Gallien hampir saja menghunuskan pedang pada Michael sebelum bantuan datang dengan cepat.
“Kuberi kau satu kesempatan tapi, jika kau gagal, Aku akan mengurungmu, selamanya,”
Selamanya Selamanya
Michael berjalan pelan, meninggalkan Gallien dengan amarah yang mulai
mereda. Ia tidak ingin membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Jika itu
terjadi, dia bukan hanya dikurung dalam botol tapi dalam penjara dan
tidak bisa keluar, selamanya.
Michael tidak bisa menghindar
lagi, dia harus kembali. Apapun yang terjadi, itu menyangkut hidupnya,
kebebasannya yang sekarang sedang di pertaruhkan.
Ia menjauhi kastil itu, melihat dari kejauhan kalau ia yakin Gallien sedang berusaha meredakan emosinya.
“Kau berjalan kaki,”
“Ya, Allie,”
“Gallien akan tenang sendiri, kau hanya perlu melakukan kewajibanmu,
takdirmu,” Allie menangkap ketakutan di wajah Michael, “kau melakukan
kesalahan terbesar beberapa abad lalu dan dalam waktu beberapa hari
setelah kau bebas, kau ingin melakukan kesalahan lagi?”
Wajah
Michael yang penuh ketakutan mencoba mencari lagi kekuatannya. Beberapa
saat kemudian, Michael tersenyum dan matanya menunjukkan bahwa dia akan
menyelamatkan hidupnya sendiri.
Kemudian Allie melihat, sosok
Michael menghilang dalam sekejap mata. Ia tersenyum melihat kepergian
Michael. Tergesa-gesa, tanpa pemikiran panjang, itulah yang Allie
pikirkan mengenai Michael.
Faza sudah di tinggalkannya beberapa
hari ini oleh Michael, dan hari ini ia kembali. Ia melihat Faza
terbaring, membelakangi jendela besar yang membiarkan cahaya bulan
memasuki kamarnya.
Saat tertidur seperti ini, Faza terlihat
seperti seorang manusia sewajarnya, bukan gadis galak seperti nenek
sihir yang di takutinya.
***
‘Apa yang terjadi padamu?’
‘Aku hanya ingin kau lebih berani dariku, itu saja. Tinggalkan Aku, maka Aku akan pergi dengan damai,’
Kelopak mata Faza mulai terbuka perlahan. Dia membuang jauh-jauh
kenangan yang hadir pada mimpinya. Lagi dan lagi mimpi itu muncul,
selama enam tahun.
Di sudut kamarnya, ia mengenali sosok itu
walaupun cahaya matahari sedikit menyilaukan. Faza maju, melangkah
mendekati Michael dan memandang sengit seolah mereka musuh dalam dua
kubu kerajaan.
“Sejak kapan kau bisa masuk ke kamarku?”
“Itu mudah, tidak ada yang sulit untuk membuatku bisa menemuimu,”
Kaki Faza mundur tiga langkah, menjaga jarak dari Michael. Ia
benar-benar ingin melihat sosok di hadapannya ini
menghilang-pergi-jauh-tenggelam dalam semua ingatannya.
“Ini tugasku, kewajibanku atau lebih tepatnya, ini keinginanmu,”
“Kau akan mengabulkan permintaanku? Apa begitu? Jelas tidak, kau pernah
mengatakannya dengan sangat jelas,” Faza mendekat lagi dan memukul
keras kepala Michael, “kau hanya bilang tugasmu menjagaku, bodoh, mana
bisa kupercayai itu,”
Kedua tangan Michael memegang kepalanya.
Ia tidak tahu lagi dengan cara apa agar gadis dihadapannya bisa
memandangnya sebagai seorang jin yang bukan dalam dunia dongeng.
“Apa kepalamu sakit? Ah! Ternyata kau bukan jin yang hebat seperti
dalam pikiranku, kau tidak bernilai dimataku, kau tampak seperti
manusia, itu saja,”
Faza mengambil handuknya lalu mandi dan
kembali lagi setelah selesai memakai seragam sekolahnya. Ia melihat
Michael menunduk pasrah, tidak seperti yang di lihatnya ketika mereka
pertamakali bertemu.
Mata Michael sesaat beradu pandang dengan
Faza. Faza duduk di samping Michael, yang jauh dari kesan ingin menerima
Michael disisinya.
“Aku hanya membuka sebuah botol jelek di
pinggir jalan, Aku menyelamatkanmu, kau tidak perlu membalas budi
padaku. Ini hal terbaik yang kulakukan,”
Tangan Michael
menyentuh kedua tangan Faza, ia memohon, lagi dan lagi. Mata berganti
mata, mereka saling memandang, penuh arti.
“Bukankah lebih baik kau tinggal tanpa mengurus seseorang?”
“Aku akan di kurung di tempat yang sangat buruk, tidak bisa keluar,
selamanya,” jawab Michael dengan hati-hati agar gadis ini tidak
memarahinya lagi, “Aku harus menjagamu sampai saatnya Aku bisa
benar-benar terbebas, tanpa beban.”
Michael yang di lihatnya
saat ini berbeda dengan Michael yang dilihatnya pertamakali. Wajah
ceria, kekanak-kanakan, melakukan lompatan-lompatan aneh, tertawa, semua
itu sudah lenyap sekarang. Hanya ada ketakutan.
“Baiklah,” Faza membuka sedikit kebaikannya, “kau bisa memunculkan wajahmu di depan manusia bukan?” ia mengangguk .......................
2 komentar:
judulnya apa?
Belum ada judul karena saya kalau menulis novel/cerpen lebih sering judulnya terakhiran :)
Kamu suka dengan cerita di atas?
Bagaimana pendapatmu?
Terimakasih sudah berkunjung ;)
Posting Komentar