, aku harus pergi…” Kata Airin lalu Gilang menarik tanganya dan memeluk Airin erat.
“Katakan kamu membenciku sekarang. Katakan itu di hadapanku.” Kata Gilang menatap Airin tajam.
Airin diam dan ia tidak bisa menjawabnya.
“Maaf,…..” kata Airin tapi Gilang tidak melepaskan pelukannya.
“Aku ingin mengatakn satu hal yang kamu mungkin tidak mengetahuinya. aku kan pergi dari kehidupan kamu selamanya seperti kamu akan pergi dari kehidupanku dan mungkin ini pertemuan kita terakhir kali.” Jelas Gilang lalu pergi meninggalkan Airin.
Airin tidak menjawabnya dan ia melihat Gilang berjalan mulai jauh darinya. Ia merasa kehilangan tapi apa yang harus ia lakukan?
“Gilang!”  panggil Airin lalu ia berlari dan memeluk Gilang.
“Rin…….” Kata Gilang pelan.
“Aku mau kamu tinggal di sini untuk aku.” Kata Airin lalu Gilang memeluk Airin dengan eratnya lagi.
Hari itu Gilang sadar bahwa segala sesuatu di dunia ini harus di lakukan dengan suatu pengorbanan besar dan pengorbanan itu adalah sesuatu yang paling berharga untuk semuanya. Airin pun tahu bahwa cinta Gilang untuknya tulus tanpa di bayangi masa lalu seperti yang Airin pikirkan selama ini.
By: Aula Nurul M. ( Kamis, 08 Oct. 09)

Buat yang udah baca, kasih kritik and saran ya……… thanks to all semuanya udah mau baca and ini cerpen aku yang ke 67. doain nambah lagi yah…………

Earning Per Share

a.      Definisi Earning Per Share Earning Per Share (EPS) atau pendapatan perlembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberik...